
💝💝💝💝💝💝
...HAPPY READING......
.
.
Suara riuh tepuk tangan memenuhi ballroom hotel bintang lima milik keluarga Wijaya. Saat pengumuman bahwa Eza adalah penerus CEO dari perusahaan Wijaya group diumumkan langsung oleh Elvino dan Tuan Arka Wijaya.
Kebahagiaan keluarga mereka benar-benar tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata lagi. Sungguh Adelia dan Elvino berhasil mendidik putra semata wayangnya tumbuh menjadi anak yang berprestasi, pintar dan memiliki jiwa sosial yang tinggi. Sehingga semua orang memang berharap Eza menjadi pemimpin berikutnya.
"Opa, terima kasih karena sudah mempercayakan Eza untuk menjadi wakil papa." ucap Eza memeluk tubuh sang kakek.
"Eh... kamu bukan menjadi wakil Papa, Za. Justru Papa yang akan menjadi wakil mu." timpal Elvino yang membuat Adelia dan Nyonya Risa tersenyum mendengarnya.
"Tapikan Eza belum wisuda, Pa. Jadi untuk sementara ini Papa yang menjadi direkturnya." jawab si tampan Eza yang sangat berkarisma. Sehingga malam ini saja begitu banyak para rekan kerja perusahaan Wijaya yang meminta Eza buat menjadi calon menantu mereka.
__ADS_1
"Sudahlah El, kamu yang mengalah sampai Eza wisuda." Tuan Arka yang sangat menyayangi cucu pertamanya tentu saja memberikan duduknya pada Eza.
"Haa... ha... Kakak harus mengalah. Jika mau menambah keponakan untukku, tunggu Eza lulus kuliah." tawa Raya yang membuat El merengut kesal.
Mau dewasa seperti apapun Elvino dan Raya tetap saja seperti anak kecil bagi kedua orang tuanya. Sambil berbincang bersama keluarga besar Wijaya. El dan Tuan Arka menyalami para tamu undangan.
Sampai jam sebelas malam. Acara tersebut berakhir. Sebagian besar ada yang pulang ke rumah masing-masing. Namun, ada pula yang menginap di hotel tersebut. Termasuk Eza, dia tidak pulang karena ada acara bersama sahabatnya.
"Agh... Zi, sebentar lagi aku akan mengungkapkan perasaanku padamu." Eza tersenyum sambil berjalan masuk ke kamar hotelnya. Namun, baru saja dia akan membuka pintu kamar terdengar ada suara langkah kaki berlari kearahnya.
"Tolong! Tolong Saya!" teriaknya yang merupakan seorang wanita.
"Sa--saya mau diperkosa oleh orang jahat. To--tolong Saya!" Eza yang mendengarnya langsung menarik gadis tersebut kedalam kamarnya. Soalnya ada suara langkah kaki lagi berlari kearah mereka.
"Siapa mereka?" tanya Eza belum tahu siapa orang yang dia tolong.
"Saya juga tidak tahu, Tuan. Saya lagi membantu rekan lainya membereskan bekas pesta. Tapi ada yang menyeret Saya dan..." jawab wanita itu yang tidak menyelesaikan ucapannya karena baru sadar jika baju kameja bagian dadanya terbuka lebar.
__ADS_1
Membuat Eza lagi-lagi refleks melepas jas yang dia pakai dan dipasang pada tubuh wanita tersebut.
"Pakailah ini, setidaknya bisa---" mata Eza membola setelah tahu siapa yang ada dihadapannya. "Kau... kenapa bisa disini? Kau sengaja mengikuti aku ya?" tuduh Eza yang telah mengklaim bahwa wanita itu musuh besarnya.
"Kau yang sedang apa disini? Atau jangan-jangan kau yang mau---"
"Mereka ada didalam sini. Pasti lagi bersama Tuan Muda Eza." suara ribut dari luar kamar. Ada puluhan wartawan ingin menangkap basah si pewaris Wijaya. Mereka mengira bahwa Eza telah melakukan perbuatan melecehkan seorang wanita.
"Brengsek!" umpat Eza kesal dan tangannya sudah terangkat mau mencekik wanita yang juga menatapnya seperti musuh.
"Kau sengaja kan mau menjebak ku?" tuduh Eza karena sudah tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Dari suara di luar kamarnya, Eza bisa menebak jika dia lagi dijebak oleh wanita itu.
Tok!
Tok!
Pintu kamar hotel diketuk dari luar. Membuat Eza mengusap wajahnya kasar.
__ADS_1
BERSAMBUNG...