
Arsy baru masuk kantor jam setengah sepuluh tepat.
"Siang Rasyu!" Arsy menyapa dan duduk di kursinya.
Sedangkan Rasya sangat canggung, saat melihat Arsy seperti biasa tidak ada perubahan membuatnya heran.
'Kenapa Tiffu, tidak merasa canggung. Setelah aku menulis surat itu untuknya. Apa iya dia belum baca?' batin Rasya.
Rasya menatap wajah Arsy yang ceria. Pemuda itu pun memutuskan untuk bertanya meski rasa malu ada dalam dirinya. Akan tetapi rasa penasaran membuat Rasya ingin mengetahui yang sebenarnya.
"Ehem..." Rasya berdeham kecil untuk mempersiapkan apa yang akan ia sampaikan selanjutnya. "Tiffu, apa lu sudah baca surat itu?"
"Surat? Surat apa yang lu maksud?" Arsy kembali bertanya, dengan kening yang terlipat tipis.
"Surat yang ada dalam tumpukan buku Guru PAI, kelas Vlll"
"Tidak, gua tidak menemukan apa-apa di sana! Apa itu surat dari lu?" Arsy mencurigai Rasya, kenapa teman kecilnya itu bertanya tentang surat tiba-tiba.
Sebenarnya sebelum Arsy pergi mengajar, perempuan itu sudah mempelajari dan menelaah buku PAI kelas Vlll. Tujuannya hanya ingin mempermudah saat mengajar. Dan saat anak didiknya bertanya, dia bisa menjawab dengan jawaban yang mudah dipahami.
"Ah ... tidak-tidak! Itu cuma surat izin saja!" Rasya menjawab kikuk.
'Dimana surat itu? Apa mungkin itu jatuh, saat Tiffu mengambil buku itu' batin Rasya.
"Syukurlah, jika emang Tiffu, tidak membaca surat itu. Mungkin aku akan melakukan apa yang Mama, sampaikan!" Gumamnya pelan.
...***...
Jam menunjukkan pukul sepuluh lima menit, waktu jam istirahat telah berakhir. Semua guru sudah keluar dari kantor, dan memasuki setiap kelas sesuai jadwal. Siang itu Arsy mengajar di kelas VII C. Arsy mulai mengajar anak didiknya itu. Satu jam pelajaran, Arsy memberi soal untuk anak didiknya itu.
"Kerjakan halaman 26-27! Jika tidak selesai itu akan menjadi PR!" Semua anak didiknya bergembira karena dapat keriangan dari gurunya.
Setelah memberi tugas kepada anak didiknya. Arsy berjalan kearah dinding kaca. Perempuan itu bisa melihat banyak kuli bangunan memasang batu bata, ada juga yang membawa wadah berisi adonan semen. Matanya tak sengaja, menemukan lelaki yang memakai helm warna putih, berbeda dengan helm milik kuli bangunan lainnya. Lelaki itu seolah memberi instruksi kepada bawahannya. Setelah selesai, lelaki itu mengambil sesuatu disaku celananya. Arsy tak mengalihkan pandangannya. Sedikit kemudian, mata Arsy terbelalak tak percaya. Jika lelaki yang ia kenal sopan dan baik itu. Menghisap rokok, entah mengapa wajah Arsy berubah. Perempuan itu bertanya kepada dirinya sendiri. Kenapa dia kecewa melihat hal itu? Apa iya? Dirinya sudah bermain hati dengan Mandor itu? Arsy segera menggeleng dan menipis apa yang baru saja terlintas dalam benaknya.
...***...
Tak terasa jam begitu cepat berjalan seluruh siswa keluar dari kelas karena jam pulang telah tiba. Arsy keluar dari lift menuju kantor, sambil membawa beberapa tumpuk buku milik anak didiknya. Semua Guru yang ada di kantor, sudah siap pulang. Berbeda dengan Arsy, perempuan itu lebih memilih untuk singgah di kantor. Sambil mengoreksi jawaban dibuku tugas milik anak didiknya.
"Bu Arsy! Belum pulang?" tanya Sandra sambil menggenakan tas selempang.
"Ah ...Bu Sandra, pulang dahulu saja! Saya masih banyak tugas, salah satunya mengoreksi jawaban dari anak-anak!"
"Kenapa enggak dibawa pulang saja?"
"Kalau di rumah, waktu saya buat keluarga. Saya enggak suka mencampurkan pekerjaan dan keluarga!"
"Wah ... saya enggak nyangka Bu Arsy! Mempunyai pemikiran yang seperti itu!" Sandra tidak percaya dengan pemikiran anak muda itu.
"Ah ... saya rasa itu hal yang biasa. Bagi sebagian orang!" Arsy tersenyum tipis.
Setelah Sandra keluar dari kantor, Arsy mulai memfokuskan matanya pada buku anak didiknya. Tangannya ia gunakan buat mencoret sesekali mencentang. Tak jarang menambah satu dua huruf, ada juga suatu kata. Bahkan ada yang satu kalimat. Terkadang Arsy menggeleng karena jawaban anak didiknya. Bahkan kadang ia tersenyum. Sampai jam setengah empat Arsy, baru menyelesaikan tugasnya. Arsy meregangkan otot-otot tangannya. Setelah itu menggeleng kepala ke kanan-kiri karena sakit. Sampai-sampai ototnya berbunyi. Hal itu adalah memiliki kepuasan sendiri untuk pemilik otot.
"Baybik!" Arsy mengedarkan pandangannya kearah pintu masuk. Bibirnya tersenyum tipis, saat melihat si keriting turun dari gendongan sang Ayah dan berlari kearahnya.
__ADS_1
"Hay Biskuywi!" Arsy menatap Puput yang berdiri di samping mejanya.
"Biskuywi apa?" ujarnya sambil memposisikan tangannya seperti orang yang mau bertepuk tangan.
"Biskuywi itu panggilan kesayangan Baybik untuk Puput!" Arsy menundukkan kepalanya agar sejajar dengan kepala milik Puput.
"Altinya?"
"Berhubung Puput suyyuka, eloti jadi Baybik kuwasih nama Biskuywi!" Arsy terkekeh melihat respon Puput.
"Baybik tayak anak tecil! Cala bicala! Api akuy suyyuka!" Puput memutar kepalanya tapi tubuhnya tidak bergerak sedikitpun. Arsy ingin meniru tapi ia tidak bisa.
"Hehe, Baybik tidak bisa!"
"Iya Baybik, tidak bisa! Kamu bisa goyang kepala darimana?"
"Apikaci Tokek!" Arsy mengerutkan keningnya, aplikasi apaan itu, pikir Arsy. Sedangkan Abidco yang dari tadi, memperhatikan Arsy dan Puput berinteraksi. Duda dua anak itu, tahu jika Arsy sedang bingung memikirkan apikaci Tokek.
"Maksudnya Puput, itu aplikasi Tik-tok, aplikasi yang bisa bikin video!" sahut Abidco dari meja kerjanya. Arsy yang mendengar suara Abidco menggema di telinganya, ia mengalihkan pandangannya kearah duda dua anak itu.
"Oh!" Arsy hanya mengangguk sedikit.
Paruh baya berbadan gemuk itu, mengetuk pintu kantor.
"Maaf! Pak kepala! Anda mau disini sampai jam berapa ya?"
" Oh, bentar lagi pulang Bik!" Abidco menjawab.
"Baiklah kalau begitu saya permisi!" Paruh baya itu membukukan badannya sedikit kemudian pergi.
...***...
"Baybik tapan-tapan, telumah Ayco dong?" Puput berjalan sambil menggandeng tangan Arsy.
Arsy hanya mengangguk saja, sebenarnya Arsy sangat tidak nyaman jika hanya bertiga-an saja. Apalagi Abidco berjalan dibelakangnya, hal itu membuat risih. Karena terkadang otak lelaki itu ngelantur kemana-mana saat menatap tubuh wanita.
Ketiga orang itu masuk kedalam lift yang sama. Baru juga masuk, insiden lift mati membuat suasana dalam lift itu tak bersahabat. Si keriting yang tadinya ceria saat bicara dengan Arsy. Tiba-tiba menjerit takut.
"Huaaaaaa!" teriakan itu melengking ditelinga Arsy. Membuat Arsy spontan menutup telinganya. Sedangkan Abidco sangat takut, jika sesuatu terjadi kepada buah hatinya. Sedikit kemudian tubuh si kecil ingin ambruk. Dengan cepat Abidco menangkap tubuh buah hatinya itu. Arsy sangat terkejut saat Puput sudah menutup matanya dan tubuh kecil itu dipeluk oleh Abidco.
Abidco menepuk pipi buah hatinya pelan, sambil berkata. "Sayang bangun! Sayang!" Dahinya sudah dibasahi oleh keringat belum lagi kenapa lift mati segala. Membuat Abidco lebih takut jika buah hatinya kenapa-napa.
"Puput! Kenapa dia Pak?"
"Tolong nyalakan senter, dan segera minta bantuan. Agar teknisi segera mengeluarkan kita!" Abidco bicara sambil mengangkat buah hatinya.
Arsy segera melakukan apa yang Abidco minta, perempuan itu sangat cemas melihat keadaan Puput.
Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya pintu bisa terbuka. Abidco langsung berlari kearah parkiran. Seolah seperti magnet Arsy juga mengikuti langkah Abidco dengan cepat. Tak butuh waktu lama, akhirnya mereka sampai di parkiran.
"Bu Arsy! Apa Anda keberatan jika saya meminta Anda ikut ke rumah sakit? Kasian Puput, jika harus saya tidurkan di kursi takut kenapa-napa!" Abidco bertanya penuh harap.
"Tentu saja Pak! Saya tidak keberatan!" Tanpa pikir panjang Arsy menjawab, karena dia juga takut jika Puput kenapa-napa.
__ADS_1
Mobil itu mulai keluar dari gerbang sekolah. Arsy duduk di samping Abidco sedangkan Puput duduk di pangkuannya. Arsy memeluk erat tubuh kecil Puput. Bibirnya terus berdoa agar Allah menjaga Puput. Sedangkan Abidco yang mengemudi mobil, tak jarang duda dua anak itu mengelap keringat yang ada di dahinya.
"Ya Tuhan! Tolong selamatkan putriku!" Abidco berdoa sambil mencengkram erat setir mobilnya.
"InsyaAllah Puput, akan baik-baik saja Pak! Percayalah pada Tuhan, yang Maha Memberi Kemudahan!" Arsy mencoba menenangkan Abidco yang sedang mengemudi. Entah mengapa Abidco sedikit tenang setelah Arsy bicara seperti itu padanya. Pria itu teringat saat almarhumah Adinda menenangkan dia, saat Kenanga masuk ruang ICU karena dendam berdarah. Dahulu Abidco putus asa saat Dokter bilang, jika nadi Kenanga tidak ditemukan, saat ingin disuntik. Hal ini terjadi lagi pada anak keduanya, yang mengalami sesak napas saat ada diruang tertutup seperti sebuah gudang kumuh ditambah lagi ruang itu gelap.
Setelah menempuh perjalanan cukup lama. Akhirnya mobil itu telah memasuki Hospital. Abidco segera keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Arsy, kemudian mengambil Puput yang duduk anteng dipangkuan Arsy. Kedua orang itu berlari kedalam rumah sakit. Mereka diharuskan untuk mengisi formulir pendaftaran pasien dahulu.
"Pak Abidco, bawa Puput keruangan. Biar saya yang mengisi formulir ini!"
"Baiklah, Anda bisa ambil ponsel saya di saku celana. Di sana Anda bisa mendapatkan nomor ponsel sampai tanggal lahir Puput! Saya sudah menyimpan sebagai PDF!"
Arsy terdiam sejenak, merogoh saku celana seorang pria adalah hal yang paling ia hindari. Meskipun begitu Arsy harus tetap melakukan karena Puput, harus mendapatkan penanganan dengan cepat.
Dengan sedikit ragu, akhirnya Arsy bisa mengambil ponsel yang ada disaku celana Abidco.
"Password-nya apa?" tanya Arsy, sambil menyalakan ponsel warna merah itu.
"Saya lupa!" Abidco menjawab, sambil membalikkan badannya.
Sedangkan Arsy melongo, seperti orang linglung.
"Pak Abidco! Ini password-nya apa?" Arsy berteriak. Dikarenakan Abidco sudah menjauh. Abidco menengok kan kepalanya kearah Arsy. Dan berkata. "Saya lupa!"
Sedangkan Arsy sangat jengkel karena jawaban Abidco yang membuat dia berpikir panjang.
"Terus kalau Pak Abidco lupa! Bagaimana saya bisa masuk ke aplikasi PDF?" Arsy berlari kearah lift, yang terbuka. Dan Abidco sudah masuk, lift itu hampir saja tertutup. Akan tetapi sebelum lift benar-benar tertutup. Duda dua anak itu berucap. "Itu password saya, Bu!" Setelah bicara seperti itu lift tertutup rapat. Sedangkan Arsy menggaruk kepalanya karena salah tingkah. Arsy pun kembali lagi, kearah resepsionis. Arsy mengisi formulir pendaftaran pasien. Setelah ia selesai, perempuan itu menyerahkan kearah resepsionis sambil tersenyum ramah. Arsy berjalan kearah lift, belum juga masuk. Ponsel milik Abidco berdering. Arsy membaca siapa yang menelepon. "Kakak Kenanga!"
"Apa yang harus aku lakukan?" Arsy nampak bingung karena telpon dari anak Kepala sekolah.
"Sebaiknya, aku angkat dan memberi tahunya. Jika Puput, di rumah sakit!" Arsy bicara sambil masuk lift.
"Iya!" Arsy menjawab takut.
"Siapa ini? Kenapa ponsel Ayah, ada bersama Anda?" Kenanga yang ada di sebrang sana, nampak terkejut saat mendengar suara perempuan. Kenapa ponsel Ayahnya ada ditangan perempuan. Sebenarnya apa yang Ayahnya sembunyikan atau Ayahnya sudah punya kekasih baru. Itulah yang ada dipikiran Kenanga. Amarahnya tidak bisa ditahan lagi, saat perempuan yang sedang berbicara dengannya tidak menjawab.
"Apa Anda tidak mendengar!" bentak Kenanga membuat Arsy tersentak.
"Saya Arsy!" Arsy ingin melanjutkan ucapannya, tapi suara dari sebrang sana memotong dengan cepat.
"Apa? Kenapa ponsel Ayah bersama Anda! Sebenarnya apa hubungan kalian? Terus dimana Ayah? Kenapa ponselnya ada ditangan Anda! Kenapa jam segini Ayah belum pulang?" Kenanga tidak suka jika Ayahnya begitu cepat melupakan Mama Dinda. Sedangkan Arsy yang ditanya membisu seribu bahasa. Karena pertanyaan Kenanga yang terlalu banyak.
"Kita di rumah sakit!" Arsy menjawab sekenanya saja. Sedangkan Kenanga yang ada di sebrang sana. Dahinya terlipat tipis, seperti memikirkan sesuatu.
"Rumah sakit?"
"Iya, ini Adiknya sakit!"
"Kenapa Puput?" Suara Kenanga terdengar khawatir.
Arsy menceritakan semua kejadian yang terjadi dari awal masuk lift. Sampai Puput kehilangan kesadaran.
"Share lok!" Titah Kenanga.
__ADS_1
...***...