Dia Juga Anakku

Dia Juga Anakku
Akan Melepas Mu. ( Arya )


__ADS_3

💝💝💝💝💝💝


...HAPPY READING......


.


.


"Huh! Maaf Ar, aku terlalu kecewa padamu dan aku rasa keputusan untuk berpisah adalah yang terbaik. Walaupun kita belum resmi berpisah karena aku masih mengandung anakmu. Tapi setidaknya kita sudah bisa berpisah tempat tinggal. Agar kamu bisa menghargai sebuah cinta yang tulus." gumam Raya menatap kearah ranjang.


Raya tidak melanjutkan lagi menghabiskan sarapannya. Tiba-tiba dia sudah kenyang. Lalu gadis itu pun meminum susu ibu hamil yang sudah dibuatkan oleh mamanya.


Untuk menghabiskan waktu menjelang waktu jam sembilan karena dia mau minum obat. Raya mencari tempat di luar negeri. Dia berencana akan melanjutkan kuliahnya S2 nya di sana. Sekarang untuk lulus dari S1 hanya tinggal dua bulan lagi.


Raya tidak mungkin tinggal satu negara. Apalagi satu kota bersama Arya. Dia butuh kehidupan baru untuk memulai semuanya dari awal bersama anaknya. Seperti itulah niat Raya saat ini.


"Wah, sepertinya ini bagus juga. Aku akan pilih negara ini saja. Apabila benar Sisil mau melanjutkan kuliahnya di luar negeri, kami bisa tinggal bersama," gumam Raya tersenyum seraya mengelus perutnya yang masih datar.


"Maafkan Mama, sayang. Apa yang Mama lakukan ini adalah yang terbaik untuk kita. Mama tidak mungkin hidup berdekatan dengan papamu, karena pasti Mama tidak akan bisa melupakan." Ucap Raya di dalam hatinya.


Setelah memilih negara mana tempatnya memulai semuanya dari awal. Raya pun memilih Apartemen untuk tempat tinggal nya. Nanti setelah keluarganya tahu bahwa dia sudah menggugat Arya ke pengadilan. Barulah dia memberitahu niatnya yang mau keluar negeri.


"Jam sembilan, waktunya minum obat. Aku harus sembuh karena aku harus mengurus diriku sendiri," Raya menyimpan ponselnya di atas meja. Lalu dia pun meminum obat beserta vitamin dari Dokter Mirza.


Begitu selesai dia ikut menyusul naik keatas tempat tidur dan baring diatas ranjang. Namun, tidak seperti biasanya lagi. Malam ini dia tidur membelakangi Arya dan memberi bantal pembatasan diantara mereka.


"Andai kamu tidak menghancurkan semua impianku, Ar. Aku malu karena merasa sudah dibodohi oleh mu."


Gumam Raya mulai memejamkan matanya. Tidak membutuhkan waktu yang lama. Gadis itu sudah tertidur pulas sampai pagi harinya. Begitu pula dengan Arya yang hampir selama dua Minggu tidak pernah tidur disaat malam hari. Jadinya malam ini dia benar-benar tidur dengan sangat nyenyak.

__ADS_1


*


*


Pagi harinya. Pukul setengah tujuh. Raya sudah selesai mandi dan lagi mengeringkan rambutnya. Sedangkan Arya lagi mandi. Pemuda itu terbangun karena terkena sinar matahari pagi yang masuk lewat celah jendela kamar mereka.


Kleeek!


Suara pintu kamar mandi yang dibuka oleh Arya. Dia keluar degan bertelanjang dada karena hanya mengunakan handuk yang melilit pada pinggangnya.


Dilihatnya Raya dari pantulan cermin. Namun, Raya tidak menghiraukan dia. Sehingga Arya cepat-cepat memakai pakaiannya karena dia ingin membicarakan masalah mereka yang belum selesai.


"Ray," panggilannya menarik kursi yang ada di dekat meja rias lalu duduk dihadapan Raya. "Aku tidak ingin kita berpisah. Tolong tarik kembali surat gugatan mu,"


"Maaf, Ar. Aku tidak bisa karena keputusanku sudah bulat. Berada di dekatmu, membuatku tersiksa. Jadi lebih baik kita akhiri semuanya. Agar kamu bisa menikahi Manda dan aku akan hidup dengan anakku," tolak Raya melanjutkan menyisir rambutnya.


"Astaga! Raya, aku tidak pernah menyukai Manda. Aku hanya mencintaimu. Tolong jangan lakukan ini, aku tidak sanggup berpisah dengan mu," seru pemuda itu mengusap wajahnya kasar.


"Apakah kamu bahagia bila kita berpisah?" tanyanya berharap Raya mengatakan tidak bahagia.


"Aku akan sangat bahagia bila kita berpisah karena hidup bersamamu. Akan membuat ku selalu tersiksa," jawaban si putri bungsu Wijaya sungguh langsung menghantam dada Arya.


"Baiklah, jika kamu bahagia dengan itu. Aku akan melepas mu. Akan tetapi perlu kamu ketahui, apa yang aku lakukan karena aku sangat mencintaimu. Aku tidak mau kamu menderita bila aku memaksamu untuk tetap bersamaku," ucap Arya langsung berdiri dan membelakangi Raya.


Secara diam-diam Arya menyeka air matanya. Dia meneteskan air mata saat berkata akan melepas Raya. Rasanya sangat sakit, tapi Arya tidak boleh egois karena dia hanya ingin Raya bahagia.


"Huem!" Arya berdehem sebelum bicara.


"Nanti aku akan menyuruh pengacara ku untuk mengurus semuanya. Agar prosesnya tidak dipersulit karena setahuku apabila yang mengajukannya hanya sepihak dan apalagi keadaan mu sedang hamil. Pasti sangat susah," setelah berkata seperti itu Arya berjalan kearah lemari untuk mengambil jas kerjanya.

__ADS_1


"Aku akan bekerja, ayo kita keluar. Kamu tidak boleh telat makan dan minum obat," ajakannya dan Raya hanya mengangguk setuju.


Setibanya mereka di luar. Ternyata semua anggota keluarga sudah menunggu mereka di meja makan. Tidak ada yang aneh Arya masih menarik kursi meja makan untuk istrinya duduk.


Tuan Arka, Nyonya Risa maupun Elvino yang tahu jika Arya dan Raya memiliki masalah tidak banyak berbicara. Sampai pada saat semuanya sudah selesai sarapan dan lagi berkumpul di ruang keluarga. Barulah Raya bicara pada semuanya.


"Pa, Mama, Kakak... Raya sudah mengajukan surat gugatan kemaren siang," ucap gadis itu yang duduk disamping Arya.


"Apa maksudmu, Nak?" tanya Nyonya Risa degan nafas sudah naik turun.


"Maksudnya Raya dan Arya sudah sepakat untuk berpisah. Raya tidak bisa meneruskan pernikahan kami lagi. Maafkan Raya kare---"


"Kenapa harus berpisah? Apakah kamu tidak bisa memberi Arya kesempatan untuk memperbaiki semuanya seperti kakak iparmu?" tanya Nyonya Risa sudah menangis.


"Ma, masalah kami berbeda. Jika Kakak ipar dia dan Kak El memang tidak saling mengenal sebelum pernikahan itu terjadi. Sedangkan aku... aku sudah dibohongi oleh Arya," jawab Raya yang sebelumnya tidak pernah membatah pada orang tuanya.


"Mama, tenanglah. Raya berhak memilih hidupnya sendiri," imbuh Tuan Arka menatap pada anak dan menantunya secara bersamaan.


"Lalu setelah berpisah dari Arya, langkah apa yang akan kamu lakukan, Nak? Apakah tidak bisa dipikirkan secara matang. Kamu akan hidup sebagai janda yang sudah memiliki anak. Apakah kamu tidak memikirkan nasib anak kalian?" Tuan Arka bertanya dengan suara lembut pada putrinya.


"Raya akan ke Amerika untuk melanjutkan S2 disana, Pa. Raya akan memulai lembaran baru di sana bersama anakku," jawab Raya membuat semua menatap padanya.


"Adek, Kakak tidak setuju dengan pilihanmu ini. Kamu tidak boleh pergi dari rumah mama," Elvino yang sejak tadi diam langsung menolak maksud Raya yang mau melanjutkan kuliahnya di luar negeri.


"Arya, kamu itu sebetulnya mencintai adikku atau tidak? Kenapa malah membiarkan dia pergi darimu? Apakah hanya sedang kali ini cinta yang kamu miliki?" El menatap tajam pada adik iparnya.


"Kak, aku melepas Raya karena dia bahagia bila tidak bersamaku. Jika bukan karena itu, tentu aku lebih baik memilih mati daripada harus berpisah dengannya," jawab Arya karena dia memang terpaksa menyetujui permintaan Raya.


"Jika ini yang terbaik untuk kalian. Maka kami tidak bisa memaksa. Terutama kamu, Nak. Papa sebetulnya tidak mau kalian berpisah. Namun, karena kamu akan bahagia bila berpisah dari Arya, maka pilihan ada di tanganmu sendiri," ucap Tuan Arka tidak bisa berbuat apa-apa.

__ADS_1


...BERSAMBUNG......


__ADS_2