
"Ehem!" Dehaman dari belakang membuat Arsy membalikkan badannya.
"Sudah datang?" Arsy bertanya diiringi senyuman tipis di bibirnya.
"Bagaimana pendapatmu tentang seorang gadis, yang dulunya dekat dengan lelaki. Akan tetapi sikapnya berubah, keduanya memutuskan untuk tidak saling mengenal!" Tatapan matanya tertuju kearah langit malam.
Perkataan lawan bicara membuat Arsy sedikit tersentil.
"Mungkin saja ada yang ditutupi dari keduanya." Meskipun demikian Arsy lebih memilih untuk menjawab. Dari pada diam membisu bikin orang yang ada disampingnya curiga.
Orang itu mengangguk pelan, sambil melirik kearah Arsy.
"Kalau boleh tahu, mengenai apa?"
"Mungkin saja perasaan!"
"Apa hal itu terjadi diantara kalian? Ah ...maksudnya dirimu dan juga Kak Arjunot!" Kafka menyungging senyuman devil.
Arsy yang mendengar hal itu, dia sangat terkejut. Bagaimana jawabannya menjadi boomerang untuk dirinya sendiri. Terutama kenapa Kafka langsung menceploskan nama orangnya langsung.
"A-apa maksudmu? A-aku tidak paham!" jawab Arsy dengan tubuh yang bergetar hebat.
Kafka memutar badannya agar berhadap-hadapan dengan Kakak perempuannya.
"Semua yang aku lihat. Dari gerak-gerik kalian aku bisa menyimpulkan. Bahwa ada sesuatu yang kalian sembunyikan. Dan aku memperkuat dugaan ku, karena jawaban Ayi barusan!"
"Jika kalian beranggapan bahwa saat kalian berpelukkan di depan kamar mandi tidak ada orang yang melihat. Maka kalian salah, aku berdiri menatap adegan yang tak semestinya aku lihat." Kafka berjalan kearah pinggiran balkon. Pemuda tanggung itu mencengkram railling balkon.
Ada rasa kesal karena kelakuan Kakak perempuannya.
"Sebenarnya aku masih bisa memaklumi kejadian tak sengaja itu. Akan tetapi aku menemukan fakta baru, saat kita makan malam bersama. Aku berpikir kenapa kalian tidak saling menyapa? Seolah tak saling mengenal. Hal itu justru memperkuat dugaan ku, jika ada yang kalian sembunyikan!"
"Dan benar saja! Sebuah perasaan!"
"Ayi kamu memiliki perasaan padanya?" Kafka membalikkan badannya sambil menyilang kan kedua tangannya di dada.
__ADS_1
Arsy hanya diam, semakin ia menjawab maka akan terjerumus. Semakin banyak kata yang keluar dari mulutnya, maka Kafka akan menemukan sesuatu yang tak seharusnya diketahui oleh pemuda tanggung itu.
"Ayi bukan aku bermaksud untuk menggurui mu, atau sok suci. Aku tahu umurku lebih muda darimu, Kaka juga sadar betul." Menarik nafas sebentar.
"Tak seharusnya seorang Adik itu menceramahi Kakaknya. Tapi sebagai keluargamu, aku hanya ingin mengingatkan dirimu. Bahwa apa yang terjadi sekarang itu salah"
"Kak Arjunot sudah memiliki istri, kamu pun tahu mengenai hal itu. Jadi ...aku hanya berpesan kepada mu. Bahwa cinta itu tak harus memiliki!"
"Tapi kalau jodoh sudah pasti akan memiliki!" jawaban Arsy barusan membuat Kafka geram. Kafka mengepalkan kedua tangannya, kenapa jawaban Kakaknya begitu menohok.
"Ka! Sesusah apapun jalan yang takdir berikan. Jika Tuhan, menuliskan itu untuk kita maka akan menjadi milik kita. Dan sebaliknya, semudah apapun atau bahkan sudah ada digenggaman kita, jika Tuhan! Bilang lepas maka akan lepas. Seperti itulah takdir!" Arsy menjawab dengan penuh keyakinan.
"Akan tetapi takdir itu bisa dirubah melalui doa! Takdir apa yang kamu maksud Yi? Fakta tentang kau mencintai suami orang? Atau takdir, yang kau harapkan adalah bersamanya?"
"Melukai perasaan perempuan lain? Katakan Yi!"
"Katakan! Dimana perasaanmu?"
"Kau juga perempuan!" Kata-kata yang barusan keluar dari mulut Kafka bukan hanya cuman menyakiti hati Arsy. Akan tetapi juga menyakiti perasaannya sendiri. Kafka tertampar dengan kalimat yang ia ucapkan. Kenapa takdir Kakaknya begitu menyedihkan.
...***...
"Aku mohon Yi! Demi Papa, orang yang kamu cintai. Yang mencintaimu melebihi siapapun! Hapuskan lah perasaan yang kamu miliki untuk dia. Please! Jangan buat Papa! Kecewa bahkan malu, karena ulahmu ini!"
"Jangan rusak persahabatan Papa dan Kak Arjunot!" Kafka bersimpuh sambil menyatukan telapak tangannya.
Arsy yang melihat hal itu dia menjambak rambutnya dengan kasar.
"Katakan Ka! Apa cinta itu salah?" Deraan air matanya meluncur di pipi putihnya.
"Cinta tidak pernah salah, tapi waktu yang tidak tepat! Kamu mencintai diwaktu yang salah! Kenapa tidak dari dulu? Kenapa saat aku bertanya, apa kau mencintainya! Kau menjawab blusit!" Kafka berdiri dari jongkoknya.
"Karena memang dulu, aku belum punya perasaannya padanya."
"Dan suatu hal yang harus kau tahu Ka!'
__ADS_1
"Bahwa bukan aku yang menanamkan perasaan ini, dan aku juga tidak mau. Ada diposisi seperti ini." Arsy mencekam kerah baju adiknya.
"Jika saja aku diberi pilihan. Maka akan aku katakan padamu, AKU TIDAK MAU MENCINTAI! SUAMI ORANG!" ujarnya sambil menangis, giginya menggertak. Arsy melepaskan cengkraman tangannya dengan kasar.
"Maka dari itu Yi, takdir hanya bisa dirubah dengan doa! Berdoalah! Mintalah kepada Tuhan, untuk menghilangkan perasaan yang tidak semestinya ada. Jika Tuhan! Yang menanamkan cinta itu, maka Hanya Dia-lah yang bisa mencabut perasaan itu!" Kafka berbicara tepat didepan wajah Kakaknya.
"Kenapa cinta begitu menyakitkan Ka? Kenapa? Disaat aku mencintai seseorang untuk yang pertama kalinya."
"Disaat ini pula aku merasa sakit, hancur dan merasa jika aku ini bukan perempuan baik-baik!"
"Titel wanita murahan, mungkin itu pantas buat perempuan seperti diriku ini. Hahaha! PENCINTA SUAMI ORANG!" Arsy mentertawakan dirinya sendiri, kenapa takdirnya begitu lucu. Tangisan dan tawanya bercampur menjadi satu. Arsy kecewa dengan dirinya sendri.
Kafka yang melihat Kakak perempuannya berlagak seperti orang kehilangan akal sehatnya. Dia menarik Arsy kedalam pelukannya. Tujuannya untuk menenangkan Kakaknya. Sekali lagi Kafka, merasa hancur karena melihat kondisi Kakaknya.
"Tidak! Itu tidak akan terjadi. Ayi perempuan baik-baik, aku mengenalmu! Kau wanita yang penuh cinta dan sayang."
"Ayi tidak akan melukai perasaan perempuan lain kan?"
"Dan Ayi, juga tidak akan mengecewakan Papa! Kaka, percaya itu." Kafka mengelus punggung kakaknya.
"Aku akan meluangkan waktuku, untuk menemanimu. Agar Ayi, lupa dengan lelaki itu!" Katanya dengan penuh keyakinan.
"Kaka janji, kapan pun Ayi, membutuhkan Kaka! Aku akan datang! Ayi, berjanjilah kepadaku, lupakan dia! Aku yakin Tuhan, telah menyiapkan seseorang untukmu kelak!" Pelukan adik dan Kakak itu semakin erat.
Kafka bisa sedewasa seperti malam ini karena Papa dan Abang Gibril yang mengajarkan bagaimana cara bersikap dewasa. Lelaki itu harus mempunyai pemikiran dewasa. Mengayomi adalah tugasnya.
"Dengar baik-baik kataku ini."
"Suatu saat nanti kan kau dapatkan. Pujaan hati yang kan kau dambakan. Ini semua telah Tuhan, rencanakan. Jadi jangan bersedih lagi!"
Arsy mengangguk dipeluk kan adiknya. Dia sangat bersyukur karena Kafka memiliki pemikiran yang lebih dewasa dari umurnya.
"Ayi! Harus bisa!" Kafka memberikan sebuah pernyataan untuk Kakaknya agar kuat.
Ayi jangan jadi pelakor..... Aku mohon!
__ADS_1
Cinta memang tidak harus memiliki. Tapi jodoh pasti memiliki!! Apa maksudnya Ayi? Huuaaaaaaaaaaaaaa.......
...***...