Dia Juga Anakku

Dia Juga Anakku
Hari Penantian.


__ADS_3

💝💝💝💝💝💝


...HAPPY READING......


.


.


Dua Minggu sudah berlalu. Hari ini adalah hari yang dinanti-nanti oleh Arya dan Raya. Setelah dua Minggu tidak boleh bertemu sama sekali. Namun, tentunya dengan niat yang berbeda.


Raya dengan impian indah untuk membangun sebuah keluarga kecil yang bahagia. Seperti mana kehidupan Elvino kakaknya.


Sedangkan Arya dengan berbagai rencana demi membalas dendam atas kematian kakak perempuan satu-satunya yang dianggap atas kesalahan Elvino.


Tidak tanggung-tanggung! Demi membuat Raya sakit hati, Arya sudah kembali menjalin hubungan bersama seorang gadis yang tergila-gila padanya. Dari semenjak dia pindah ke universitas tempat dia dan Raya kuliah.


Akan tetapi sejauh ini Arya hanya berhubungan lewat ponsel saja. Tidak sampai bertemu karena dia belum berhasil menikahi Raya. Takutnya bila orang-orang Wijaya yang disuruh Elvino untuk menjaga kelurganya bisa mengetahui jika dia berhubungan dengan seorang wanita.


Sejak pagi Raya dan Arya sudah datang ke hotel mewah milik keluarga Wijaya. Namun, keduanya belum juga dipertemukan sebelum sah menjadi pasangan suami istri.


"Kakak, kakak cantik sekali," ucap Sisil melihat penampilan Raya setelah selesai dirias dengan gaun mahal yang dirancang oleh desainer hebat.


Tentunya dengan harga yang sangat mahal. Jika bukan putri konglomerat sepertinya. Mana mungkin bisa memesan gaung seperti itu.


Namun, itu semua bukan kemauan dirinya. Melainkan Nyonya Risa sang mama dan Elvino kakak tersayangnya. El yang menghubungi desainer tersebut dan yang datang memilih bahannya adalah ibu mereka ditemani si kecil Eza dan Adelia.


"Agh! Kamu juga terlihat sangat cantik, Sil. Hari ini yang lebih terlihat cantik pasti kakak ipar dan kak El yang paling tampan. Mereka selalu membuatku iri. Ingin memiliki pasangan seperti itu juga." ungkap Raya pada adik sepupunya.


"Kakak akan seperti mereka juga. Bukannya Kak Arya juga sangat romantis dan sangat mencintai Kakak. Jangan lupakan Kak Arya juga sangat tampan." sahut Sisil yang umurnya hanya berjarak sekitar enam bulan lebih tua Raya.


Namun, karena si cantik Raya anak dari Tuan Arka yang merupakan kakak tertua di keluarga Wijaya. Jadinya Sisil memangil Raya kakak. Sama seperti pada Elvino dan Adelia.


"Kak Raya juga pasti akan sama seperti Kak El dan Kak Adel. Jadi mukanya jangan dibuat bersedih seperti itu dong. Nanti setelah dua Minggu tidak bertemu. Malah Kak Arya mengira jika Kakak telah memiliki kekasih baru lagi." timpal Eca yang baru kembali dari menerima telepon dari kekasihnya.


Tiga orang wanita ini adalah sepupu. Ibu dan ayah mereka bersaudara. Jadi Tuan Wijaya memiliki dua orang cucu laki-laki dan tiga orang perempuan yang sama-sama cantik.

__ADS_1


"Semoga saja apa yang kalian katakan benar. Jika aku bisa bahagia seperti Kak El dan Kak Adel." Raya memaksakan tersenyum kecil.


"Bila saja ada alasan untuk membatalkan semuanya. Maka entah mengapa aku tidak mau melanjutkan pernikahan ini lagi. Entah apa yang terjadi, selama seminggu ini hatiku selalu merasa tidak tenang. Seakan telah terjadi sesuatu dan membuat ku selalu gelisah. Padahal aku sangat mencintai Arya. Namun, rasanya sudah seperti menikah karena perjodohan."


Gumam Raya karena dia memang sudah setengah hati untuk melanjutkan pernikahannya. Hatinya selalu terasa panas seperti lagi memilik masalah.


Raya sudah bercerita pada Arya. Namun, calon suaminya selalu mengatakan itu hal wajar karena semua orang yang akan menikah pasti akan merasakan hal seperti itu.


Ceklek!


Suara pintu yang dibuka dari luar oleh Tante Anin dan Tante Anita. Kedua adik Tuan Arka.


"Sayang ayo kita keluar sekarang. Acaranya akan segera dimulai." ajak Tante Anin sambil membantu Raya berdiri dari atas bangku meja rias.


"Apakah semuanya sudah siap, Tan?" tanya Raya yang sudah mulai tersenyum ceria karena tidak ingin membuat keluarganya curiga.


"Sudah, Arya telah menunggumu di dekat tempat kalian akan disatukan sebagai pasangan suami-istri." Tante Anita yang menjawab.


"Kamu sangat cantik, Nak. Sama seperti Kak Risa mama mu saat masih muda," puji kedua adik kakak itu. Mereka ikut merasakan bahagia karena keponakan mereka akhirnya bisa menikah dengan laki-laki yang tepat.


"Mama, biarkan aku dan Sisil yang mengandeng Kakak," ujar Eca mengambil alih pekerjaan mamanya. Yaitu mengangkat gaun pengantin Raya. Agar tidak menghalagi saat gadis cantik itu berjalan menuju ballroom hotel yang telah dirias semewah mungkin.


"Iya-iya! Tapi awas ya, jangan ikut-ikutan mau menikah seperti kakak kalian," jawab Tante Anita pada putrinya.


"Ayo kita keluar sekarang. Takutnya Arya pingsan karena menahan gugup mau melihat calon istrinya yang sudah dua Minggu tidak dia temui." goda Tante Anin dan Tante Anita.


Dengan perasaan jantung berdebar-debar. Raya pun berjalan didampingi oleh kedua adik sepupunya. Sedangkan di depan mereka ada kedua tantenya yang memakai gaun serupa, yang tidak kalah mewahnya. Soalnya itu adalah pakaian seragam keluarga Wijaya. Sengaja dibuat sama dengan anggota keluarga yang lainnya.


"Wah! Ternyata sangat ramai. Para tamu undangan pun juga sudah mulai berdatangan." seru Sisil begitu kaki mereka melangkah pada karpet mewah yang akan mengantarkan ke tempat Arya menunggu saat ini.


"Jangan pingsan-jangan pingsan! Raya ayolah ini hanya sebuah pernikahan. Bukan tempat eksekusi di mana dirimu akan dihukum pancung karena telah melakukan kesalahan."


Gumam si cantik Raya yang tangannya sudah berkeringat dingin, karena tidak tahan merasakan gugup dan sekaligus tidak sabar untuk melihat wajah pemuda yang dia cintai.


"Sisil, Eca. Sudah di sini saja kita mengantar Kakak kalian. Biarkan dia berjalan sendiri menuju calon suaminya." cegah Tante Anita saat tinggal beberapa meter lagi tiba di tempat Arya menunggu.

__ADS_1


"iya, Ma," jawab kedua Gadis itu secara serempak.


"Sayang, pergilah! Jemput kebahagiaan yang sudah menanti dirimu. Kami semua akan menunggu di sini." titah Tante Anita lagi. Agar Raya berjalan ke depan sendirian.


"Iya Tan," Raya langsung melangkah maju seperti mana seorang ratu. Karena dia memang sangat cantik. Apalagi hari ini kedua mempelai pengantin memang akan menjadi raja dan ratu sehari.



"Tidak bertemu dua Minggu. Dia terlihat semakin cantik." Arya bergumam tanpa dia sadari.


"Huem! Ini mau diam saja, atau mau menyambut kedatangan adikku?" Elvino berdehem karena tahu jika Arya terpana pada adiknya.


"Agh! Kakak!" seru Arya tersadar dan merasa malu. Lalu diapun berjalan beberapa langkah kedepan untuk menyambut tangan Raya.


"Raya, kamu semakin cantik saja," bisik Arya setelah mereka sudah bergandeng tangan menuju tempat mereka disatukan sebagai pasangan suami-istri.



"Jangan memujiku, nanti aku benar-benar akan pingsan karena tidak tahan menahan rasa gugup," Raya juga sama berbisik seperti Arya.


Senyum kebahagiaan menghiasi wajah mereka berdua. Menikah karena saling mencintai. Jadi sudah pasti kebahagiaan yang dirasakan mereka berkali-kali lipat.


"Jika sudah tidak sabar ingin aku gendong. Maka pingsan saja, agar kita tidak perlu repot-repot menerima tamu dan akan langsung menghabiskan waktu di dalam kamar pengantin." seloroh Arya yang memang selalu tergoda pada kecantikan Raya maupun tubuh gadis itu.


"Enak saja! Nikah juga belum sudah mau satu kamar." seru Raya yang membuat Arya tersenyum lebar dibuatnya.


"Arya, aku harap kamu tidak menyesali semuanya. Aku benar-benar tidak tega pada Raya. Tidakkah hatimu tersentuh dengan kebaikannya. Andai kamu bukan sahabat baikku. Maka aku akan merebutnya darimu." gumam Afdhal yang melihat Arya tersenyum bersama Raya.


...BERSAMBUNG......


.


.


__ADS_1


__ADS_2