Dia Juga Anakku

Dia Juga Anakku
Tidak Bisa Menyangkalnya.


__ADS_3

💝💝💝💝💝💝


...HAPPY READING......


.


.


Dua Minggu telah berlalu. Maka sudah selama itu juga pernikahan Raya dan Arya. Sejauh ini tidak terjadi apa-apa. Hubungan mereka masih baik-baik saja. Raya degan kesibukan kuliahnya dan Arya pun sama.


Arya yang berniat mau balas dendam belum juga melakukan apa-apa. Padahal gara-gara niatnya ingin menyakiti Raya. Pemuda itu sudah berpacaran dengan Manda dan semakin terjerat pada wanita itu.


Arya selalu menemui Manda secara diam-diam karena takut ketahuan oleh istrinya. Aneh! Tapi itulah kenyataannya.


Padahal jika dia mau balas dendam harus sudah melaksanakan dari kemarin-kemarin dan biarkan saja Raya mengetahui bahwa dia selingkuh.


Setelah pulang kuliah, Arya akan langsung berangkat ke perusahaan. Sedangkan Raya sekarang berangkat mengunakan mobil mewah yang dihadiahkan oleh suaminya.


Walaupun dia sudah ada tiga mobil mewah yang dibelikan kakak dan orang tuanya. Untuk menghargai suaminya. Raya memilih memakai pemberian dari Arya.


"Sayang, malam ini aku akan makan malam diluar bersama klienku. Jadi kamu makan sendirian saja, ya. Atau mau kerumah mama atau mami. Nanti pulangnya biar aku jemput?" tanya Arya yang masih duduk diatas ranjang. Sambil melihat istrinya yang baru keluar dari kamar mandi.


"Iya, tidak apa-apa," jawab Raya singkat. Lalu gadis itu berjalan kearah lemari pakaian dan langsung memilih baju apa yang akan dia pakai hari ini.


"Ray, kamu kenapa?" Arya turun dari atas tempat tidur untuk mendekat sang istri yang terlihat sekali lagi tidak mood. Biasanya Raya adalah orang yang bawel. Namun, sudah dua hari ini dia menjadi pendiam.


"Aku baik-baik saja. Soal ke tempat mama atau tempat mami nanti aku akan memberitahu. Jika aku memang mau main ke sana," Raya baru menjawab pertanyaan Arya setelah dia selesai memakai pakaian.


"Kamu sakit?" Arya menempelkan punggung tangannya pada kening istrinya. Untuk merasakan suhu tubuh sang istri.


"Tidak! Aku baik-baik saja, Ar. Cepatlah mandi. Airnya sudah aku siapkan," Raya tersenyum kecil sambil berjalan kearah meja rias dan duduk di depannya.


Lalu Raya mengambil alat untuk mengeringkan rambutnya dan menghidupkan benda tersebut. Sehingga membuat Arya semakin yakin bahwa istrinya pasti lagi ada masalah.


"Sayang, ada apa huem? Kamu marah karena aku akan makan malam diluar atau ada masalah lain? Ayo katakan jangan seperti ini," Arya berjongkok dihadapan Raya sambil menahan tangan gadis itu agar tidak bergerak.


"Ar, aku mau mengeringkan rambutku. Cepat lepaskan tanganku dan kamu mandi sana," Raya berusaha melepaskan tangannya. Namun, bukannya terlepas, tapi justru semakin dicekal erat.


"Aku tidak akan melepaskan tangan mu. Sebelum kamu katakan ada apa," jawab Arya yang paling tidak tahan bila Raya sudah cuek padanya.


"Huh!" Raya menghembuskan nafas kasarnya. "Aku baik-baik saja. Aku hanya... lagi malas untuk banyak bicara, Ar. Jadi tolong jangan paksa aku untuk bicara banyak," lanjutnya dengan membuang arah pandangan mata mereka.


"Iya, aku tahu itu. Tapi kenapa? Apa masalahnya?" tanya Arya sudah kembali berdiri. Namun, dia bukannya menjauh dari Raya. Justru Arya duduk diatas meja rias dan menahan tangan sang istri agar tidak bisa kemana-mana.


"Raya, aku sangat mengenalimu. Sebelum menikah kita sudah bersama sampai beberapa bulan, kan. Jadi aku tahu jika kamu lagi tidak baik-baik saja," Arya kembali mendesak istirnya untuk berkata jujur.


"Jika kamu sudah mengenal diriku. Maka kamu tahu kan jika aku orangnya tidak suka memaksa, maupun dipaksa. Aku hanya ingin sendiri, Ar. Aku butuh waktu untuk menenangkan hatiku," jawab Raya jujur.


Nampaknya Arya tidak akan melepaskan dia bila belum bicara jujur. Mak dari itu Raya langsung mengungkapkan perasaannya saat ini.


"Iya, tapi kenapa? Aku tidak bisa menebak apa yang sudah terjadi padamu. Jadi tolong beritahu aku, ada apa?" seru pemuda tersebut semakin mendesak ingin tahu.


"Bukannya kamu sendiri yang bilang, jika pasangan suami-istri itu bila sedang memiliki masalah. Harus dibicarakan baik-baik. Lalu kenapa kamu sendiri yang mengingkarinya," sambungan nya lagi.


"Aku memang pernah bicara seperti itu, karena masalahnya berbeda, Ar. Ini masalahnya ada diantara hubungan kita berdua," jawab Raya tersenyum kecil agar terlihat bahwa dia baik-baik saja


"Aku tidak bicara padamu karena ingin menenangkan hatiku lebih dulu. Tapi percayalah bila sudah baik-baik saja. Maka aku akan membicarakannya padamu. Dengan cara baik-baik. Oke! Jadi ayo pergilah mandi, perutku sudah lapar,"


"Masalah diantara kita? Masalah apa? Bukannya kita tidak ada masalah?" Arya tidak menghiraukan perkataan Raya yang menyuruhnya mandi maupun yang sudah lapar.


"Sudah cepat mandi sana. Sekarang kita tidak usah membahasnya. Tunggu aku menyiapkan mental ku dulu. Jika kamu terus memaksa, maka kita akan bertengkar." Jawab Raya yang berhasil melepaskan cengkraman tangan Arya dan kembali melanjutkan mengeringkan rambutnya.


"Oke, baiklah! Aku tidak akan memaksamu. Tapi jika memang aku bersalah, maka katakan letak kesalahanku. Agar aku bisa memperbaikinya," ucap Arya akhirnya memilih untuk pergi kekamar mandi.


Raya ternyata tidak bisa dipaksa. Jadi daripada semakin memperkeruh suasana. Arya memilih untuk mengalah dan menunggu sampai Raya siap menceritakan ada masalah apa diantara mereka.


Sebab menurut Arya, walaupun dia memiliki hubungan bersama Manda. Istrinya belum mengetahui semuanya karena dia bisa mengatur pertemuan dengan wanita lain. Agar Raya tidak curiga padanya. Jadi pemuda itu belum tahu letak kesalahannya ada dimana.


Lagian jika memang masalah perselingkuhan yang sedang dia lakukan. Maka Raya seharusnya langsung marah dan akan cepat-cepat meminta kejelasan. Bukannya diam dan masih bisa tersenyum seperti biasanya. Seperti itulah kira-kira yang Arya pikirkan saat ini.


Sepeninggalan Arya. Si putri bungsu keluarga Wijaya itu tersenyum getir.


Tes!


Tes!


"Jika aku bicara sekarang dan belum membuktikan sendiri. Maka itu semua tidak akan menyelesaikan masalah, Ar. Aku sangat percaya padamu. Makanya aku lagi berusaha untuk menenangkan hatiku dan semoga semuanya memang tidak benar," gumam Raya menyeka air matanya.

__ADS_1


Agar Arya tidak mengetahui bahwa dirinya habis menangis. Sebetulnya Raya sudah mendengar dari anak-anak kampus bahwa suaminya memiliki hubungan bersama Manda.


Namun, besarnya rasa cinta dan kepercayaan pada Arya. Gadis itu masih tidak percaya sebelum dia melihat, mendengar dengan mata kepalanya sendiri. Bahwa Arya dan Manda berpacaran.


Itulah sebabnya Raya lebih memilih diam dan masih belum bertanya pada suaminya secara langsung. Walaupun dihatinya sudah tidak menentu ingin tahu kebenarannya.


"Kuat Ray, kamu tidak boleh lemah. Jika memang Arya mengkhianati dirimu. Maka tidak apa-apa. Dunia mu belum berakhir. Memang sangat sakit. Namun, lebih sakit mana bila dikhianati." Raya kembali bergumam dan dia juga telah selesai merias sedikit wajahnya seperti biasa.


Sebab Raya memang tidak suka bila berdandan menor seperti gadis-gadis lainnya. Termasuk Manda. Gadis yang diduga menjadi selingkuhan suaminya itu selalu tampil seksi dan menggoda.


Tidak salah memang bila Arya sampai terpikat pada wanita itu. Soalnya terkadang kita merasa sesuatu barang berharga. Hanya saat belum bisa memiliki. Bagitu pula dengan pasangan. Terkadang sebelum menikah cinta itu sangatlah besar.


Akan tetapi bila telah berhasil memiliki seutuhnya akan terasa biasa-biasa saja. Maka dari itu pula Raya tidak bisa membohongi hatinya sendiri bahwa Arya tidak mungkin mengkhianati cintanya.


Setelah dia selesai bersiap-siap. Raya berjalan kearah lemari pakaian suaminya dan menyiapkan baju untuk Arya pakai hari ini. Ya, meskipun lagi ada masalah gadis cantik itu tetap mengerjakan tugasnya sebagai seorang istri.


Bahkan dua malam ini mereka masih tetap melakukan hubungan suami-istri. Raya tidak menolak saat Arya menginginkan tubuhnya.


Cup!


Saat gadis itu lagi memilih dasi untuk suaminya. Arya sudah keluar dari kamar mandi dan langsung memeluk tubuhnya dari belakang yang disertai mencium pipi chubby Raya.


"Arya, jangan seperti ini. Nafasku sesak dibuatnya," keluh Raya yang membuat Arya langsung melepaskan pelukannya dan memutar tubuh gadis itu. Agar mereka bisa saling berhadap-hadapan.


"Sayang, aku tidak tahu ada masalah apa yang sedang kamu sembunyikan. Namun, bila itu ada hubungannya dengan ku. Maka kamu tidak usah percaya, karena aku hanya mencintaimu," ucap pemuda itu tidak pernah lupa untuk mengungkapkan perasaannya pada sang istri walaupun satu hari.


"Maka dari itu aku tidak ingin memaksamu untuk bercerita sekarang. Bila kamu memang mau menenangkan hatimu lebih dulu. Tapi bila suasana hatimu sudah tenang dan lebih baik. Tolong ceritakan padaku. Agar aku tahu dimana letak kesalahan ku," ucap pemuda itu lagi dan diiyakan oleh Raya dengan senyuman manisnya.


"Iya, aku pun sama sangat mencintaimu, Ar. Makanya aku ingin menenangkan hatiku lebih dulu. Terima kasih karena kamu sudah mengerti dengan keputusan ku,"


"Huem," Arya langsung menarik Raya agar masuk kedalam pelukannya.


"Aku ingin menyakitimu, Ray. Tapi hatiku belum siap melihatmu hancur. Makanya aku belum menjalankan rencana yang sudah aku susun sejak jauh-jauh hari." gumam Arya yang dilema untuk menyakiti Raya.


Jadinya masih terus berusaha menyembunyikan hubungannya dengan Manda. Melihat istrinya tidak banyak bicara seperti memiliki masalah saja. Arya sudah tidak sanggup. Jadi bagiamana mungkin dia bisa melihat Raya mengamuk padanya.


Cup!


"Maaf, ya," Arya mengecup kening Raya penuh dengan perasaan tidak menentu. Dalam durasi cukup lama. Setelah itu barulah dia melepaskan Raya yang hanya menggunakan kepalanya.


"Inilah salah satu alasanku tidak percaya bahwa kamu akan menduakan cinta kita, Ar. Kamu orang yang sangat baik dan mencintaiku. Tidak mungkin kamu tega melakukan semuanya."


"Duduklah disini, aku mau memakai baju. Setelah itu kita sarapan. Bukannya tadi kamu bilang sudah lapar," Arya menarik pelan tangan istrinya agar duduk di pinggir ranjang.


"Iya," jawab Raya tersenyum mengiyakan.


Sampai hampir sepuluh menit. Tepatnya setelah Arya selesai memakai baju kameja seperti biasa. Barulah Raya berdiri lagi untuk mengambil alih memasangkan dasi pada leher suaminya.


Arya pun langsung memberikan tugas tersebut pada sang istri, karena biasanya memang Raya yang memasang dasi padanya. Namun, bila Arya mau cepat-cepat berangkat ke perusahaan dan hanya mengikuti satu materi pelajaran saja.


Bila tidak, maka Arya akan ke kampus pakai baju seperti anak-anak lainya.


"Sayang," panggil pemuda itu sambil menatap lekat wajah Raya yang hanya ada jarak beberapa senti saja.


"Huem! Apa?" Raya menjawab tanpa menoleh kearah suaminya. Walaupun dia tahu jika Arya lagi memperhatikan wajahnya.


"Kita berangkat serempak saja, ya. Nanti pulangnya baru sama sopir," mendengar ucapan Arya. Barulah gadis itu mengangkat kepalanya dan membuat tatapan mata mereka saling bertemu.


"Huem, baiklah!" Raya mengagguk dan langsung menjauhkan tubuh mereka. "Jika sudah siap ayo kita berangkat sekarang," ajak Raya mengambil tas yang akan dia bawa.


Berhubung sudah siang. Arya hanya mengiyakan dan juga ikut membawa tas nya sendiri. Dua orang pasangan suami-istri yang masih sama-sama kuliah. Tentu saja apabila ada kelas, akan sibuk mengurus pelajarannya masing-masing.


Saat sudah di meja makan Raya juga tidak ada bicara apa-apa. Namun, sebelum mengisi makanan untuknya sendiri. Si cantik Wijaya itupun mengisi piring untuk suaminya lebih dulu.


"Ini, Ar. Makanlah! Tapi rasa masakannya aku tidak tahu seperti apa. Aku tidak mencicipi masakannya," ucap Raya menyerahkan piring yang telah diisi pada suaminya dan diterima baik oleh Arya.


"Sayang, bagiamana bila kita membawa pembantu dirumah mami untuk bekerja di sini?" usul Arya agar sang istri mau bicara.


"Tidak perluh," jawab Raya mulai menyuapi makanannya sendiri.


"Kalau tidak mau dari tempat mami, kita ambil pembantu dari rumah mama, mungkin kamu tidak terlalu dekat bila dari---'


"Tidak perlu, Ar. Percayalah aku bisa melakukan pekerjaan seperti ini. Tapi bila kamu yang tidak suka pada masakan ku, maka bawa saja pembantu ke sini. Aku tidak apa-apa, mau pembantu dari rumah orang tuanku, maupun dari rumah orang tua mu," sela Raya cepat, karena rumah tangganya entah akan seperti apa untuk kedepannya.


Bila benar Arya terbukti selingkuh, Raya tidak mungkin akan tinggal di Apartemen lagi. Jadi kasihan para pembantu itu harus pindah sana-sini.


"Tentu saja aku sangat menyukai masakan mu. Tapi aku tidak ingin kamu repot-repot memasak hanya untuk kita berdua, Ray. Tolong jangan seperti ini. Please! Katakan ada apa? Aku tidak bisa melihat dirimu seperti ini," seru Arya langsung menghentikan makanannya dan menatap Raya yang malah tetap makan dengan tenang.

__ADS_1


"Aku baik-baik saja, tadi kita sudah membahasnya, kan. Jika aku merasa lebih baik. Maka kita akan membicarakannya dengan kepala dingin. Oke! Ayo habiskan makanannya," jawab Raya yang membuat Arya benar-benar mati kutu dibuatnya.


Arya yang sudah kesal tidak bisa berbuat apa-apa untuk memaksa istrinya supaya berbicara jujur. Memilih hanya menunggu Raya menghabisi makanannya. Rasa lapar Arya langsung hilang karena masalah tersebut.


"Huem!" Raya berdehem seraya berdiri dari tempat duduknya. "Tunggu sebentar, aku mau membereskan ini," ucapnya mulai membereskan meja makan.


Setelah mencuci piring dan mengelap kering tangannya. Raya lebih dulu mengajak Arya untuk berangkat. Namun, pagi ini mereka keluar dari Apartemen tidak bergandengan tangan seperti hari-hari biasanya.


Raya berjalan lebih dulu sambil memeluk buku kuliahnya. Sedangkan Arya berjalan dibelakang gadis itu. Saat mereka berada di dalam lift. Ponsel Arya terus berbunyi, tapi tidak diangkat oleh pemuda itu.


"Kenapa tidak diangkat? Mana tahu itu penting," ucap Raya karena setelah melihat nama si penelepon. Arya malah menyimpan ponselnya lagi.


"Tidak penting," jawab Arya singkat.


"Maafkan aku, Ar. Aku tidak ingin kita bertengkar. Jadi biarkanlah tetap seperti ini. Jujur jika memang benar kamu telah berkhianat padaku. Maka biarkanlah aku berpura-pura bodoh untuk saat ini, seakan tidak mengetahui semuanya. Anggap saja sebagai kebersamaan terakhir kita." Raya tersenyum di sudut bibir atasnya yang tidak dapat dilihat oleh Arya.


"Ayo masuk!" begitu sudah mau sampai kearah mobil mewahnya. Arya cepat-cepat berjalan mendahului Raya. Agar bisa membukakan pintu mobil buat istrinya.


"Terima kasih," jawab Raya tersenyum. Arya hanya ikut tersenyum kecil juga. Lalu setelah memastikan istrinya duduk di dalam, Arya menutup pintu mobilnya.


Baru setelah itu dia berjalan memutar dan masuk dari pintu mobil sebelahnya.


"Sabuk pengamannya," ucap Arya mengingatkan Raya agar memakai sabuk pengaman. Kebiasaan Raya memang selalu lupa memakai sabuk pengaman. Padahal untuk keselamatannya sendiri.


"Iya," Raya memasang sabuk pengaman pada tubuhnya. Lalu untuk menghilangkan rasa jenuh. Raya bermain game dari ponselnya. Tidak ada lagi Raya yang selalu banyak bicara menceritakan setiap kegiatannya diluar rumah.


Gadis itu seperti mana orang lagi sakit. Tidak marah, tidak bicara dan masih bisa tersenyum walaupun hanya senyuman kecil. Sehingga membuat Arya benar-benar tersiksa dibuatnya.


"Apakah Raya sudah tahu jika aku pacaran sama Manda, ya? Ini sangat aneh. Tapi dia semakin jadi pendiam sejak tadi malam." gumam Arya menebak-nebak apa yang telah terjadi.


"Tidak mungkin Raya akan tahu." Arya menjawab sendiri pertanyaannya.


"Tapi... bukannya sangat bagus bila dia sudah tahu dan aku bisa mulai membalaskan kematian kakak." sesekali sambil memperhatikan jalanan ibukota. Arya menoleh pada istrinya yang menunduk diam.


Sampai ke kampus pun Raya juga tetap diam. Sedangkan Arya hanya ingin agar Raya bisa tenang dan menceritakan padanya ada masalah apa. Jadi berusaha untuk menahan dirinya.


"Ray,"


"Huem," jawab Raya tidak sadar kalau mereka sudah tiba di perkirakan kampus.


"Ayo turun! Kita sudah sampai. Nanti kita akan pulang bersama. Jadi jika kamu yang duluan pulang. Tunggu aku disini,"


"Kenapa? Apakah kamu tidak jadi keperusahaan?" tanya Raya langsung menyimpan ponselnya.


"Jadi, tapi kamu ikut ke perusahaan, ya. Aku tidak akan bisa bekerja bila meninggalkan mu dalam keadaan seperti ini,"


"Ar, aku baik-baik saja. Jadi---"


"Raya!" sentak Arya tidak bisa menahan emosinya yang diuji terus-terusan. Di disi lain ingin membiarkan saja Raya tahu perselingkuhannya dan Manda.


Namun, disisi lainya Arya lagi memikirkan cara untuk melepas Manda. Sebelum Raya tahu segalanya. Untuk balas dendam akan dia pikirkan cara lain lagi.


"Raya, aku minta maaf! Aku tidak bermaksud untuk membentak mu," Arya yang sadar telah membentak Raya. Cepat-cepat meminta maaf.


"Sayang tolong maafkan aku. Aku benar-benar---"


"Iya, tidak apa-apa! Ayo kita keluar. Aku ada kelas pagi. Jadi kita jalan sendiri-sendiri saja ya, aku mencintaimu." sela Raya malah tersenyum seolah-olah tidak ada masalah saja.


Padahal tadinya Arya mengira bahwa Raya akan langsung menangis. Seperti mana para gadis-gadis pada umumnya.


Braaak!


Sebelum Arya mencegahnya. Raya sudah keluar dari mobil lebih dulu dan setengah berlari meninggalkan parkiran.


"Ray...." ucapan Arya berhenti begitu saja. "Aaahh! Raya kenapa sih?. Apakah dia tahu tentang hubungan ku dan Manda? Kalau begitu aku akan memutusi Manda sebelum dia tahu. Aku tidak bisa bila melihatnya seperti ini," Arya memukul setir mobilnya untuk melupakan emosi yang tertahan.


"Iya, aku tidak bisa seperti ini. Aku tidak sanggup bila Raya marah padaku," ucap pemuda itu sebelum keluar dari mobilnya.


Namun, baru saja dia keluar dari mobil. Afdhal yang sejak tadi duduk didalam mobilnya berjalan mendekati sahabtanya.


...BERSAMBUNG......


.


.


Di sini karakter Arya memang plin plan ya, Antara mau balas dendam atau tidak. Jadi jangan heran dan bila dia belum juga membalaskan dendam pada Raya.

__ADS_1


Sambil menunggu update lagi. Yuk baca karya sahabat Mak Author juga. Terima kasih!



__ADS_2