
💝💝💝💝💝💝
...HAPPY READING......
"El, ayo keruangan Papa," ajak Tuan Arka begitu mereka sama-sama keluar dari ruangan meeting. Sampai saat ini Elvino memang masih berada di bagian Staf pemasaran.
Meskipun ayahnya sudah ingin memindahkan dia di bagian Direktur. Sebagai penganti beliau, Elvino menolaknya.
Dia justru sangat senang berada di posisinya saat ini, karena Elvino bisa lebih leluasa memantau para karyawan Wijaya group.
"Baik, Pa," jawab Elvino singkat. Dia berjalan mengikuti Tuan Arka masuk kedalam ruangan tertinggi perusahaan Wijaya group. Diikuti juga oleh Sekertaris Demian yang berjalan beriringan dengan nya.
Kleeek!
Suara pintu yang dibuka lebih dulu oleh Sekertaris Demian. Dia bagaikan seorang pengawal setia saja, yang selalu memastikan agar semuanya berjalan lancar.
"Duduklah!" titah Tuan Arka juga ikut duduk di atas sofa. Lalu beliau menatap kearah Sekertaris Demian dan berkata. "Demian, kau juga duduk,"
"Iya, Tuan," jawab Sekertaris tersebut karena jika Elvino sudah duduk lebih dulu.
"Ada apa, Pa?" tanya Elvino karena dia tidak sabar ingin menelepon istrinya.
"Sabarlah! Papa hanya ingin bicara sebentar. Seperti kamu saja yang memiliki istri. Papa juga punya, tapi masih sabar menunggu waktu jam makan siang," goda Tuan Arka yang sudah tahu bahwa Elvino mau menelepon menantunya.
"Ya bedalah! Kalau El kan sangat mencintai Adel," jawab pemuda itu tidak mau kalah.
"Heh! Siapa bilang Papa tidak mencintai mama kalian? Jika Papa tidak cinta, maka mana mungkin bisa memiliki dua anak. Apalagi anaknya seperti kamu," cibir beliau yang sama saja seperti putranya.
"Ck, El sudah berubah tidak seperti dulu lagi, jadi Papa jangan ungkit masalah itu." decak Elvino sudah biasa dicibir oleh papanya.
__ADS_1
"Iya, tapi semua perubahan mu karena menantu Papa. Jadi jaga mereka dengan sangat baik. Untuk saat ini jangan kamu biarkan dia keluar rumah. Papa takut Johan dan komplotannya. Nekad untuk menyerang keluarga kita." ucap Tuan Arka sudah mulai serius.
"Apa! Apakah menurut Papa mereka akan menyakiti keluarga kita?" seru pemuda itu mengulangi perkataan ayahnya.
"Tentu saja, kita harus meningkatkan keamanan untuk mama dan adikmu juga, karena mereka berdua yang lebih sering bepergian." jawab Tuan Arka yang sudah memikirkan hal tersebut.
"Jadi mulai sekarang kamu harus berhati-hati lagi, El. Papa lebih baik kehilangan harta, daripada kehilangan kalian semua." ungkap beliau membuat Elvino menatap papanya lekat.
"Papa... maafkan, El. Mungkin jika sejak dulu Elvino sekolah degan benar dan sudah membantu Papa. Maka para pengkhianat itu pasti tidak akan memiliki kesempatan buat menyerang Wijaya group." ucap si tampan menyesali perbuatannya.
"Tidak, Nak. Semua ini sudah takdirnya seperti itu. Bila kau tidak nakal dan membuat ulah.aka mana mungkin Papa memiliki putri seperti istrimu. Dialah yang membuat keluarga kita bisa bertahan sampai saat ini." Tuan Arka mengelengkan kepalanya pelan.
Sebab baginya apa yang sudah terjadi dan dilakukan Elvino putra sulungnya. Merupakan sebuah skenario author untuk menyatukan Adel dan Elvino.
"Astaga! El lupa, Pa. Apa yang Papa katakan memang benar. Jika Elvino tidak mabuk-mabukan. Maka kita juga tidak tahu secepat ini. Siapa saja musuh dalam selimut, perusahaan Wijaya group." El ikut membenarkan.
"Iya, Papa tidak perlu khawatir, Elvino akan berhati-hati lagi. Tapi Papa juga harus berhati-hati dan biarkan Sekertaris Demian mengantar jemput Papa," jawab Elvino yang sama mengkhawatirkan sang ayah
"Aku tidak percaya pada siapapun lagi. Setelah mengetahui konspirasi besar ini. Coba Papa pikir, berapa banyak Papa membantu keluarga Om Manuel. Tapi ternyata dia menusuk Papa dari belakang, hanya karena ingin Radit menjadi direktur di perusahaan Wijaya group." kata Elvino tidak percaya bahwa salah satu teman papanya sendiri yang melakukan semuanya.
"Benar sekali Tuan Muda, Saya juga tidak menyangka bahwa dalang dari semua kekacauan ini adalah Tuan Manuel." imbuh Sekertaris Demian.
"Padahal setiap kali kita melakukan meeting dan membahas masalah data yang bocor. Dia hanya diam saja seolah-olah sahamnya tidak terancam," lanjut si tampan Elvino lagi.
"Wah, wah! Demian, kamu lihat sendiri kan. Jagoan Saya sudah bisa menjadi seorang pemimpin Wijaya group." sorak Tuan Arka bertepuk tangan.
"Papa sangat bangga padamu, El. Biasanya kebanyakan orang, benar dulu baru dia berbuat salah. Akan tetapi berbeda dengan putra Papa." ucap beliau berhenti sejenak sebelum melanjutkan ucapannya lagi.
"Tapi kamu berbuat salah dan kekacauan dulu. Baru bisa menjadi benar. Jika terus seperti ini, maka Papa sangat yakin tidak akan ada perusahaan asing yang mampu menyaingi pewaris Wijaya berikutnya." puji Tuan Arka seraya merangkul bahu putra sulungnya. Soalnya mereka memang duduk berdekatan.
__ADS_1
"Agh, Papa bicara apa? Jika tidak ada pengkhianat di dalam perusahaan Wijaya group. Maka tidak ada perusahaan asing yang berani melawan Papa." El tersenyum karena ayahnya itu terlalu berlebihan.
"Itu berarti, kehebatan Tuan Arka, sudah menurun pada Tuan Muda," yang dijawab oleh Sekretaris Demian.
"Dan kamu, akan menjadi sekertaris sekaligus tangan kanan Elvino berikutnya." kata Tuan Arka juga ikut tersenyum bahagia.
Di usianya yang mulai merasakan lelah harus bertarung melawan para pebisnis baru dan para musuhnya yang memiliki wajah seperti malaikat.
Ternyata beliau mendapatkan anugerah putranya menjadi anak yang bisa menjadi benteng untuk keluarga mereka. Jadi bagaimana mungkin beliau tidak merasakan bahagia.
"Eum... jika tidak ada lagi yang mau di bahas, El mau kembali ke ruangan Elvino sendiri. Soalnya ini sudah waktunya menelepon Adel," kata Elvino berdiri dari tempat duduknya.
"Iya, pergilah! Tadi Papa hanya ingin mengatakan itu saja." jawab Tuan Arka tersenyum. "Jika masalah ini selesai, Papa akan beristirahat di rumah saja, sambil menjaga anak kalian. Istrimu biarkan kuliah, agar bisa mengejar cita-citanya yang sudah terkubur karena keadaan," lanjut beliau lagi yang membuat Elvino berhenti di tempatnya berdiri.
"Baiklah! Asalkan Papa sehat, El tidak masalah menjadi direktur di perusahaan Wijaya," jawab pemuda itu tersenyum.
Lalu setelah itu Elvino pun meninggalkan ruangan papanya. Namun, saat dia memasuki lift khusus bagi petinggi perusahaan.
Pada saat bersamaan, Manuel yang ingin turun ke lantai bawah juga masuk kedalam lift yang sama dengan Elvino.
"Tuan Muda Elvino," sapanya yang terkesan mengejek dan kembali berkata lagi. "Semakin hari, Anda terlihat semakin hebat dan sudah bisa menjadi pemimpin di Perusahaan Wijaya group."
"Haa... ha..." tawa Elvino berhenti sebelum mengucapkan kata-kata pedasnya. Tidak tahu saja Manuel. Bahwa Elvino sangat pandai bila diajak berdebat.
"Saya menjadi pemimpin juga di perusahaan ayah Saya sendiri. Wijaya group dibangun oleh kakek Wijaya, dan di wariskan pada papa Saya. Lalu karena kehebatannya, perusahaan ini bisa berkembang menjadi perusahaan raksasa. Jadi sudah pasti Saya akan berusaha menjadi hebat, agar bisa melindungi apa yang sudah menjadi hak kami,"
Jawaban Elvino langsung membuat Manuel mengepalkan tangannya erat. Dia sangat benci situasi seperti ini. Namun, juga tidak ada kekuatan untuk membalas ucapan Elvino.
...BERSAMBUNG......
__ADS_1