Dia Istri Dalam Mimpi

Dia Istri Dalam Mimpi
Menuju Suratan Takdir


__ADS_3

Pagi itu Arsy berniat untuk menemui Harjunot. Serta menjadi WPC wanita pengemis cinta.


"Pagi semua!" sapa Arsy setelah sampai diruang makan.


Seluruh anggota keluarga hanya mengangguk saja, akan tetapi berbeda dengan Bunda yang hanya diam.


Arsy hanya bisa menghembuskan napas pelan karena sikap Bunda, yang acuh padanya.


"Nak, selesaikan sarapanmu cepat, ini sudah setengah tujuh!" Kata Bunda kepada bungsunya.


"Iya, Ayi apa kau tidak mau ikut bergabung dengan kami. Kau tahu pagi ini. Bunda memasak makanan favoritmu?" Kafka berbicara sambil meyomot krupuk yang ada ditangannya.


Arsy tersenyum lebar mendengar perkataan adiknya. Perempuan itu langsung menarik kursi untuk duduk. Saat bokongnya hampir meyentuh kursi, ada suara yang membuat Arsy mengurungkan niatnya.


"Aku memasak untuk kalian semua. Dan tidak mengistimewakan siapapun!" jelas Bunda terdengar dingin.


Arsy langsung menudukkan kepalanya, dadanya sesak karena sikap Bunda padanya.


Papa menghela napas dalam, karena pertikaian tadi malam belum selesai juga.


"Ayi, aku ambilkan nasi goreng, ya?" Kak Vi menawari adik iparnya, istri Gibril itu sudah siap menuangkan nasi goreng kepiring. Akan tetapi sebelum nasi goreng itu mendarat kepiring Arsy angkat bicara.


"Terima kasih Kak! Tapi hari ini aku buru-buru untuk menemuinya!" ujarnya seraya melirik kearah Bunda.


Akan tetapi yang dilirik wajahnya tak berekspreksi.


"Makanlah, apa kau tidak bisa sedikit pun. Menghargai kerja keras seseorang? Sampai-sampai kau tidak mau meyentuh makanan buatan ku?" sinis Bunda, yang melemparkan pandangan kearah lain.


Arsy hanya bisa menghela napas pelan. Kemudian duduk menunggu Kak Vi mengambilkan makanan.


"Terima kasih Kak!" Arsy langsung saja melahap nasi goreng buatan Ibunya.


"Kau akan menemuinya?" Gibril bertanya, Arsy mengangguk pelan sebagai jawabannya.


"Ada uang buat bayar ongkos atau kamu mau pakai mobil saja?" Gibril bertanya kembali.


"Aku akan memakai sepeda saja!" jawabnya sambil mengelap mulutnya dengan tisu.


"Yang benar saja, itu jauh. Sudah pakai mobil saja!" tutur Kak Vi.


"Aku berpikir jika aku bisa olah raga sekalian!" Arsy meneguk susu putih yang sudah diberi obat dari Dokter. Bunda tahu, jika putrinya tidak bisa minum kapsul.


"Boleh aku bertannya sesuatu?"


Semua keluarga mengagguk hanya satu orang saja yang diam, siapa lagi jika bukan Bunda.


"Selama ini aku tidak tahu jika aku hilang ingatan, dan sampai sekarang aku juga belum ingat. Tapi Kaka bilang, kalau Dokter memberikan obat! Dimana obatnya, apa aku tidak pernah meminumnya?" tanya Arsy sedikit takut.

__ADS_1


"Kau tidak perlu bertanya masalah itu. Karena kita tahu bagaimana cara membuatmu minum kapsul itu." Kata Bunda.


Lagi-lagi Arsy hanya mampu menghela napas pelan.


...***...


Perempuan itu mengeluarkan sepedanya dari garasi. Mengecek apakah ada masalah atau tidak. Rem masih bekerja dan ban juga oke. Arsy menggowes sepedanya dengan santai. Dipertengahan jalan perempuan itu memikirkan sesuatu.


"Sebenarnya apa yang terjadi padaku. Sampai-sampai aku kehilangan ingatanku?" Gumamnya.


"Dan kenapa saat aku bersamanya, bayangan lelaki dan perempuan selalu datang?"


"Apa dia juga ada dimasa lalu ku?"


Arsy mengentikan sepedanya, perempuan itu merasa pusing karena tidak bisa mengingat sesuatu. Setelah hampir beberapa menit istirahat. Akhirnya Arsy memulai menggowes sepedanya kembali. Tak terasa akhirnya perempuan itu sampai ketempat tujuannya. Arsy memarkirkan sepedanya dekat pohon pepaya. Dia berlari kecil menuju gedung hotel yang hampir rampung.


"Siang Bapak-bapak!" sapanya ramah.


"Owalah Mbak Arsy, siang juga Mbak!" sahut salah satu tukang.


"Ini Mandornya dimana?" Arsy bertanya dari tadi matanya clingak-clinguk tapi enggak menemukan sosok yang Ia cari.


"Ah ...nyari Mas Arjunot toh? Mas Arjunot nya hari ini enggak masuk Mbak! Lah emang Mas Arjunot enggak ngasih tau Mbak Arsy?"


Arsy menggelengkan kepalanya pelan.


"Kalau masalah itu saya kurang tahu Mbak!"


Arsy hanya mengangguk saja.


'"Ya sudah kalau begitu saya pulang saja. Soalnya yang dicari juga enggak ada!" Arsy pun meninggalkan tukang yang tadi diajak bicara.


"Kalau pulang ke rumah, pasti bertemu dengan Bunda. Mending ke kantor Papa saja, siapa tahu Papa mau ngasih tahu aku. Tentang, kenapa aku bisa hilang ingatan!" Arsy pun segera mengambil sepedanya dan menggowes sepeda ke kantor Papanya .


Hampir setengah jam Arsy menggowes sepedanya. Akhirnya perempuan itu sudah memasuki parkiran kantor. Arsy segera berlari kedalam kantor Papanya.


"Saya bisa bertemu dengan Pak Dirut?" tanyanya kepada Resepsionis.


"Pak Arkana sedang rapat dengan Dewan direksi!"


"Kira-kira selesainya kapan?"


"Kurang lebih satu jam! Anda bisa menunggu diruang tunggu!"


"Kalau saya langsung ke ruangan Papa, saya gimana?" Arsy tidak suka jika disuruh menunggu didepan resepsionis.


Resepsionis itu nampak berpikir sejenak kemudian membiarkan Arsy untuk menunggu diruangan Papanya.

__ADS_1


Arsy membuka pintu ruang kerja Papa. Arsy melihat-lihat setiap sudut ruangan Papa yang berisi dengan lemari buku dan tumpukan map yang berbaris rapi.


Pintu ruangan terbuka membuat Arsy membalikkan badannya.


"Ayi!" Papa terkejut mendapati putrinya ada di ruangan pribadinya.


"Sudah sejak kapan kamu disini?" Papa membuka jasnya dan menyampirkan dikursi kerjanya.


"Mungkin satu jam lebih!" jawabnya sambil duduk di depan Papanya.


Papa mengerutkan keningnya heran.


"Bukanya tadi kamu ke proyek Junot?" tanyanya sambil melipat lengan kemejanya.


Arsy mengaguuk dan berkata. " Ya tadi aku kesana. Tapi dia tidak ada, mungkin dia ngabarin Papa gitu! Kalau dia sedang ada apa gitu?" tanya Arsy.


"Sejak tadi malam Papa, berusaha menelponnya tapi nomernya tidak bisa dihubungi. Jujur saja ini baru pertama kalinya. Junot tidak mengakat telpon Papa!" Langit heran karena Harjunot tidak pernah bersikap seperti itu sebelumnya.


"Kok dia kayak anak kecil sih Pa! Kalau dia marah sama Ayi karena perkataan Ayi! Harusnya dia enggak nyangkut pautin hal ini dengan hubungan dia dengan Papa dong! Aku jadi sebel dengan orang seperti itu!" ujarnya seraya mengerucutkan bibirnya.


Papa menggeleng pelan karena tingkah putrinya.


"Aku cukup mengenalnya Ayi! Kau tahu sebelum dia mengutarakan sesuatu padamu! Ah ... maksudnya mengajakmu menikah dia meminta persetujuan dariku loh!" Arsy nampak tak percaya dengan perkataan Papanya.


"Yang benar Pa, dia bilang apa ke Papa?"


"Dia meminta persetujuan dariku. Dia bilang kalau dia ingin menjadikanmu sebagai istri dan ibu untuk anaknya. Dan jika Papa tidak mengizinkan, dia juga tidak akan berbicara padamu!"


"Terus Papa, setuju-setuju saja gitu?" Arsy bertanya.


"Papa bilang padanya, ya coba saja tanyakan pada orangnya yang bersangkutan langsung. Kalau aku terserah Ayi! Kalau dia mau ya aku tinggal merestui saja." jawab Papa santai.


"Tapi kenapa Bunda ngotot Ayi harus nikah dengan dia?" tanya Arsy.


"Setelah Junot, meminta izin untuk melamarmu. Papa memberi tahu Bunda, jika Junot tadi menemui Papa, dia bilang jika ingin mempersunting Ayi! Dan reaksi Bunda tidak seperti yang Papa bayangkan. Bunda nampak sangat bahagia, bahkan Papa bisa bayangkan saat itu Bunda sedang jingkrak-jingkrak! Mendengar kabar jika putrinya akan segera melepas masa lajangnya! Eh ... saat kamu pulang mendengar kamu bercinta mencaci maki Junot! Membuat Bunda sedih bak jatuh dari planet Pluto ke bumi!"


Arsy menghela nafas berat ternyata karena itu Bunda marah padanya.


"Ayi, apa kau akan meminta maaf padanya?"


Arsy menjawabi dengan mengaguuk lemah.


"Apa kau akan mengabulkan permintaan Bunda? Maksudnya menerima lamaran Junot?" tanya Papa menatap dalam putrinya.


"Mau bagaimana lagi, aku tidak bisa berkata-kata apa-apa. Jika tidak menuruti permintaan Bunda!"


Papa hanya mengangguk pelan.

__ADS_1


Yuk komen yuk!


__ADS_2