
💝💝💝💝💝💝
...HAPPY READING......
.
.
Tap!
Tap!
Suara langkah kaki para petinggi perusahaan Wijaya group dan juga langkah kaki Elvino. Berhubung waktu istirahat hanya diberi oleh Elvino selama tiga puluh menit. Jadinya mereka hampir serempak kembali ke dalam ruang Meeting yang sudah terlihat seperti ruang eksekusi bagi para pengkhianat.
"Jam satu lewat empat belas. Rapat pemilihan pemimpin sementara akan segera dimulai." ucap Staf Aldo yang sudah di panggil oleh Elvino langsung. Soalnya dia sangat percaya pada pemuda itu.
"Huem! Tuan Muda El, tadi sambil makan siang. Kami juga sudah merundingkan soal pemilihan pimpinan yang baru. Untuk membuat agar semuanya bisa tenang. Lebih baik kita lakukan pemilihan saja terlebih dahulu. Nanti baru kita lanjutkan lagi rapat yang belum selesai." ucap Pak Romi berbohong terlebih dahulu sebelum menyampaikan usulan darinya.
"Iya, Saya juga sudah berpikiran seperti itu. Jadi sepuluh menit lagi kita lakukan pemilihannya," tidak mempersulit setiap usulan yang diberikan Elvino pun langsung bertindak cepat.
"Aldo, tolong bantu Ibu Ria mempersiapkan untuk pemilihan kita," pemuda itu pada Aldo yang hampir seumuran dengannya.
"Sudah kami siapkan Tuan Muda," jawab Aldo berdiri dari tempat duduknya dan mendekati kotak besar yang tingginya hampir satu meter setengah.
"Good! Ayo, lakukanlah pemilihan menurut hati kalian masing-masing," ucap Elvino yang sudah mempersiapkan segala kemungkinan yang terjadi.
Sehingga membuat Manuel dan sekutunya berdiri lebih dulu untuk melakukan pemilihan, karena sejatinya merekalah yang menginginkan pemimpin baru.
"Paman, ayo keluarkan hak Paman juga, jangan sampai Paman golput." kata Elvino yang masih sempat bergurau. Padahal orang-orang didalam ruangan tersebut lagi merasa tegang.
"Tentu saja Paman akan ikut memilih. Tapi biarkan mereka duluan," jawab Paman Abraham ikut tersenyum.
"Tuan Arka, setelah anda sadar nanti dan mengetahui apa yang terjadi di Perusahaan Wijaya group. Sudah pasti kalian semua akan bangga memiliki putra seperti Tuan Muda Elvino. Saya benar-benar tidak menyangka bahwa dia sehebat ini dalam menghadapi masalah."
Gumam Paman Abraham yang sejak tadi selalu memperhatikan gerak-gerik Elvino, saat menghadapi serangan-serangan kecil dari Manuel dan sekutunya.
"Semuanya, ayo cepat lakukan dengan teratur." ucap Pak Romi mengasihi agar semua berjalan sesuai rencana.
Soalnya dia dan rekannya yang lain sudah mengetahui bahwa Manuel dan Pak Pram bekerja sama. Dari mana mereka tahu? Jawabannya tentu saja melihat penyerangan yang dilakukan sekutu Manuel kepada Elvino sejak tadi.
"Ya Tuhan! Semoga yang memilih diriku lebih banyak daripada Manuel ataupun Izkar anaknya." do'a El di dalam hatinya.
Hampir empat puluh menit kemudian, Elvino dan beberapa pemegang saham lainya juga ikut memilih pilihan mereka.
Meskipun Elvino merasa tegang, karena takut tidak menang. Pemuda tampan itu tetap terlihat tenang. Padahal saat ini di dalam hatinya ingin menjerit minta maaf pada sang ayah yang telah mengecewakan beliau.
Soalnya Elvino tidak ada meminta dukungan pada siapapun. Dia benar-benar mengandalkan kemampuannya dan keberuntungan saja. Jadi melihat upaya Manuel dan yang lainya. Membuat Elvino menaruh harapan kecil.
Sadar diri juga jika skandal dirinya yang menyebar tadi pagi. Bisa membuat pendukung ayahnya berpaling ke Manuel.
"Tuan Muda, apakah mau dihitung sekarang?" tanya Aldo setelah semuanya selesai. Ternyata hanya untuk melakukan pemilihan saja sudah menghabiskan waktu satu jam kurang lebih.
"Iya, jangan sampai, jam empat sore belum selesai," jawab Elvino sambil memutar pulpen yang dia pegang sejak tadi.
"Baiklah, sekarang kita akan menyaksikan sendiri penghitungan suara yang sudah kita pilih." ujar orang yang bertugas menghitung hasil pemilihan.
"Tuan Manuel!" hasil penghitungan pertama mulai dibacakan.
"Tuan Manuel!"
__ADS_1
"Tuan Manuel!"
"Tuan Manuel!"
"Tuan Andes!" ternyata tidak hanya Elvino dan Manuel saja yang mereka pilih. Namun, juga Pak Andes. Intinya mana yang mereka suka dan yakini bisa membawa Wijaya group tetap berdiri saja.
"Tuan Manuel!"
"Tuan Muda Elvino!"
"Tuan Muda Elvino!"
"Tuan Manuel!" dari sekian banyak hasil suara. Nama Elvino hanya beberapa saja.
Sehingga membuat para musuhnya tersenyum menyeringai. Mereka sudah merasa menang. Padahal penghitungan suara dari seratus persen, baru dibacakan sebanyak dua puluh lima persen.
"Huh! Tenang El, jangan sampai mereka melihat ketakutan mu," El bergumam lagi di dalam hatinya.
"El," Paman Abraham memangil singkat.
"Saya baik-baik saja, Paman tidak perlu khawatir," jawab pemuda itu yang mengerti kenapa pria paruh baya tersebut memangil dirinya.
"Huem!" lalu beliau pun hanya mengangguk saja. Dalam ruangan yang tadinya ramai, setelah Aldo dan dua orang rekannya mulai menghitung jumlah suara. Semua peserta rapat menjadi senyap, yang terdengar hanya suara nafas mereka dan suara penghitungan hasil pemilihan.
"Tuan Muda Elvino!
"Tuan Andes!" begitulah seterusnya hasil pemilihan suara. Sehingga tepat pukul tiga sore. Penghitungan suara sudah selesai.
"Maaf Tuan Muda, hasil pemungutan suara sudah selesai." kata Aldo memberi laporan.
"Iya, lanjutkan saja," titah Elvino diam memperhatikan.
"Ini jumlah yang rusak, berarti orangnya tidak memilih siapapun. Sebanyak dua belas suara. Lalu yang memilih Tuan Manuel sebanyak... Empat puluh sembilan orang. Lalu yang memilih Tuan Andes lima orang dan yang memilih Tuan Muda Elvino adalah..." si pembaca hasil akhir mengantungkan ucapannya beberapa saat.
"Dari jumlah seratus lima puluh lima orang. Yang dua belas rusak dan Ternyata Tuan Muda Elvino mendapatkan sembilan puluh suara. Jadi pemenangnya adalah Tuan Muda," seru wanita itu yang langsung membuat riuh suara tepuk tangan.
"El, selamat, Nak! Kamu sudah berhasil menyakinkan mereka," ucap Paman Abraham berdiri dari tempat duduknya dan langsung memberikan pelukan hangat untuk Elvino.
"Terima kasih, Paman. Semuanya berkat paman dan orang-orang yang masih setia pada papa." jawab Elvino merendah.
Padahal sudah jelas, apabila El tidak bisa memberikan data-data yang ia lihatkan tadi. Maka harapannya untuk menang sangatlah tipis.
"Ternyata Paman tidak salah menebak. Bahwa kamu benar-benar menjadi duplikat Tuan Arka, Nak!" Paman Abraham menepuk pundak Elvino setelah melepaskan pelukan mereka.
"Tuan Muda, selamat! Saya sangat percaya bahwa Anda bisa membawa perusahaan Wijaya Group lebih maju dari sekarang." ucap Pak Andes ikut memberikan selamat karena dirinya sendiri juga memilih Elvino.
Meskipun ada lima suara yang memilih dirinya. Beliau tidak tertarik sama sekali, karena untuk menjadi seorang pemimpin tidak hanya asal tahu pekerjaan kantoran saja. Namun, harus seperti Elvino, yang memiliki pengalaman luas dalam menyikapi masalah pelik seperti saat ini.
"Terima kasih, Pak Andes, karena kalian sudah memilih Saya sebagai pemimpin sementara." El menjabat tangan lelaki tersebut.
Lalu berlanjut yang lainnya juga ikut memberikan selamat pada Elvino, yang tidak menyangka akan menang. Soalnya sejak awal penghitungan suara, dia sudah kalah lebih dulu.
"Tuan Muda, selamat!" ucap Manuel juga ikut memberikan ucapan selamatnya. Padahal di dalam hatinya lagi menyumpahi Elvino.
"Iya, terima kasih, Pak Manuel," jawab Elvino tersenyum kecil. Meskipun dia mengetahui niat jahat lelaki tersebut.
"Brengsek! Bagaimana mungkin aku bisa kalah darinya. Padahal sudah jelas sebelum jam makan siang, semuanya masih mendukung diriku." umpat Manuel hanya bisa menahan geram di dalam hatinya.
__ADS_1
Setelah semuanya memberikan ucapan selamat dan para peserta rapat kembali pada tempat duduknya masing-masing. Rapat yang sempat terdunda, sekarang kembali dibahas lagi.
"Karena Saya yang kalian pilih. Maka Saya ingin kita membuat produk baru yang akan kita luncurkan Minggu depan," ucap pemuda itu langsung tutup poin sesuai rancangan yang sudah dia buat.
Duuar!
Manuel dan orang-orang yang tidak memilih Elvino Tadi. Langsung mengangkat kepala mereka dan melihat ke arah sang pemimpin.
"Tuan Muda, apa maksud Anda? Bukankah semua ini terlalu cepat." seru rekan Manuel. "Apa Anda tahu apa resikonya, bila kita meluncurkan produk baru yang belum tentu bisa laku di pasaran?" lanjutnya tidak setuju karena akan berdampak buruk pada mereka yang berkhianat.
"Saya sangat tahu Tuan Hendrik! resikonya memang sangat besar. akan tetapi bila produk ini laku di pasaran. Maka kita bisa menutupi kerugian yang sudah ada," jawab Elvino seakan tidak bisa dibantah lagi.
"Tapi apa yang dikatakan Tuan Hendrik benar, Tuan Muda El. Jika produk tersebut bisa laku di pasaran, maka tidak akan jadi masalah. Namun, apabila gagal, resikonya kita akan bangkrut secara menyeluruh." protes orang yang tadi ikut memilih Elvino.
"Saya tidak mau ambil resiko Tuan Muda." timpal beberapa orang.
"Saya sendiri yang akan menanggung risiko ini. Apabila Saya gagal, maka taruhannya adalah gedung Wijaya Group. Tidak mungkin gedung ini tidak bisa membayar seluruh gaji karyawan," jawab Elvino dengan keyakinan bahwa dia bisa memulihkan kondisi perusahaan saat ini. Agar bisa berjalan stabil.
"Tuan El, Saya setuju dengan keputusan Anda, karena bila tidak mencobanya. Maka bagaimana kita bisa maju," Pak Andes langsung mengangkat tangan setuju dan diikuti oleh yang lainya.
"Saya juga setuju, jika kita pernah gagal. Maka bukan berarti harus gagal terus." ujar Pak Romi.
Sehingga akhirnya semuanya setuju dengan usul Elvino. Perusahaan Wijaya group akan meluncur produk baru yang idenya langsung dari sang presdir baru.
"Tuan Manuel, apakah Anda tidak ada usulan lainnya? Jika Anda punya pandangan lain buat memperbaiki nilai saham kita. Maka sampaikanlah sekarang. Di sini kita melakukan musyawarah ini agar bisa mendengarkan pendapat masing-masing," ucap Paman Abraham.
"Ti--tidak ada, karena menurut Saya apa yang dikatakan Tuan muda sudah benar." mengalah untuk sementara dan mencari cara lainnya. Itulah yang Manuel lakukan saat ini.
"Huem!" El berdehem sambil melihat jam pada pergelangan tangannya yang ternyata sudah menunjukkan pukul setengah lima sore.
Sepanjang perusahaan Wijaya group berdiri. Hari ini adalah hari pertama, adanya rapat hampir seharian penuh. Sehingga para karyawan sudah pulang lebih dulu, karena baru kali ini juga ada masalah seperti sekarang.
"Untuk rapat hari ini, kita akhiri sampai di sini dulu. Tentang produk yang akan kita luncurkan, akan Saya bicarakan lagi dengan kalian setelah membuat sampelnya." ucap pemuda itu yang sudah rindu pada istrinya.
Bukan hanya tidak bisa pulang. Akan tetapi dia juga tidak bisa menelepon ibu hamilnya yang saat ini masih berada di rumah sakit, bersama keluarganya.
"Dan untuk masalah kecurangan Pak Pram, biarkan pihak berwajib yang akan menanganinya, karena sebelum mengalami kecelakaan. Sekertaris Demian sudah memberikan laporan beserta barang bukti. Jadi bila ada diantara kalian yang bersekongkol dengannya. Saya harap berhentilah dari sekarang. Agar hukuman kalian bisa diberikan keringanan." ucap tegas Elvino seraya berdiri.
"Untuk kerjasamanya, terima kasih! Saya berjanji tidak akan mengecewakan kalian semua." lanjutnya lagi yang langsung keluar dari sana lebih dulu. Di ikuti oleh Aldo dibelakangnya.
"Al, tolong kamu awasi Hendrik. Apa bila dia datang meminta data dari staf pemasaran. Maka berikan seperti yang Saya ajarkan," ucap si tampan berhenti untuk mengingatkan Aldo.
"Baik Tuan Muda, Saya akan mengawasi semua Staf pemasaran."
"Baguslah! Sekarang kamu juga bersiap-siaplah untuk pulang, karena kita sudah telat setengah jam dari waktu biasanya." Titah Elvino karena dia juga sudah mau pulang.
"Iya Tuan Muda, Saya pulang duluan," pamit Aldo undur diri. Lalu sebelum pulang ke rumah sakit. Elvino masuk kedalam kantornya lebih dulu. Untuk mengambil pekerjaannya yang akan dia bawa pulang.
Tidak lama, hanya beberapa menit kemudian. Si tampan sudah keluar lagi. Hari yang sudah sore membuat dia langsung memilih pulang.
"Akhirnya mereka percaya padaku untuk mengemban amanah ini. Sekarang aku tinggal membuat sampel contoh produknya. Semoga tidak ada kendala lagi. Biar Wijaya group kembali berjaya seperti semula."
Gumam Elvino sambil berjalan menuju mobilnya di depan lobi perusahaan.
"Selamat sore Tuan Muda," sapa pengawal yang masih berjaga di sana, karena takut para wartawan yang sudah diberikan wawancara, kembali lagi untuk meminta jawaban dari Elvino langsung, karena tadi yang mewakili adalah utusan Paman Abraham.
"Iya, selamat sore juga," jawab Elvino masuk kedalam mobil. "Terima kasih atas kerja keras kalian semua," sambungnya lagi dan langsung menghidupkan mesin mobilnya untuk meninggalkan gedung perusahaan Wijaya group.
... BERSAMBUNG... ...
__ADS_1