Dia Juga Anakku

Dia Juga Anakku
Menjadi Nomor Satu.


__ADS_3

💝💝💝💝💝💝


...HAPPY READING......


.


.


Malam sudah berganti siang. Pasangan suami-istri yang tadi subuh habis melakukan olahraga mengelilingi Taman di pinggir rumah mewah tersebut, yaitu hampir selama tiga puluh menit. Sekarang sudah sarapan dan bersiap-siap mau berangkat ke rumah sakit. Sekalian berangkat ke perusahaan juga.


"Masuklah!" titah si tampan. Yaitu si playboy cap kampak pada ibu hamilnya.


"Terima kasih," ucap Adelia setelah suaminya menyusul masuk dan duduk di sampingnya. Hari ini El harus berangkat bersama sopir pribadi keluarga Wijaya. Sampai ke rumah sakit, karena mobilnya tinggal di sana.


Bukannya Elvino tidak memiliki koleksi mobil mewah lain. Hanya saja dia sangat suka memakai mobilnya yang ada di rumah sakit.


"Huem!" El hanya tersenyum seraya merengkuh tubuh Adelia agar bersandar padanya. Hal sederhana, tapi sudah membuat sang istri merasa bahagia karena setiap perlakuan pemuda itu selalu penuh kasih sayang yang tulus.


"Nanti ikut ke perusahaan saja, ya?" ucap Elvino sambil mengelus rambut panjang istrinya.


"Iya, tapi aku tidak akan merepotkan kamu, kan?" Adelia yang belum pernah datang ke perusahaan Wijaya group. Tentu banyak bertanya pada sang suami.


"Tentu saja tidak! Sayang, kamu tidak akan mengaggu, karena hari ini aku hanya akan bekerja di dalam kantor saja." jelasnya yang tahu bila sang istri takut bila mengaggu.


"Oke, aku takutnya kamu mau ada rapat seperti biasanya." imbuh Adel tersenyum kecil. Namun, tidak lama setelahnya dia kembali berkata. "Tapi... karyawan Wijaya group tidak akan menatapku aneh kan? Jujur aku malu bila---"


"Tidak! Siapa yang berani mengaggu atau membicarakan kejelekan istriku." sela El cepat. Agar Adelia tidak berpikiran yang tidak-tidak.


"Kamu tinggal ikut berjalan di samping ku. Hari ini pasti akan ada kabar dari produk yang aku promosikan kemaren. Biasanya satu hari setelahnya sudah mulai diberitakan di pasar jual beli dari berbagai perusahaan besar, seperti Wijaya group." lanjut Elvino berhenti sejenak. Setelah itu dia kembali bicara lagi.


"Aku berharap supaya produk kami bisa menduduki posisi tiga puluh lima persen. Agar bisa lolos untuk di jual bebaskan di berbagai tempat."


"Semoga saja bisa, percayalah bahwa kamu akan berhasil. Tapi jika dapat nilai tiga puluh lima persen, itu dari berapa banyak perusahaan?" sahut Adel yang selalu memberikan dukungannya dengan tersenyum manis yang mampu membuat Elvino semagat melewati masalah sebesar apapun.


"Ada sekitar seratus lima puluh delapan perusahaan. Namun, jika yang besar seperti Wijaya group, cuma beberapa perusahaan saja. Akan tetapi jika perusahaan kita tidak lagi seperti saat ingin. Maka sudah pasti berada di sembilan puluh sembilan persen." jelasnya meskipun sang istri belum tentu tahu.


"Wah, keren sekali! Berarti jika dapat nilai sembilan puluh sembilan persen. Produknya akan langsung laku di pasaran?" si ibu hamil sampai menjauhkan tubuh mereka hanya untuk menunggu jawaban dari sang suami.


"Iya, jika dapat nilai di urut nomor satu. Maka produk bukan hanya akan laku. Tapi oleh perusahaan dari manca negara. Akan di kontrak langsung. Produk kita akan terbang ke sana." El yang sekarang, tentu sudah sangat paham seperti apa yang namanya cara kerja perusahaan.


"A--apakah jika hari ini kamu berada di urut satu, sudah bisa membuat perusahaan Wijaya group bertahan dari masalah kebocoran ide waktu itu?" saat bertanya tangan Adelia sampai berkeringat dingin.


"Haa...haa..." El yang sebenarnya lagi merasa gugup dengan berita terbaru hari ini. Masih bisa tertawa karena mendengar pertanyaan istrinya.


"Sayang, istriku yang cantik. Jangankan berada di urutan satu. Di urutan lima puluh besar saja. Perusahaan Wijaya group bisa selamat. Akan tetapi, bila pecah dari lima puluh persen. Maka itu sangat sulit agar produk kita bisa keluar."


"Kalau begitu semoga kalian berhasil, aku menjadi gugup, El." seru Adelia yang tidak mampu menahan rasa gugupnya.


Sehingga dia langsung memeluk tubuh suaminya dan berkata. "Sayang semoga papamu berhasil, Nak. Mama sangat yakin bahwa do'a seorang anak kecil yang berdo'a, akan langsung di kabulkan." Adelia berbicara sambil mengelus perutnya.


Cup!


"Terima kasih karena kamu mengajak baby mendo'akan aku. Produknya pasti akan laku, walaupun hanya nilanya di atas rata-rata." Elvino mengecup kening istrinya.


Sebelum melepaskan pelukan mereka karena mobil tersebut sudah tiba di depan lobby rumah sakit.


Begitu melihat kedatangan Elvino dan Adelia, para orang-orang Wijaya yang bertugas menjaga Tuan Arka. Langsung saja membukakan pintu mobil tersebut sehingga El dan Adelia pun keluar dari sana dengan bergandengan tangan.

__ADS_1


Lalu masuk ke dalam rumah sakit untuk melihat keadaan ayah mereka. Jika menurut laporan Raya tadi pagi. Tuan Arka sudah sadar lebih cepat dari perkiraan dokter.


Sehingga membuat Elvino dan istrinya tidak sabar untuk bertemu beliau.


"Kak, kalian sudah datang?" sapa Arya adik sepupu Elvino. Akan tetapi jarak umur keduanya sangat dekat. Jadi seperti dengan teman saja.


"Iya, apakah kamu mau pulan" sekarang bergantian El yang bertanya.


"Benar! Aku mau pulang dulu, soalnya hari ini ada temanku yang mau datang ke rumah. Tapi Kakak tidak perlu khawatir, karena nanti siang mama akan kesini lagi." jelas Arya karena di dalam ruangan rawat tempat Tuan Arka hanya ada Nyonya Risa dan Raya.


Sedangkan keluarga yang lainnya, sudah pulang untuk menjalani aktivitas masing-masing dan saat ini Elvino masih berdiri di koridor rumah sakit. Belum sampai ke ruangan papanya.


"Iya, tidak apa-apa! Sekarang kamu pulang saja untuk istirahat di rumah. Tapi jika sempat nanti malam tolong temani papa lagi. Soalnya Kakak tidak bisa meninggalkan Kakak iparmu sendirian di rumah."


Huem, baiklah! Nanti malam saja El ke sini agar menunggu Om saat malam harinya. Kalau siang kan banyak keluarga kita yang lain." imbuh Arya yang langsung berpamitan untuk pulang dan Elvino bersama istrinya pun memasuki lift untuk sampai ke lantai di mana tuan Arka di rawat.


Ting!


Suara pintu lift yang terbuka lebar. Lalu si tampan Elvino menggandeng lengan istrinya keluar dari dalam kotak besi tersebut. Setelah berjalan beberapa meteran keduanya pun sudah sampai di depan pintu ruang rawat yang VIP.


Ceklek!


Adelia yang membuka pintu kamarnya. sehingga membuat keluarga yang ada di dalam ruangan tersebut menulis secara bersamaan termasuk Tuan Arka sendiri.


Beliau terlihat sangat sehat daripada sebelumnya, karena sekarang hanya tinggal pemulihan saja.


"Selamat pagi semuanya?" sapa El dan Adelia. Mereka berdua langsung mendekati ranjang tempat Tuan Arka menyalami tangan terlebih dahulu.


"Pagi juga Kak," Raya menjawab dengan tersenyum lebar pada pasangan suami-istri yang terlihat sangat serasi.


"Pagi juga, Nak," Tuan Arka pun ikut menjawab karena posisi beliau setengah berbaring.


"Pagi juga, sayang." jawab wanita setengah baya tersebut memberikan pelukan hangat pada menantunya, sambil berkata. "Adel, baru dua hari Mama tidak melihatmu, sayang. Tapi sepertinya kamu bertambah gemuk dan semakin cantik saja,"


"Iya, Ma! Adel memang bertambah gemuk karena sering makan malam dan selalu ngemil saat siangnya." Adelia yang dibilang gemuk ikut tersenyum, karena dia sendiri memang merasa jika berat badannya sudah bertambah berat.


"Tidak apa-apa gemuk juga, yang penting kamu dan cucu Mama baik-baik saja." seru wanita setengah baya itu lagi.


"Papa, bagaimana keadaannya? Apakah masih ada yang sakit?" si tampan Elvino langsung duduk di samping ayahnya dan menyentuh tangan tua laki-laki tersebut.


"Papa baik-baik saja, El. Kamu jangan khawatir" jawab Tuan Arka tersenyum balas menggenggam tangan sang putra. "Ternyata ada bagusnya Papa mengalami kecelakaan, karena musibah ini. Kamu sudah menunjukkan pada penghianat itu. Siapa Elvino Atmaja Wijaya sebenarnya, Nak." pujinya yang sudah mendengarkan cerita dari Tuan Abraham tadi sebelum kedatangan Elvino dan Adelia.


Yaitu cerita seperti apa anak sulungnya itu berusaha untuk mempertahankan perusahaan Wijaya group. Sampai-sampai harus menjadi model dadakan yang sudah diyakini bisa membuat produk mereka laku di pasaran.


"Apa yang papa bicarakan!" seru Elvino tidak terima sang ayah berkata bahwa ada baiknya juga beliau mengalami kecelakaan.


"Papa sangat bangga padamu, Nak. Kamu benar-benar sudah bekerja dengan sangat baik. Papa yakin bahwa hari ini akan ada berita baik juga. Bahwa produk baru yang kamu ciptakan akan menolong perusahaan Wijaya group." lanjut beliau lagi.


"Iya, semoga saja, Pa. Apa yang El lakukan sekarang dukungan Adelia, Mama dan juga Adek. Selama keadaan papah masih kritis, merekalah yang selalu menyemangati dan memberikan dukungan bahwa Elvino bisa menyelesaikan semua ini." Elvino tersenyum dengan tangan satunya pada sang istri yang berdiri di sebelahnya.


"El, tidak akan pernah bisa berjuang apabila tidak ada dukungan dari orang-orang terdekat. Papa cepatlah sembuh, karena rumah terasa sepi tidak ada kalian semuanya. Lagian apabila Papa selalu sakit. Lalu bagaimana bisa mengasuh anak kami nantinya."


"Pasti, Nak! Sekarang Papa sudah sembuh dan tinggal masa pemulihan saja. Paling dalam waktu satu atau dua hari, kita semua akan pulang dari rumah sakit." jawab Tuan Arka yang benar-benar sudah sembuh.


"Syukurlah! Oya, eum... hari ini Elvino akan membawa Adel bekerja." ungkap El langsung menyampaikan niatnya.


"Iya, tidak apa-apa! Bawalah istrimu ke perusahaan. Agar para staff itu bisa bekerja dengan benar, karena tidak tergila-gila padamu lagi." cibir lelaki tua itu.

__ADS_1


Soalnya semenjak Elvino bekerja di perusahaan sebagai staf pemasaran. Begitu banyak karyawannya yang ingin dipindahkan ke sana. Supaya bisa bekerja bersama anak Presdir mereka.


"Agh, Papa bicara apa! Mereka ingin pindah ke staf pemasaran. Hanya karena berpikir bahwa pekerjaannya lebih mudah, itu saja." elak si tampan.


"Iya, anggap saja begitu." Tuan Arka tersenyum dan bicara lagi pada menyatunya.


"Adel, nanti saat di perusahaan kamu bisa beristirahat di kamar pribadi yang ada di dalam ruangan suamimu. Jika kamu tidak suka dengan tempatnya. Maka suruh Elvino merenovasi warna dan dekorasi yang kamu sukai," beliau pada sang menantu.


"Iya, Pa, Papa cepat sembuh ya Kakak kita bisa berkumpul lagi di rumah." jawab Adel yang sudah menganggap sang mertua seperti orang tuanya sendiri, karena mereka pun juga menganggap gadis itu seperti anak mereka.


"Huem, tentu, Nak. Papa pasti akan cepat sembuh karena doa dari istri dan anak-anak Papa. Kalian semuanya sangat hebat yang selalu saling menguatkan satu sama lain." imbuh Tuan Arka tersenyum menatap istrinya yang ada duduk di kursi sebelah tempat beliau.


"Pa, apakah tidak apa-apa bila tempatnya El renovasi?" tanya Elvino memang tidak suka pada warna kamarnya.


"Tentu saja tidak! Setelah sembuh pun, Papa tidak akan memimpin perusahaan lagi, El. Kamu urus saja, karena Papa ingin beristirahat. Jadi renovasi lah sesuai yang kamu inginkan."


"Tapi, Pa---"


"Ini sudah siang, nanti kalian bisa terlambat, jadi berangkat lah ke perusahaan sekarang." sela Tuan Arka yang tidak bisa dibantahkan lagi karena beliau sudah memutuskan bahwa dia akan mengundurkan diri sebagai pemimpin perusahaan Wijaya Group dan akan diserahkan kepada Elvino putranya.


"Huh! Iya, baiklah! Terserah Papa saja, yang penting harus sembuh jangan sakit lagi." ucapan Elvino membuat mereka semua tertawa bahagia.


Berhubung hari memang semakin siang Elvino pun langsung berpamitan kepada keluarganya dan membawa sang istri berangkat ke perusahaan Wijaya Group.


Saat melihat kedatangan mobil Lamborghini Aventador miliknya. Semua mata para karyawan yang juga baru datang, langsung menatap lekat pada mobil tersebut.


Terutama adalah karyawan perempuan, baik itu sudah memiliki suami ataupun yang masih gadis.


Namun, alangkah kagetnya mereka saat melihat Elvino berjalan memutari mobil. Lalu membukakan pintu dan mengulurkan tangannya untuk seseorang yang ada di dalamnya.


Sehingga mata mereka seakan mau membola keluar setelah melihat siapa gerangan orang yang diperlakukan begitu istimewa oleh presiden mereka. Apalagi saat melihat bahwa orang tersebut seorang wanita hamil dan sangat cantik.


"Ayo sayang," Elvino tersenyum saat istrinya sudah keluar dari dalam mobil.


"El, aku---"


"Tidak usah malu ataupun takut, karena ada aku bersamamu, oke!" sela si tampan langsung mengandeng mesra tangan istrinya.


"Selamat pagi Tuan Muda," sapa para karyawan yang berpapasan dengan Elvino.


"Huem, pagi juga." jawab Elvino ramah. Soalnya jika bukan pada para penghianat perusahaan. El selalu bersikap baik dan sopan.


"Tuan Muda, selamat pagi. Kebetulan sekali, ada berita bahagia perusahaan kita." seru Aldo sama baru datang juga.


"Benarkah? Berita apa?" tanya Elvino penasaran dan mengenggam erat tangan istrinya.


"Produk kita menduduki posisi nomor satu, Tuan Muda. Setelah ini Wijaya group akan kembali berjaya," jawab Pak Romi yang sama baru datang. Namun, beliau sudah mendengar berita terkini tentang harga saham yang ada di ibukota tersebut.


"A--a--apakah ka--kalian tidak salah bicara!" Elvino langsung tergagap mendengar berita tersebut.


"Tidak! Saya saja sampai hampir sepuluh kali membaca ulang berita terkini, karena takut salah lihat. Semua ini karena konsumen langsung menyukai produk kita. Gara-gara yang menjadi modelnya adalah, Anda sendiri." jawab Pak Romi yakin.


"Sayang, selamat," seru Adel tersenyum dengan mata berkaca-kaca dan Elvino pun langsung memeluk istrinya dihadapan para karyawan karena saat ini mereka berada di depan meja resepsionis.


... BERSAMBUNG... ...


.

__ADS_1


.


Setelah ini akan loncat bab ya, agar cerita ini tidak berjala di tempat. Dan apabila ada typo. Mohon di maafkan, karena terkadang mata Mak Author mengantuk saat menulisnya. Terima kasih 🙏😘😘🌻


__ADS_2