
💝💝💝💝💝💝
...HAPPY READING......
.
.
"Wah, ternyata dia tidak terlalu bodoh," seru El melihat ada beberapa piagam penghargaan Adelia sewaktu dari SMP dan SMA. "Jika dia pintar, kenapa tidak kuliah?" bertanya sendiri sambil melihat satu persatu barang pribadi milik sang istri.
"Tidak terlalu buruk," El kembali bicara ketika melihat figuran foto sang istri. "Kamar tidur yang simpel. Dia pandai juga merapikan kamarnya," tanpa sadar dia mulai memuji Adelia. Lelah memutar sana-sini di dalam kamar yang hanya berukuran empat kaki tiga meter itu. Elvino memilih untuk duduk dipinggir sofa. Sebab disana tidak ada sofa, yang ada hanya kursi meja rias.
"Jika aku menginap disini, akan tidur dimana, ya?" kembali bertanya yang dia sendiri saja sudah tahu jawabannya. Tidak lama setelah itu pintu kamar mandi terbuka cukup lebar. Ternyata Adelia sudah selesai menganti pakaiannya dengan baju rumahan. Dia bukan mandi dan hanya menganti dress nya dengan baju daster biasa yang dibelikan oleh bibinya sebelum dia menikah.
"Elvino?" seru Adel melihat suaminya sudah berada di atas tempat tidurnya. "Sedang apa kamu disini?" tanyanya sengit. Entah mengapa setelah tanpa sengaja bertemu El lagi membawa seorang gadis disaat seharusnya dia belajar di kampus. Membuat rasa benci Adel menjadi bertambah kira-kira nol koma empat persen.
"Tentu saja untuk menyusul mu, memangnya mau apa lagi," jawab El santai.
"El, aku lagi serius dan tidak ingin bercanda," kata gadis itu sudah berada di hadapan suaminya.
"Aku juga serius, memangnya aku ada perlu apa jauh-jauh menyusul ke sini jika bukan karena mau menyusul istriku,"
Deg!
Jantung Adel terasa nyeri mendengar kata suami yang diucapkan oleh Elvino. Andai dia tidak diperkosa oleh El dan kedua sahabatnya. Maka Adel ingin menikah dengan laki-laki yang dia cintai. Namun, dia harus mengubur dalam-dalam impian tersebut. Sebab setelah dia dan El berpisah nanti. Statusnya bukan lah gadis, tapi janda yang memiliki anak. Apa ada pemuda yang akan menerimanya dengan tulus. Walaupun ada, pasti hanya akan menyukai Adel, tapi tidak dengan anaknya.
Memikirkan hal tersebut membuat Adel kesal sendiri pada Elvino yang malah masih mendekati gadis lain lagi.
"Adel, kamu kenapa malah diam? Apakah perk---"
__ADS_1
"Iya, tentu saja perkataan mu salah besar. Aku bukan istrimu. Kita menikah hanya karena anak ini. Jadi sebutkan saja apa tujuanmu menyusul ku kemari?" sela Adel karena meskipun dia baru mengenal El beberapa hari. Tapi gadis itu sudah tahu jika suaminya pasti memiliki rencana, makanya mendatangi kediaman pamannya.
"Ck," decak El karena apa yang dikatakan oleh Istrinya memanglah benar. "Aku kesini ingin bilang sesuatu padamu. Soal kita bertemu di Danau---"
"Kenapa? Kamu takut jika aku mengadu pada mama dan papa?" Adel kembali menyela disertai senyuman mengejek. Sebab dia sudah menebaknya begitu melihat sosok sang suami berada didalam kamarnya.
"Kamu tenang saja, aku bukan gadis yang suka mengadu yang bukan urusanku," lanjut Adel memilih duduk di pinggir ranjang. Tapi yang ada disebelah kiri Elvino. Tadinya dia mau beristirahat karena sangat lemas. Namun, melihat Elvino tiba-tiba energinya seakan kembali lagi.
"Baguslah! Jika tahu seperti itu aku tidak perlu repot-repot datang kemari. Lebih baik aku jalan-jalan sama Cica," sesal El tanpa rasa malu ataupun sebagainya.
"Itu juga urusanmu, aku tidak menyuruhmu datang ke sini," jawab Adel kembali berdiri dan membuka salah satu lemari kecil tempat dia menyimpan ijazah sekolah menegah atasnya. Mumpung dia lagi ingat, karena besok pagi Adelia mau mulai mencari pekerjaan baru. Dia merasa bosan tidak memiliki kegiatan sama sekali.
"Adel, kamu mau apa?" El penasaran jadi berjalan mendekati istrinya yang sibuk memilih tumpukan berkas yang tersusun sangat rapi.
"Aku lagi menyiapkan ijazahku, takutnya nanti lupa," menjawab seperlunya.
"Ijazah! Buat apa?" kembali bertanya.
"Kamu mau bekerja?"
"Iya, rencananya besok pagi aku akan mencari pekerjaan yang dekat dari Apartemen mu. Agar tidak lelah diperjalanan," jawab Adel menutup lemari penyimpanan dan hendak berdiri. Namun, tiba-tiba kepalanya terasa pusing. Untung saja ada Elvino, jika tidak maka Adel sudah terjatuh kelantai.
"Aaagh! Te--terima kasih!" seru Adelia menarik tangannya cepat. Seakan-akan tangan Elvino memiliki daya sengatan listrik. Sehingga dia takut bersentuhan. Lain ceritanya ketika dia muntah-muntah tidak berdaya, malahan bila dibantu oleh El, akan terasa nyaman.
"Berhati-hatilah! Bagaimana bila tidak ada aku," ucap El merasa khawatir karena Adelia sedang mengandung.
"Huem, iya. Tadi kepalaku tiba-tiba saja terasa pusing. Mungkin karena dari pagi belum makan apa-apa. Jadi asam lambung ku kambuh,"
"Kenapa belum makan? Ini sudah jam setengah sebelas siang," Elvino melirik jam tangannya. Gara-gara Adel hampir terjatuh membuat pemuda itu lupa untuk bertanya tentang Adel yang ingin bekerja.
__ADS_1
"Aku belum mau makan, tapi ingin makan rujak mangga Pak RT," jawab Adel jujur. Sebab memang karena hal itu jugalah dia ingin ke rumah pamannya hari ini.
"Kenapa namanya aneh sekali? Lalu kenapa juga tidak dibikin sekarang? Setelah itu cepat makan nasi, nanti kamu malah sakit." titah El yang membuat Adelia bertanya padanya.
"Nama siapa yang aneh?" tanya gadis itu tidak paham apa yang dimaksud oleh suaminya.
"Nama mangga nya,"
"Loh, memangnya ada nama mangga yang lain?" Adel semakin bingung dan berpikir kerasa. Mungkin saja dia yang ketinggalan info. Bahwa nama mangga ada panggilan baru lagi.
Pletaaak!
"Auh... El kamu ingin membuat ku bodoh. Baru dua hari menjadi istrimu tapi ku hitung-hitung sudah dua kali kamu menyentil keningku," Adelia mengaduh seraya mengelus keningnya yang terasa perih akibat kena sentil oleh Elvino.
"Tidak aku sentil saja kamu memang sudah bodoh. Jadi aku hanya menambahkan,"
"Astaga! El jangan sampai kamu aku---"
"Aku apa, huem? Mau mengancam apa?" El memajukan wajahnya sehingga membuat Adelia mundur beberapa langkah.
"El, kamu jangan macam-macam, ya. Jika kamu berani maju, aku teriak ni," ancam Adel merasa takut.
"Aiiis! Aku bukan mau apa-apa. Cuma ingin bertanya, mangga Pak RT itu seperti apa?" desis El kembali berdiri dengan benar.
"Mangga Pak RT ya seperti mangga pada umumnya. Memangnya ada mangga jenis lain. Cuma jika mangga Pak RT pasti segar, soalnya baru di petik dan masih muda," saat menjawab mata Adel berbinar-binar. Dia sudah tidak sabar untuk memakannya.
"Ya sudah cepat bikin, setelah itu kamu makan nasi. Aku tidak mau disalahkan oleh mamaku,"
"Kan mangga nya belum ada, El. Aku mau menunggu paman pulang bekerja, agar paman yang memintanya," seru Adel mulai kesal karena jika saja ada yang mengambilnya. Tentu gadis itu ingin makan rujak mangga pada saat ini juga.
__ADS_1
...BERSAMBUNG......