
Ketiga lelaki itu baru saja keluar dari musholla. Sedangkan para wanita sudah keluar dari tadi. Jam menunjukkan pukul setengah enam.
"Pagi!" sapa Harajunot kemudian duduk di ruang tamu.
Sedangkan Langit menjawab dengan anggukan kepala sambil meletakkan cangkir teh hangat.
Kedua lelaki itu sudah terlibat percakapan dengan pembahasan yang pas. Kafka baru saja keluar dari lift sambil mengenakan hasduk Pramuka. Pemuda tanggung itu berjalan kearah Papanya.
"Pagi Pa! Kak Arjunot!" sapanya kemudian duduk di samping Papanya.
"Pagi Nak!" Kafka mendapatkan belaian lembut dari Papanya.
Harjunot yang disapa merasa sedikit canggung. Mengingat kejadian saat di dapur.
"Hmmm!" Harjunot memilih menjawab dengan singkat.
Mata Langit menemukan sesuatu yang tak seharusnya ia lihat. Paruh baya itu terkekeh geli.
"Sepertinya tadi malam kau menikmati derasnya hujan ya Not!" Katanya yang membuat Harjunot berpikir keras. Sedangkan Kafka yang duduk disampingnya melirik kearahnya.
"Maksudnya?" Kerutan di keningnya sangat jelas. Menunjukkan bahwa ia tidak paham dengan perkataan atasannya.
"Apa kau tidak paham maksudku? Tanda dilehermu membuatku berspekulasi.
Bahwa kau menikmati derasnya hujan bersama istrimu!" Perkataan Langit barusan membuat Harjunot spontan menutupi lehernya.
Sedangkan Kafka yang tadi sedang menyandarkan kepalanya di sofa. Dia nampak salah tingkah karena perkataan Papanya. Dengan gerakan cepat Kafka mengambil ponselnya milik sang Papa. Untuk menghilangkan rasa salah tingkahnya itu. Pemuda tanggung itu sangat malu, karena perkataan Papanya. Mengingatkan jika, ia juga ada di sana. Sewaktu pembuatan tanda, yang tak seharusnya ada.
"Not kenapa wajahmu masam? Seolah yang melakukan hal itu adalah orang lain!" Langit terkekeh, dia lupa jika ada putranya yang duduk disampingnya.
Harjunot tersenyum kaku, ingin rasanya dia menjawab. "Benar apa kata Pak Dirut, yang melakukan ini tak lain dan tak bukan adalah putri Anda!" Harjunot urungkan. Mengingat jika ia menjawab dengan jawaban yang ada dalam benaknya. Pasti akan runyam nantinya.
'Tebakan Papa! Sangat tepat, karena yang melakukan itu adalah putri kesayanganmu' Kafka menjawab perkataan Papanya dalam hati.
"Anda ini ada-ada saja!" Harjunot menggeleng kepala. Sebagai jawabannya. Disaat itu Kafka melirik kearahnya dengan ekor matanya.
Sedangkan Langit tertawa kecil karena jawaban Harjunot.
...***...
Ruang makan nampak ramai karena semua keluarga telah berkumpul di sana. Fitri juga tadi membantu di dapur, sering kali Cahaya melempar candaan. Membuat ia menemukan keluarga baru. Arsy baru saja keluar dari lift, dan ikut gabung bersama mereka. Setelah sampai di ruang makan ia menyapa Papanya dan memberikan ciuman untuk Papanya. Langit terheran-heran karena sikap putrinya yang berbeda dari hari biasanya. Hal itu membuat ia mengingat kejadian saat putrinya. Menemuinya tadi malam dan meminta maaf, padahal putrinya tidak melakukan sebuah kesalahan yang fatal.
'Sebenarnya apa yang kamu sembunyikan dari Papa! Nak? Aku tahu tingkah lakumu yang seperti ini membuat aku berpikir jika ada yang kamu sembunyikan dari kami. Kenapa kamu meniru sikap Bundamu! Saat punya masalah pasti akan ia menyembunyikan dari Papa. Aku ingat betul bagaimana, dia rela menciumiku karena ingin menutupi sesuatu dariku!' batin Langit menatap putrinya penuh kecurigaan.
__ADS_1
Paruh baya itu teringat kejadian dua puluh delapan tahun silam, saat istrinya yang belum mencintainya rela mencium dirinya.Karena menyembunyikan sesuatu darinya.
"Pagi!" Arsy tersenyum kearah semuanya, saat matanya menatap Harjunot. Senyuman itu hilang begitu saja. Begitupun dengan Harjunot, lelaki itu langsung menunduk. Tidak mau bersitatap dengan putri atasannya.
"Pagi juga Adek kesayangan!" Gibril menggoda membuat gelak tawa diruang itu. Harajunot ikut tersenyum agar tidak ada yang curiga.
"Duduklah Nak!" ujar Papa Langit sambil menyuruh putrinya untuk duduk di dekatnya. Sedangkan Arsy nampak berpikir, jika dia duduk disamping Papanya. Otomatis dia akan berhadap-hadapan langsung dengan orang yang seharusnya ia jauhi.
"Ets ... tidak bisa! Aku ini juga anak Papa, kenapa harus Ayi yang selalu dekat dengan Papa? Apa aku ini bukan anak Papa?" Kafka berpindah kursi ke samping Papanya. Sambil menggeser piring dan gelasnya. Gelak tawa kembali terdengar diruang makan. Karena ulah Kafka, yang memperlihatkan rasa cemburunya.
Arsy mengelus kepala adiknya dan menatapnya lekat. 'Kau melakukan ini, ada sebabnya! Terima kasih Ka! Kau begitu pengertian!'
Arsy tahu jika adiknya itu tidak ingin, jika dirinya berhadapan-hadapan dengan Harjunot yang akan membuat dirinya tersiksa. Karena dia sudah berniat melupakan semua dan menghapus rasa yang tak seharusnya ada.
"Ka! Sejak kapan kau berpilaku layaknya anak kecil?" Kak Vi bertanya kepada adik iparnya.
'Dia bukan berpilaku layaknya anak kecil. Tapi justru sebaliknya, dia berpilaku dewasa untuk menjadi tembok penghalang bagi Kakaknya dan dirinya(Harjunot). Dia tahu betul apa yang sebenarnya terjadi' batin Arsy sambil menarik kursi yang berhadapan dengan Fitri.
"Saat seusiaku dituntut untuk berpikir dewasa. Terkadang ada saatnya kita diharuskan berpilaku layaknya anak kecil yang tidak tahu apa-apa! Akan tetapi sebenarnya ia mengetahui semuanya!" ujar Kafka tersenyum penuh arti.
Harajunot yang mendengar perkataan Kafka barusan, seolah susah untuk menelan makanan ke tenggorokan. Sebenarnya apa yang Kafka lontarkan. Apa ada hubungannya dengan dirinya dan Arsy.
"Papa, mengajariku agar aku selalu memiliki pemikiran dewasa. Jadi hal seperti ini, sangat berguna untukku!" ujarnya sambil melirik kearah Papanya.
"Terima kasih Papa! Atas bimbinganmu, setidaknya aku bisa meringankan beban seseorang yang harus aku jaga!" Kafka melirik kearah Kakak perempuannya.
Bunda Cahaya tersenyum tipis, rasa bangga memiliki anak seperti Kafka. Dedikasi yang suaminya berikan kepada anak-anaknya nampaknya berhasil.
"Pa! Jangan lakukan itu!" tegur Kafka saat melihat Papanya ingin mencium kepalanya. Gelak tawa kembali terdengar, tawa kali ini begitu renyah daripada tawa sebelumnya.
"Emang kenapa? Bukanya aku ini Papamu?" tanya Langit menggoda.
"Ck!" Kafka berdecak kesal, karena ulah Papanya yang membuatnya malu.
"Apa kau tidak pernah sadar jika kau tertidur aku selalu mencium jidatmu ini!" Papa Langit bertanya sambil menunjuk kening Kafka dengan telunjuk.
"Apa? Yang benar Pa?" Kafka nampak terkejut dengan pernyataan yang keluar dari mulut Papanya.
Papa Langit mengaguuk sebagai jawaban.
"Aku pikir itu mimpi, ternyata!" Kafka menggelengkan kepalanya pelan. Sebelum berucap kembali. "Tapi sebenarnya aku juga heran sih. Kenapa mimpinya berulang-ulang!" jujurnya yang membuat Papa menggeleng.
"Apa kau pikir, hanya Ayi yang mendapatkan perhatian dari Papa? Itu tidak benar! Kamu nya saja, yang berlagak seperti orang dewasa. Enggak mau bersikap manja didepan Papa!"
__ADS_1
Kafka bergidik negeri karena ucapan Papanya membuat semua terkekeh.
"Sudahlah ayo makan, nanti telat loh!" Bunda Cahaya mengingatkan.
"Ngomong-ngomong masakan hari ini sangat beda. Terus cita rasanya juga beda!" ujar Arsy sambil menyuapkan makanan ke dalam mulut.
"Emang rasanya bagaimana?" Kak Vi bertanya.
"Enak! Kapan ya aku bisa masak se–enak ini?" Arsy berucap kembali.
Bunda menggeleng karena celotehan putrinya.
"Bunda! Apa ini Bunda yang masak?" tanya Arsy.
"Tidak! Sebenarnya yang masak adalah Fitri!"
Arsy berhenti mengunyah saat mendengar jawaban Bundanya. Matanya melotot kemudian tangannya mengambil gelas. Dan meneguk air hingga tandas. Setelah itu dia mengusap bibirnya dengan tisu. " Ternyata ini masakan Anda? Saya tidak menyangka, jujur saya suka!" Arsy bicara bak anak kecil.
Sedangkan Fitri tersenyum dibalik niqabnya. Harjunot yang mendengar perkataan Arsy, dengan tak sadarnya ia menggelengkan kepalanya karena melihat tingkah laku Arsy yang seperti anak kecil.
"Aku bisa melatih mu jika kau mau datanglah ke rumah kami!" jawabannya terdengar tulus dan lembut. Arsy yang mendengar hal itu, nampaknya kegirangan sampai-sampai ia mengangguk cepat. "Benarkah?" Matanya berbinar. Fitri mengagukk sebagai jawaban dari pertanyaan Arsy. Sedetik kemudian Arsy sadar dengan apa yang baru ia lakukan. " Ah ... tidak-tidak! Sepertinya ada banyak sekali tugas yang harus saya lakukan. Pertama saya harus buat soal, kedua saya juga harus menyelesaikan tugas saya sebagai penerjemah buku!" Arsy menggeleng mengingat pekerjaan yang harus ia kerjakan. Dan ia juga baru sadar, jika ia harus menjauhi lelaki yang duduk di samping Fitri.
"Kapanpun kamu bisa. Rumah kami akan terbuka untukmu!"
Arsy melirik kearah adiknya yang menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa ia artikan.
"Terus kasih Kak Fitri! Mungkin kapan-kapan!" jawab Arsy.
"Ehem ...Ayi! Kaka, maaf hari ini Papa, ada ketemuan sama rekan bisnis di resto. Jadi pagi ini Papa, tidak bisa mengantar kalian!"
"Kan ada Abang!" celetuk Kafka melirik kearah Gibril.
"Maaf Abang juga tidak bisa. Karena Abang harus pergi ke Bekasi!"
"Emang kalian sekolah dimana?" Fitri bertanya.
"Ada di daerah dekat hotel ini!" Bunda yang menjawab.
"Loh, bukanya sekolahan itu berlokasi di samping tempat kerjamu Mas?" Fitri menatap suaminya. Harjunot hanya mengangguk kecil.
"Ya sudah, sekalian bareng sama kita saja! Soalnya juga searah."
Jawaban Fitri membuat Harjunot terdiam. Jika itu terjadi berarti, dia akan satu mobil dengan perempuan yang berusaha ia hindari.
__ADS_1
'Sekali lagi waktu berpihak pada mereka' batin Kafka sambil mengusap wajahnya kasar.
...***...