Dia Istri Dalam Mimpi

Dia Istri Dalam Mimpi
Perempuan Dalam Mimpi


__ADS_3

Malam harinya di rumah elit kawasan Jaksel. Sosok paruh baya itu, sedang bercengkrama dengan putrinya.


"Yi, nanti ini kamu ikut ke acara resepsi pernikahan ya?" Papa Langit duduk di samping putrinya.


Arsy melirik kearah Papanya sambil membuka laptop.


Arsy menggelengkan kepalanya, sebagai penolakan.


"Mulai sekarang Ayi, harus belajar nurutin apa yang Papa, minta!" ujarnya tegas.


"Pa, ngertiin Ayi dong! Malam ini badan Ayi, sakit-sakit semua. Karena duda sok alim itu. Memperlakukan Ayi seperti kacung!" Arsy mendengus kesal.


"Dia punya nama Ayi! Panggilah dia dengan namanya!"


"Aku tidak perduli, toh aku juga tidak ingin tahu siapa namanya! Pokoknya mulai besok Ayi, enggak mau lagi ketemu orang itu lagi!" ujar Arsy seraya berdiri.


"Ya sudah kalau begitu, Papa juga enggak mau nurutin kemauan mu! Dan suatu lagi, mobil Papa sita selama beberapa hari!" ujar Papa, mampu membuat putrinya menghentikan langkahnya.


Arsy membalikkan badannya menatap kearah Papanya.


"Enggak bisa gitu dong Pa!"


"Terserah, pilihan itu ada di tanganmu! Cepat bersiap, satu jam kita berangkat.


...***...


"Malam Pak!" Harjunot menyalami Langit sekeluarga.


"Wihhh ... kita ketemu disini Not!" Langit nampak senang karena bisa bertemu Harjunot diacara resepsi pernikahan.


Harjunot hanya mengangguk saja.


"Bu, gimana kabarnya!" Harjunot bertanya kepada istri atasannya.


"Alhamdulillah baik!"


Lelaki itu melirik kearah perempuan yang berdiri di samping Cahaya. Arsy memalingkan wajahnya dia sangat malas menghadiri acara pernikahan itu.


Baby Bell yang ada digendongan Abinya, memajukan kedua tangannya. Saat melihat Arsy, seolah minta digendong.


"Ee'eh ...Emmma!" Bayi berumur tiga bulan itu mengeluarkan suara.


Arsy melirik kearah baby Bell dengan tatapan datar. Kemudian memalingkan wajahnya kearah lain.


"Sepertinya bayi itu ingin digendong oleh mu Yi!" bisik Kafka.

__ADS_1


Arsy mengangkat kedua bahunya acuh.


"Yi, coba gendong lah dia!" ujar Bunda menatap putrinya.


Arsy masih enggan untuk melakukan permintaan bundanya. Kafka yang ada disampingnya mendorong tubuh Arsy. Membuat tubuh perempuan itu, mendekat ke baby Bell.


Bayi itu tertawa saat melihat Arsy ada didepannya. Perempuan itu membungkukkan badannya sedikit. Dan menatap kearah baby Bell.


"Aku tidak akan menggendongmu. Wek!" Arsy menjulurkan lidahnya. Baby Bell tertawa kecil, sambil menendang wajah Arsy.


"Hahaha, rasakan itu!" Kafka terbahak-bahak. Melihat hal itu.


Arsy yang gemas dengan baby Bell yang sudah menendangnya. Perempuan itu menangkupkan telapak tangan dipipi gembul sang bayi. Kemudian menciumnya dengan kasar, tujuannya agar baby Bell menagis.


Bukanya menagis justru tertawa, hal itu membuat Arsy memutar otaknya. Entah mengapa dia ingin melihat baby Bell menagis dan membuat Harjunot kesal.


Arsy memegang tangan baby Bell, kemudian dia mengigit kecil tangan bayi itu. Spontan saja Langit langsung menarik Arsy agar menjauh.


"Huuaaaaaa!" Baby Bell menjerit histeris.


Membuat Abinya kaget, Harjunot segera menenangkan putrinya itu.


"Kenapa nangis Not?" Aghnia baru saja datang sambil menggendong baby Kai.


"Biasalah anak kecil!" sahut Harjunot sambil menepuk pantat baby Bell dengan lembut.


Arsy merasa bersalah karena membuat bayi itu menangis. Sebenarnya dia terlalu gemas saja dengan baby gembul itu.


"Tanggung jawab Yi!" Kafka bersuara.


Mau tidak mau Arsy harus melakukan apa yang Kafka minta. Perempuan itu berjalan mendekati Harjunot.


"Kau mau aku gendong?" Arsy bertanya kaku seraya membuka tangannya.


Entah paham atau tidak, akan tetapi baby Bell mengarahkan kedua tangannya kearah orang yang menggigitnya.


Harjunot menatap wajah putrinya, lelaki itu mengusap air mata putrinya.


"Mau digendong sama Tante kamu?" Harjunot bersuara.


Arsy terlihat kesal karena Harjunot memanggilnya Tante.


"Kakak bukan Tante!" sahutnya kesal.


...***...

__ADS_1


Acara resepsi hampir saja selesai, tinggal kedua mempelai melempar bunga.


"Baiklah sekarang saatnya kedua mempelai melempar bunga!"


Semua orang yang berstatus singgel berharap mendapatkan bunga itu. Berbeda dengan yang lain Arsy justru harus menggendong baby Bell yang tertidur sambil menyembunyikan wajahnya di ketiaknya.


Sedangkan Harjunot berdiri di sampingnya, sambil menggendong baby Kai yang baru saja bangun.


Mata Harjunot fokus pada putranya yang memegang mainan.


"Baiklah hitungan ke tiga, lempar bunganya!" Pembawa acara itu memberi aba-aba.


"Satu, dua dan tiga!"


Pasangan itupun melemparkan bunga itu kebelakang. Arsy yang sedang menunduk membenahi gendongannya. Ia tidak sadar jika bunga itu, hampir saja mengenai kepalanya. Harjunot yang ada di sampingnya langsung menangkap bunga itu, dengan satu tangan. Karena yang satu buat menggendong putranya.


Seluruh orang menatap kearah kemana bunga yang tadi dilempar mempelai.


Harjunot salah tingkah karena sebagian orang menatapnya. Sedangkan Arsy yang baru saja selesai membenahi gendongannya, ia tersadar dengan tepukan tangan.


Harjunot memaksakan untuk tersenyum. Lelaki itu menyodorkan bunga putih itu kearah Arsy.


Arsy kaget saat melihat ada seseorang yang menyodorkan buket bunga. Arsy melirik kearah pemilik tangan yang menyodorkan buket bunga kearahnya.


"Ha?" Arsy.


"Saya tidak menyukai bunga, jadi ambilah ini untuk Anda! Hitung-hitung sebagai rasa terima kasih saya. Karena Anda mau menggendong putri saya!"


Bunda Cahaya yang melihat hal itu, ia memukul lengan suaminya. Sambil tersenyum tipis.


Perlahan tangan Arsy terangkat, dengan canggung akhirnya perempuan itu menerima buket bunga dari Harjunot.


...***...


Setelah pulang dari acara pernikahan. Harjunot membaringkan tubuhnya ke kasur. Kedua anaknya sudah tertidur pulas. Perlahan mata lelaki itu tertutup.


"Siapa dia?"


"Dia yang akan menjadi istrimu!"


Harjunot terkekeh menggeleng karena jawaban dari lawan bicaranya. "Jangan bercanda! Aku sudah menikah!"


"Apa kamu tidak mau melihat wajah yang akan menjadi istrimu kelak?"


Harjunot yang penasaran pun membuka kain yang digunakan menutupi wajah perempuan itu. Perlahan ia pun menyingkap kain tersebut. Jantungnya berdetak kencang, saat ia tahu wajah siapa. "Bu Guru!" Harjunot terbangun dari tidurnya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2