
💝💝💝💝💝💝
...HAPPY READING......
.
.
Sore harinya.
Di dalam ruangan presdir perusahaan Wijaya. Elvino dan Sekertaris Demian lagi berbicara berdua, karena yang belum pulang hanya mereka berdua. Terkecuali karyawan yang lagi lembur di bagian deviasinya masing-masing.
"Apakah ini Pak Pram yang mengirimnya pada Anda?" tanya Sekertaris Demian setelah Elvino memperlihatkan sebagian data yang sudah dia cek ulang dengan pengeluaran. Sebetulnya itu adalah urusan Staf keuangan. Akan tetapi karena Elvino ingin menyelidiki kasus tersebut. Dia rela menambah pekerjaan baru lagi.
"Bukan! Yang mengirim data ini adalah Ariel. Jadi aku rasa dia dan Pak Pram bekerja sama juga. Aku sangat yakin bila mereka juga terlibat." jawab Elvino menyamakan degan data pada Sekertaris Demian.
"Tunggu aku menyelesaikan pemeriksaan data ini. Paling lama dua atau tiga hari, setelah itu kita selidik data yang berkaitan dengan ini. Tapi kamu diam saja, jagan beritahu papa," lanjut si tampan yang tahu jika ayahnya tidak percaya bahwa Elvino mampu menyelesaikan masalah tersebut.
"Baiklah! Tuan Muda tidak perlu khawatir. Saya tidak akan memberitahu tuan Arka. Kita akan bersama-sama menyelesaikan sampai tuntas, karena saya sangat yakin. Bahwa Anda pasti mampu memimpin Wijaya group." ucap Sekertaris Demian yakin karena ternyata dia juga memiliki pemikiran yang sama seperti Adelia.
"Huem! Terima kasih karena kamu percaya aku bisa membantu papa. Semua ini karena Istriku yang selalu menyemangati ku," jawab Elvino tersenyum begitu mengingat sosok istri polosnya.
"Haa... haa... pantas saja Tuan Arka dan Nyonya Risa sangat menyayangi Nona Muda Adelia, karena dialah, Anda sangat banyak perubahan." tawa Sekertaris Demian siapa-siapa mengambil ancang-ancang buat keluar dari ruangan tersebut.
Soalnya mereka juga sudah selesai. El akan menyelidiki sendirian. Setelah itu baru dia akan memberitahu Sekertaris Demian.
"Hei... berani sekali kamu menertawakan aku," teriak El yang tidak dihiraukan oleh Sekertaris Demian. Dia hanya tersenyum karena sudah membuat Elvino mengejar langkahnya masuk kedalam lift khusus bagi petinggi perusahaan.
"Jadi nanti malam Anda akan mulai memeriksanya?" tanya Sekertaris Demian mulai serius lagi karena tadi dia hanya menggoda tuan mudanya saja.
Dia dan Elvino memang sudah biasa saling ejek, selain mereka seumuran. Sejak kecil juga sudah saling kenal. Boleh dikatakan berteman cukup dekat, karena Sekertaris Demian sering ikut ayahnya kekediaman keluar Wijaya.
"Iya, nanti malam setelah makan malam bersama Istriku. Agar kita mengetahui siapa saja yang terlibat. Tapi kamu buat saja seakan-akan tidak tahu apa-apa." jawab Elvino sambil menunggu pintu lift terbuka.
"Oke-oke! Anda tenang saja. Kita akan mengurus pekerjaan masing-masing, karena Saya juga lagi menyelidiki pak Johan. Tuan Arka mencurigai dia karena saat rapat pemegangnya saham bulan lalu. Dia seperti menyalahkan Tuan Arka atas kebocoran produk kitanya baru. Padahal sudah jelas itu bukanlah kesalahan Presdir." jelas Sekertaris Demian terus berbincang sampai mereka tiba di dekat mobil masing-masing yang sudah berada di depan lobby perusahaan, karena sudah disiapkan oleh penjaga keamanan.
"Jelas saja papa mencurigainya. Orang bodoh sepertiku pun akan berpikir seperti itu. Seharusnya dia melindungi papa, kan. Tapi dari caranya seperti mau menurunkan jabatan papa saja," Elvino mengeram kesal karena begitu banyak orang-orang yang ingin ayahnya tergeser dari jabatannya.
"Iya, Anda betul dan Saya rasa orang yang mengancam Tuan Arka tentang skandal Anda waktu itu juga salah satu dari mereka. Jadi Anda harus berhati-hati dalam bertindak, karena salah sedikit saja. Maka bisa jadi akan menjadi boom buat perusahaan Wijaya group." peringat dari Sekertaris Demian.
Umur mereka boleh sama, akan tetapi dia jauh lebih pintar dari Elvino yang otaknya sudah dicemari minuman keras dan wanita-wanita cantik.
"Huem, aku sudah menduganya sejak awal. Makanya papa tidak bisa mendapatkan rekaman cctv di tempat kejadian. Tapi... jujur, aku merasa bersyukur karena orang itu sudah mengancam papa. Sehingga aku bisa menikah dengan Adelia," sekarang berganti Elvino yang tertawa sebelum masuk kedalam mobilnya sendiri.
Tiiin!
Tiiin!
__ADS_1
"Aku duluan, kamu cari pacar sana! Jagan menjadi patung mekanik papa setiap hari," ejek Elvino seraya melambaikan tangannya.
"Saya akan mencari pacar, jika Anda sudah bisa memimpin Wijaya group, tuan muda," jawab Sekertaris Demian ikut menjalankan kendaraan mewahnya.
Selama dalam perjalanan pulang. Pikiran Elvino terus memikirkan kira-kira siapa saja orang-orang yang dekat dengan papanya. Gara-gara tidak pernah ingin tahu masalah perusahaan. Sekarang membuat Elvino kebingungan untuk menyelidiki semuanya bila tidak ada Sekertaris Demian yang membantunya.
"Apakah Papa tidak menaruh curiga pada orang yang mengancamnya, ya? Aku rasa mereka mengira setelah aku dipaksa menikah dengan Adel. Maka akan bertambah parah nakalnya." ucap Elvino sambil memperhatikan jalanan yang sangat ramai oleh kendaraan lainnya.
"Jadi karena tidak terjadi apa-apa setelah aku menikah dengan Adel, jadi mereka mulai menyerang perusahaan. Ya, pasti seperti itulah cara mereka ingin menggeser posisi papa." tebak Elvino karena selama ini dia memang tidak pernah ingin tahu siapa orang yang merekam kejadian saat dia memperkosa Adelia.
"Aku sangat yakin, orang yang mengancam papa memiliki rekaman aslinya. Aku harus mengetahui siapa dalangnya. Agar ketahuan yang melakukannya malam itu, hanya aku saja atau memang kami bertiga." El mencurigai hal tersebut setelah dia kembali menggauli Adelia.
Dari sana dia merasa bahwa yang memperkosa Adel malam itu hanya dia sendiri. Elvino juga masih ingat, pagi saat setelah kejadian malamnya itu. Aiden dan Hendra tidak mengakui bahwa mereka juga melakukannya.
Berbeda dengan Elvino yang masih ingat saat melakukannya. Meskipun hanya sebagian saja. Akan tetapi darah perawan Adelia yang menempel pada Lele tunggal nya. Adalah sebagai bukti bahwa dia benar-benar orang pertama yang merenggut kesucian Adel.
Aiden dan Hendra hanya ingat bahwa membantu El menyeret Adel ke dalan Taman. Tapi tidak ingat pernah melakukan apapun karena mereka bertiga sama-sama mabuk berat.
"Tapi tunggu dulu! Eum... aku memang pemabuk, tapi tidak pernah mabuk sampai seperti malam itu. Lagian entah mengapa saat melihat ibu hamilku malam itu, aku sangat bergairah. Apa mungkin... tidak! Tidak mungkin ada seseorang juga yang menjebakku dengan minuman yang mungkin saja dicampur obat perangsang, kan?"
Elvino kembali mengingat-ingat kejadian malam itu, karena semuanya mengarah pada Elvino. Sehingga si playboy cap kampak itu menaruh curiga yang berlebihan.
"Bila benar seperti itu, berarti mereka ingin papa hancur karena putranya sendiri. Kenapa aku merasa jika minuman kami malam itu sudah diberikan obat perangsang, ya? Aku harus membicarakan hal ini pada Sekertaris Demian." karena dalam perjalanan Elvino sibuk dengan pikirannya. Jadi tidak terasa jika dia sudah sampai ke kediaman keluarga Wijaya.
Begitu dia turun, pelayan sudah membukakan pintu utama, karena tahu jika tuan muda mereka sudah pulang dari bekerja.
"Selamat sore, Tuan Muda," sapa pelayan tersebut dengan sopan dan ramah.
"Benar, Tuan Muda, tuan besar dan nyonya lagi pergi ke rumah Bibi Anita." jawab si pelayan.
"Oh, iya baiklah! Lalu nona muda apakah seharian ini tidak naik ke lantai atas?" Elvino kembali bertanya dan berdiri di ruang tamu terlebih dahulu.
"Tidak Tuan, nona tidak kembali kelantai atas. Tadi siang kami juga sudah memindahkan sebagian barang-barang Anda dan nona ke kamar tengah," tutur wanita itu masih berdiri dihadapan Elvino.
"Baiklah! Terima kasih! Dan malam ini jika tidak ada orang lain dirumah. Kalian tidak usah menyiapkan makan malam, karena Saya akan makan malam diluar," titahnya sambil berlalu ke kamar tengah.
Tempat dimana istrinya sudah menunggu sejak tadi. Si ibu hamil benar-benar mendengarkan pesan dari suaminya yang tidak boleh naik kelantai atas dan di suruh bersiap-siap lebih dulu.
Ceklek!
"El, kamu sudah pulang," seru Adelia yang sudah sangat cantik dengan dress ibu hamil, yang panjang di bagian bawahnya. Dress tersebut dibeli oleh Nyonya Risa untuk menantu kesayangannya.
Sesuai permintaan sang suami, yang melarang dia memakai dress pendek. Karena Elvino tidak mau paha istrinya dilihat oleh orang lain.
Cup!
__ADS_1
"Jika cantik seperti ini aku menjadi tidak rela membawamu makan malam diluar," jawab Elvino memberikan cium dibibir ranum istrinya. Setelah itu barulah dia mencium bagian pipi.
"Agh! Kamu berkata apa. Jangan aneh-aneh ya, aku sudah bersiap-siap sejak tadi," seru Adelia yang sudah dirangkul menuju sofa oleh suami bucinnya.
"Aku hanya takut, jika pria lain melihat kecantikan istriku,"
"El, hanya orang stres yang menyukai ibu hamil sepertiku. Aku akan melahirkan mungkin sekitar empat bulan atau tidak sampai. Jadi jangan berpikiran yang tidak-tidak, karena aku hanya mencintai suamiku," papar wanita itu karena tidak ingin El merasa bahwa dirinya mencintai sepihak saja.
Cup!
Elvino kembali mengecup bibir istrinya.
"Istriku memang sangat cantik, tidak salah jika malam itu aku langsung tertarik padanya. Padahal sebelum kami pulang, ada gadis yang duduk di pahaku dan mengajak untuk berhubungan. Tapi aku menolaknya karena..."
Gumam Elvino tidak melanjutkan berucap di dalam hatinya.
"Apa mungkin, jika gadis itu adalah suruhan orang yang merekam video aku dan Adel. Astaga! Aku yakin bahwa ini adalah salah satu konspirasi musuh-musuh papa. Iya, aku sangat yakin pasti ini semua ada hubungannya." Elvino kembali bergumam dengan pandangan kosong.
Sampai-sampai dia tidak sadar bahwa Adelia menempel pada dada bidang nya.
"El... apakah kamu ada masalah? Kenapa aku merasa jika kamu lagi memikirkan sesuatu yang membuatmu menjadi gelisah," ucapan sang istri. Membuat Elvino tersadar dari lamunannya.
"Sayang! Aku hanya lagi memikirkan masalah orang-orang yang ingin menjatuhkan papa. Bukan memikirkan hal lain," jelas pemuda itu memeluk tubuh Adelia yang sudah menempel padanya sejak tadi.
Si ibu hamil memang terkadang sangat manja. Namun, Elvino sangat menikmatinya, karena hal tersebut membuat dia merasa berharga sebagai seorang suami dan merasa berguna.
Sehingga dia ingin menjadi suami yang lebih baik dan hebat lagi. Agar bisa memberikan kenyamanan buat keluarga kecilnya. Ketahuilah, si playboy cap kampak sudah berangan-angan ingin membeli sebuah rumah dengan uang hasilnya bekerja.
Untuk tempat tinggal mereka yang baru, bersama si buah hati yang saat ini masih dalam kandungan istrinya.
"Apakah masalahnya sangat serius? Tapi kamu jagan sampai kelelahan juga, karena aku tidak ingin kamu kenapa-napa," seru Adelia melepaskan pelukannya.
"Tidak terlalu serius, kamu tenang saja. Oya, tunggu aku mandi, ya. Biar kita bisa berangkat lebih awal," jawab Elvino sambil berdiri karena dia tidak ingin membuat istrinya menunggu terlalu lama.
"Iya, aku akan menunggu di sini," ucap si ibu hamil mengangguk mengiyakan. Bukannya dia tidak mau menyiapkan baju untuk suaminya. Hanya saja kali ini Adel takut salah.
Hanya sekitar lima belas menit kemudian. Elvino sudah selesai mandi dan mengambil bajunya sendiri. Lalu ia bawa masuk kedalam ruang ganti.
"Kenapa cepat sekali?" tanya Adel tersenyum melihat ketampanan suaminya yang memakai baju kameja hitam panjang dan dipadukan dengan jas dari luarnya.
"Karena aku tidak ingin istriku menuggu terlalu lama." jawab El tersenyum. "Pakai jaket, nanti saat pulang pasti dingin. Aku tidak ingin kamu masuk angin," lanjut Elvino duduk di pinggir ranjang sambil melihat Adel mencari jaket yang pas untuk dia pakai malam ini.
"Sudah itu saja, terlihat lebih longgar tidak ketat," ucap Elvino melihat Adel mencoba salah satu jaket yang bahannya limited edition.
"Benarkah! Apakah ini tidak terlalu jelek,"
__ADS_1
"Tidak! Sudah sangat cantik," jawab Elvino berdiri dari tempat duduknya dan berjalan mendekati sang istri.
... BERSAMBUNG......