Dia Juga Anakku

Dia Juga Anakku
Asalkan Bersamamu.


__ADS_3

💝💝💝💝💝💝💝


...HAPPY READING......


.


.


Tap!


Tap!


Suara langkah kaki Arya bersama istrinya. Setelah menyimpan koper baju Raya di ruang tengah. Pasangan suami istri itu berjalan ke dapur bersih untuk sarapan bersama kedua orang tua Arya. Yaitu dengan saling bergandengan tangan.


"Selamat pagi, Mi, Pi," sapa mereka berdua secara serempak.


"Pagi juga, Nak. Ayo duduk kita sarapan dulu," sambut hangat oleh maminya Arya, karena jika papinya menjawab kecil disertai senyum bahagianya.


Ya, semenjak Arya membawa Raya ke rumah mereka dan mengatakan bahwa gadis ramah itu adalah kekasihnya. Tuan Yuda sangat bahagia. Setidaknya beliau merasa bahwa sosok sang putri yang telah tiada bisa digantikan oleh Raya.


"Apakah hari ini kalian mau langsung pulang ke Apartemen?" tanya Nyonya Fanya dengan suara sendunya. Beliau sangat berharap jika anak dan menantunya tinggal bersama mereka.


"Iya, Mi. Maaf, untuk saat ini kami harus tinggal di Apartemen. Nanti bila semuanya sudah selesai. Arya akan membawa istriku tinggal di sini. Kita bisa hidup seperti dulu lagi. Seperti mana saat kakak masih ada," Arya yang menjawab karena bila Raya hanya menurut saja.


Bahkan gadis itu sangat senang bisa tinggal bersama kedua mertuanya. Namun, harus bagaimana lagi. Bila suaminya sendiri tidak mau. Dengan alasan kampus dan perusahaan sangat jauh. Bila mereka tinggal bersama di rumah utama.


"Ar, ikhlaskan lah kepergian kakakmu. Itu semua pilihannya, seharusnya jika dia tidak mau dijodohkan, tidak perlu mengambil keputusan singkat yang membuat kita seolah-olah telah melakukan dosa besar padanya," ujar Nyonya Fanya yang tidak pernah menyalahkan orang lain atas kematian sang putri.


Memang dasar anaknya yang memilih untuk bunuh diri di Apartemen gadis itu sendiri. Seharusnya bila tidak mau dijodohkan oleh orang tuanya. Masih banyak cara lain untuk menolaknya. Begitulah menurut perempuan setengah baya itu. Salah satu cara untuk membuat hatinya tegar dan tidak berlarut-larut dalam kesedihan.


Sebab saat itu baik Tuan Yuda maupun Nyonya Fanya. Baru merencanakan mau menjodohkan putri mereka. Belum tahap pertemuan dengan anak sahabat Nyonya Fanya.


Namun, dua hari setelah itu. Mereka dikejutkan dengan kabar kematian sang putri yang meminum obat tidur dengan sengaja. Sehingga menyebabkan overdosis dan meningal dunia.


"Kakak tidak akan mengakhiri hidupnya dengan cara memalukan. Bila tidak ada penyebabnya, Mi. Kakak ku tidak mungkin nekad meninggalkan kita, bila tidak ada yang membuatnya sakit hati," jawab Arya yang sudah biasa membela kakaknya.


Mungkin karena terlalu menyayangi saudarinya. Jadi Arya tidak terima dengan kepergian sang kakak yang mati mengenaskan. Soalnya yang tahu penyebab kakaknya bunuh diri memang hanya Arya.


Nyonya Fanya dan Tuan Yuda tidak diberitahu karena Arya ingin membalas kematian kakaknya dan sekarang dia telah berhasil menikahi Raya. Tinggal menjalankan rencana selanjutnya saja.


Walaupun dia harus mengorbankan kebahagiannya sendiri. Ya, untuk membalas kematian kakaknya. Pemuda itu sudah membuang jauh-jauh perasaan yang pernah mengagumi Raya.


Si gadis cantik, ramah, pintar tidak sombong. Selalu berbaur dengan mahasiswa lainnya. Walaupun mereka bisa kuliah di universitas tersebut karena beasiswa. Akan tetapi Raya masih mau bersahabat. Padahal gadis itu adalah putri konglomerat nomor satu di kota mereka.


Mana ada laki-laki yang menolak gadis sesempurna itu. Namun, Raya tidak pernah mau ketika diajak berpacaran. Padahal banyak dari anak pengusaha yang jauh lebih kaya dari Arya mengejar cintanya.


Sebab hati Raya tidak pernah bergetar bila berada dekat dengan pemuda-pemuda tampan. Di kampus tempat mereka menimba ilmu. Akan tetapi saat pertama kali bertemu Arya. Gadis itu langsung jatuh cinta saat pandangan pertama.


"Arya, berhentilah menyalahkan orang lain, Nak. Biarkanlah yang sudah terjadi. Kita semua berhak bahagia. Bukannya harus ikut menanggung dosa yang telah dia perbuat. Coba lihat Papi mu. Dia seperti ini semuanya gara-gara ka---"


"Mi, kakak seperti itu karena ulah seseo---"


"Arya, sudah! Tidak baik kamu mengajak Mami berdebat. Dia ibumu dan kita lagi didepan makanan," sela Raya yang sejak tadi hanya diam mendengarkan.


"Ini makanan, mu," lanjut gadis itu lagi seraya menyerahkan piring yang telah diisi dengan makanan pada suaminya. Dia tidak bisa melihat pertengkaran antara ibu dan anak itu.


Saat melihat Arya yang malah terlihat mau adu argumen bersama ibu mertuanya. Membuat Raya yang biasa sejak kecil hidup bersama keluarga harmonis. Langsung menegur suaminya.


Jangankan Arya. Saat Elvino masih menjabat sebagai Playboy cap kampak saja. Gadis itu selalu menasehati kakaknya.


"Benar sekali kata mu, Nak. Papi sangat senang kamu berani seperti ini untuk menegur bila Arya melakukan kesalahan," ucap Tuan Yuda yang tidak pernah berdebat tentang kematian sang putri. Baik dengan istri maupun putranya.


"Maaf, Pi, Raya hanya tidak ingin Arya menjadi anak durhaka," jawab Raya sedikit menunduk karena semua yang dia lakukan tadi benar-benar refleks untuk menjadi penengah antara Arya dan mertuanya.


"Lakukanlah, memang sebagi seorang istri harus seperti itu. Tidak salah jika Tuan Arka memiliki putra-putri yang berkualitas, karena ternyata dididik sejak kecil untuk menjadi anak-anak yang memiliki pemikiran bijaksana," lanjut Tuan Yuda sambil menerima makanan untuknya.


Sekarang beliau sudah bisa makan seperti orang-orang sehat lainya, karena dia hanya tidak bisa berjalan saja. Kesehatan yang lainya sudah stabil.


"Sayang, ayo habiskan makan mu. Nanti kita terlambat," ucap Arya mulai menyuapi makanannya yang diisi oleh Raya.


"Huem," Raya berdehem disertai anggukan kepalanya dan ikut makan.


"Apakah ini alasan Arya tidak mau tinggal satu rumah dengan orang tuanya? Seperti kakak waktu itu juga lebih suka tingal di Apartemen karena selalu berdebat sama papa." gumam Raya yang sesekali menatap kearah suaminya.


Gara-gara sebelum makan sudah berdebat. Akhirnya tidak ada pembicaraan lagi setelah dipisahkan oleh Raya dan itu terjadi sampai Arya selesai lebih dulu.


"Mi, Pi, Arya akan ke depan dan setelah Raya siap. Kami akan langsung berangkat, selagi masih pagi. Nanti bila weekend mungkin kami akan menginap di sini lagi," ucap Arya pada ke-dua orang tuanya.

__ADS_1


"Iya, pergilah! Hati-hati. Tolong jaga menantu Mami degan baik," pesan Nyonya Fanya yang cuma dianguki oleh Arya. Lalu pemuda itu menoleh kearah istrinya dan berkata.


"Makan saja dulu. Aku mau memasukkan koper kedalam mobil dan memanasi mesin mobil sekalian," tangan Arya mengelus kepala Raya yang sedang menghabiskan makanannya.


"iya," jawab Raya singkat. Sambil menatap kepergian suaminya.


"Arya pasti lagi merasa tidak baik-baik saja, karena dia merasa benar dan seorang ibu yang kecewa pada keputusan akhir putrinya, juga tidak salah. Benar kata mami, jika kakak tidak mau dijodohkan, kenapa harus memilih mengakhiri hidupnya sendiri,"


Raya kembali lagi bergumam di dalam hatinya. Setelah menikah ternyata barulah dia mengetahui kekurangan pasangannya, yang saat berpacaran belum ia ketahui.


" Nak, maaf karena kamu harus menyaksikan perdebatan kekurangan kami. Masalah seperti ini sudah sering terjadi karena Arya tidak bisa menerima keputusan kakaknya," ujar Nyonya Fanya menatap pada sang menantu.


"Iya, Mi, tidak apa-apa. Setiap keluarga pasti memiliki masalah masing-masing. Tinggal kita mencari cara biar masalah tersebut bisa kita selesaikan. Tanpa harus saling menyakiti satu sama lain," jawab Raya yang sangat mengerti posisi ibu dan suaminya yang sama-sama tidak bersalah.


"Mami sangat yakin, Arya akan bisa berubah dan tidak sedingin sekarang bila sudah tinggal bersama mu. Tolong Mami, sayang.Tolong bantu Mami untuk membuat Arya mengerti dengan semua yang sudah terjadi," mohon Nyonya Fanya pada menantunya.


"Iya, Mami tidak perlu khawatir karena Raya akan berusaha semampu yang Raya bisa," jawab Raya tersenyum kecil dan melanjutkan lagi menghabiskan makanannya.


Setelah selesai Raya pun berpamitan dengan sopan pada ke-dua mertuanya. Lalu menyusul Arya yang sudah menunggunya di mobil.


Braaak!


Suara pintu mobil yang ditutup. Raya menyusul masuk karena pintu mobil tersebut sudah dibuka oleh Arya sejak tadi.


"Apakah makannya sudah kenyang? Kenapa buru-buru sekali? Atau mau kita mencari restoran dulu sebelum berangkat ke Apartemen?" tanya Arya beruntun karena tidak mau jika Raya masih kelaparan.


"Sudah! Kita langsung berangkat ke Apartemen saja. Lagian mana mungkin aku bisa makan dengan tenang. Bila suamiku saja tidak menghabiskan makanannya," mendengar penuturan Raya.


Pemuda itu yang baru saja mau menjalankan kendaraan mewahnya. Langsung menoleh kearah sang istri.


"Raya," seru Arya yang langsung dipeluk oleh Raya secara tiba-tiba.


"Ar, aku tahu kamu sebetulnya tidak mau berdebat sama mami. Tapi jangan jadikan perasaan sayang mu pada Almarhum kakak. Membuatmu menjadi anak durhaka pada orang tuamu," ucap Raya yang pelukannya sudah dibalas oleh Arya.


"Aku tidak mau kamu seperti ini lagi. Karena Kakak mu pasti juga tidak mau adiknya menjadi durhaka," lanjut Raya karena untuk merubah Arya pasti tidak bisa bila degan cara dipaksa.


Sebab dari menurut pengalaman melihat Elvino bisa luluh pada Adelia, karena kesabaran sang kakak ipar.


Padahal papanya sangatlah tegas dalam mendidik putranya. Namun, tetap tidak berhasil. Bahkan mama mereka yang selalu sabar dan membela Elvino. Tetap saja tidak berhasil untuk merubahnya menjadi baik.


Bila bukan karena dukungan dari istrinya. Maka sampai saat ini. Si tampan Elvino tidak akan pernah menjadi seorang sarjana. Dia kuliah sudah seperti mengambil jurusan S3 saja.


"Ray, maafkan aku. Aku sebetulnya juga tidak mau berdebat sama mami. Namun, aku tidak bisa menerima jika kakakku disalahkan. Dia sudah menderita karena harus mengakhiri hidupnya," ucap Arya sambil mengelus punggung istrinya.


Mendengar ucapan Raya. Membuat hatinya lebih tenang. Padahal tadi sebetulnya Arya masih ingin berdebat dengan maminya.


"Aku sangat mengerti apa yang kamu rasakan. Tapi... jika kamu menyikapi masalahnya seperti ini. Maka mau sampai kapanpun, hubunganmu dan mami akan semakin buruk. Percayalah bahwa takdir itu sudah ada sebelum kita dilahirkan,"


Cup!


"Terima kasih, karena kamu sudah mengingatkan aku lagi. Mulai saat ini aku akan belajar untuk tidak mengajak mami berdebat," Arya langsung mengecup bibir Raya sekilas.


"Iya, aku percaya bahwa kamu pasti bisa. Aku akan selalu berada di sisimu," imbuh Raya tersenyum menatap suaminya.


"Terima kasih!" jawab Arya seraya mengelus pipi istrinya. "Kita berangkat sekarang, ya," ajaknya dan dianguki oleh si cantik Raya.


Lalu Arya pun mulai menjalankan kendaraan roda empat tersebut. Untuk meninggalkan kediaman keluarganya.


Selama dalam perjalanan mereka berdua mengobrol seperti biasanya. Sesekali mereka tertawa karena Raya adalah gadis yang sangat ceria.


"Nanti tidak usah memasak dulu, karena di Apartemen belum ada apa-apa. Besok pagi baru kita berbelanja bersama" ucap pemuda itu mulai memelankan laju kendaraannya.


"Karena besok di perusahaan tidak terlalu banyak pekerjaan. Jadi aku akan pulang cepat," lanjutnya saat mereka tiba di lampu merah.


"Baiklah! Aku akan pesan lewat aplikasi saja, untuk makan malam kita. Tapi bila kamu pulang cepat, bagaimana dengan pekerjaan mu di perusahaan?"


"Aku bisa mengerjakannya saat malam. Jadi kita bisa berbelanja saat sore sekalian jalan-jalan. Bukannya kita sudah lama tidak pergi jalan-jalan. Dari semenjak bertunangan karena dilarang bertemu," jawab Arya seraya menyugikkan senyumannya.


"Wah, benarkah kamu mau mengajakku jalan-jalan. Kenapa aku jadi curiga bahwa kamu akan meminta bayaran," cibir Raya yang langsung menyatukan jari-jari tangan mereka.



"Tentu saja benar! Anggap saja sebagai permintaan maafku karena sudah membuat mu menangis," sekarang bergantian Arya yang balas mengenggam mesra tangan istrinya.


"Jika pun aku meminta upah, karena acara malam keduanya belum kita lakukan," ucap pemuda itu kembali tersenyum.


"Haaa... ha... dasar tukang mesum kamu," tawa Raya karena sejak tadi Arya mengatakan jika mereka belum melakukan malam kedua. Padahal sakit bekas malam pertama saja belum hilang.

__ADS_1


"Mesum sama istri sendiri apa salahnya," jawab Arya yang terus menyatukan pautan tangan mereka sampai tiba didepan gedung Apartemen mewah yang berada di tengah-tengah pusat ibukota.


Posisinya pun tidak jauh dari kampus dan perusahaan. Mungkin hanya sekitar sepuluh menit perjalanan menaiki mobil. Sudah akan tiba di kampus mereka.


"Ayo turun," ajak Arya setelah membukakan pintu mobil buat sang istri. Dia tidak mau lagi membuat Raya merajuk seperti kemarin siang.


"Terima kasih," jawab Raya tersenyum sambil menerima uluran tangan dari suaminya. Mereka berjalan masuk saling bergandengan tangan.


Sehingga semua orang yang berpapasan menatap mereka penuh damba. Arya sangat tampan dan Raya gadis yang sangat cantik. Belum lagi gadis itu mudah tersenyum.


Namun, keduanya tidak ambil pusing dengan tatapan orang-orang. Sebab bila mereka lagi berjalan bersama. Sudah biasa menjadi sorotan.


Ting!


Pintu lift terbuka lebar. Lalu Arya kembali menarik lembut tangan istrinya untuk mengarah ke pintu Apartemen yang ia tinggali.


"Ini Apartemen kita. Selamat datang istriku. Semoga kamu betah tinggal di sini, karena mulai sekarang ini adalah rumah kita," ucap Arya setelah membuka pintu Apartemen dan mengajak Raya masuk kedalamnya.


"Wah, tempatnya sangat nyaman, Ar. Terima kasih! Aku pasti akan betah karena tinggal bersama suami yang aku cintai," seru Raya yang membuat Arya terdiam dibuatnya.


"Ar, kamu kenapa malah diam saja?" Raya menoleh kearah Arya.


"Agh! Tidak ada apa-apa. Ayo kita lihat kamarnya," ajak pemuda itu setelah bisa mengendalikan dirinya untuk bisa bersikap biasa-biasa saja.


Kleeek!


"Nah ini kamar tidur kita. Sedangkan untuk tempat pakaian dan barang-barang yang lainya ada di sebelah sana," tunjuknya pada ruangan khusus menyimpan sepatu, jam tangan dan koleksi barang-barang mewah lainnya.


"Iya, terima kasih. Aku sangat menyukai desain kamar ini," jawab Raya semakin tersenyum lebar.


"Sekarang ditempat inilah aku memulai untuk membangun sebuah keluarga bersama suamiku. Aku benar-benar bahagia bila bisa memiliki keluarga seperti Kakak ku."


Gumam Raya yang telah memiliki begitu banyak impian untuk pernikahannya


"Terima kasih, karena kamu menyukai tempat ini. Soalnya tempatnya tidak terlalu besar. Namun, bila untuk kita berdua sudah cukup," sekarang bergantian Arya yang mengucapkan kata terima kasih.


"Dimana pun tempatnya. Asalkan selalu bersamamu dan kamu setia padaku. Maka itu sudah cukup, karena aku tidak membutuhkan harta dan rumah mewah. Tapi membutuhkan sebuah kebahagian bersama orang yang juga mencintaiku," imbuh Raya yang tanggapi oleh Arya degan senyuman yang entah tulus atau tidak.


Sebab jika menurut rancangan balas dendamnya. Akan mulai menyakiti Raya setelah mereka tinggal di Apartemennya. Namun, entahlah! Akankah Arya tega menyakiti hati istrinya yang sangat baik?


"Ayo kita pergi kuliah dulu. Ini kartu akses untukmu masuk. Sandinya adalah tanggal pernikahan kita. Nanti kamu pulang sama sopir saja, ya. Soalnya selain kita tidak pulang serempak. Aku mau langsung berangkat ke perusahaan," ucap Arya yang sengaja mengalihkan pembicaraan tentang masalah cinta dan kesetiaan karena dia langsung merasa tertohok sendiri.


Sebab dari beberapa hari sebelum acara pernikahan mereka. Arya telah berpacaran dengan Manda. Itu artinya dia sudah mengkhianati cinta tulus Raya padanya.


"Iya, aku juga ada kelas pagi," ajak Raya mengiyakan. "Tidak apa-apa, aku bisa pulang bersama sopir. Kamu kerja saja," lanjut Raya sambil mereka berjalan keluar dari Apartemen.


"Iya, menjelang mobilmu datang. Aku sudah memesan mobil baru untukmu. Tapi kebetulan barangnya sedang tidak ada. Jadi harus menunggu selama satu Minggu,"


"Ar, kamu membeli ku mobil baru?" tanya Raya menatap suaminya yang lagi menutup pintu Apartemen.


"Iya, tapi belum ada jenis mobilnya. Sehingga harus nunggu barangnya datang,"


"Mobilku sudah ada tiga dirumah mama. Lalu untuk apa lagi membeli yang baru,"


"Kan itu mobil dari orang tuamu. Sedangkan ini mobil dariku sebagai kado pernikahan kita dan sebagai maafku karena belum bisa membawamu pergi berbulan madu," jawab Arya kembali mengandeng tangan Raya menuju lift yang akan mengantar mereka ke lantai dasar gedung apartemen tersebut.


"Aku mengerti kamu tidak bisa meninggalkan pekerjaan di perusahaan, Ar. Jadi kamu tidak perlu melakukan ini semua,"


"Apa pun akan aku lakukan untukmu, Ray. Ini belumlah seberapa, nanti kamu akan tahu sendiri kebahagian yang akan aku berikan padamu," Arya tersenyum penuh arti.


"Harga sebuah mobil edisi terbatas yang kuberikan sekarang. Adalah sebagai bayaran untuk penderitaan mu, Ray. Jika bukan karena aku membenci Elvino. Maka kita pasti akan bisa membangun sebuah keluarga yang bahagia." gumam Arya langsung membuang arah pandangan matanya.


Jujur saja, bila menatap mata indah istrinya. Hati Arya langsung luluh. Dia tidak akan pernah sanggup untuk melukai Raya yang sangat mencintainya tanpa syarat dan rasa curiga.


Namun, Arya tidak bisa lagi mengurungkan niatnya untuk menyakiti Raya. Persiapan balas dendamnya sudah sejauh ini. Jadi sekali sudah mengambil keputusan. Arya akan tetap membalas Elvino degan cara menyakiti Raya.


"Baiklah, kalau begitu aku akan menerima hadiah mobil darimu. Agar aku bisa berangkat kuliah sendiri," seru Raya sama-sama tersenyum dengan suaminya.


Setelah pembicaraan di dalam lift. Tidak ada pembicaraan lagi. Sampai mereka tiba di dalam mobil untuk berangkat kuliah bersama, sebagai pasangan suami istri.


...BERSAMBUNG......


.


.


__ADS_1


__ADS_2