
💝💝💝💝💝💝
...HAPPY READING......
.
.
"Jangan takut," bisik Elvino saat mereka sudah mau sampai ke ruang keluarga.
"Iya, aku tidak takut, El. Jadi jangan khawatir," jawab Adel tersenyum karena suaminya itu sangat memperhatikan dirinya.
Padahal makanya Adelia mau bertemu Aiden dan Hendra karena sudah jelas pemuda itu tidak bersalah.
"Syukurlah! Aku hanya takut kamu merasa tidak nyaman, sayang." Elvino berhenti sebentar sebelum benar-benar ke ruang keluarga.
"Aku mencintaimu!" ucapnya lagi langsung membuat Adelia tersenyum sambil mengikuti sang suami.
"El, Adel," seru Hendra dan Aiden secara bersamaan begitu melihat kedatangan pasangan suami-istri itu.
Jangan lupakan raut wajah takut keduanya. Mereka mungkin hebat di luar sana, tapi berhubung ini mau bertemu gadis yang sudah mereka tangkap karena mengira bidadari. Jadinya nyali mereka langsung ciut. Sama seperti itulah yang Elvino rasakan diawal-awal mereka menikah.
Niat hati Elvino mau membuat Adelia sengsara atas pernikahan tersebut. Padahal salahnya yang memperkosa gadis itu sehingga hamil.
Akan tetapi El harus mengubur dalam-dalam pemikiran untuk menindas sang istri, karena dialah yang disiksa habis-habisan oleh Adelia maupun si calon bayi yang ternyata memiliki ketampanan sama seperti sang papa.
"Selamat malam," ucap Adelia tersenyum kecil dan dia bukannya merasa takut. Justru malah ingin tertawa mengigat seperti apa keadaan Elvino dan kedua sahabatnya saat mereka mabuk sebelum kejadian naas itu.
"Ayo silahkan duduk," titah Adel karena dia juga langsung duduk dengan pelan. Ini adalah pertemuan kali pertama mereka bertiga setelah kejadian Adel di perkosa.
"Eum... Adel selamat, ya. Atas kelahiran Baby Eza.." ucap Hendra karena Aiden tiba-tiba menciut karena temannya saja si tampan Elvino takut pada sang istri. Jadi jelas saja dia merasa was-was.
"Iya, terima kasih! Kalian berdua kenapa sepertinya takut padaku?" tidak tahan apabila hanya diam saja. Akhirnya Adelia pun bertanya. Walaupun sudah tahu apa penyebabnya.
"Sayang, mereka berdua takut padamu," timpal Elvino tersenyum menyeringai dan ikut duduk disamping sang istri. Namun, sebelum duduk, dia sudah memberikan si kecil keatas pangkuan istrinya.
"Kalian tidak perlu takut, aku tidak memakan orang." ucap Adelia tertawa didalam hatinya.
"Adel, kami berdua mau minta maaf, atas kejadian malam itu karena semuanya diluar kendali kami." kali ini Aiden yang meminta maaf.
"Iya, aku sudah memaafkan kalian. Lagian kalian berdua tidak bersalah juga." jawab Adelia sambil menatap pada putranya yang juga menatap padanya.
"Mungkin aneh, tapi aku benar-benar bersyukur karena kejadian itu. Aku memiliki putra yang sangat menggemaskan. Dan... keluarga baru, berserta suami yang menyanyangi ku tanpa memandang harta."
Gumam Adelia di dalam hatinya. Rasa sakitnya karena sudah di perkosa secara paksa oleh beberapa orang laki-laki. Sekarang sudah tergantikan degan rasa bahagianya.
Apalagi berita bahagianya yang memperkosanya hanya Elvino. Laki-laki yang sudah menjadi suaminya sendiri.
"Terima kasih! Tapi tetap saja kami berdua merasa bersalah. Soalnya bila bukan karena kejadian itu, kamu tidak mungkin menikah dengan Elvino yang merupakan penjahat wanita pa---"
Buuuk!
Bantal sofa tiba-tiba melayang mengenai kepala Aiden.
"Hei... apa maksudmu! Aku justru bersyukur karena kejadian itu bisa memiliki istri dan baby Eza. Dan apa itu penjahat wanita?" seru Elvino yang langsung membuat Hendra dan Adel tertawa. Berbeda dengan Aiden, dia mengelus kepalanya yang dilempar.
"El, aku kan bicara benar. Tapi kenapa kamu malah marah. Jika tidak karena kejadian itu, aku yakin jika Adelia tidak mau menikah denganmu. Penjahat wanita karena hampir semua mahasiswi di kampus sudah kamu pacari." sungut Aiden tidak terima kepalanya dilempar.
"Iya, tapi kan kamu tidak usah bil---"
"Sayang, tolong buatkan susu formula untuk Eza," pinta Adel agar suaminya berhenti berdebat. Si ibu muda itu sangat mengenal sifat Elvino yang tidak mau mengalah.
Namun, itu dulu, dua bulan pernikahan mereka. Elvino memang sangat suka berdebat dengan istrinya. Apalagi gara-gara dia yang selalu membuat sampah dan tidak mau membereskan lagi bekas-bekasnya.
Akan tetapi sekarang Elvino sangat bersih. Dia tidak pernah membuat sampah seperti dulu lagi karena El juga tidak pernah main game lagi.
"Astaga!" seru Elvino langsung menunduk dan berkata.
Cup!
"Sayang, maafkan Papa, ya. Papa lupa untuk membuatkan susunya." ucap Elvino tersenyum pada sang putra yang memang lidah dan bibir kecilnya terlihat lagi menahan haus.
__ADS_1
"Sebentar ya tampan," setelah itu buru-buru sang ayah idaman pergi ke dapur untuk membuatkan susu formula seperti biasanya.
"Ternyata El memang sudah menjadi seorang ayah." ucap Hendra setelah melihat seperti apa sahabatnya menyanyangi Baby Eza.
"Iya, dia memang ayah yang sangat bertanggung jawab. El orangnya sangat pengertian, sebelum aku mengatakan apa yang dibutuhkan, tapi dia selalu paham." sahut Adel memuji suaminya.
Meskipun didalam hatinya lagi memikirkan sesuatu. Tapi Adelia tidak memungkiri bahwa Elvino adalah suami yang sangat perhatian.
"Maka dari itu kalian tidak perlu takut padaku, karena aku sudah bahagia bersamanya." lanjutnya lagi menatap pada Aiden dan Hendra dan dianguki oleh pemuda itu.
"Kami sangat bahagia bila kalian hidup bahagia. Setidaknya mengurangi rasa bersalah kami." ucap Hendra ikut tersenyum kecil karena selama ini dia dan Aiden selalu merasa bersalah.
Apalagi sebelum mengetahui jika yang melakukan perbuatan bejat itu hanya Elvino saja. Rasa bersalah dan penasaran kira-kira bayi tersebut anak siapa. Terus membuatnya tidak tenang.
"Ini," kedatangan Elvino membuat mereka tidak bicara lagi.
"Iya, terima kasih!" Adelia langsung menerima susu formula yang sudah dimasukkan kedalam botol susu khusus buat bayi pada' putranya yang terlihat sangat haus.
Soalnya nampak Baby Eza menyusu dengan tenang. Tidak menghiraukan tangan papanya yang terus mencolek pipi dan hidung mancungnya.
"Apakah dia tidak rewel? Biasanya bayi jika haus akan menagis." tanya Aiden memperhatikan Baby Eza yang lagi minum susu formulanya.
"Tidak! Anakku tidak rewel," El yang menjawab.
"Aku jadi ingin menikah juga karena melihat dirimu yang sudah menjadi papa muda." kata Hendra tersenyum.
"Ya, menikah lah, biar anak-anak kita bisa berteman juga." El pun sama tersenyum bahagianya.
Setelah itu mereka bertiga mengobrol hal apa saja. Namun, yang jelas bukan membicarakan tentang perempuan. Mana berani si mantan playboy cap kampak mencari masalah bersama sang istri yang mendengarkan saja suaminya bercerita, karena Baby Eza tidak mau tidur.
Jadi buat apa juga dia kembali ke kamar, bila hanya berdua bersama anaknya. Lagian El juga tidak boleh Adel pergi dari sana.
"El, bukannya besok kamu ada pemotretan produk baru lagi? Jadi siapa yang akan menjadi modelnya. Dirimu sendiri atau orang lain?" tanya Hendra karena tadi dia sudah tahu dari salah satu rekan kerjanya.
Sekarang perusahaan yang bersaing dengan perusahaan Wijaya group. Sudah banyak yang mengajukan kerjasama. Daripada bersaing, karena mereka sudah tidak akan mampu melawannya.
"Iya, aku hampir lupa. Jika untuk modelnya aku sendiri, karena yang membuat produknya laku adalah wajah tampanku." jawab El dengan kepercayaan diri yang tidak usah diragukan lagi.
"Sama Mama dan Tante Mona. Selama aku ke perusahaan mereka yang akan menemani di sini. Lagian aku ke perusahaan hanya untuk melakukan pemotretan saja. Jika telah selesai maka aku akan pulang. Pekerjaan lainya akan aku kerjakan dari rumah." jawab Elvino yang memang tidak bisa cuti total.
Produk yang laku dipasaran memang dia yang menjadi modelnya. Jadi mana mungkin orang lain yang mengantikan produk terbarunya lagi.
Hal ini pun sudah dia bicarakan pada istrinya, karena El tidak mungkin mengambil keputusan sendiri. Namun, bila masalah memimpin rapat besar. Maka akan dipimpin oleh papanya.
"Semoga produk terbaru kalian semakin laku dipasaran. Nanti jika ada produk terbaru, maka aku juga akan mengunakan jasamu sebagai modelnya." ujar Aiden langsung berdiri dari tempat duduknya.
"Adel, ini hadiah buat Baby Eza, dan dirimu semoga cepat sembuh. Aku mau pamit pulang sekarang karena ini sudah jam setengah sembilan." kata pemuda itu lagi karena Aiden tahu pasti Adelia lelah ingin istirahat.
Bila dia dan Hendra tidak pulang, maka Adelia akan tersiksa karena harus duduk mendengarkan mereka mengobrol.
"Iya, terima kasih! Padahal kalian sudah mau datang saja aku sudah senang." jawab Adel tersenyum kecil dan membiarkan Aiden mencolek pipi putranya.
"El, Adel aku juga mau pulang sekarang. Semoga kalian selalu diberikan kebahagiaan bersama Baby Eza. Aku juga akan memikirkan gadis yang akan dijodohkan oleh orang tuaku. Melihat keluarga kalian membuatku iri ingin menikah juga." ungkap Hendra yang memang ingin memiliki keluarga seperti El sahabatnya juga.
"Haaa... ha... perkosa saja gadis yang kamu suka. Nanti setelah tahu dia hamil, baru dinikahi. Seperti---"
Elvino tidak menyelesaikan lagi ucapnya karena tiba-tiba perutnya sudah di cubit oleh Adelia.
"Kenapa kamu mengajari sahabatmu hal yang tidak benar," seru Adelia menatap tajam pada suaminya.
"Sayang, aku hanya bercanda. Jangan marah, ya." jawab Elvino langsung merangkul bahu Adelia agar istrinya tidak jadi marah.
"Awas ya, jika kalian berdua mengikuti saran dari Elvino," ancam Adel karena dia takut jika Hendra dan Aiden mendengarkan saran gila suaminya.
"Haa... haa... kamu tenang saja. Kami tidak segila suamimu." tawa Hendra sambil keluar dari rumah sahabatnya.
"Sayang, tunggu aku mengunci pintunya, ya." ucap Elvino pada sang istri. Namun, Adelia tidak menjawab pertanyaan suaminya karena dia marah Elvino berkata seperti itu dan pikiran yang mengaggu nya sejak tadi membuat dia jadi berpikiran aneh-aneh.
"Aduh El, kamu kenapa mencari masalah, sih." rutuk Elvino pada dirinya sendiri. Setelah mengunci pintu rumah mereka. Si tampan pun berjalan mendekati istri dan anaknya.
Cup!
__ADS_1
"Aku hanya bercanda, lagian mana mungkin mereka berdua melakukannya." ucap Elvino mengecup pipi istrinya. Lalu dia pun berjongkok dihadapan wanita itu.
"Apakah masih marah? Tidak mau memaafkan aku?"
"Aku tidak marah padamu, hanya saja tidak suka kamu mengajari mereka hal seperti itu." dusta Adel dengan mata memerah menahan tangisnya.
"Eh, kenapa malah mau menangis sih," seru si tampan kembali duduk di atas sofa.
"Adelia istriku, please! Jagan berpikiran buruk tentang aku. Aku hanya bercanda dan tidak mungkin aku memilik pikiran untuk memperkosa seorang wanita. Ataupun berselingkuh yang akan menyakiti hati istriku."
Perkataan Elvino, tentu saja membuat Adelia menatap kearah suaminya. Sehingga Elvino tersenyum tampan.
"Kamu takut jika aku memperkosa wanita lagi?" tanyanya dan diangguki oleh Adel.
"Ini kenapa si ibu hamil yang sudah berubah menjadi ibu muda. Menjadi memiliki pemikiran seperti ini. Huem!" ucap Elvino yang bisa menebak pemikiran istrinya kearah mana.
"Adel, kamu dan Eza sudah membuatku bahagianya. Lalu apalagi yang aku cari, jika semuanya sudah aku dapatkan."
"Tapi El---"
"Kamu takut jika Riska datang ke perusahaan, lalu aku akan tertarik padanya?" tebak Elvino yang lagi-lagi diangguki oleh istrinya. Sekarang yang ada dipikiran Adelia tantu para wanita yang menyukai sang suami.
"Jagan berpikiran yang tidak-tidak. Nanti akan menyakiti hatimu sendiri. Aku tidak akan pernah mengkhianati mu," sambil berbicara El mengambil alih putranya untuk dibawa pindah masuk ke kamar.
"Ayo kita masuk, nanti kita bicarakan lagi." ajaknya dan hanya dianguki saja oleh Adelia.
"Sayang susunya," si ayah idaman mengingatkan agar Adelia membawa botol susu baby Eza.
Tiba di dalam kamar Elvino membaringkan anaknya di atas ranjang king size mereka. Lalu menyuruh Adel duduk disamping dirinya.
"Sekarang ayo katakan, apa yang membuatmu langsung memiliki pemikiran seperti ini lagi? Apakah ada yang mengaggu pikiranmu?" tanya El karena Adelia memang terkadang ada kalanya memiliki pemikiran sensitif.
Namun, Elvino sangat mengenal sang istri yang tidak mungkin punya pikiran seperti itu. Bila semuanya baik-baik saja dan tidak ada penyebabnya.
"El, aku... hanya takut karena kamu terlalu sempurna bagiku. Aku melihat berita di ponsel katanya kamu memiliki hubungan dekat dengan putri salah satu petinggi di perusahaan Wijaya group." ungkap Adelia yang tidak bisa memendam masalah tersebut.
Tadi siang dia melihat berita tentang Elvino dari ponselnya. Berita tentang suaminya berada di topik utama atau di bagian banner. Jadi bersabar seperti apapun dia. Tentu ada kalanya Adelia memiliki pemikiran cemburu.
"Para petinggi perusahaan Wijaya group yang mana, sayang? Itu hanya berita hoax. Pak Romi dan Pak Andes adalah yang paling dekat denganku. Mereka berdua tidak ada memiliki anak perempuan. Lalu petinggi yang mana lagi." El yang sudah dijelaskan juga oleh mamanya dan Tante Mona tentang perasaan wanita yang habis melahirkan. Tentu akan degan sabar menjelaskan pada istrinya.
Jika selama ini Adelia wanita yang cemburuan. Maka sudah lama pernikahan mereka kandas. Akan tetapi di saat berita buruk tentang suaminya yang suka bergonta-ganti pasangan menyebar luas. Wanita itu memberikan support nya dan berkata aku percaya padamu.
Jadi bila sekarang Adelia memiliki rasa tidak percaya dan curiga padanya. Tentu Elvino lebih paham, pasti ada yang tidak beres dengan suasana hati sang istri.
"Be--benarkah!" seru Adelia menyeka air matanya sendiri.
"Huem, sangat benar! Untuk apa juga aku membohongi istriku. Sudah ya, jangan seperti ini lagi. Tidak baik untuk kesehatan mu dan juga putra kita." El menarik Adelia kedalam pelukannya.
"Kamu adalah gadis yang sangat sempurna bagiku, Adel. Mana mungkin aku menoleh kearah wanita lainnya lagi." gumam si tampan Elvino.
"Coba lihat Eza, apa kamu pikir aku akan tega menyakiti kalian berdua?" tanyanya merenggangkan pelukan mereka.
"Tidak! Hanya saja aku takut ada wanita yang ingin merayu mu dan merebut mu dariku."
"Tidak akan, karena aku lebih baik mati daripada harus mengkhianati dirimu." El menjawab cepat.
"El, maafkan aku, karena ragu padamu. Tapi kamu tidak boleh berkata sembarang lagi. Jika kamu mati, maka itu sama saja akan membuatku mati. Aku sangat mencintaimu, jadi jangan pernah berkata mati lagi." seru Adelia kembali memeluk tubuh suaminya dari arah samping karena posisi Elvino berada di tengah-tengah antara istri dan juga anaknya.
"Baiklah-baiklah! Aku tidak akan mati demi kalian berdua. Tapi sepertinya malam ini kita akan bergadang menemani Eza. Coba saja lihat matanya tidak ada menunjukkan bahwa dia mengantuk ingin tidur." ucap Elvino tersenyum kearah putranya yang terlihat ingin diajak mengobrol juga.
"Apakah anak Papa tidak mau tidur?" tanyanya pada baby Eza.
Seakan sudah bisa menjawab, Eza kecil pun mengeluarkan suara yang hanya dia sendiri yang mengerti. Sehingga membuat Adelia juga tersenyum dengan matanya yang masih memerah.
"Sayang, Mama menangis karena takut Papa selingkuh. Atau mungkin diculik oleh tante-tante di luar sana." ucap Elvino mengajak putranya berbicara.
Namun, satu tangannya masih merangkul tubuh istrinya. Hal sederhana tapi Elvino selalu berhasil membuat suasana hati istrinya kembali tenang seperti semula.
...BERSAMBUNG......
__ADS_1