
💝💝💝💝💝💝
...HAPPY READING......
.
.
Ceklek!
Suara pintu yang dibuka oleh Elvino. Namun, dia membukanya sangat pelan dan mengunakan kunci serep kamar tersebut. Lalu Elvino tutup lagi dengan pelan pula karena takut membangunkan tidur sang istri.
Terlihat lampu kamar sudah dimatikan, karena tadi Elvino sendiri yang menyuruh istrinya mematikan lampu dan mengunci pintu kamarnya.
Soalnya dia belum tahu bisa pulang atau tidaknya. Sebab keadaan Tuan Arka yang sangat mengkhawatirkan. Yaitu bila saat operasi kondisinya kembali drob. Membuat si tampan tidak bisa meninggalkan tanggung jawabnya sebagai seorang anak laki-laki.
Dengan langkah pelan El berjalan menuju sofa dan menaruh tas kerjanya di atas meja. Sebelum melangkah ke arah ranjang tempat tidur. Si playboy taubat itu pun melepaskan dasi yang masih melekat pada lehernya.
Jas kerjanya tertinggal di dalam mobil mewah yang ada di rumah sakit. rencananya besok El berangkat minta diantarkan oleh sopir sampai ke rumah sakit karena dia juga mau sekalian melihat keadaan sang ayah.
Cup!
Elvino mengecup kening istrinya cukup lama. Sebagaimana seorang ayah lagi mencium putrinya yang lagi tidur. Seperti itulah Elvino memperlakukan istrinya.
"Maafkan aku, yang terlalu sibuk sehingga kamu harus sendirian. Tidak ada yang menemani sampai selarut ini," ucapnya dengan tangan bergerak menyelipkan anak rambut Adelia. Pada telinga wanita tersebut yang tertidur pulas tidak tahu bahwa suaminya sudah pulang.
"Semoga saja produk yang aku promosikan, hari ini. Akan berjalan sesuai keinginan dan keadaan papa pun bisa benar-benar pulih seperti semula. Agar aku memiliki lebih banyak waktu untuk bersama kalian." gumamnya dengan suara kecil.
Tidak ingin mengganggu tidur sang istri. Si tampan pun berlalu masuk ke dalam kamar mandi. Untuk membersihkan tubuhnya, karena mana mungkin Elvino akan tidur dalam keadaan belum mandi sejak tadi pagi.
Dia memilih mandi di bawah guyuran air shower. Tubuh Elvino benar-benar sangat lelah karena seharian ini beraktivitas tanpa istirahat.
Sampai-sampai mandi di rumah sakit saja dia tidak sempat. Soalnya tadi sore operasi tersebut dilakukan menunggu tanda tangan dari Elvino. Atas persetujuannya lah baru berlangsungnya pengangkatan darah beku yang tertinggal di bagian kepala belakang Tuan Arka.
"Eum... jam berapa ini? Apakah El sudah pulang?" tanya si ibu hamil pada dirinya sendiri karena sayup-sayup Adelia mendengar suara gemericik air dari arah kamar mandi.
"Agh, iya! Itu El pasti sudah pulang," senyum langsung mengembang di wajah Adelia yang terlihat semakin chubby.
Lalu sambil sesekali menguap wanita tersebut berjalan ke arah lemari pakaian. Untuk menyiapkan baju sang suami setelah mandi. Hal yang selalu dia lakukan setiap harinya.
Saat Adel baru menutup pintu lemari. Bersamaan dengan pintu kamar mandi terbuka lebar karena Elvino sudah selesai.
"Sayang, kenapa bangun? Apakah aku sudah mengganggu tidurmu?" dengan tubuhnya yang masih bertelanjang dada. Si tampan langsung memberikan pelukan hangat untuk istri yang selalu ia rindukan.
"Tidak! Aku terbangun karena perutku tiba-tiba terasa lapar." ungkap si cantik jujur.
Soalnya saat makan malam jam tujuh malam tadi. Adelia hanya mengaduk-aduk makanannya saja, karena pikirannya berada di rumah sakit. Mengkhawatirkan keadaan ayah mertuanya dan merindukan sang suami.
Namun, apalah daya karena ingin berangkat ke rumah sakit untuk menyusul. Sangatlah tidak mungkin. Sebab Elvino sudah melarang keras bahwa Adelia tidak boleh pergi sendirian jika tidak bersamanya ataupun Nyonya Risa dan Raya.
Semua larangan tersebut tentu saja demi kebaikannya sendiri. Entah mengapa si mantan Playboy begitu khawatir apabila kandungan istrinya kembali lemah. Seperti mana ketika Adelia sempat hampir keguguran waktu itu.
"Kamu lapar! Kalau begitu tunggu aku memakai pakaian, biar aku yang mengambilnya ke dapur." ucap Elvino yang seakan ucapannya sudah tidak bisa dibantahkan lagi.
"Huem, iya! Ini bajunya," Adel yang sudah biasa dengan sikap posesif sang suami. Hanya mengiyakan saja agar masalahnya cepat selesai.
"Terima kasih! Padahal kamu tidak perlu repot-repot menyiapkan semuanya, Adel. Aku bisa mengambil baju sendiri. Bagiku yang terpenting kamu dan anak kita selalu sehat." El memakai kaos berwarna hitam berlengan panjang, yang diberikan oleh istrinya.
"Tapi aku juga ingin melakukan sesuatu, El. Jujur aku bosan tidak memiliki pekerjaan apapun. Kamu kan tahu sendiri sebelum masuk rumah sakit. Aku selalu bekerja setiap harinya." keluh Adelia yang baru mengungkapkan perasaan bosannya kali ini.
"Sayang, tolong dengarkan aku baik-baik. Aku melarang mu tidak boleh melakukan sesuatu karena aku mengkhawatirkan keadaan mu dan anak kita. Aku bisa gila bila sampai kalian kenapa-kenapa." jawab pemuda tampan bersertifikat itu yang kembali menarik tubuh Adel kedalam pelukannya.
Cup!
Tidak lupa dia juga memberikan kecupan pada kening istrinya. "Tapi aku mohon padamu bersabarlah! Setidaknya sampai keadaan papa pulih dan perusahaan mulai stabil. Setelah itu bagaimana jika kamu setiap harinya ikut aku ke perusahaan?" El meregangkan pelukannya untuk menatap muka sang istri yang langsung tersenyum lebar.
Namun, seperkian detik kemudian. Kembali memanyunkan bibirnya lagi dan berkata.
"Memangnya tidak apa-apa bila aku ikut ke perusahaan? Lalu aku akan duduk di mana selama dirimu bekerja?"
"Untuk sementara waktu, aku masih bekerja di ruangan papa. Sampai papa benar-benar sembuh dan kembali memimpin perusahaan. Jadi di sana kamu bisa istirahat dengan tenang. Soalnya ada kamar pribadi untuk tempat istirahat dan juga sofa untuk bersantai. Terserah padamu mau memilih tempat yang mana." jawab El tersenyum sambil mengelus pipi sang istri.
__ADS_1
"Oke, baiklah! Tapi... apakah kamu tidak malu membawaku ke perusahaan, dalam keadaan hamil besar. Sehingga membuatku terlihat sangat jelek."
"Adelia istriku yang paling cantik! Kenapa aku harus malu? Aku malah bangga bisa membawamu ke perusahaan dalam keadaan hamil besar seperti ini. Agar semua orang tahu bahwa calon pewaris Wijaya group berikutnya. Sedang dalam proses menuju lahiran." seru si tampan yang gemas sendiri mendengar perkataan ibu hamilnya.
"Lagian buat apa aku malu, hanya karena keadaanmu gemuk dan perut besar. Bukannya kamu hamil karena perbuatanku. Jadi jangan pernah berpikiran yang macam-macam. Huem," Elvino menjauhkan tubuh mereka karena dia harus menyimpan handuk bekasnya ke dalam kamar mandi pada tempat yang sudah tersedia.
"El... bagaimana aku tidak jatuh cinta kepadamu. Jika setiap hari dirimu selalu memberiku cinta dan kasih sayang yang tulus." gumam ibu hamil melihat kepergian suaminya yang masuk ke dalam kamar mandi.
Adelia hanya berdiri saja menunggu suaminya keluar dari sana.
"Kamu mau makan apa? Biar aku ambilkan?" tanya Elvino berjalan mendekati istrinya lagi.
"Eh, tidak-tidak! Aku mau ikut ke dapur juga. Kamu temani saja aku membuatkan nasi goreng. Rasanya aku ingin makan nasi goreng," cegah Adel cepat, karena jika makan nasi putih dia tidak berselera.
"Itu namanya terbalik, kamu duduk saja biar aku yang membuatkan nasi goreng untukmu." ucap Elvino yang langsung mengambil ponselnya. Sebelum menarik lembut tangan Adelia keluar dari kamar dan langsung ke arah dapur bersih.
"El, aku bisa membuatnya sendiri." keluh Adel sambil berjalan.
"Tidak! Biarkan aku yang memasak. Ini sudah tengah malam. Bagaimana bila tanggamu terkena pisau atau terkena pe---"
"Iya, iya! Kamu yang masak!" Agh! Akhirnya si ibu hamil kembali mengalah. Sehingga membuat Elvino tersenyum puas.
"Memang seharusnya aku yang memasakkan untuk istriku, anggap saja sebagai hukuman karena sejak pagi aku sudah meninggalkan kalian di rumah." perkataan Elvino membuat Adelia yang tadi sempat cemberut akhirnya kembali tersenyum.
"Aneh sekali," gumam Adelia, tapi tetap saja memeluk lengan suami siaganya.
Berhubung sudah tengah malam. Jadi para asisten di rumah tangga sudah istirahat di kamar mereka masing-masing. Jadi sebelum masuk ke dalam ruangan dapur bersih. Elvino menyalakan saklar lampu dapur, agar terlihat terang.
Lalu dia menuntun Adelia agar duduk di kursi meja makan menunggu dirinya yang akan membuatkan sepiring nasi goreng untuk sang istri.
Cup!
"Duduk di sini ya, biar aku yang memasak." ucap si tampan mengecup bibir ranum Adel sebelum mulai bertempur membuat nasi goreng.
Adelia yang penasaran apakah suami siaganya itu bisa membuatkan nasi goreng atau tidak. Membiarkan saja Elvino melakukan apa yang dia mau.
"El," panggil Adel melihat Elvino memakai celemek berwarna senada dengan baju yang dipakai oleh suaminya.
Biasanya apabila sang istri lagi bertanya atau mengajak bicara. Maka El akan menyimpan ponselnya.
"Apakah kamu yakin bisa membuat nasi goreng? Aku takut nanti aku malah kelaparan, karena kamu tidak berhasil membuatnya?"
"Tentu saja bisa! Bukankah memasak hanya pekerjaan yang mudah. Menurutku lebih susah saat membuat anak."
"Agh! Elvino yang tampan! Aku bukan membahas soal membuat anak. Tapi lagi menanyakan apakah dirimu bisa membuat nasi goreng? Jika memang tidak bisa, maka jangan dipaksakan. Biar aku yang membuatnya." seru Adel yang membuat Elvino tertawa.
"Tenanglah Nyonya Muda, ini Saya lagi melihat tutorialnya dari YouTube." jawab Elvino menatap pada layar ponselnya.
"Apa! Ja--jadi Kalau memang tidak bisa membuat nasi goreng? El, kamu yang duduk di sini. Biar aku yang membuatnya. Lagian seharian ini kamu pasti sangat lelah bekerja dan menunggu di rumah sakit. Jadi biarkan aku saja, ya," si ibu hamil masih mencoba membujuk agar Elvino membiarkan dia saja yang memasak.
Akan tetapi Elvino tetaplah si Playboy cap kampak, yang sekarang berubah status menjadi suami bucin akut. Jadi mana mungkin akan kalah pada saat membuat nasi goreng.
"Tidak! Kamu duduk saja. Ini aku lagi menyiapkan bumbunya. Membuat masakan itu hanya merubah dari bahan tersebut menjadi sebuah masakan yang lezat. Jadi kamu hanya tinggal mencicipinya saja nanti. Jika memang enak, maka suatu saat nanti. Kita bisa membuka Restoran khusus nasi goreng."
"Sudahlah! Adel, percuma kamu berdebat dengannya. Hanya karena ingin membuat nasi goreng. Elvino suamimu tidak akan pernah membiarkanmu memasak."
Gumam si ibu hamil di dalam hatinya. Sambil menatap keseriusan suaminya membuat nasi goreng. Dengan sesekali melihat ke arah ponsel yang sedang menyiarkan tutorial memasak nasi goreng.
"El," kembali memangil singkat dan tersenyum.
"Apa? Nasi gorengnya belum jadi. Lagi dalam proses. Jadi bersabarlah!"
"Bukannya tadi siang kamu sudah menjadi model dadakan?"
"Huem, iya! Ada apa sayang? Apakah tidak boleh wajah tampanku terpampang pada buku majalah atau tempat lainnya?" bertanya sambil menggoda itulah yang dilakukan Elvino saat ini. Dengan tangan sibuk meracik bahan apa saja yang diperlukan untuk membuat nasi goreng.
"Bukan! Bukan karena itu. Cuma... aku tiba-tiba berpikir bahwa kamu..." Adelia sengaja menggantung ucapannya agar sang suami kembali bertanya.
"Bahwa aku apa?"
"Bahwa si tampan Elvino ternyata sangat serakah. Semua pekerjaan dia lakukan. Bahkan seharusnya pekerjaan ibu hamil, tapi diambil alih juga." Adelia langsung tergelak setelah mengucapkan hal tersebut. Sehingga membuat Elvino juga ikut tersenyum.
__ADS_1
"Jika serakah demi istriku, maka tidak masalah. Apalagi mengambil alih pekerjaannya." jawab Elvino mulai menghidupkan kompor karena dia sudah mau mulai membuat nasi goreng Ala si playboy cap kampak.
"Huh" Adelia menghembuskan nafas ke udara. "Ini sungguh tidak adil. Kenapa dia selalu tampan." keluh si ibu hamil yang selalu terpana pada ketampanan suaminya.
Selama Elvino membuat nasi goreng, pandangan Adelia terus berpusat ke arah suaminya. Sampai-sampai dia tidak sadar bahwa Elvino sudah selesai yang sekarang berdiri di hadapannya dan.
"Fiuuuh! Kamu lagi melihat apa? Huem!" El meniup muka istrinya sambil tersenyum. Akan tetapi setelah itu El berjalan menjauh. Untuk mengambil piring tempat nasi goreng yang sudah siap untuk dihidangkan.
"El, sudah selesai, ya." Adelia berjalan mengikuti suaminya dari belakang.
"Sudah! Cuma entah rasanya. Tapi kalau menurut aku sih sudah pas." jawabnya sambil menghiasi piring nasi goreng dengan irisan buah tomat segar. Agara istrinya tetap mengonsumsi sayuran.
"Agh, tapi sudah pasti enak, sayang, karena aku membuatnya ditambahkan dengan bumbu-bumbu cintaku padamu." lanjutnya lagi yang selalu berhasil membuat Adelia tersenyum.
Setiap hari, El selalu menghiasi hubungan mereka dengan jurus-jurus saat dia masih menjabat sebagai pemuda yang suka bergonta-ganti kekasih.
Akan tetapi perbedaannya saat ini adalah. Apapun yang diucapkan oleh Elvino sangat tulus dari lubuk hatinya paling dalam. Dia benar-benar sangat mencintai istrinya.
"Huem, aku tahu. Jika suami terbaikku pasti bisa melakukan hal apapun. Hanya Untuk membahagiakan keluarganya." jawab Adelia yang sudah duduk sambil menunggu di suap oleh suaminya.
Sekeras apapun Adelia menolak untuk supaya tidak disuapi, karena ingin makan sendiri. Maka Elvino pun akan melakukan hal yang sama. Sehingga lebih baik diam dan nikmat saja. Agar tidak perlu berdebat.
"Karena kamu dan anak kita adalah alasan aku tetap semangat melewati semua masalah ini. Jujur dari awal aku tidak pernah yakin pada diriku sendiri. Bahwa aku bisa menyelesaikan skripsi dan bekerja sebagai staf pemasaran di perusahaan papa." sambil menyuapi istrinya. Pasangan suami-istri itu kembali berbincang.
"Tapi buktinya kamu bisa, El. Kamu berhasil menyelesaikan skripsi dan lulus kuliah sebagai seorang sarjana."
"Iya, aku memang bisa dan berhasil menyelesaikan kuliahku. Tapi semua itu adalah berkat dirimu. Aku tidak akan pernah berhasil tanpa istri terhebat yang selalu mensuport apapun hasil dari pekerjaanku."
"El, aku hanya memberi semangat saja. Semua itu adalah keberhasilan dirimu sendiri bukan aku."
"Iya, itu menurut dirimu. Tapi tidak bagiku yang benar-benar merasa sudah kamu tuntun menggunakan lentera ke arah jalan yang lebih benar lagi." si tampan terdiam sejenak sebelum kembali melanjutkan lagi ucapannya.
"Jika bukan karena dirimu, entah seperti apa diriku sekarang. Tapi aku tidak pernah menyesal pernah menjadi anak nakal. Malah sebaliknya, aku benar-benar bersyukur. Apakah kamu tahu penyebabnya?" Adelia tidak menjawab.
Namun, dia menggelengkan kepalanya cepat, karena memang tidak mengetahui apa penyebab suaminya itu malah bersyukur.
"Karena kenakalanku yang suka mabuk-mabukan lah yang membuat kita bisa bertemu. Lalu terjadilah hal malam itu, saat aku menodai mu. Bidadari turun dari planet lain dan ternyata benar, kamu adalah bidadari dari Tuhan yang menolong diriku. Agar bisa menjadi manusia yang lebih berguna lagi untuk diriku sendiri, maupun keluargaku." jawab Elvino sambil memberikan gelas air putih. Agar istrinya minum sebelum kembali melanjutkan makan yang dia suapi.
"El, tapi bagi diriku kamu tidak seburuk itu. Kamu adalah laki-laki yang sangat bertanggung jawab, kepadaku maupun keluargamu." Adelia menyatukan jari-jari tangan mereka yang yang berada di atas meja makan. Lalu setelah itu dia berkata lagi.
"Ya, walaupun jujur! Eum... saat awal-awal kita menikah. Kamu itu sangat menjengkelkan sekali. Apalagi dengan tingkat kepercayaan dirimu itu."
"Benarkah? Tapi karena hal itu kamu juga akhirnya jatuh cinta padaku, kan? Ayo ngaku! Ibu hamil tidak boleh berbohong," goda si tampan yang tidak terasa sudah selesai menghabiskan satu piring nasi goreng yang dimakan oleh dirinya juga.
"Haa... ha... kali ini aku harus mengaku." tawa Adel berdiri dari meja makan sambil membawa piring kotor bekas mereka berdua makan.
"Cuci tangan mu saja, piring kotornya biarkan saja Besok pagi sudah ada Bibi yang mencucinya." cegah El menyusul berdiri untuk mencuci tangannya di wastafel.
"Aku hanya mencuci satu piring dan sendok beserta satu gelas. Jadi biarkan aku melakukan pekerjaan ini. Kamu tunggu saja ini sudah mau beres." kali ini ternyata si ibu hamil tidak mau mendengarkan ucapan suaminya, karena dia melanjutkan saja mencuci piring bekas mereka makan.
"Sudah selesai, ayo kita kembali ke kamar." ajak Adel yang Iya kan oleh Elvino. Di saat orang-orang sedang tidur nyenyak. Kedua pasangan suami-istri itu malah memasak di tengah malam dan makan.
Kleek!
"Masuk! Duluan kata ranjang aku kunci pintunya." titah si tampan begitu mereka sudah masuk ke dalam kamar.
Tidak membantah Adelia pun mengikuti perkataan suaminya, karena sekarang dia kembali lagi merasakan kantuk.
"Sini," El yang sudah menyusul istrinya naik ke atas tempat tidur pun, langsung meminta agar Adelia bersandar pada tubuhnya, karena mereka tidak mungkin langsung baring. Soalnya baru saja habis makan.
"Besok, aku akan berangkat bekerja lagi dan pulang seperti biasanya. Tapi... besok kamu ikut saja, karena kita akan sekalian menjenguk papa. Agar kamu tidak bosan di rumah sendirian, yang tidak ada temannya." ucap Elvino sambil mengelus kepala sang istri.
Ternyata sambil memasak tadi Elvino juga memikirkan tentang perkataan istrinya yang bosan tinggal di dalam rumah. Tidak pergi kemana-mana. Sehingga si tampan yang begitu peka dengan perasaan istrinya pun. Langsung mengambil keputusan untuk membawa Adelia pergi bersamanya.
...BERSAMBUNG......
.
.
__ADS_1
Bagi yang merasa menjadi pemenang giveaway nya segera japri, ya. Jika bingung kalian bisa minta masuk ke GC Mak Author. Nanti ada Admin yang akan menerima permintaan gabung ke Gc nya