
ππππππ
...HAPPY READING......
.
.
"Saya juga setuju! Untuk mempertahankan harga saham kita. Agar tidak turun drastis. Kita buat pemilihan pemimpin baru yang bisa dipercaya mengantikan perusahaan Wijaya group." usul satu orang pria yang ikut memberikan pendapatnya.
"Saya juga setuju, kita semua tahu. Bila Tuan Muda Elvino yang mengantikan Tuan Arka, walaupun hanya sementara. Maka sudah pasti, produk perusahaan Wijaya group yang lama tidak akan ada yang memakainya lagi. Tentu kalian sudah tahu apa yang akan terjadi bila hal ini sampai terjadi." imbuh sekutu Manuel.
Mereka bagaikan lalat yang hinggap pada seekor bangkai. Semuanya sama-sama menyukai sampah yang kotor.
"Apa alasan kalian tidak percaya jika Saya yang mengantikan ayah Saya?" tanya Elvino menatap mereka yang menolak tegas dirinya.
"Sekarang semua orang tahu seperti apa skandal Anda diluar sana, Tuan Muda. Lalu bagaimana bisa kita mempertahankan nilai saham perusahaan Wijaya group." jawab mereka yang belum mendukung siapapun.
"Huem! Jika begitu tolong kalian beri Saya satu jaminan jika sudah mendapatkan pemimpin baru. Apakah hanya untuk mempertahankan nilai saham saja? Apakah perusahaan hanya membutuhkan nilai saham yang tinggi saja, atau juga membutuhkan konsumen baru yang percaya jika produk kita asli. Bukan hasil menjiplak seperti berita yang beredar di luar sana," tanya Elvino mendekati laptop.
Lalu dia mengetik sesuatu, sehingga Formulir dari Flashdisk miliknya terpampang jelas pada layar infokus.
"Ini, adalah imbas dari produk kita yang berhasil dicuri oleh pengkhianat perusahaan. Bila ada diantara kalian yang bisa menyelesaikan masalah ini. Maka silahkan duduk di bangku Presdir. Saya sebagai ahli warisnya gedung ini. Akan memberikan tempat tersebut dengan senang hati dan disaksikan oleh kalian sem--"
"Elvino, apa yang kamu katakan? Papamu pasti tidak akan setuju dengan usul mu," sela Paman Abraham tidak setuju dengan ucapan Elvino yang sangat beresiko menurut nya.
"Tidak apa-apa, Paman. Untuk apa juga kita berusaha menjaga perusahaan bila akhirnya tidak ada konsumen yang percaya." jawab Elvino tentu sudah memikirkan semuanya sebelum berkata demikian.
"Tuan, ini kenapa bisa separah ini? Bukannya hanya produk kita yang dicuri saja. Jika seperti ini kita juga tidak ada gunanya memiliki direktur baru. Bila akhirnya saham kita tidak hanya akan turun drastis dari sekarang. Akan tetapi akan dibanting langsung ke dasarnya." tanya seorang perempuan yang juga memiliki kedudukan tinggi di perusahaan Wijaya group.
"Tentu saja bagi orang yang tidak tahu akan menilai remeh ini semua. Akan tetapi jika kalian paham, kita bisa hancur lebih cepat dari prediksi yang ada." Elvino kembali lagi mengarahkan mouse laptop untuk mencari data-data yang telah dia simpan pada file penting miliknya.
"Ini, coba kalian pahami selama dua puluh menit. Jika kalian tidak bisa menerima semua ini. Maka silahkan buat pemilihan pemimpin baru yang berarti saingan Saya. Hanya itu keputusan terbaiknya." setelah berkata-kata demi kian. Elvino kembali ketempat duduknya untuk istirahat, karena sudah sejak tadi dia berdiri sambil memberikan penjelasan.
"Paman, jika memang tidak ada pilihan. Berarti kita harus membuat pemilihan dari setiap pemegang saham. Maka kita akan membiarkan mereka memungut suaranya." ucap si tampan pada Paman Abraham yang kebetulan duduk di arah samping dirinya.
"Huh! Paman tahu, jika kamu sudah memiliki cara untuk keluar dari masalah ini. Akan tetapi semua ini sangat pelik, Nak. Mau apapun keputusan akhirnya. Sama-sama memiliki resiko yang tinggi, jawab Paman Abraham degan helaan nafas berat.
Sungguh selama dia mendampingi Tuan Arka. Baru kali ini ada masalah yang terlihat sepele. Namun, berdampak sangat besar. Sehingga nampak tenang, tapi mematikan lawannya.
"Soal itu paman tidak perlu khawatir. Jika mereka percaya pada Saya. Maka semuanya pasti bisa diselesaikan dengan baik,'' kata Elvino masih menunggu para peserta rapat membaca dan memahami data yang dia miliki.
"Saya memutuskan untuk kita melanjutkan pemilihan pemimpin baru." satu orang mengangkat tangannya. Sebagai babak akhir dari keputusannya.
"Saya juga ingin pemilihan pemimpin baru, karena jika kita mempertahankan Tuan Elvino, maka saham yang sudah turun. Akan mempersulit kita semua." sahut satu orang lagi.
"Huem... Saya juga berpendapat demikian. Biar kita lebih semagat lagi. Mari kita pilih pemimpin baru. Agar masyarakat diluar tetap mencintai produk kita." mereka kembali memberikan usul akhirnya.
__ADS_1
"Maaf, apapun keputusan kalian semua. Saya hanya akan memilih Tuan Muda Elvino, karena Saya sangat yakin bahwa Tuan Muda bisa menyelesaikan semuanya." berbagai usulan akhirnya mulai memenuhi ruangan tersebut.
Rapat yang seharusnya hanya memakan waktu satu atau dua jam saja. Ini sudah hampir tiga jam belum ada yang keluar dari sana.
"Saya terserah Tuan Muda Elvino, mana baiknya saja." Ada juga yang memiliki pendapat seperti itu.
Mungkin dia masih plin-plan mau memilih yang mana. Soalnya jika memilih salah satunya, tau-taunya kalah. Maka sudah pasti akan malu.
"Sebagai pemilik saham lima belas persen. Saya hanya ikut pemimpin lama saja." acara memberi usul terus berlanjut. Sebelum Elvino berdiri dari kursi kebesarannya dan berkata.
"Baiklah! Sekarang kita break selama tiga puluh menit. Sekarang adalah waktunya makan siang. Nanti saat kembali ke sini lagi. Kita langsung mengadakan pemilihan ketua baru."
Setelah berkata seperti itu, si tampan Elvino meninggalkan ruang rapat lebih dulu. Saat seperti sekarang, El membutuhkan energi baru dan energinya adalah Adelia.
Istri tercintanya, wanita yang selalu sabar menghadapi tingkah Elvino. Adelia selalu memberikan dukungannya, meskipun dia sendiri ragu jika suaminya bisa menyelesaikan masalah tersebut.
"Agh! Lelah sekali rasanya. Mana tadi malam aku tidak tidur sama sekali." gumam Elvino sambil berjalan menuju ruangan ayahnya yang sekarang dia tempati.
"Eris, tolong pesankan makanan dan minuman untuk Saya. Tapi jangan makanan yang terlalu banyak minyaknya." ucap si tampan saat melewati meja kerja sekertaris perusahaan.
"Baik Tuan Muda, Saya akan pesankan sekarang. Tapi Anda mau makanan seperti apa?" sekertaris tersebut kembali bertanya karena dia memang belum pernah memesan makanan buat tuan mudanya.
"Seperti yang di sukai papa Saya, karena kami menyukai makanan yang sama," jawab El yang langsung diiyakan oleh wanita itu.
Kleeek!
Padahal baru menyebut istrinya. Benar-benar si playboy sudah menjadi bucin akut yang kemungkinan untuk di tolong sudah tidak bisa lagi.
Ttttddd!
Baru satu kali getaran. Sudah diangkat cepat oleh Adelia, karena dia memang sudah menanti sejak tadi.
π±Elvino : "Sayang, aku merindukanmu!" langsung saja mengungkapkan perasaannya. Tidak ada basa-basi degan kata-kata lain lagi.
π± Adelia :"Aku tahu! Tapi kenapa kamu bukannya menanyakan keadaan papa sama mama. Tapi malah mengungkapkan perasaan padaku," jawab Adelia yang sebetulnya marah pada ucapan suaminya.
π± Elvino : "Kan aku menyapa istri dan anakku lebih dulu. Soalnya jika keadaan papa dan mama, aku sudah dikirim pesan oleh Raya. Tapi jika keadaan kamu, aku hanya ingin menanyakan sendiri. Tidak mau diwakilkan oleh siapapun," jurus playboy cap kampak keluar lagi.
Bagaimana Adelia, si gadis polos tidak jatuh cinta pada suami yang sudah memperkosanya.
π± Adelia : "Benarkah?" Adelia yang tadinya cemberut mukanya di tekuk, karena merasa Elvino mengesampingkan kedua orang tuanya. Sekarang senyumnya merekah seperti bunga mawar yang baru mekar.
Seperti itulah Adelia, makanya kedua mertuanya dan Paman beserta bibinya sangat menyayanginya. Gadis itu sangat tulus menyayangi keluarga Elvino maupun adik dari ayahnya.
π± Elvino : "Tentu saja! Aku hanya ingin menanyakan sendiri, karena aku akan semakin gelisah ingin cepat-cepat pulang untuk bertemu denganmu." Elvino yang sangat lelah, ketika melihat senyum istrinya kembali bersemangat untuk menyelesaikan masalah perusahaan.
Agar dia bisa hidup tenang bersama sang istri. Soalnya begitu banyak kebahagiaan yang ia rencanakan. Namun, ternyata semuanya harus melewati rintangan terlebih dahulu, karena musibah yang menimpa Tuan Arka ayahnya. Benar-benar menjadi beban berat untuk pemula itu.
__ADS_1
Anggap saja sekarang takdir kehidupan lagi menghukum Elvino atas segala perbuatannya selama ini.
π± Adelia : "Kalau begitu kerjanya semangat ya! Eum... apakah berita pagi ini menyulitkan mu?" tanya si ibu hamil seperti memiliki baskom ajaib untuk melihat kejadian apa saja yang lagi terjadi di perusahaan.
π± Elvino : "Huem! Lumayan membuat sulit juga. Cuma aku harus tetap semangat demi keluargaku. Demi kamu dan anak kita."
π± Adelia : "Kamu pasti bisa, El! Aku selalu mendoakan agar kamu diberikan kemudahan saat menyelesaikan semuanya. Iya, apakah kamu sudah makan siang?"
π± Elvino : "Belum, lagi dipesan oleh Eris, sekertaris perusahaan papa. Lalu apakah kamu sendiri sudah makan?"
π± Elvino: "Maaf ya, karena terlalu merindukanmu. Aku sampai lupa buat menanyakan apakah Istriku sudah makan atau belum." ungkap si tampan yang membuat sang istri semakin tersenyum bahagia.
π± Adelia : "Tidak apa-apa! Aku tahu kamu pasti lupa. Lagian aku juga sudah makan serempak sama mama dan adek. Kamu yang semagat kerjanya. Jika keadaan papa sudah mulai membaik. Aku disuruh pulang oleh mama. Katanya tidak baik buat kesehatan anak kita bila terlalu lama dirumah sakit."
Tok!
Tok!
"Itu pasti Eris," gumam Elvino kearah pintu ruangan yang diketuk dari luar.
π± Elvino : "Iya, tentu aku akan selalu semagat! Sayang sudah dulu ya, aku mau makan siang. Soalnya hanya ada waktu istirahat tiga puluh menit."
π± Adelia : "Baiklah! Makan siang lah! Aku juga mau tidur. Daa..da... aku mencintaimu!" pamit si ibu hamil langsung mematikan sambungan telepon tersebut lebih dulu.
Soalnya dia tidak mau suaminya sampai sakit gara-gara telat makan siang.
Ceklek!
"Maaf Tuan Muda, Saya hanya ingin mengantar pesanan, Anda." ucap sekertaris yang disuruh Elvino memesan makan siang untuknya.
"Iya, tidak apa-apa! Terima kasih! Kamu sendiri apakah tidak memesan juga?"
"Saya sudah memesan makanan sebelum punya, Anda,"
"Oke, terima kasih!" El kembali menutup pintu ruangan tersebut. Lalu dia taruh makannya di atas meja.
Namun, dia belum langsung memakannya. El malah berjalan kearah dinding kaca besar dan melihat kearah luarnya sambil bergumam di dalam hatinya.
"Mereka begitu bersemangat ingin menjatuhkan papa. Tapi aku tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi. Sekarang musuh mereka adalah aku. Maka akan aku ikuti sampai mana mereka ingin bermain-main denganku."
... BERSAMBUNG... ...
.
.
__ADS_1
Apa bila ada typo, mohon dimaafkan ya, Kakak Raeder semuanya.ππ Mak author kadang ngantuk. Tidak sempat mau revisi.