
ππππππ
...HAPPY READING......
.
.
Setelah Adelia selesai di bersihkan dan mengunakan pakai rumah sakit Hospital Center. Wanita itu pun di pindahkan ke ruang bersalin bersama Elvino yang ikut mendorong brankar tempat istrinya masih belum sadarkan diri.
Hati Elvino sangat bahagia karena semua ketakutan mereka tidak terjadi, karena para Tim dokter terbaik sudah mengantisipasi bahwa kemungkinan buruknya akan terjadi. Sehingga darah dan yang lainya sudah disiapkan.
Kleeek!
Pintu ruang rawat intensif yang berkelas VIP dibuka lebar oleh perawat yang berjalan di depan para Dokter. Sehingga membuat keluarga yang ada di dalam ruangan tersebut menoleh secara bersamaan.
"Sayang," seru Nyonya Risa berdiri mendekati putranya dan langsung memberikan pelukan, karena beliau tahu bahwa Elvino butuh pelukan hangat dari orang-orang terdekatnya.
"Mama, Adelia dan anakku baik-baik saja." ucap Elvino yang benar saja meneteskan air mata bahagia dalam pelukan wanita yang selalu membela setiap pemuda itu dan papanya bertengkar. Yaitu sebelum adanya sosok istri tercinta.
Soalnya jika bukan karena Adelia, hubungan Elvino dan Tuan Arka tidak pernah akur karena El yang pemalas dan mabuk-mabukan. Belum lagi hampir setiap putri rekan bisnis beliau merupakan mantan pacar Elvino.
Jadinya Tuan Arka merasa malu, bukannya bangga. Sebab tidak ada yang bisa banggakan. Sekolah saja tidak lulus-lulus. Berbeda dengan sekarang, Elvino adalah pahlawan bagi keluarganya dan juga bagi perusahaan Wijaya group.
"Tentu saja mereka harus baik-baik saja. Putramu juga sangat tampan, Nak. Dia bahkan sangat mirip denganmu." Nyonya Risa tersenyum seraya merenggangkan pelukan mereka.
"Ayo lihatlah! ini jagoan kecil kita, yang bertahan saat mamanya hampir keguguran." ucap beliau menuntun tangan Elvino mendekat box bayi yang saat ini lagi tidur dengan nyenyak nya.
"Tampan sekali... tadi aku tidak bisa melihatnya dengan jelas. Ya Tuhan! Terima kasih sudah menyelamatkan istri dan anakku. Aku benar-benar bahagia sekali."
Gumam si tampan mendekati anaknya. Terlihat Elvino junior lagi tidur dengan sangat nyenyak. Padahal ruangan tersebut lagi berisik karena Raya dan ke-dua anak Paman Hasan sudah datang.
Belum lagi ada beberapa orang perawat dan Tim dokter yang melakukan operasi tadi. Untungnya ruangan tersebut adalah VIP, yang nomor satu. Jadi sudah jelas sangat luas bila menampung beberapa orang, selain keluarga inti. Tidak akan menjadi masalah pada kesehatan pasien nya.
"Mama, apakah dia tidur memang seperti itu?" tanya Elvino tersenyum melihat si buah hati yang sejak awal memang sangat dia yakin adalah anaknya. Bukan anak Hendra ataupun Aiden.
"Iya! Sudah biarkan saja, tidak apa-apa dia tidur seperti itu, asalkan tidak keseringan. Nanti sopir Mama akan mengantarkan perlengkapan bayi dan kalian berdua. Di tempat perlengkapan bayi, ada bantal khusus agar kepalanya tidak bisa miring seperti ini." Nyonya Risa ikut mendekati sang cucu.
"El tidak tahu jika Adel mau melahirkan, Ma. Saat makan siang di perusahaan, dia baru bilang kalau sakit pinggang sejak pagi. Itupun Adel bercerita karena Elvino mau mengajaknya untuk periksa ke Dokter Maya." jelas Elvino yang sudah berdiri seperti semula dan melihat para dokter mengatur infus pada tangan istrinya agar lebih nyaman.
"Mungkin dia tidak mau membuatmu khawatir, apalagi kamu sekarang selalu sibuk." sahut Tante Mona yang sejak tadi mendengarkan Tuan Arka dan suaminya berbicara bersama salah satu dokter yang ikut mengoperasi Adelia.
"Tante, Adelia adalah segalanya buat Elvino, jadi seharusnya dia tidak boleh seperti itu. Tidak ada hal yang lebih penting selain mereka berdua baik-baik saja." jawab Elvino yang masih merasakan ketakutan bila sampai sang istri terlambat dibawa ke rumah sakit.
"Tentu, Nak. Tante dan semuanya tahu seperti apa kamu menjaga mereka selama ini." jawab Tante Mona dan Nyonya Risa tersenyum.
"Tuan Muda, kami semua mau pamit dari sini. Bila butuh bantuan, tekan saja tombol bantuan seperti biasanya. Selamat untuk kelahiran Elvino Junior nya." kata Dokter Maya dan para Dokter yang lainya ikut mengucapkan selamat juga.
"Iya, Saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya pada kalian semua." El pun menjabat tangan orang-orang yang telah menolong menyelamatkan istri dan anaknya.
Setelah para dokter dan perawat pergi. Barulah Tuan Arka dan Paman Hasan mendekati Elvino.
"El, selamat, ya. Ternyata dugaan mu benar, bahwa anak kalian adalah laki-laki." ucap Tuan Arka tersenyum seraya memeluk Elvino sesaat. Bergantian dengan Paman Hasan juga.
"Terima kasih, Pa.' Terima kasih, Paman," jawab Elvino kembali tersenyum bahagia.
__ADS_1
Seakan bibirnya tidak mau tertutup lagi. Hingga terus tersenyum bila melihat kearah sang istri dan putranya. Meskipun Adelia belum siuman dari pingsannya. Akan tetapi keadaan ibu muda itu baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena semuanya sudah kembali normal seperti semula.
"Kak, nama bayinya siapa?" tanya Raya berjalan mendekati keponakannya.
"Iya, El. Kami semua kenapa lupa dengan namanya." tawa Nyonya Risa sambil mengendong cucunya yang menggeliat bangun dari tidurnya.
"Namanya... Alfariel Feeza Wijaya." jawab Elvino yang sudah menyiapkan nama untuk anaknya sejak jauh-jauh hari karena dia sangat yakin jika anaknya adalah laki-laki.
"Alfariel Feeza Wijaya," ulang mereka serempak.
"Iya, namanya Alfariel Feeza Wijaya," Elvino tersenyum melihat putranya yang sudah membuka mata. Seakan-akan sudah mengerti dan melihat saja, si baby boy menatap kearah papanya yang lagi berbicara.
"Lalu kita akan memangilnya apa, Kak?" tanya Raya yang tidak sabaran untuk menyebut sang keponakan degan namanya.
"Panggil saja Eza, biar singkat." Tuan Arka yang menjawab.
"Mama juga setuju, ini namanya baby Eza, si Elvino kecil. Semoga hanya wajahnya saja yang mirip," ucap Nyonya Risa membuat mereka tertawa karena Elvino langsung merenggut saat mamanya berkata seperti itu.
"Tidak apa-apa kalau nakalnya saat muda, yang tidak boleh itu adalah sudah benar di awal, sudah tahu mana yang salah. Eh, malahan sengaja berbuat tidak benar. Apalagi jika telah menikah." sahut Paman Hasan yang juga tersenyum.
"Tapi El berbeda, dia dulu memang nakal dan Saya rasanya ingin sekali memukulnya saat kejadian itu. Namun, berpikir lagi, selain memiliki anak laki-laki. Saya juga pernah muda, hal wajar bila dia melakukan kesalahan." lanjut Paman Hasan yang tingkat kesabarannya sangat luas.
Makanya ketika Elvino memperkosa Adelia, beliau tidak marah maupun berniat melaporkan pada polisi dan tidak pula menuntut untuk menikahi keponakanya.
Berkat kesabaran beliau, ada orang lain yang mengancam Tuan Arka. Agar Elvino mau bertanggung jawab pada Adelia yang ternyata hanya Elvino saja yang memperkosanya.
Si pengancam ternyata adalah musuh dari Manuel. Maka dari itu dia mengancam Tuan Arka agar Elvino bertangungjawab. Sehingga membuat semua rencana Manuel gagal total.
"Kamu benar, Hasan. Mungkin dulu Saya yang terlalu keras." Tuan Arka membenarkan ucapan besannya.
Setelah pembicaraan itu mereka semua kembali mengobrol sampai sore hari, karena Adelia belum juga siuman dari tidur panjangnya.
Padahal sopir pribadi keluarga Wijaya sudah datang mengantarkan perlengkapan bayi, makanan dan keperluan yang dibutuhkan selama menginap di rumah sakit.
"El, itu pakainya sudah ada, pergilah mandi. Agar nanti saat istrimu sadar, adanya menemaninya. Kita bisa bergiliran." titah Nyonya Risa pada Elvino yang hanya duduk di samping ranjang tempat istrinya dirawat.
"Memangnya sudah jam berapa, Ma?" tanya El melihat jam pada pergelangan tangannya sendiri.
"Wah, sudah jam setengah lima. Baiklah, Elvino mandi dulu. Titip Adel sama baby Eza, ya, Oma" ucap si tampan El tersenyum setelah mengelus pipi putranya yang tidur lagi.
"Tentu saja Oma akan menjaganya tanpa kamu pinta sekalipun. Sudah cepat mandi sana," Nyonya Risa mendorong agar putranya segera menjauh dari box bayi.
"Oma sudah mulai galak nih, sayang. Mentang-mentang sudah punya Elvino Junior." tawa El menggoda sang ibu.
Saat ini yang ada di dalam ruangan tersebut hanyalah keluarga mereka saja, karena Paman Hasan beserta istri dan anaknya lagi pulang untuk mandi. Nanti baru datang ke rumah sakit lagi.
Tuan Arka sendiri lagi istirahat di ranjang berukuran sedang yang dikhususkan untuk para keluarga pasien. Sedangkan Raya lagi bermain ponsel di sofa yang ada dalam ruangan itu juga.
Setelah membawa pakaian, handuk dan juga perlengkapan mandinya. Elvino pun masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang sangat lelah. Namun, mendapatkan pengalaman besar karena hari dia ini telah menyaksikan seperti apa proses sang istri melahirkan buah hati mereka.
"Aah... segar sekali. Rasanya aku benar-benar bahagia setelah melihat istri dan anakku baik-baik saja." gumam Elvino menguyur tubuhnya dibawah shower.
Meskipun di rumah sakit, tapi fasilitas di kamar VIP tempat Adelia dirawat. Sama seperti mana di hotel bintang lima. Jadi tidak ada bedanya dengan hotel.
Hampir selama lima belas menit kurang lebih, Elvino sudah selesai membersihkan tubuhnya dan telah ganti pakaian dengan baju bersih. Lalu baju kotornya El masukkan kedalam keranjang yang ada tersedia di dalam kamar mandinya.
Ceklek!
"Ma, sekarang Mama lagi yang mandi, biarkan Elvino yang menjaga mereka." ucap si tampan pada sang ibu yang hanya duduk saja, karena si baby Eza juga masih tidur.
__ADS_1
"Iya, baiklah! Tapi bila nanti bayinya menangis, kamu panggil Mama saja. Tidak usah dipaksakan buat mengangkatnya sendiri. Mama takut nanti kamu malah menyakitinya."
Pesan beliau karena tidak tahu kalau Elvino putranya, sudah belajar cara menggendong bayi di saat menemani Adelia mengikuti kelas ibu hamil.
"Haa... ha... Oma yang cantik tenang saja, karena Elvino bukan hanya belajar jurusan manajemen saja. tapi juga sudah praktek cara menggendong bayi yang baru lahir." El tergelak melihat mamanya yang lagi mengambil baju dari koper dan dibawa lagi masuk kedalam kamar mandi.
"Sayang... ayo bagunlah! Kenapa tidurnya lama sekali." El mengelus tangan Adelia yang tidak terpasang infus.
Cup!
Terima kasih kerena sudah menjaga dan berjuang untuk melahirkan putra kita." El mengecup tangan istrinya karena sejak tadi begitu banyak orang termasuk keluarga Wijaya yang datang menjenguk.
Sehingga si tampan tidak ada kesempatan buat mencium istrinya. Walaupun hanya tangannya saja.
Tttddd!
Ttttddd!
"Aiden!" gumam si tampan Elvino saat melihat layar ponselnya yang bergetar. Kebetulan sekali benda pipih tersebut ia taruh di atas meja yang tidak jauh dari tempat dia duduk saat ini.
π± Elvino : "Aiden, ada apa?" langsung saja bertanya dengan tersenyum tampan.
π± Aiden : "Elvino, kamu ada di mana? Kata Sekertaris Demian, istrimu sudah melahirkan. Apakah benar? Kenapa tidak ada mengabari kami? Kamu ini keterlaluan sekali." begitu El mengangkat panggilan tersebut. Aiden yang baru saja mengetahui bahwa Adelia sudah melahirkan langsung saja mengomel pada sahabatnya.
Baik Aiden maupun Hendra memang sudah mengetahui bahwa mereka berdua tidak ikut memperkosa Adelia malam itu. Namun, tetap saja mereka mengkhawatirkan keadaan istri Elvino.
Rencananya setelah Elvino menyerahkan bukti-bukti bahwa yang memperkosa Adelia hanyalah dirinya. Baru pada saat itu Aiden dan Hendra akan menemui wanita itu untuk minta maaf, karena mereka berdua lah yang membantu menarik Adel ke Taman kota.
π± Elvino : "Aku mana ingat untuk menelpon kalian berdua. Rasanya aku sangat cemas pada keadaan istri dan anakku. Tapi untungnya saat operasi semuanya berjalan dengan lancar, hanya saja sekarang Adel belum juga siuman."
π± Aiden : "Syukurlah! Aku juga ikut khawatir tentang keadaan Istri dan anakmu. Wah, sekarang kamu sudah menjadi seorang papa, El. Papa Elvino, atau ayah Elvino, nih?" ucap Aiden tertawa yang juga membuat si playboy cap kampak tersenyum bahagia.
π± Elvino : "Apa saja, mau memangil Daddy juga tidak masalah, asalkan puteraku sehat."
π± Aiden : "Putra? Berarti anakmu laki-laki? Wah, tebakan mu benar sekali, El. Aku ikut bahagia mendengarnya. Jika Adelia sudah sembuh cepat kamu kasih tahu kejadian malam itu, karena aku dan Hendra juga ingin melihat putra kalian." seru Aiden langsung mengalihkan panggilan tersebut menjadi Video call, melalui WhatsApp.
π±Elvino : "Kenapa kau mengubah panggilan nya? Apakah sudah merindukan wajah tampanku?"
π± Aiden : "Ck, percaya diri sekali! Aku hanya ingin melihat bayi kalian. Coba arahkan kamera ponselmu pada baby boy." decak pemuda itu karena Elvino yang tampan selalu memuji dirinya sendiri.
π± Elvino : "Tidak perlu melihat bayi Eza. Cukup lihat papanya saja, kalau mau melihat Elvino junior, kalian harus membawa hadiah yang mahal."
Elvino malah mengarahkan layar ponsel pada mukanya sendiri dan tidak mau memperlihatkan wajah anaknya. Padahal box bayi, baby Eza ada disampingnya.
π± Aiden : "Astaga, Elvino! Kamu pelit sekali! Uangmu menjadi model dadakan kemana? Bukannya perusahaan Wijaya group sudah semakin jaya. Kenapa masih memeras melalui putramu." seru Aiden yang kesal karena Elvino tetap tidak mau memperlihatkan wajah sang putra.
π± Elvino : "Hoo...Ho! Itu beda lagi Om Aiden. Ini masalah ketampanan baby Eza, jadi sangat mahal bila kalian, mau melihat wajahnya." jawab Elvino tertawa melihat wajah kesal sahabatnya.
π± Aiden : "Agh, yasudah lah, payah bila berurusan dengan ayah yang serakah. Baby Eza, tunggu Om yang tampan ini membawakan hadiah, ya. Baru kita bisa bertemu."
π± Elvino : "Asalkan hadiahnya tidak ngutang, harus lunas. Tidak boleh uangnya hasil minjam dari kakek Paris." El tergelak karena sangat menikmati bisa mengejek sahabatnya.
Sehingga tidak sadar kalau istrinya sudah bangun sejak beberapa menit lalu dan mendengarkan pembicaranya bersama Aiden.
"Sayang, kamu sudah sadar, Nak." ucap Nyonya Risa sudah keluar dari kamar mandi.
Deg!
__ADS_1
"Apakah Adel mendengar ucapanku bersama Aiden?" tubuh Elvino langsung membeku.
...BERSAMBUNG......