Dia Juga Anakku

Dia Juga Anakku
Tatapan Benci.


__ADS_3

💝💝💝💝💝💝


... HAPPY READING... ...


.


.


"Oliv, selamat ya!" ucap Ezia yang tidak ditanggapi oleh Olivia karena dia masih larut dalam lamunannya.


"Oliv!" panggil Eza karena istrinya belum juga merespon ucapan selamat dari gadis yang dia sukai.


"Olivia, Oliv! Kamu baik-baik saja kan?" Marvel mengibaskan tangannya didepan muka pengantin wanita itu. Namun, masih tetap sama. Olivia belum juga menyadari disekitarnya.


"Olivia Alexa!" panggil Eza penuh penekanan karena tangannya juga memberikan cengkraman pada punggung sang istri.


"Agh.. I--iya!" Olivia yang kaget pun terperanjat hampir terjungkal ke belakang. Untungnya dengan sigap Eza menahan pinggang ramping Olivia. Membuat gadis itu juga refleks mengalungkan kedua tangannya pada leher Eza.


"Apa mungkin gadis itu kekasihnya dia? Lalu kenapa harus menikah denganku. Kan bisa saja dialihkan jika yang menikah kekasihnya."

__ADS_1


Olivia masih juga memikirkan raut sedih Ezia yang masih menyaksikan dia dan Eza. Mereka berdua terlihat sangat romantis. Membuat semua orang bertepuk tangan.


"Wah-wah! Sepertinya mereka berdua sudah tidak sabar untuk main sosor-sororan." seloroh Leo menggoda sahabatnya.


"Brengsek! Gadis ini pintar sekali membuatku terjebak dengan wajah bodohnya. Awas kau Oliv."


Batin Eza menahan rasa geram pada istrinya. Lalu dia pun mendorong tubuh Oliv dengan kasar.


"Jaga perilaku mu! Ini bukan hidup dijalanan seperti kebiasaan mu." kata-kata Eza membuat Olivia merasa malu dihadapan Ezia dan ketiga sahabat suaminya.


"Maaf, aku tidak sen---"


"Huem, iya. Jika kau masih repot tidak perlu dipaksakan." jawab Ezia masih berpura-pura tersenyum. "Oliv, selamat ya atas pernikahan kalian. Semoga kamu dan Eza bahagia." ucapnya menyalami tangan Olivia.


"Iya, terima kasih." Oliv menjawab tapi masih memperhatikan raut wajah Ezia. Membuat gadis itu cepat-cepat berpamitan untuk turun dari atas pelaminan.


"Zi, Ezi..." suara Eza berhenti karena melihat Ezi tidak menghiraukan panggilannya.


"Puas kau? Ini kan yang kau inginkan? Dasar wanita licik!" umpat Eza menatap tajam istrinya.

__ADS_1


"Za, sudah-sudah! Kamu tidak boleh berbicara kasar pada istrimu sendiri. Sekarang kalian sudah resmi menikah dan tugas seorang suami adalah membahagiakan istrinya. Lagian kamu tidak mau kan Opa Arka dan yang lainya mengetahui jika kalian bertengkar." kata Riki tidak pernah melihat Eza berkata kasar selain pada Olivia.


"Ck!" decak si calon pewaris.


"Oliv, yang sabar ya. Eza orang baik kok. Mungkin karena perlakuan mu hari itu membuatnya masih marah." Marvel yang tahu bahwa Olivia pasti merasa dipermalukan segera menghibur gadis itu.


"Huem!" hanya itulah jawaban Olivia. Setelah kepergian ketiga sahabat Eza. Mereka berdua kembali menyambut para tamu. Namun, keduanya juga sempat untuk beristirahat selama satu jam dan menganti gaun pengantin baru.


Baru kembali melanjutkan menerima tamu, sampai acaranya selesai. Tepat jam setengah sepuluh malam, keduanya kembali ke kamar pengantin.


"Sayang, Mama tinggal dulu ya. Kalian silahkan nikmati malam pengantin ini, karena sekarang kamu dan Eza sudah sah sebagai pasangan suami-istri." pamit Adelia setelah mengantar anak dan menantunya ke depan kamar hotel.


Olivia hanya mengangguk saja karena tahu ibu mertuanya adalah wanita yang selalu berkata lemah lembut. Tidak lama setelahnya barulah dia menyusul Eza masuk.


"Kau tidur di sofa! Ini adalah kamar milikku. Jadi sebagai orang yang menumpang kau harus menuruti kata-kata ku." Eza langsung melemparkan satu bantal ke muka Oliva.


"Kau..." Olivia mengepalkan kedua tangannya. Mereka saling tatap dengan penuh kebencian, bukan tatapan cinta.


...BERSAMBUNG......

__ADS_1


__ADS_2