
💝💝💝💝💝💝
...HAPPY READING......
.
.
"Kak, Kakak kenapa?" tanya Raya melihat kakak tampannya hanya diam saja.
"Tidak ada apa-apa!" jawab El tersenyum kecil. "Sudah, ayo kita keluar! Nanti Eza malah mencari Kakak," ajaknya pada sang adik karena El memanggil Raya hanya ingin mencari tahu tentang adiknya yang sudah memiliki kekasih saja.
Untuk yang lainya, dia mau bertanya pada Arya dan akan mencari tahu latar belakang pemuda itu juga dengan caranya sendiri.
"Baiklah! Nanti jika Arya sudah datang, Raya akan memangil Kakak," ucap Raya yang mengikuti kakaknya keluar dari ruang kerja ayah mereka ketika sehat dan sekarang menjadi ruang kerja Elvino bila dia pulang kerumah utama.
"Sayang, Eza mana" tanya Elvino kebetulan mereka bertemu di depan pintu arah dapur soalnya El baru mau menyusul kebelakang.
"Eza sudah dibawa papa sama mama keruang tengah. Apakah kamu dan adek sudah selesai bicaranya?" ibu muda itu kembali bertanya.
"Sudah, nanti Arya akan datang ke sini dan aku akan bertanya padanya. Apa yang membuat dia memilih Raya untuk menjadi kekasihnya." jawab si tampan Elvino sudah merangkul mesra istrinya menuju dimana putra mereka saat ini.
Sedangkan Raya lagi kembali ke kamarnya sendiri yang ada dilantai atas rumah tersebut. Arya akan datang ke sana, tentu gadis itu akan bersiap-siap buat nyambut kedatangan sang kekasih.
"El, apakah kamu sudah selesai bicara sama adek?" ternyata bukan hanya Adelia yang bertanya. Namun, juga Nyonya Risa ibunya juga menanyakan hal yang serupa.
"Sudah, Ma," El menjawab singkat karena dia sudah tersenyum lebar melihat putranya yang sedang bermain mobil-mobilan.
"Eza mau pergi kemana?" tanyanya sudah berjalan mendekati Eza.
"Eda au peldi tama opa," jawab si kecil menoleh kearah papanya.
"Wah, benarkah?" El adalah seorang ayah idaman yang selalu mengajak putranya bercerita hal apa saja. Termasuk menanyai Eza yang lagi bermain.
Mendengar ucapan anaknya yang cadel membuat Elvino memiliki hiburan untuk membuat Eza mau berbicara. Caranya adalah menanyakan sesuatu saat si buah hati bermain.
"Iya, Papa da boyeh itut. Eda au peldi tama opa," dikiranya papanya bertanya karena mau ikut. Jadi Eza langsung saja melarang agar sang ayah tidak ikut bersamanya.
"Oh, baiklah! Papa tidak akan ikut. Papa akan berada di rumah saja bersama mama mu dan Oma," jawab Elvino tersenyum dan ikut duduk di atas karpet bersama anaknya.
__ADS_1
"Agh! Opa mau memberi ikan makan dulu, Eza mau ikut atau disini saja?" Tuan Arka berdiri dari sofa dan menyimpan kembali ponselnya yang baru saja mendapatkan pesan dari Paman Abraham.
"Eda mau tama opa," belum lagi kakeknya melangkah. Namun, si tampan Eza sudah berdiri karena mau ikut bersama kakeknya.
Sehingga membuat mata El membola karena papanya iseng sekali. Bila El mendekati Eza, maka Tuan Arka akan mencari cara untuk membawa sang cucu meninggalkan anaknya yang baru mendekat.
"Eh, anak bayi mau pergi kemana? Masa papa mau ditinggal lagi." El menahan Eza degan cara menarik baju belakang anaknya.
"Aaaaa.. opa toyong Eda, papa dakal," jerit Eza yang membuat Elvino tertawa.
"Haaa... ha... Papa bukanya nakal. Eza tuh sama opa yang nakal, masa Papa mau ditinggal sendirian." tawa Elvino yang sangat senang menjahili anaknya.
"Opa, oma, Mama, toyongin Eda, Papa El nakal" adu si kecil yang jengkel karena bajunya belum juga dilepas oleh papa tampannya.
"Elvino, kamu kenapa jahil sekali sih! Cepat lepasin cucu Papa," tegur Tuan Arka yang membuat Adelia dan Nyonya Risa tersenyum.
Itulah indahnya kebersamaan mereka. Melihat Elvino akan berdebat bersama papa dan juga anaknya.
"Papa sih yang jahil duluan, El baru saja duduk di karpet. Tapi kenapa Papa malah mau membawa Eza kabur." jawab Elvino sudah melepaskan switer yang dipakai anaknya.
"Coba tanya Eza, dia mau ikut, atau Papa yang mau membawanya kabur," imbuh Tuan Arka tersenyum menyeringai.
"Eza si bayinya Papa, ini Eza sendiri mau ikut opa, atau sebetulnya lagi dibawa kabur?" El bertanya konyol.
"Eda au dili, ya tan, Opa?" si kecil Eza yang pintar kembali melemparkan pertanyaan tersebut pada kakeknya.
"Opa tidak membawa Eza kabur. Tapi benar kata Eza, yang mau ikut sendiri." jawab Tuan Arka mengulurkan tangannya untuk mengandeng tangan sang cucu berjalan kearah Taman belakang.
Sungguh kakek dan cucu yang kompak. Mereka meninggalkan saja Elvino di ruang tengah.
"Mama sama kamu kenapa malah tertawa, Sayang?" El menekuk mukanya karena bila lagi bersama papanya. Maka Eza akan menjadi musuhnya hanya sampai mereka pulang ke rumah sendiri.
Apabila sudah pulang dari rumah utama. Maka si Baby Eza yang sangat aktif dan pintar. Akan berteman kembali dengan papanya.
"Kamu ini, sama papa sendiri kenapa malah berdebat," ujar Nyonya Risa mengelengkan kepalanya.
"Ma, kalian kan lihat sendiri seperti apa El dikhianati oleh Eza. Dia dan Papa suka sekali menindas El agar ditinggal sendirian."
"Haaa... haa.." tawa Raya yang sudah keluar dari kamarnya.
"Itu karena sebetulnya Eza hanya menjadikan Kakak cadangan temannya saja. Bila dia sudah bertemu sama cs nya, maka Kakak akan dicuekin," Raya masih menertawai kakaknya.
__ADS_1
"Senang banget menertawakan Kakak sendiri," Elvino akhirnya kembali berdiri dari karpet dan duduk disamping istrinya.
"Adek kenapa tidak duduk?" tanya Adelia karena melihat adik iparnya hanya berdiri saja.
"Eum... Raya mau menunggu kedatangan Arya, Kak. Sebentar lagi dia datang tidak jadi nanti siang, karena Arya mau membawa Raya ke rumah orang tuanya,"
"Kerumah orang tuanya?": Elvino mengulangi perkataan adiknya.
"Iya, nanti pasti dia akan izin dulu pada Kakak." Raya mengagguk dan membenarkan perkataan sang kakak. "Sudah dulu, Raya mau menyambut kedatangan Arya." kata gadis cantik itu meninggalkan keluarganya.
"Ma, apakah Raya sudah biasa dibawa pergi oleh Arya?" tanya Elvino pada ibunya.
"Jika hanya pergi makan malam dan ke kampus pernah. Namun jika pergi ke rumah orang tuanya belum pernah." jawab Nyonya Risa yang sesekali matanya menatap pada televisi.
"Memangnya kenapa, El? Apakah kamu sudah kenal dengan pacar Adek?" sekarang Adelia yang bertanya.
"Tidak! Hanya nanya saja," jawab El karena seingat dirinya. Para anak buah Wijaya group tidak ada mengatakan bahwa Raya pergi ke rumah seseorang selain teman kuliahnya.
Itupun sangat jarang karena Raya selalu menghabiskan waktunya untuk hal yang bermanfaat saja.
Sementara itu Raya yang baru keluar tersenyum bahagia karena melihat mobil mewah kekasihnya sudah datang.
"Hai," sapa Raya untuk menghampiri Arya yang baru keluar dari mobilnya. Gadis cantik itu tersenyum ramah yang membuat tubuh Arya menegang karena terpana pada kecantikan alami Raya.
"Cantik sekali... tapi sayangnya dia adalah adik dari laki-laki yang aku benci. Jika tidak maka aku akan menjadikan dia satu-satunya penghuni di hatiku." gumam Arya setelah bisa menguasai kegugupan nya.
"Arya, kamu sudah datang? Aku kira tadi kamu mau siang ke sini nya." ucap Raya masih tersenyum manis.
"Iya, soalnya aku ingin kita kerumah orang tuaku pagi saja " jawab pemuda itu setelah memberikan pelukan untuk melepas rasa rindunya.
"Oh, iya tidak apa-apa! Ayo kita masuk!" ajak Raya tersenyum bahagia. Gadis itu tidak tahu apa tujuan Arya mendekatinya. Bila dia mengetahuinya tentu Raya akan sangat terluka.
"Huem," Arya hanya berdehem. Ini adalah hari pertama dia bertemu sosok Elvino. Pemuda yang sudah membuat kakaknya mati bunuh diri. Namun, jika foto Elvino tentu dia sudah tahu seperti apa orangnya.
"Silakan duduk, aku mau memanggil kakakku sebentar," pamit Raya berjalan masuk kedalam ke ruang tengah dan sekaligus meminta agar asisten rumah tangga membuatkan minuman untuk Arya.
"Kak, Arya sudah datang dan ayo temui dia." ajak si cantik Raya pada kakaknya.
__ADS_1
...BERSAMBUNG......