
ππππππ
...HAPPY READING......
.
.
Dua bulan kemudian.
Hubungan Adelia dan Elvino sangat baik. Hari-harinya mereka lewati penuh tawa dan bahagia. Meskipun sampai saat ini Adel belum ada berkata bahwa dirinya mencintai Elvino. Namun, tidak pernah menjadi masalah bagi pemuda itu.
Sekarang El juga tidak pernah lagi pergi ke Club malam seperti dulu. Tepatnya semenjak Adelia hampir keguguran. Aiden dan Handra yang memahami status sahabat mereka. Juga tidak pernah mengajak Elvino lagi.
Jadi tidak terlalu sulit juga bagi El untuk berubah, karena dirinya. Hendra dan Aiden juga sudah jarang mabuk-mabukan. Soalnya yang bikin mereka betah berada di Club karena adanya si tampan Elvino.
Sejauh ini di Club tersebut tidak ada yang bisa mengalahkan El dalam berapa lusin saja menghabiskan minuman.
Jadi gara-gara Elvino tidak pernah datang lagi. Pendapatan pemilik Club sampai menurun drastis. Bukan dari segi minuman saja namun, kedatangan gadis-gadis kaya juga mulai berkurang.
Begitulah hebatnya daya tarik seorang Elvino Atma Wijaya. Akan tetapi semua itu membuat dia hampir di DO dari universitas. Beserta menghamili Adelia. Itu semua adalah gara-gara pergaulannya.
Akan tetapi sekarang dia sedang berusaha untuk memperbaiki semuanya. Demi membahagiakan istri dan calon anaknya.
Sesibuk apapun dia di universitas ataupun di perusahaan. Tetap saja Adelia dan calon anaknya yang dinomor satukan. Semakin hari Elvino juga sudah mulai melakukan pekerjaannya dengan benar.
Jadi bila ada rapat, Tuan Arka selalu mengikut sertakan putranya. Meskipun itu bukanlah bagian pekerjaan Elvino.
Semua itu tentu saja karena beliau ingin El bisa memahami semuanya. Sebab jika bukan Elvino, maka mau siapa lagi yang akan meneruskan perusahaan Wijaya.
Hari ini Elvino melakukan sidang skripsi, untuk menuntaskan studinya. Jadi pemuda itu tidak berangkat ke perusahaan. Namun, sudah jam empat sore, Elvino belum juga pulang.
Entah ada pekerjaan apa, sehingga sejak siang dia juga tidak ada menghubungi Adel. Sehingga si ibu hamil merasa khawatir. Tidak biasanya Elvino seperti itu. Berbeda jika dulu, malahan akan terasa aneh bila dia menghubungi istrinya.
Sudah sejak tadi Adel melihat kearah balkon. Mana tahu dia bisa melihat mobil suaminya sudah datang. Ya, balkon! Ternyata setelah Adelia pulih, Nyonya Risa tetap tidak boleh Elvino membawa menantunya pindah.
Alhasil sekarang mereka tinggal di kediaman keluarga Wijaya. Rencananya sampai Adelia melahirkan. Berarti sekitar kurang lebih empat bulan lagi.
__ADS_1
"El... kamu kemana sih?" tanya Adelia gelisah.
Ini sudah ke dua belas kalinya Adelia ke balkon kamar mereka. Namun, sang suami yang ditunggu-tunggu belum juga kembali.
"Nomor yang anda hubungi sedang berada diluar jangkauan." seperti itulah jawaban dari operator.
"Jam empat, berarti papa sudah mau pulang. Agh, lebih baik aku turun untuk menanyakan pada papa. Apakah Elvino berada di perusahaan atau masih di kampusnya." dengan bersemangat si ibu hamil mau turun kelantai bawah.
Namun, baru saja dia berbalik. Tubuhnya sudah dipeluk dari belakang. Ternyata Elvino sudah datang, saat Adelia kembali ke kamar.
Jadi begitu dia keluar lagi memang tidak melihat mobil suaminya sudah datang, karena Elvino langsung menyimpan mobilnya ke garasi.
"Elvino!" seru Adel kaget sekaligus merasa bahagia. Orang yang dia khawatirkan sejak tadi, sekarang berada dihadapannya.
Tidak! Bukan dihadapannya. Tapi sudah memeluk tubuhnya dari belakang.
"Kenapa! Apakah kamu menunggu diriku?" tanya El membalikan tubuh istrinya, agar menghadap ke arah dia.
"Eum... aku hanya khawatir padamu aneh sekali sampai jam segini belum pulang," jawab Adel tersenyum.
Jika hanya sekedar berpelukan sudah biasa mereka lakukan. Hanya saja bila melakukan lebih dari itu tidak ada, termasuk berciuman.
"Maaf, tadi aku pergi ke toko berlian milik orang tua sahabatku." jawab Elvino jujur sambil mengeluarkan kalung berlian dan langsung dia pasangkan di leher jenjang sang istri.
"El, ini punya siapa?" tanya Adel memegang liontin kalung tersebut yang sudah terpasang indah di lehernya.
"Ini kalung mu, Memangnya punya siapa lagi," pemuda itu tersenyum sambil mundur beberapa langkah ke belakang untuk melihat dari jarak jauh.
"Sangat indah, sama seperti orang yang memakainya. Cantik," puji Elvino yang sudah kembali lagi merangkul bahu istrinya. Untuk dibawa masuk ke dalam kamar mereka, karena hari sudah mulai sore.
"El, apakah kamu sengaja membeli kalung ini untuk diriku? Eum... dan uang dari mana?" Adelia terlihat canggung saat menanyakan perihal uangnya berasal dari mana, karena si ibu hamil takut bila suaminya merasa tersinggung.
"Ini hasil pertama kali aku bekerja, karena kita tidak membeli barang apapun. Jadi aku belikan saja kalung untukmu. Tapi uangnya masih ada sisanya. Tujuanku membeli kalung ini. Agar sampai kapanpun tidak akan pernah hilang, anggap saja bisa menjadi sejarah. Sebab ini adalah hasil pertama kali aku bekerja." jawab Elvino tersenyum.
"El, terima kasih! Aku sangat menyukai kalung ini. Tapi kenapa kamu menghabiskan uangmu bekerja, hanya untuk membeli sebuah kalung. seharusnya belikan yang murah saja, tidak perlu berlian seperti ini. Lagian Ini pasti sangat mahal, kan?"
__ADS_1
"Tidak apa-apa, aku ingin hasil pertama aku bekerja memiliki bukti untuk istriku. Wanita yang aku cintai dan sebentar lagi akan menjadi ibu untuk anakku. Lagian kamu jauh lebih berharga dari apapun, Adel." jawaban Elvino tentu langsung membuat Adelia menatap ke arahnya, dengan mata berkaca-kaca hampir menangis.
"Elvino... terima kasih!" kali ini bukan Elvino lagi yang memeluk lebih dulu. Tapi Adelia yang melakukannya lebih dulu.
Hal yang belum pernah dilakukan oleh si ibu hamil sebelumnya. Sehingga membuat Elvino balas mendekap penuh dengan perasaan cinta yang ia miliki.
"Kamu tidak perlu berterima kasih, karena tujuanku bekerja memang untuk membahagiakanmu," El mengurai pelukan mereka dan menatap pipi chubby istrinya.
"Sekarang kamu benar-benar terlihat gemuk. Benar kata mama, jika kehamilannya semakin besar, maka ibu hamilku akan bertambah gemuk." ucap pemuda itu menatap penuh cinta.
"Bagaimana aku tidak gemuk, kamu selalu memberiku makan yang banyak. Mana setiap sudah makan malam langsung disuruh tidur." jawab Adel tersenyum.
Dia tidak marah saat dibilang gemuk, karena semuanya memang benar. El sangat memanjakan dia. Hanya saja bila tidak bersama Elvino atau ibu mertuanya. Dia tidak diizinkan keluar rumah. Walaupun bersama sopir pribadinya.
"Aku takut, baby nya kelaparan. Tapi jika mamanya sudah makan kenyang. Maka dia tidak akan kekurangan asupan gizi." tutur si tampan yang sangat hapal masalah ibu hamil dan bayinya.
Soalnya setiap ada kelas ibu hamil. Dia akan menemani Adel. Sehingga membuat pasangan lainya iri pada mereka berdua.
"Aku mandi sebentar ya, ini sudah sore," lanjutnya mengelus kepala sang istri.
"Eum... iya, aku tunggu di sini. Soalnya aku juga ingin mengatakan sesuatu," jawab Adel tersenyum. Malam ini dia sudah berniat untuk mengungkapkan perasaan yang dia miliki.
Akan tetapi nanti malam baru dia akan mengungkapkan nya. Adelia sudah lama merasakan jantungnya berdebar-debar apabila lagi bersama Elvino. Hanya dia sengaja merahasiakan karena tidak ingin terburu-buru pada perasaanya sendiri.
Setelah benar-benar yakin baru dia mau mengungkapkan nya. Apalagi El juga sudah ujian skripsi terakhir.
...BERSAMBUNG......
.
.
Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungannya, ya. Agar Mak Author semagat juga buat nulisnya. Hayo nggak boleh pada laper melihat bbg Elvino yang playboy jadi bucin akut π€£ Eh, salah! Maksudnya baperπ€
Like.
Vote.
__ADS_1
Komen.
Bintang lima ataupun hadiah lainnya. Terima kasih ππππ