
ππππππ
...HAPPY READING......
.
.
"Selamat siang Om... Manuel," ucap Elvino tersenyum kecil sebelum keluar lebih dulu karena tempat dia bekerja berada di lantai lima.
"Brengsek! Aku tidak akan membiarkan kau menjadi direktur di perusahaan Wijaya group, El. Satu-satunya yang berhak dan pantas adalah Raditya puteraku." umpat Manuel setelah tinggal dirinya sendiri di dalam lift menuju lantai dasar.
"Hari ini akan aku buat awal kehancuran mu. Percuma aku berjalan sejauh ini, bila akhirnya harus kalah dan keluar dari sini dengan cara tidak terhormat." lanjut pria itu lagi. Dia benar-benar tidak bisa terima bila Elvino menjadi penerus Tuan Arka.
Padahal sudah jelas dia berada disana karena menumpang hidup. Namun, keserakahannya ingin menjadi pemimpin yang bukan haknya. Membuat Manuel melakukan berbagai cara.
Braaak!
"Tuan kita mau kemana?" tanya sopirnya setelah menyusul masuk kedalam mobilya.
"Kita ke Restoran di jalan Y." jawab Manuel singkat. Lalu dia mengirimkan pesan pada Pak Johan dan mengajak laki-laki itu bertemu di Restoran yang akan mereka datangi.
Entah rencana apa yang akan dia lakukan. Namun, apapun itu, semuanya pasti berniat buruk pada Elvino yang saat ini lagi menelepon istri tercintanya.
π± Elvino : "Sayang! Kenapa wajahmu bertambah cantik saja?" tanya Elvino karena dia lagi menggoda istrinya.
π± Adelia : "Benarkah? Mungkin ini pengaruh dari ketampanan suamiku." jawab Adel tersenyum.
Sehingga senyuman itu menular pada Elvino. Itulah makanya El selalu bersemangat menelepon ibu hamilnya, karena semua rasa lelahnya langsung hilang. Aneh, tapi memang seperti itulah kenyataannya.
π± Elvino : "Apa ibu Hamilku sudah makan siang? Jika belum, maka aku akan pulang untuk menemanimu makan," El tidak melanjutkan lagi menggoda istrinya. Dia lebih memilih menanyakan Adelia sudah makan atau belum.
π± Adelia : "Sudah! Aku sudah makan bersama mama dan Adek. Hanya saja ini aku lagi berada dikamar. Entah mengapa rasanya tubuhku sangat lemas tidak memiliki tenaga sama sekali," jujur wanita itu karena dia tidak pernah menyembunyikan apapun dari suaminya.
π±Elvino : "Kenapa bisa seperti itu? Apakah kamu sakit? Kenapa tidak memberitahuku dari tadi? Sejak kapan kamu merasakannya?" sejumlah pertanyaan langsung ditanyakan oleh si ayah siaga.
π± Adelia : "Sayang, tenanglah! Aku baik-baik saja. Hanya terasa lemas, bukannya merasakan sakit." jawab Adelia tersenyum kearah kamera ponselnya, karena dia dan Elvino lagi melakukan panggilan video call melalui sambungan WhatsApp.
π± Elvino : "Adelia, istriku. Aku tidak mau terjadi sesuatu pada kalian berdua. Mau itu cuma lemas atau tidak. Tetap saja aku merasa khawatir." seru si mantan playboy yang tidak kaleng-kaleng dalam menjaga istri dan calon anaknya.
Apalagi sekarang Elvino sudah melihat bayi di dalam kandungan istrinya. Walaupun jenis kelaminnya belum bisa diketahui, karena setiap kali melakukan pemeriksaan. Si baby selalu bersembunyi tidak mau menunjukkan jenis kelaminnya.
Setiap pulang bekerja, Elvino langsung membersihkan tubuhnya karena ingin cepat-cepat mendekati Adelia dan menyentuh perut besar sang istri. Buat merasakan pergerakan si buah hati.
Jika lagi diajak berbicara oleh papanya. Baby tersebut seakan mengerti dan selalu bergerak semakin lincah di dalam kandungan ibunya. Terkadang Adelia sampai meringis kesakitan karena anaknya tidak mau diam.
Namun, bila Elvino mengelus perutnya dan berkata pada sang baby agar tidak bergerak yang membuat ibunya kesakitan. Maka calon buah hati mereka langsung mengerti.
π± Elvino : "Nanti sore aku akan pulang lebih awal. Agar kita bisa langsung ke rumah sakit. Jadi kamu bersiap-siap, ya," kata El yang tidak bisa dibantahkan lagi.
π± Adelia : "Heum... baiklah! Tapi kamu hati-hati, ya. Bawa mobilnya tidak usah buru-buru harus sampai di rumah, karena aku tidak merasa sakit. Hanya lemas saja." jawab wanita itu yang tahu seperti apa kekhawatiran suaminya.
Meskipun Elvino sangat posesif, tapi semua itu karena dia sangat mencintai istri dan calon anak mereka.
π± Elvino : "Tentu! Aku akan berhati-hati, karena aku tidak mau mati sekarang. Ada istri dan anakku di rumah yang menunggu kedatanganku," El terus menampilkan senyum tampan nya.
Dia benar-benar merasa bahagia melihat keadaan Adelia dan calon anaknya baik-baik saja. Hal yang membuat Elvino pusing sekarang hanya belum bisa membongkar para pengkhianat di perusahaan Wijaya group saja.
Setelah hampir tiga puluh menit berbicara bersama istrinya. Elvino pun mengakhiri panggilan mereka, karena dia harus bekerja lagi.
__ADS_1
Sekarang setiap waktunya benar-benar berharga. El harus bekerja dengan serius agar bisa melawan para musuh mereka. Selain mengusut perkara rahasia perusahaan yang bocor.
Elvino juga tengah menyelidiki tentang video dia memperkosa Adelia. Menurut pengakuan Aiden dan Hendra. Mereka berdua benar-benar tidak mengigat sedikitpun bahwa pernah memperkosa Adel.
Termasuk sesuatu yang bisa menjadi bukti. Akan tetapi kedua sahabatnya mengaku masih memakai pakaian mereka dengan benar. Termasuk pakaian dalam tidak ada yang berubah sama sekali.
Apabila mereka sudah memperkosa seorang gadis. Pasti ada meninggalkan jejak walaupun sedikit saja. Akan tetapi semua bukti itu tidak ada.
Entah apa sebenarnya yang terjadi, sehingga mereka berdua bisa ikut terlibat. Berbeda dengan Elvino. Dia memang masih ingat saat pertama kali Lele tunggal nya merenggut kesucian Adel.
"Aku sangat yakin, jika yang melakukannya malam itu hanya aku sendiri. Benar kata Sekertaris Demian. Mereka melakukan jebakan ini karena ingin menghancurkan papa." gumam Elvino mulai menghidupkan layar laptopnya.
"Yang belum aku ketahui adalah, siapa yang melakukannya. Apakah si Manuel, Brengsek itu juga. Atau masih ada musuh papa yang lainnya?" si tampan kembali bergumam.
Begitulah kesehariannya sekarang. Di sisi lain Elvino juga harus menyelesaikan pekerjaannya sebagai staf pemasaran.
Meskipun saat wisuda satu bulan lalu dia tidak bisa mendapatkan nilai terbaik. Akan tetapi Elvino juga tidak mendapatkan nilai yang buruk.
Berkat suporter dari Adelia, Elvino berhasil mendapatkan gelar sarjana dan juga bisa mempertahankan pekerjaannya di perusahaan.
*
*
Sore harinya. Tepatnya pukul setengah empat sore.
"Astaga! Aku lupa menelepon Dokter Arsinta." seru Elvino menepuk pelan keningnya sendiri. Lalu dia langsung mengeluarkan ponselnya dan menekan nomor dokter kandungan yang sejak awal memeriksa kehamilan Adelia.
Ttttddd!
Ttttddd!
π± Dokter Arsinta : "Iya, selamat sore, Tuan Muda Elvino. Ada yang bisa Saya bantu?" tanya si Dokter sopan.
π± Dokter Arsinta : "Ada Tuan Muda, Saya ada di rumah sakit sampai jam delapan malam. Soalnya Dokter Rika lagi seminar di luar kota. Jadi Saya yang akan mengantikan sementara." jawab dokter muda itu karena dia memang bertugas sampai malam harinya.
π± Elvino : "Baiklah! Kalau begitu sampai bertemu nanti. Ini Saya Baru bersiap-siap mau pulang dari perusahaan." ucap Elvino sebelum mematikan sambungan telepon mereka.
"Baiklah! Karena sudah saatnya juga jam pulang semua karyawan. Maka sore ini aku akan pulang lebih awal. Aku tidak mau terjadi sesuatu pada si baby dan ibu Hamilku," ucapnya mulai membereskan meja kerjanya.
Sedangkan di meja lainya, para karyawan lainya juga lagi membereskan meja kerjanya masing-masing.
"Pak Pram dan Ariel kemana? Kapan mereka keluar dari sini?" tanya Elvino pada dirinya sendiri.
Lalu dia berjalan mendekati rekan kerja satu timnya dan bertanya.
"Aldo, Ariel sama Pak Pram kemana? Kapan mereka perginya? Apakah sudah pulang?" tanyanya sambil melirik jam yang masih kurang jam empat sore.
Seharusnya semua karyawan perusahaan Wijaya group pulang pukul empat sore bagi yang tidak lembur. Tapi jika mereka ada yang lembur maka akan pulang sampai jam delapan malam.
"Sepertinya sudah sejak siang mereka tidak ada, Tuan Muda. Maafkan Saya karena tadi juga sibuk bekerja, jadi tidak terlalu memperhatikan mereka," tutur Aldo yang hanya berbeda beberapa tahun lebih tua dari Elvino.
"Huem! Tidak apa-apa. Sekarang bereskan saja pekerjaan mu. Saya juga akan membereskan pekerjaan Saya," Elvino menepuk pelan bahu pemuda itu.
"Kemana mereka? Apa yang membuat mereka tidak kembali bekerja di jam kerja seperti ini? Aku yakin mereka sudah melakukan sesuatu." gumam Elvino sambil memikirkan hal apa yang bisa dilakukan oleh kedua pengkhianat ayahnya.
"Mereka benar-benar sudah keterlaluan. Seharusnya pulang jam empat, tapi kenapa dari siang sudah tidak ada. Mungkinkah setelah meeting tadi siang Pak Pram tidak kembali ke sini lagi. Bukannya tadi dia berkata akan menyelesaikan semuanya dalam waktu dua hari." gumamnya kembali duduk di bangkunya sambil mengirim pesan pada Sekertaris Demian.
Untuk memberi tahu hal tersebut, karena Sekertaris pribadi ayahnya sudah menjadi rekan kerja terbaik Elvino.
π Elvino : "Demian, Pak Pram dan Ariel tidak ada di perusahaan Wijaya. Apa kau tahu mereka pergi kemana? Soalnya tadi siang, setelah keluar dari ruangan papa. Aku bertemu dengan Manuel. Takutnya mereka lagi merencanakan sesuatu yang bisa mengancam kita."
__ADS_1
π Sekertaris Demian : "Sekarang kami lagi di Hotel xxvii, Tuan Muda. Jadi Saya juga tidak tahu kemana mereka pergi. Tapi ini sebentar lagi kami akan selesai, karena tadi Tuan Muaz datangnya terlambat. Jadi setelah dari sini kami akan langsung pulang ke rumah."
Bunyi pesan yang dibalas oleh Sekertaris Demian. Saat ini untuk menyelesaikan permasalah kebocoran rahasia perusahaan. Tuan Arka lagi mencoba kerjasama dengan Perusahaan dari luar negeri.
Walaupun Manuel dan sekutunya bisa diselesaikan oleh Elvino. Tetap saja mereka tidak bisa memproses keuangan perusahaan degan cepat. Soalnya para pemegang saham kebanyakan orang-orang dari Manuel.
Mereka juga ingin mendapatkan keuntungan besar. Jadi ada masalah bukannya membantu Tuan Arka, tapi mereka malah sibuk mencari cara buat menggeser si pemilik perusahaan itu sendiri.
Boleh dikatakan jika saat ini perusahaan Wijaya group sedang di jajah oleh orang-orang mereka sendiri. Bila saja Elvino tidak berubah menjadi lebih baik dan memiliki pemikiran dewasa.
Maka sudah dari satu bulan lalu Wijaya group gulung tikar. Akan tetapi Elvino yang tadinya Disepelekan bahkan oleh ayahnya sendiri. Mampu mengendalikan semuanya secara pribadi.
Hanya Tuan Arka dan Sekertaris Demian lah yang mengetahui hal tersebut. Semua itu atas permintaan Elvino sendiri. Buat berjaga-jaga bila terjadi hal buruk pada perusahaan mereka.
π Elvino : "Baiklah! Kalau begitu nanti setelah makan malam. Kita bahas di rumah saja. Jadi kamu tidak usah pulang ke rumah sebelum selesai mengatur siasat baru kita." kata Elvino menyimpan kembali ponselnya.
Berhubung ayahnya tidak ada di perusahaan. Jadinya Elvino mengurungkan niatnya untuk pulang lebih awal dari para karyawannya.
Jadi waktunya dia gunakan buat memeriksa data-data yang baru dikirim oleh Aldo pada Email nya dari satu jam lalu.
Semenjak dia mencurigai Pak Pram dan Ariel. Si tampan Elvino memang meminta semua data itu sebelum dikirim pada kedua pengkhianat ayahnya.
Namun, semua itu tentu tidak diketahui oleh Pak Pram dan Ariel. Jadi Elvino juga bermain cantik yang tidak bisa dicurigai oleh musuh-musuh mereka.
"Tuan Muda, apakah Anda belum mau pulang?" tanya Aldo karena dia sudah mau pulang.
"Tidak! Saya akan pulang sebentar lagi. Soalnya ini lagi memeriksa data yang kamu kirim tadi," jawab Elvino jujur karena dia dan Aldo memang cukup dekat.
"Oh, Baiklah! Kalau begitu Saya duluan. Sampai berjumpa besok pagi, Tuan Muda," pamit yang diiyakan oleh Elvino.
*
Sementara itu, di kediaman keluarga Wijaya.
"Sayang, apakah kalian jadi berangkat periksa nya?" tanya Nyonya Risa mendekati menantunya yang lagi membantu Bibi memasak.
Ya, meskipun sudah dilarang oleh kedua mertua dan suaminya. Si ibu hamil tidak bisa dilarang. Dia tetap mau ikut memasak karena bosan tidak memiliki pekerjaan.
Alhasil karena Elvino dan kedua mertuanya sangat menyayangi Adel. Mereka mengizinkan menantu Wijaya memasak. Akan tetapi dengan satu syarat, yaitu Adel tidak boleh menggoreng yang sekiranya banyak mengunakan minyak.
Adel tidak boleh mengiris sayuran-sayuran atau apapun yang akan mengunakan pisau. Bukan hanya itu saja, si ibu hamil juga dilarang mengakat makanan yang dia masak karena takut tersiram makanan itu lagi.
Semua yang membuat peraturan gila itu tentu saja Elvino. Dia melakukan berbagai macam cara agar istrinya tetap aman. Jadi pada intinya Adelia itu dilarang mengerjakan apapun.
Akan tetapi karena El tidak ada alasan buat melarang istrinya. Jadi dia membuat peraturan seperti itu dan diiyakan saja oleh Adelia. Setidaknya dia masih bisa melakukan pekerjaan yang tidak dilarang oleh suami posesif nya.
"Jadi, Ma. Ini sudah beres. Jadi Adel mau mandi dan bersiap-siap," jawab Adelia seraya mencuci tangannya.
"Baguslah! Jika belum beres maka tinggalkan saja. Begitu banyak para pelayan di rumah ini. Jadi kamu tidak perlu mengerjakan apapun, Nak," ucap Nyonya Risa mengelus sayang bahu menantunya.
"Ayo kita ke depan, kamu mandi dan bersiap-siap. Nanti setelah Elvino datang, kalian bisa ke rumah sakit. Mama tidak mau terjadi sesuatu padamu dan calon cucu Mama," titah Nyonya Risa mengantar Adelia sampai ke depan pintu kamar anak dan menantunya.
"Huem, iya Ma. Kalau begitu Adel mandi dulu," tidak mau membantah. Adelia pun masuk kedalam. Setelah menutup kembali pintu kamarnya, dia pun langsung masuk kedalam kamar mandi.
Tidak lama. Hanya kurang dari dua puluh menit. Si ibu hamil sudah selesai membersihkan tubuhnya. Lalu dia keluar dari kamarnya dan mengambil dress dari lemari pakaian, yang baru dibelikan oleh Elvino saat dia keluar kota satu Minggu lalu.
Namun, baru saja dia selesai dan akan menyisir rambutnya. Ponsel Adelia berdering, karena tahu yang menelepon adalah suaminya. Wanita itu langsung mengangkat panggilan tersebut.
Akan tetapi Adelia langsung terkejut bukan main setelah mendengar suara dari sebrang sana.
"A--apa! Kecelakaan!" air matanya dan ponsel yang dia pegang langsung terjatuh keatas lantai.
__ADS_1
...BERSAMBUNG......