
"Bagaimana malam pertama Harjunot?" Tanya Langit.
"Aku tidak tahu! Apa Abang, mau tahu? Aku berpikir kenapa dia tidak kirim pesan digrup!" Black menimpali, lelaki itu duduk diseberang Langit.
Sedangkan Arsy yang duduk disamping Papanya, memutuskan untuk ke kamarnya.
"Made in Singapura, mau kemana?" Black bertanya kepada Arsy.
"OB! Bisa enggak jangan manggil seperti itu. Ayi tidak suka!" Wajahnya datar.
"Aku juga tidak suka kau panggil OB!"
Sedangkan Langit hanya menggeleng pelan karena tingkah orang yang memiliki perbedaan umur sangat jauh.
"Ya kan, itu singkatan dari Om Black!"
"Yasudah, kalau begitu Made in Singapura! Panggilan kesayangan, Om! Buat keponakan tercinta!"
"Toh, kamu juga buatnya di Singapura!" tukasnya lagi.
"Terse-rah!" Arsy nampak sebal karena ulah Black.
"Kaaaaaaaa!" teriakan Arsy membuat Langit dan Black menutup telinga. Sedangkan Kafka yang ada di dapur langsung berlari kearah suara yang memanggilnya.
"Bisa enggak sih, jangan teriak-teriak! Sudah malam tahu Yi!" Kafka protes saat sudah disamping Kakaknya.
"Sudah jangan banyak protes, kemari gendong aku. Kakiku masih sakit," ujar Arsy tersenyum tipis.
"Allahuakbar! Ini kenapa adiknya, di jadikan kursi roda. Lebih tepatnya pengangkat beban berjalan" Kafka bicara sambil menatap Arsy.
"Hey ...anak singa! Jangan bertengkar! Aku ingin lihat bagaimana gaya, anak singa jantan gendong anak singa betina!"
"OM Black!" Arsy dan Kafka membalikkan badannya dan menatap kearah Black.
"Pa, apa Papa tidak sadar jika selama ini tanpa sadar Om Black! Memandang Papa, seperti singa?" Kafka bertanya, Arsy tersenyum miring. Otak adiknya akan membuat kesalah pahaman terjadi sebentar lagi.
"Maksudnya?" Langit menatap putranya kemudian kearah Black. Black yang ditatap, merasakan sinyal-sinyal yang akan menyudutkan dirinya.
"Nih, penjabaran dari Kaka adalah. Jika kami berdua anak singa maka orang tua kami juga singa. Sedangkan Papa dan Bunda adalah orang tua kami, jadi kesimpulannya adalah Om Black..." Kafka tidak meneruskan ucapannya, dia menyungging kan senyuman kearah Black. Membuat Langit menyimpulkan sesuatu. Sedangkan Black mengumpat karena ulah Kafka.
"Apa maksudmu, Om Black! Mengaggap kita keluarga singa?" celetuk Bunda Cahaya, yang baru keluar dari dapur sambil membawa nampan.
Black yang mendengar suara Cahaya dia bringsut dari duduknya yang tegak.
"Betul itu Black?" Langit bertanya datar, meskipun sudah berkepala empat Black tetap menghormati pasangan itu.
Sedangkan Arsy dan adiknya tersenyum puas melihat ekspresi wajah Black yang takut.
"Ka! Kamu itu loh, selalu saja bikin orang dalam masalah. Beberapa waktu lalu, kamu yang bikin Papa! Ribut dengan Bunda mu, sekarang kamu juga mau bikin Papa sama Om, kalian ribut? Ka! Terkadang Papa itu, bingung. Sebenarnya otak kamu yang terlalu cerdas atau kita yang salah kasih makan. Papa tidak pernah memberikan makanan besi, semua anakku aku kasih makan nasi dan minum ASI! Abang Gibril, juga minum ASI! Bunda, tapi pemikirannya itu beda banget sama kamu!" Keluh Langit kepada Kafka, dulu saat melahirkan Arsy. Bunda Cahaya kelebihan ASI, membuat ia selalu menyimpannya di lemari pendingin. Saat itu Gibril yang umur tiga belas tahun, dia juga ingin merasakan minum ASI. Jadi dia ambil saja ASI, yang Bundanya simpan di lemari pendingin, ia minum.
__ADS_1
Wajah Black berubah total, sekarang giliran dia yang mentertawakan Kafka, yang membuatnya dalam masalah.
"Ayo Yi! Katanya mau ke kamar!"Kafka memutuskan untuk menggendong Kakaknya.
"Hey ... Kampret prentil! Jangan pergi kau!" Black berteriak.
Sedangkan Kafka terus berjalan kearah lift sambil menggendong Kakaknya.
'Aku berpikir jika Ayi, adalah jodohnya Harjunot. Tapi aku salah menebak takdir' batin Black yang menatap lift itu tertutup.
"Bang, aku takjub banget sih sama Harjunot. Kok bisa ya, dia menerima takdir yang seperti itu!" Black menatap Langit.
"Aku pun heran, sungguh dia benar-benar laki-laki baik. Selama kenal, aku menilainya dia tidak terlalu suka bicara bukan berarti dingin. Bahkan dia sangat ramah, terus saat kita ngumpul jarang banget ngeluh. Malahan kita yang kadang ngeluh soal istri!" Langit terkekeh kecil.
"Apa maksudnya mengeluh tentang istri?" Cahaya bertanya menatap suaminya.
"Siapa yang mengeluh tentang istri?" Archer yang dari dapur bertanya.
Kedua lelaki itu saling tatap seolah memberi isyarat, satu sama lain.
"Ayo jawab!" Cahaya bicara sambil berdiri.
"Sepertinya Black, mau menjawab!" Langit memilih jalan aman.
"Ke-kenapa aku?"
"Tam! Jawab Tam! Kalau enggak nanti kamu enggak boleh masuk rumah!" Archer menatap suaminya.
"Ah tentunya!" Langit membenarkan, meskipun faktanya tidak seperti yang diucapkan.
"Kau percaya Cher?"
"Tidak Teh! Aku tidak percaya!" Archer menggeleng cepat.
"Sama!" Cahaya meninggalkan suaminya. Kemudian Archer mengikuti dari belakang.
"Enak ya si Harjunot, enggak dapat amukan sama istri!" Black sepertinya iri dengan Harjonot.
"Apa kau bilang Black?" Langit tidak terima karena ucapan Black.
"Astagfirullah hal adzim! Salah ngomong!" Black memukul mulutnya.
"Kalau bicara dijaga!"
...***...
Dikamar Arsy perempuan itu berbaring di ranjang. Kafka sudah balik dan katanya ingin tidur. Tangan Arsy memegang ponsel, membuka aplikasi WhatsApp. Scroll kebawah, di sana ada kontak diberi nama DIA. Arsy memejet profil pemilik nomor itu. Profilnya masih sama, yaitu motor Kawasaki warna hitam. Setelah itu ia memejet menu, dan memejet profil itu kembali. Sampai berulang-ulang, hingga hal yang tak diharapkan terjadi. Mata Arsy menbulat saat menatap ponselnya
Ternyata perempuan itu memanggil orang atas nama DIA. Seketika jantung Arsy berhenti karena melakukan kesalahan.
__ADS_1
"Astagfirullah! Kenapa aku ceroboh!" Arsy meletakkan ponselnya dilaci.
...***...
Lelaki itu mendengar dering ponselnya, dia berjalan kearah laci.
"Tunggu bentar ya? Aku angkat telepon dahulu!" Kata lelaki itu meminta ijin.
Lelaki itu berjalan keluar kamar sambil menatap ponselnya, dahinya mengkerut saat melihat kontak yang baru saja memanggilnya.
"Arsy Latthif!" gumamnya pelan, Harjunot segera menghapus long panggilan itu. Dia tidak mau menghiyanati istrinya, meskipun hanya sekedar membalas chat atau malah menelpon balik.
"Astagfirullah! Ingat sudah punya istri!" Harjunot berbicara dalam hati. Lelaki itu kembali lagi, dan masuk kamar sambil tersenyum kearah Fitri.
"Kok cepat, siapa sih Mas?"
"Ah ... iya tadi belum di angkat sudah terputus!"
"Kalau penting kenapa, tidak telpon balik lagi?"
"Ah ... tidak nanti kalau penting dia juga telpon kembali!" Dalam hati Harjunot berdoa "Semoga dia tidak menelpon ku lagi!"
"Emang siapa?"
Harjunot terdiam dia harus jawab, tapi dia juga tidak ingin berbohong kepada istrinya.
"Emmm!" Harjunot terdiam memikirkan sesuatu, apa iya dia harus jawab jujur. Nanti kalau nyakitin perasaan Fitri bagaimana.
...________&&&_______...
Untuk para pembaca saya mau minta maaf. Jika mungkin ceritanya enggak bagus atau kalimat dalam cerita susah dipahami🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻
Sebenarnya saya juga agak heran dengan diri sendiri. Sudah tahu enggak bisa bikin novel/cerita yang menarik. Tapi masih saja suka nulis. Entah kenapa saya masih suka nulis. Herrrrannnnn tauuuuuuu....
Kita bahas mengenai novel ini.
Kenapa judulnya (Dia Istri Dalam Mimpi?
•Seperti judulnya ya guys, ceritanya juga gitu. Arsy adalah istrinya Harjunot dalam mimpi. Kan mereka sudah sahhhhh... jadi suami-istri dalam ya meskipun hanya mimpi wkwk.
•Terus kenapa ada Tokoh Fitri?
Tokoh Fitri itu, tidak ada dalam pikiran saya sebelumnya. Sejujurnya si Fitri itu datang disaat saya menulis sudah dapat separoh. Jadi saya rubah semua alur ceritanya...
•Nah! Terus apakah Harjunot sama Arsy akan bersama? Ikuti terus ceritanya kalau mau tahu kelanjutannya. Paling kurang-lebuh 20episode lagi ada titik teranggggggg...
Hahahahaha CURHAT.... sory my Mahhhh. Wkwk jadi punya Mamah Onlineeee sksksksk........
Sekian Makasih!!!!
__ADS_1
Cie yang nelpon suami orangggggggg.