
💝💝💝💝💝💝
...HAPPY READING......
.
.
Pagi harinya.
El sudah bersiap-siap untuk berangkat ke perusahaan. Sedangkan Adel masih berada di dalam ruang ganti. Si ibu hamil baru selesai mandi. Gara-gara kelelahan atas apa yang mereka lakukan tadi malam dan subuh ini.
Ya, jam empat subuh tadi pagi, Elvino kembali mengulangi percintaan mereka untuk kedua kalinya. Makanya si ibu hamil baru bagun dan mandi.
Dia bahkan melewatkan sarapan bersama keluarga lainnya. El saja tadi yang turun ikut sarapan dan saat kembali ke lantai atas, dia membawa sarapan buat istrinya.
"Sayang, ayo sini biar aku suapi. Setelah kamu makan aku akan langsung berangkat bekerja." ucap si tampan sudah mengisi piring dengan nasi, sayuran dan lauk pauknya.
"Kamu berangkat saja, aku bisa makan sendiri, El." jawab Adelia karena tidak ingin suaminya telat berangkat ke perusahaan.
"Sudah, sini biar aku suapi. Mana mungkin aku bisa berangkat dengan tenang, bila belum melihat mu makan," tidak bisa dibantah, si calon ayah mulai menyuapi istrinya.
Semenjak di rumah sakit waktu itu, Elvino memang sudah biasa menyuapi Adel. Entah mengapa pemuda yang tadinya pemalas itu sangat bahagia bisa memanjakan istrinya.
"Nanti tidak usah turun ya, aku takut kamu jatuh saat menuruni tangga," ucapnya sambil menyuapi sang istri.
"Aku bisa berjalan pelan-pelan, kamu jangan khawatir. Membawa perutku yang besar, mana mungkin aku akan berlari saat menaiki tangga," jawab Adel setengah protes.
"Jika begitu ikut aku turun, biar aku yang menuntun mu. Kita akan pindah ke kamar bawah saja sampai kamu sehat setelah melahirkan," tidak mau kalah, El akhirnya memutuskan untuk pindah kamar demi keselamatan istri dan calon anaknya.
Padahal baru tadi malam dia berkata, akan pindah kamarnya nunggu akhir pekan saja.
"El, kamu---"
"Maaf, mungkin sikap posesif ku membuatmu tidak nyaman. Tapi ketahuilah, apa yang aku lakukan karena aku mengkhawatirkan dirimu dan anak kita," sela si tampan yang langsung membuat pipi Adel terasa panas.
Dia ingin tersenyum lebar karena suaminya begitu perhatian dan selalu bersikap romantis di dalam segala peraturan yang harus Adel turuti.
__ADS_1
"Ayo makan lagi, setelah itu minum susunya. Nanti saat aku berangkat, kamu akan turun bersamaku dan tidak boleh kembali ke sini jika tidak ada aku." kembali mengingatkan.
Begitulah setiap harinya, El berpesan sudah seperti pada anak kecil saja. Selain itu Adel juga tidak boleh pergi sendirian. Apabila ingin jalan-jalan keluar dari rumah. Harus ada yang menemani, Raya ataupun mamanya sendiri. Kalau El sempat, maka dia sendirian yang akan mengantar kemanapun istrinya mau pergi.
"Huem, iya," menjawab disertai anggukkan kepalanya.
"Apa kamu marah karena aku terlalu banyak melarang ini dan itu?" tanya Elvino karena dia juga sadar atas larangan yang dia buat.
"Tidak! Mana mungkin aku marah diberikan peraturan yang untuk kebaikanku sendiri. Aku sangat berterima kasih karena kamu sangat perhatian padaku," jawab Adel cepat.
Cup!
"Terima kasih buat apa? Kamu adalah istriku. Sudah sepatutnya aku memperhatikan kalian berdua. Ayo makan lagi, aku sangat senang apabila melihatmu makannya banyak," kata Elvino seraya mengecup singkat kening istrinya.
"Apakah kamu sendiri tidak mau makan lagi?" tanya Adel karena dia memang sudah mengetahui bahwa Elvino sudah makan bersama keluarganya.
"Tidak, aku sudah kenyang," sambil mengobrol El terus menyuapi istrinya seperti anak kecil.
"Oya sayang, sepertinya aku akan pulang sore atau bahkan malam. Jadi jangan menungguku pulang seperti kemarin sore. Soalnya aku ingin menyelidiki karyawan papa yang satu divisi dengan diriku," ungkapnya jujur.
Tidak ada rahasia yang disembunyikan oleh Elvino. Dia selalu berkata jujur, tidak seperti dulu lagi yang suka sekali berbohong.
"Salah satunya iya, hanya saja tolong rahasiakan dari mama, ya. Aku hanya bercerita padamu. Jika aku akan menyelidiki siapa orang yang sudah berani menghianati papa," pintanya sambil menaruh piring kosong dan gelas bekas istrinya, karena Adel sudah menutup mulutnya sendiri. Sebagai isyarat bahwa dia sudah kenyang.
"Baiklah aku tidak akan mengatakan pada siapapun. Tapi kamu berhati-hati, soalnya jika benar ada yang berkhianat pada papa. Aku takutnya mereka akan menyakitimu,"
"Huem, tentu aku akan berhati-hati, karena ada anak dan istriku yang menungguku di rumah," tersenyum sambil mengelus kepala istrinya.
Hanya mendengar pesan kecil dari Adelia seperti itu saja. Hatinya sudah berbunga-bunga, karena merasakan bahagia diberi perhatian oleh sang istri. Meskipun sangat sederhana sekali bagi orang lain.
"Ayo, kita turun," ajak Adel tidak mau Elvino terlambat gara-gara dirinya.
"Kamu baru saja selesai makan, jadi tunggulah beberapa menit lagi," tolak Elvino karena tidak ingin Adelia menjadi sakit perut ataupun sebagainya.
"Tapi aku sudah tidak apa-apa yang Ayo sekarang saja turunnya," merengek karena bila tidak seperti itu maka Elvino akan menolak ajakannya.
"Ini bawaan anak kita, atau dirimu yang takut aku terlambat datang ke perusahaan?" tebak Elvino yang membuat Adelia tersenyum.
__ADS_1
suaminya itu sangat pintar sekali, padahal Adel sudah berusaha agar Elvino tidak curiga.
"Iya, kamu benar! Aku tidak ingin suamiku menjadi perhatian orang banyak. Hanya karena dia datang terlambat. Jadi ayo kita turun sekarang," Adelia berdiri sambil merangkul lengan suaminya.
"Ya sudah! Ayo!" Elvino tersenyum sambil mengulurkan tangannya dan membantu si ibu hamilnya berdiri.
Setelah itu mereka pun keluar dari kamar dengan Elvino merangkul mesra pinggang istrinya.
"Nanti, apa yang kamu butuhkan biar Bibi yang mengambil ke kamar kita." Elvino kembali mengingatkan.
"Huem... iya sayang," Adelia tergelak karena merasa geli pada ucapannya sendiri.
"Awas ya, berani sekali menggoda ku. Coba jika tidak mau ke perusahaan. Maka aku akan menjenguk bayi kita lagi," seloroh Elvino yang untungnya tidak ada yang mendengar ucapannya.
"Aaaa! Kenapa kamu mencubit ku?" tawa Elvino sambil menahan rasa sakit bekas cubitan istrinya.
"Habisnya kamu asal bicara, bagaimana jika ada yang mendengar ucapanmu,"
"Tenang saja, tidak ada siapa-siapa. Mama juga lagi pergi sebentar. Tapi katanya tidak akan lama."
"Mama pergi kemana?" tanya Adel sambil menatap suaminya membuka pintu mobil untuk menaruh tas kerjanya. Saat ini mereka sudah ada di depan mobil.
Cup, cup, Muaach!
Memberikan ciuman sana-sini, baru menjawab pertanyaan istrinya.
"Mama pergi arisan bersama teman-temannya. Soalnya Minggu depan bagian di rumah mama." jawab Elvino sambil memperhatikan raut wajah istrinya.
"Maafkan aku karena terlalu mengekang mu. Semua ini karena aku sangat mencintaimu dan anak kita. Aku takut terjadi sesuatu pada kalian berdua." gumam Elvino yang tahu jika Adel mungkin ingin pergi bebas kemanapun seperti ibu hamil lainya.
Namun, perkataan dokter yang mengatakan bahwa Adelia harus berhati-hati karena kandungannya lemah. Membuat Elvino begitu membatasi ruang gerak sang istri.
"Pantas saja sepi," jawab Adel tetap tersenyum. Meskipun ibu mertuanya tidak ada di rumah. Tapi dia masih ditemani oleh para asisten rumah tangga, yang jelas lebih dari lima orang.
"Nanti malam, setelah aku pulang bekerja dan mandi. Kita akan pergi jalan-jalan, ya. Jadi bersiap-siaplah! Jangan memakai pakaian yang singkat," setelah berpikir beberapa saat.
Elvino akhirnya memutuskan akan menunda penyelidikan untuk membantu ayahnya, karena El ingin membuat istrinya bahagia terlebih dahulu.
__ADS_1
BERSAMBUNG...