Dia Juga Anakku

Dia Juga Anakku
Menutupi Kesedihan.


__ADS_3

💝💝💝💝💝💝


...HAPPY READING......


.


.


Walaupun dengan jantung berdebar-debar. Eza dan Olivia berhasil melaksanakan pernikahan mereka dengan benar. Berhubung hanya Eza yang memiliki orang tua dan keluarga, jadinya Olivia hanya mengikuti pemuda yang telah sah menjadi suaminya dari belakang.


Gadis itu ikut meminta restu pada Elvino dan Adelia. Ralat! Bukan hanya pada kedua mertuanya, tapi juga pada Tuan Arka Wijaya bersama Nyonya Risa. Bahkan pada anggota keluarga inti Wijaya.


"Oma, tolong do'akan pernikahan kami." ucap Olivia yang tidak berhenti meneteskan air matanya sejak tadi. Bagaimana tidak. Dihari pernikahannya dia hanya seorang diri tanpa ada sanak saudara sama sekali.


Ibu panti yang membesar Olivia dari umur sembilan tahun sampai umurnya dua belas tahun, juga sudah meninggal dunia. Sehingga dia diusir oleh anak ibu panti. Olivia dianggap sebagai anak pembawa sial. Itulah alasannya Oliv tidak memiliki siapapun yang bisa disebut keluarga.

__ADS_1


"Tentu, Nak. Oma akan mendo'akan yang terbaik untuk pernikahan kalian berdua. Kamu jangan menangis lagi karena ada kami sebagai penganti keluarga barumu." Nyonya Risa menyapu lembut air mata cucu menantunya.


"Jangan pernah merasa sendiri lagi. Lihatlah karena kamu menangis, Mama Adelia juga ikut menangis. Dulu saat menikah dia juga hanya ditemani oleh Paman Hasan dan Tante Mona istrinya. Kamu tidak sendirian lagi." lanjut beliau tersenyum.


Tanpa dijelaskan ataupun bertanya, tentu mereka semua tahu apa penyebabnya. Siapapun yang berada di posisi Olivia pasti akan menagis. Dia menikah dengan seorang calon pewaris Wijaya group yang memiliki keluarga besar.


Malu? Itu sudah pasti! Merasa paling hina bila dibandingkan yang lainnya. Sudahlah pernikahan tersebut hanya untuk menutupi kesalahannya dan Eza yang berada dalam satu kamar hotel.


"Iya, Oma terima kasih karena kalian sudah mau menerimaku dengan baik." jawab Oliv masih terisak kecil.


"Dasar bermuka dua! Bisa-bisanya dia bersandiwara untuk menipu keluarga ku dengan air matanya. Tidak akan aku biarkan kau menikmati uang dari kami, Oliv."


Mendengar perkataan semua keluarga Wijaya menguatkan dirinya agar tidak larut dalam kesedihannya. Olivia pun bisa rileks kembali saat menyambut para tamu yang mau memberikan do'a restu pada pernikahan mereka.


Di atas pelaminan yang megah, Eza juga tidak memperlihatkan wajah terpaksa. Dia justru nampak bahagia sekali.

__ADS_1


"Za, Oliv. Selamat ya, semoga pernikahan kalian selalu dilimpahkan kebahagiaan." ucap Leo, Marvel dan Riki. Ketiga sahabat baik Eza.


"Ck! Diamlah sebelum mulut kalian aku suapi dengan sepatuku." decak Eza kesal karena tahu sahabatnya hanya mengejek saja.


"Iya, terima kasih." berbeda pula jawaban dari Olivia. Gadis itu selalu menangapi baik do'a orang terhadap pernikahannya.


"Sabar, Eza... jika kamu marah-marah berarti kamu tidak sabar untuk kembali ke kamar pengantin. Tunggu acaranya selesai jika ingin belah duren." seloroh Riki yang membuat mereka tertawa bersama.


"Eza... selamat ya." pada saat itu juga terdengarlah suara lembut dari Ezia yang ikut memberikan ucapan selamatnya. "Semoga kamu dan... Olivia bahagia dan hanya maut yang memisahkan kalian." lanjut Ezia menahan air matanya.


"Zi... maaf, aku tidak sempat menemui mu untuk mengundang secara khusus, karena waktunya begitu---"


"Ya, aku mengerti. Tidak apa-apa karena kamu pasti sibuk mengurus pesta pernikahan kalian." sela Ezia memaksakan untuk tersenyum.


"Kenapa gadis ini terlihat menahan air matanya? Apakah dia menyukai si sombong?"

__ADS_1


Tebak Olivia yang bisa menebak dari raut wajah Ezia. Walaupun gadis itu tersenyum, tetap saja tidak bisa menutupi kesedihannya.


... BERSAMBUNG... ...


__ADS_2