
💝💝💝💝💝💝
...HAPPY READING......
.
.
"El, apakah kamu mau pergi sekarang?" tanya Adel kebetulan baru dari dapur dan berpapasan dengan suaminya yang baru saja keluar dari kamar. Pemuda itu mengenakan baju kaos putih berlengan panjang, yang hampir mirip seperti suiter. Dengan celana jeans panjang yang ada robek di kedua bagian lututnya.
"Huem, iya!" jawab El singkat dan pergi begitu saja tanpa berpamitan lagi, karena tadi sore dia sudah mengatakan pada Adel bahwa akan pergi dan menyuruh gadis itu mengunci pintu Apartemen dari dalam.
"Seperti takut diikuti saja," gumam gadis itu melanjutkan niatnya menaruh air minum yang dia bawa. Takutnya bila tidak disiapkan, tengah malam malah ingin minum.
Setelah itu Adelia pun keluar lagi dari kamarnya. Untuk memastikan terlebih dahulu pintu Apartemen tersebut, karena takut Elvino lupa menutupnya walaupun hal itu sangat tidak mungkin.
"Agh, kenapa El jorok sekali," ocehannya ketika melihat ruang keluarga yang kecil dipenuhi bungkus jajan kosong dan ada satu kaleng minuman juga. Semua itu bekas El bermain game untuk menghabiskan waktunya menjelang malam hari.
Tadi siang setelah makan dan membuat rujak, gadis itu masuk ke kamarnya tidak keluar lagi. Jadi tidak tahu apa yang sudah dilakukan oleh suaminya.
"Pantas saja dia betah tinggal di Apartemen, karena tidak ada yang melarang dia mau ngapain saja," masih mengerutuk sambil membereskan agar rapi seperti semula. Namun, sebelumnya Adelia melihat kunci pintunya terlebih dahulu.
Semenjak kejadian itu. Adel mana mungkin berani bertindak ceroboh karena takut kejadian serupa akan terjadi lagi.
"Jika seperti ini terus-terusan Elvino mau menjadi apa nantinya. Kerjaannya hanya keluyuran tidak jelas. Kasihan sekali mama sama papa," tidak ada teman didalam Apartemen tersebut membuat Adel berbicara sendiri.
Akan tetapi meskipun seperti itu semua pekerjaannya di selesaikan dengan baik. berhubung besok pagi Adel mau mencari pekerjaan yang baru. Setelah membereskan semuanya. Gadis itu kembali lagi masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat lebih awal. Sebab jam pun sudah menunjukkan pukul delapan malam.
Berbeda dengan suaminya yang sudah biasa setiap waktu orang untuk istirahat. Dia bersama kedua sahabatnya baru pergi ke tempat hiburan malam yang ada di kota tersebut.
📱 Aiden : "El, jadi atau tidak? Hendra sudah tiba di sana sejak tadi," tanya Aiden yang saat ini juga lagi dalam perjalanan menuju Bar tempat biasa mereka mencari hiburan.
📱 Elvino : "Jadi, ini aku lagi menunggu Cica keluar," jawab El jujur. Seharusnya bila dia tidak ketempat Cica, pemuda tersebut sudah tiba sejak tadi.
__ADS_1
📱 Aiden : "Baiklah, kalau begitu aku duluan," kata Aiden langsung memutuskan sambungan telepon mereka berdua.
"Ini kenapa lama banget sih, memangnya mau pergi ke undangan? Mengapa hanya dandan saja lam---"
"El, maaf ya, sudah membuatmu menunggu," ucap Cica yang baru saja turun dari Apartemen nya.
"Ya, tidak apa-apa," jawab El menatap gadis itu dari atas sampai bawah. Benar-benar tipe dirinya. Seperti itulah kiranya yang ia pikirkan.
"Kenapa melihat ku seperti itu? Apakah ada yang aneh?" tanya Cica berbasa-basi karena dia tahu El melihatnya bukan karena ada aneh. Akan tetapi karena menyukai dirinya.
"Tidak ada yang aneh, hanya saja kamu terlihat begitu cantik," El yang sejak tadi bersandar pada mobilnya berjalan memutar untuk membuka pintu mobil untuk gadis yang akan dia pacari.
Ya, El ingin menjadikan Cica sebagai kekasihnya. Begitulah sipat Elvino, mau dia suka atau tidak, asalkan dia penasaran pada gadis itu maka berbagai cara akan dia lakukan.
Selama ini Elvino tidak pernah berpacaran berlama-lama seperti orang lain, yang terkadang sampai bertahun-tahun. Jika dia paling lama empat bulan itu sudah paling lama.
"Sekarang iya, tapi di Bar ada kedua sahabatku dan pacarnya sudah menunggu di sana," El yang sudah menyusul masuk pun mulai menjalankan kendaraan mewahnya membelah jalanan ibu kota yang selalu ramai oleh kendaraan lainnnya.
"Kamu sudah sering pergi ke sana?" gara-gara baru kenal tadi siang. Jadinya Cica banyak bertanya karena belum tahu seperti apa kehidupan El selama ini.
"Iya, mungkin setiap malam, tapi hanya bersama ke-dua sahabatku," jawab El sambil sesekali bergantian dia yang bertanya. Seperti itulah sampai mereka tiba di Bar yang cukup terkenal di kota tersebut.
Begitu masuk Elvino mengandeng mesra tangan Cica menuju ruangan VIP seperti biasanya. Sebab Hendra dan Aiden sudah ada di sana.
Tanpa ia pikirkan jika Adel sering muntah-muntah secara tiba-tiba dan berakhir terkulai lemas tidak berdaya. Sebetulnya dalam keadaan seperti sekarang, Adelia tidak boleh ditinggal sendirian. Apalagi ketika malam hari seperti ini.
Namun, mau seperti apalagi, Adel dan El menikah karena kejadian malam itu, bukan karena saling mencintai.
"El, kalian sudah datang," sambut Hendra sedang bermesraan bersama seorang gadis yang baru ia pacari beberapa hari lalu. Sedangkan Aiden masih dengan pacar lamanya.
"Iya, Ca, kenalin ini kekasih Hendra sama Aiden," ucap El memperkenalkan para gadis yang biasa hidup dengan bergelimang harta.
__ADS_1
"Hai, kenalkan, nama aku, Cica," ucap Cica memperkenalkan dirinya.
"Hai juga, aku Riana, dan ini sahabat ku Delisa," jawab kedua gadis itu ikut memperkenalkan dirinya. Kekasih mereka bersahabat, tentu para wanita harus berkenalan juga. Walaupun tidak berteman baik.
Setelah saling kenal mereka berenam mulai menikmati kebebasan mereka yang sudah dianggap hal biasa. El dan kedua sahabatnya mulai minum minuman keras seperti malam-malam sebelumnya.
Begitu mulai terasa reaksi minuman tersebut. Mereka mulai keluar dari ruang VIP dan bergantian menikmati musik DJ yang dimainkan oleh seorang gadis cantik dan seksi.
Elvino pun berjoget sambil merengkuh pinggang ramping Cica yang juga mulai mabuk. Sebab wanita itu tidak sepolos penampilannya saat di kampus.
"Cica, kamu cantik sekali," rayu El disela berisiknya dentuman musik DJ yang tidak ada berhentinya.
"Apa?" tanya Cica kurang mendengar, karena suara musik jauh lebih besar walaupun Elvino sudah berteriak di tepi telinganya.
"Kamu cantik sekali, maukah menjadi kekasihku?" ulang El langsung menembak agar Cica mau menerima pernyataan cinta palsunya.
"Aku... aku tidak lagi salah dengar, 'kan?"
"Tidak! Aku ingin kamu menjadi kekasihku. Apakah kamu mau?" karena Cica belum juga mendengar ucapannya. Elvino akhirnya menarik Cica di sela keramaian menuju pojok ruangan yang sepi dan gelap. Hanya ada cahaya kelap-kelip dari lampu disko saja.
"Elvino, kamu mau mengatakan apa?" tanya Cica bingung karena dia masih ingin berjoget bersama yang lainnya. Dia juga takut salah mendengar dengan ucapan Elvino.
"Aku ingin memastikan, apakah kamu mau menjadi kekasihku," ucap El memastikan.
"El, kamu tidak lagi bercanda, kan?"
"Tidak, aku serius! Maukah kamu menjadi kekasihku?" kembali mengulangi perkataannya.
"Eum... tentu saja aku mau, wanita mana yang bisa menolak dirimu," Cica tersenyum dan langsung mengalungkan tangannya pada leher Elvino.
...BERSAMBUNG...
__ADS_1