Dia Juga Anakku

Dia Juga Anakku
Ungkap Elvino.


__ADS_3

💝💝💝💝💝💝


... HAPPY READING... ...


.


.


"Ada apa? Apa mau pergi jalan-jalan?" El menutup kembali laptopnya. Lula dia memutar tubuhnya untuk saling hadap-hadapan bersama sang istri.


"Bukan, kita dirumah saja. Kamu pasti sangat lelah," jawab Adelia cepat seraya mengelengkan kepalanya.


"Lalu, apa kakimu sakit?" aaah sepertinya ayah El benar-benar mulai mengidap penyakit bucin akut.


"Bukan juga, El. Tapi aku ingin kamu bercerita masalahmu padaku. Jangan ditanggung sendiri. Bukannya kita... teman," perkataan Adel yang menyebut jika mereka hanya teman. Membuat Elvino menatap lekat mereka istrinya.


"Kenapa? Apakah kamu tidak mau bercerita padaku?" si ibu hamil yang tidak peka kembali bertanya. Sebab meskipun tadi dia ingin menyebutkan kata suamiku dia urungkan karena tidak mau El salah paham padanya.


"Tidak! Bukan itu," jawab El yang malah semakin mentap muka istrinya tanpa berkedip.


"Apakah selama ini dia hanya menganggap aku teman? Apakah dia tidak memiliki perasaan apapun padaku?" gumam Elvino yang berkelut degan pikirannya sendiri.


"El, kamu kenapa kamu melihatku terus, apakah di wajahku ada yang aneh?" wanit itu sampai mengambil ponsel suaminya untuk berkaca pada punsel tersebut. Apakah ada yang aneh atau tidak pada wajahnya.


"Tidak ada yang aneh, hanya saja pipimu bertambah bulat," jawab El tersenyum dan mengambil ponselnya.


Namun, alangkah kagetnya dia melihat tampilan layarnya sudah berganti dengan foto istrinya malam ini.


"Kamu tadi melihat ponselku?" tersenyum bukannya marah seperti para suami di dunia pernovelan. "Di ponselku tidak ada apa-apa," menjelaskan sendiri. "Apa kamu tahu, diponselku hanya ada empat nomor ponsel wanita yang aku simpan?" tanya Elvino tanpa dia sadari mengenggam tangan istrinya degan kedua tangan.


"Tidak, memangnya empat itu nomor siapa saja?" meskipun Adel sering memegang ponsel suaminya. Dia tidak pernah mengecek apapun.


Berbeda dengan Elvino, bila dia minjam ponsel Adel. Semua aplikasinya dia buka satu persatu. Seolah-olah ada yang dia cari.


"Hanya nomor mama, nomor Raya, nomor kamu dan..." tidak melanjutkan lagi ucapannya karena ingin melihat reaksi Adel akan seperti apa.


"Siapa? Apa Cica?" tanya si ibu hamil asal tebak.


"Aaaaa... kamu tu sudah dibilang sama Cica sudah putus masih saja belum percaya." El yang gemas akhirnya menarik kedua pipi tembem Adel.


"Aakh! El sakit! Kamu kebiasaan sekali," sungut Adel memanyunkan bibirnya. Sebab tarikan El memang sangat sakit.


"Apa! Benarkah sakit? Sini biar aku tiup," sebelum Adel menolak El sudah mendekati wajah mereka. Lalu meniup pelan seperti Adel terkena luka saja.


"Apa masih sakit?" bertanya tapi masih dengan posisi yang sama. Lalu meniup lagi dengan jantung berdebar-debar tidak menentu.


"Jantungku... apakah ini pertanda bahwa aku benar-benar sudah jatuh cinta padanya? Kulitnya halus sekali..." karena takut melakukan sesuatu pada pipi mulus sang istri. El cepat-cepat menjauhkan wajahnya.


"Maaf ya, aku tidak sengaja melakukannya," ucap Elvino meminta maaf pada Adel yang tubuhnya masih menegang secara tiba-tiba. Namun, entah rasa apa yang ia rasakan. Takut, gugup atau jantungnya yang berdegup kencang seperti jantung Elvino? Entahlah! Hanya Adel sendiri yang tahu.


"Agh... ti--tidak apa-apa," tersenyum paksa. "Ayo belajarlah! Biar aku temani," titahnya agar El tidak menatapnya terus.

__ADS_1


"Aku bukan mau belajar, tapi lagi mengerjakan pekerjaan kantor yang sudah aku kacau kan," jawab Elvino dengan helaan nafas berat.


"Kamu pasti bisa, jadi kerjakan pelan-pelan degan hati tenang." Adelia kembali memberikan semangatnya.


"Apakah kamu percaya sekali padaku? Meskipun sudah mendengar apa yang dikatakan oleh papa?" Elvino bertanya serius karena apa yang dia lakukan sekarang semuanya hanya demi Adel. Agar istrinya tidak bekerja lagi.


"Aku percaya padamu, kamu adalah sosok suami dan ayah yang baik. Jadi pasti bisa menaklukkan pekerjaan seperti itu. Hanya saja... benar kata mama, kamu belum terbiasa." si ibu hamil tersenyum kecil karena saat ini dia sudah kembali tenang.


"Terima kasih! Aku..." Elvino tidak melanjutkan ucapannya. Namun, dia masih memeluk Adel. Ya, begitu mendengar kata penyejuk hati, dari sang istri. Membuat Elvino langsung menarik wanita itu untuk dia dekap sambil mencium bau harum dari tubuh dan rambut Adelia.


"Aku apa? Kamu tidak perlu berterima kasih padaku, El. Selama ini kamu selalu baik padaku, padahal tidak ada hal yang aku lakukan untuk membalas kebaikan mu." jawab wanita itu membiarkan saja tubuhnya dipeluk.


"Aku selalu merepotkan mu. Tapi percayalah! Terkadang itu bukanlah keinginan ku. Aku tiba-tiba saja ingin menyusahkan m---"


"Shuuit! Apa yang kamu katakan. Kamu tidak pernah menyusahkan aku. Yang ada aku senang bisa memenuhi keinginan mu." terdiam sebentar, lalu kembali lagi berkata.


"Walaupun tengah malam harus pergi ke rumah mama, hanya numpang menggoreng nasi. Lalu setelah itu pulang lagi ke Apartemen," tergelak sendiri karena si calon baby memang seperti memiliki dendam khusus padanya.


Sehingga membuat Adelia ikut tersenyum karena terkadang dia juga merasa sudah keterlaluan. Namun, itu semua bukan kemauannya.


"Adel," panggil Elvino degan serius.


"Huem!" wanita itu hanya berdehem karena dia masih tersenyum mengigat sudah beberapa kali Elvino harus pergi ke rumah mertuanya karena dia ingin sesuatu.


"Maukah kamu menikah dengan ku?" tanya pemuda itu tidak bisa lagi menunggu selama satu bulan ke depan. Untuk menyakinkan perasaanya sendiri.


"Bukannya kita sudah menikah, lalu menikah seperti apa lagi?" Adel balik bertanya.


Jangankan sudah berpisah, baru mengatakan ada waktunya mereka harus berpisah. saja dia sudah merasakan sesak di hatinya.


"Adel, aku tidak ingin kita berpisah, maukah kamu menjadi istriku untuk selama-lamanya?" mengulangi pertanyaannya yang sama.


"El... aku---"


"Aku berjanji tidak akan menyentuh mu, sampai kamu memiliki perasaan yang sama denganku. Aku... sudah jatuh cinta padamu, Adel." ungkap pemuda tampan itu dengan sangat lantang.


Tidak ada keraguan sedikitpun saat dia mengatakan mencintai istrinya. Elvino benar-benar serius ingin menjalin pernikahan bersama Adel.


"Aku akan menunggu waktu itu datang, jadi aku mohon terimalah aku sebagai suami yang sebenarnya," lanjutnya lagi yang masih mengenggam tangan sang istri.


Akan tetapi tidak lama setelahnya Adel menari kedua tangannya secara paksa


Tes!


Tes!


Tak terasa wanita itu meneteskan air matanya, karena luka karena perbuatan El malam itu membuat Adel kembali merasa hina pada dirinya sendiri.


"Adel, kamu kenapa menangis? Jika kamu memang tidak mau denganku, maka tidak apa-apa. Tapi tolong jangan menangis, aku tidak ingin melihatmu bersedih." ucap si tampan merasa khawatir.


"El, aku bukannya tidak mau. Tapi aku ini kotor," tangis Adelia semakin keras.

__ADS_1


Bahkan saat ini Adel menekuk wajahnya diantara kedua lututnya sendiri. Dia terus menangis karena selama ini dia berusaha untuk baik-baik saja.


"Adel, kamu tidak kotor, siapa yang bilang seperti itu? Apakah ibu Sukma?" tuduh El pada wanita yang pernah menghina istrinya.


"Aku---"


"Adel, kamu tidak kotor. Aku yang sudah membuatmu seperti itu. Akulah yang menodai mu.Jadi biarkan aku bertanggung jawab untuk selama-lamanya." Elvino memegang kedua pundak Adelia yang masih bergetar karena menangis.


"Tapi bukan hanya kamu saja, El. Ada---"


"Tapi aku yang pertama! Adelia, meskipun malam itu aku mabuk berat, tapi aku masih mengigat semuanya. Mau apapun yang terjadi setelahnya, aku tetap mencintaimu."


"Tapi anak ini belum tentu anak mu, El. Aku sendiri sa---"


"Mau aku ayah biologisnya atau bukan. Bagiku dia adalah anakku, karena jujur... aku sangat menginginkan anak ini lahir dengan selamat. Aku ingin dia memanggilku papa," sela Elvino tidak membiarkan Adelia berkata apapun.


"El..." semakin menangis karena Adelia tidak menyangka jika Elvino mencintainya dan bayi yang ia kandung.


"Kamu mau kan? Huem! Aku tidak akan melakukan hal lebih padamu, aku hanya ingin kita terus bersama seperti ini," tanya Elvino untuk kesekian kalinya.


"Tapi... jika bayi ini bukan anakmu dan ternyata anak kedua temanmu bagaimana?" Adelia semakin menagis tersedu-sedu.


"Dia adalah anakku, akulah ayahnya. Percayalah!" jawab Elvino tersenyum karena dia yakin seratus persen bahwa itu memang kecebongnya.


"Jadi kamu mau kan? Aku tidak sanggup kehilangan kalian berdua, Adel. Jangankan besok setelah dia lahir dan melihat wajahnya. Saat berada di perusahaan tadi saja aku sudah ingin cepat-cepat pulang. Rasanya aku ingin kita selalu seperti ini," papar Elvino dengan jujur.


"Elvino... aku--"


"Aku tidak memaksamu menjawabnya sekarang. Kamu boleh memikirkannya terlebih dahulu, yang penting sekarang tidak usah menangis lagi ya." El tersenyum sembari menyeka air mata di kedua pipi istrinya.


"Jangan menangis! Tolong maafkan aku, karena sudah membuatmu berada di posisi seperti ini," ucapnya benar-benar merasa bersalah atas apa yang pernah dia dan kedua sahabatnya lakukan.


"Ayo pindah ke ranjang, nanti setelah kamu tidur. Aku akan menyelesaikan pekerjaan ku," ajaknya karena tidak terasa Jam sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam.


"Tidak, aku mau disini saja bersamamu," tolak si ibu hamil tidak mau.


"Ya sudah, kalau begitu diam di sini, nanti bila kamu mengantuk tidur saja, biar aku gendong pindah ke atas tempat tidur," Elvino yang tidak ingin membuat Adel bersedih lagi membiarkan saja apa yang diinginkan oleh si ibu hamilnya.


"El, aku mau menikah dengan mu, tapi tolong beri aku waktu untuk bisa menerima mu," Adel baru menjawab pertanyaan suaminya. Setelah berpikir beberapa saat saja.


"Adel, kamu serius, 'kan?" seru pemuda itu tersenyum lebar.


"Iya, aku serius! Tapi seperti katamu tadi, tolong beri aku waktu untuk bisa menerimamu sepenuhnya, karena--"


"Iya, aku akan memberimu waktu, sampai kamu bisa menerimaku dan juga benar-benar sembuh dari rasa trauma mu." sela Elvino yang sudah tahu pasti tidak mungkin Adel bisa memberikan haknya sebagai seorang istri.


"Huem... baiklah! Mari kita menjadi pasangan yang sesungguhnya." jawab Adel tersenyum malu-malu. Soalnya Elvino menyelipkan anak rambutnya ke telinga si ibu hamil.


Belum lagi tatapan matanya yang mampu membuat jantung Adel berdegup kencang.


...BERSAMBUNG......

__ADS_1


__ADS_2