
ππππππ
...HAPPY READING......
.
.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih tiga puluh menit. Mobil mewah Elvino sudah tiba di perusahaan agensi terkenal yang ada di kota mereka.
Dia hanya berangkat sendiri, tidak jadi ditemani oleh Aldo. Soalnya pemuda itu ada pekerjaan mendadak yang harus dikerjakan sendiri dan tidak bisa diwakilkan.
"Agh... semoga semuanya lancar sesuai rencana dan tidak ada hambatan." do'a pemuda itu setelah mematikan mesin mobilnya.
Namun, sebelum benar-benar turun dari mobil. Si tampan Elvino mengeluarkan ponselnya untuk mengirimkan pesan pada sang istri bahwa dia sudah sampai.
π Elvino : "Sayang, saat ini aku sudah tiba di perusahaan Agensi. Sekarang aku akan masuk untuk bertemu dengan direkturnya langsung. Ingat, kamu tidak boleh naik ke lantai atas ataupun kelelahan karena aku tidak ingin kalian kenapa-napa. Aku mencintaimu, istriku." satu buah pesan yang dituliskan oleh suami idaman kepada ibu hamilnya di rumah yang saat ini sedang tidur siang.
Sehingga Elvino tidak menunggu balasan pesan dari sang istri dan dia langsung keluar dari mobilnya.
Begitu melihat kedatangan Elvino. Para karyawan yang kebetulan baru selesai makan siang dan akan kembali bekerja lagi seperti sebelumnya. Menatap pemuda tampan itu dengan penuh kekaguman.
"Hei, apakah kau tahu itu artis dari mana? Kenapa aku tidak mengenalnya, ya?" seru wanita yang melihat sang direktur perusahaan Wijaya group berjalan masuk kedalam perusahaan Agensi.
"itu kan Tuan Muda Elvino, putra sulung Tuan Arka wijaya yang katanya saat ini lagi berada di rumah sakit, karena mengalami kecelakaan beberapa hari lalu." jawab teman wanita tersebut.
"Oh, jadi itu pewaris Wijaya Group. Pantas saja sangat tampan, melebihi daripada artis papan atas." bisik-bisik para wanita yang telah menikah dan para gadis-gadis cantik yang bekerja di perusahaan itu.
"Iya, dia memang sangat tampan dan aku dengar-dengar sih dari berita beberapa hari lalu. Tuan Muda Elvino seorang playboy yang suka bergonta-ganti pasangan. Akan tetapi berita tersebut belum tentu benar juga karena mungkin saja itu hanya fitnah dari para musuh perusahaan Wijaya Group." berbagai macam ucapan pun terdengar begitu mereka melihat kedatangan si tampan Elvino.
Padahal pemuda itu hanya berjalan biasa saja dan tidak ada menebar pesona apapun, karena jangankan untuk sekarang, Elvino sudah memiliki tambatan hatinya sendiri. Dulu saja dia juga tidak pernah mencari perhatian pada gadis manapun.
"Wah, jika berita itu memang benar, jujur aku mau menjadi kekasihnya walaupun satu hari saja." seru gadis lainya dengan harapan agar Elvino mau menjadikan dia sebagai seorang kekasih, walaupun hanya beberapa saat saja.
"Selamat siang, Saya mau bertemu dengan Pak Ari. Apakah beliau ada?" ucap Elvino pada resepsionis yang berjaga menerima kedatangan tamu perusahaan tersebut.
"A--ada, ada! Biar Saya kasih tahu pada beliau langsung Jika Anda ingin bertemu dengannya." wanita itu terbata-bata karena merasa gugup, ditanyai oleh pemuda tampan seperti Elvino.
Padahal sebelumnya mereka sudah biasa menerima kedatangan para model terkenal dan juga artis yang bernaung di agensi tersebut.
"Iya, baiklah! tolong katakan pada beliau bahwa Saya, Elvino Atmaja Wijaya, ingin bertemu dengannya." kata Elvino seraya memasukkan satu tangannya ke dalam kantong celana. Ciri khas pemuda tampan bersertifikat.
"Oh, iya, iya! Sekarang Anda silakan duduk saja karena Saya akan menelpon sebentar," kata wanita tersebut yang langsung saja menghubungi ke dalam kantor bosnya.
Tidak membutuhkan waktu lama, hanya dalam hitungan menit dia sudah mematikan telepon itu lagi dan kembali berbicara pada Elvino.
"Eum... Tuan muda, Pak Ari sudah menunggu Anda dalam ruangannya. Mari Saya antar sekarang." kata wanita itu yang langsung keluar dari tempat dia bekerja sehari-hari untuk mengantar Elvino ke ruangan direktur perusahaan itu.
"Ya, baiklah!" El menjawab singkat dan dia pun mulai mengikuti wanita resepsionis tersebut. Lalu mereka masuk lift untuk mengantar mereka ke lantai gedung tersebut. Yaitu di mana tempat Tuan Ari berada saat ini.
Ting!
Suara pintu lift terbuka lebar sehingga El dan wanita itu pun keluar dari sana. Lalu mereka berjalan lagi entah beberapa puluh meter dari lift khusus bagi petinggi perusahaan.
"Selamat siang, Kak. ini Saya mau mengantarkan tamu Tuan Ari," ucap wanita yang mengantar Elvino pada sekertaris wanita yang sedang bekerja di meja kerjanya.
"O--oh! I--iya! Mari Tuan silakan masuk karena Tuan Ari ada dalam ruangan kerjanya." tidak banyak bicara dan bertanya sekretaris tersebut pun langsung membuka lebar pintu ruangan presdir. Dengan jantung berdebar-debar karena melihat ketampanan tamu perusahaan mereka.
"Selamat siang Tuan Muda Elvino, mari silakan duduk, Ini merupakan hari keberuntungan perusahaan Saya karena sudah kedatangan presdir dari perusahaan Wijaya Group." sambut laki-laki bernama Ari yang langsung menyalimi tangan Elvino dan mengajak pemuda itu duduk di kursi tamu yang ada di dalamnya.
__ADS_1
"Huem," laki-laki yang bernama Ari berdehem sebelum bertanya maksud kedatangan Elvino ke perusahaannya.
"Bantuan apa yang bisa Saya lakukan, Tuan Muda?" tanya beliau yang tidak mungkin seorang presdir Wijaya Group datang ke tempatnya apabila tidak ada keperluan penting.
"Saya mau menggunakan jasa model Anda, yaitu Alisa dan Riko untuk mempromosikan produk terbaru kami. Akan tetapi ini bukan sistem kontrak melainkan bayaran langsung." jawab Elvino yang tidak bertele-tele juga.
"Kalau boleh tahu, kapan Anda membutuhkan mereka? Soalnya kebetulan sekali minggu ini jadwal mereka sedang kosong." tanya lelaki itu lagi.
"Wah, kebetulan sekali kalau bisa besok pagi sudah dilakukan pemotretan soalnya hari Senin ini produknya akan diluncurkan sebanyak seribu lima ratus produk. Sebagai untuk uji coba terlebih dahulu. Apabila laku di pasaran maka kami akan meluncurkan produk berikutnya."
"Lalu setelah laku di pasaran. Apakah akan dilakukan kerjasama kontrak dengan model kami atau tetap bayar dimuka, Tuan Muda?"
"Tentu saja kontrak kerjasamanya, agar langsung dibuat. Mudah-mudahan saja produknya laku di pasaran, sehingga kerjasama kita pun akan lancar." Elvino menjawab cepat.
"Kalau begitu nanti Saya yang akan mengatakan pada mereka berdua dan Anda tinggal tahu bersihnya saja," karena mengetahui perusahaan Wijaya group adalah perusahaan besar. Maka laki-laki bernama Ari itu pun langsung menerima tawaran kerjasama tersebut.
Bahkan dia sendiri yang akan berbicara pada model mereka. Jadi Elvino tidak perlu harus turun tangan.
"Baiklah! kalau begitu terima kasih karena Anda sudah mau berbicara langsung pada mereka berdua." Elvino tersenyum kecil karena merasa jika usahanya untuk memperbaiki kondisi di perusahaan Wijaya group akan berhasil.
"Iya, sama-sama Tuan Muda, semoga kerjasama ini akan lancar sampai akhir. Oh ya, Saya sampai lupa. Anda ingin minum apa, biar dibuatkan oleh sekretaris kami." tanya lelaki itu yang baru ingat. Jika tamunya tidak disuguhkan air minum.
"Terima kasih, Pak. Anda tidak perlu repot-repot, karena Saya akan langsung pulang sekarang." Elvino berdiri dari tempat duduknya.
Padahal belum ada lima menit dia membicarakan antar kerjasama mereka. Namun, karena semuanya berjalan sangat lancar. Jadinya Elvino tidak perlu menghabiskan banyak waktu.
"Kenapa buru-buru sekali Tuan Muda? Alangkah baiknya kita minum kopi bersama dulu, karena apabila tidak ada pekerjaan seperti ini. Mana mungkin Anda mau datang ke perusahaan kami." cegah beliau karena merasa bersalah tidak sejak tadi menyiapkan kopi ataupun yang lainnya.
"lain kali saja Tuan Ari, bukan Saya tidak mau minum bersama Anda. Akan tetapi karena pekerjaannya selesai lebih awal. Jadi Saya ingin cepat-cepat pulang ke rumah untuk melihat keadaan istri Saya yang sedang hamil besar." ungkap pemuda itu tersenyum bangga.
Apapun itu bila sudah bersangkutan dengan Adelia istrinya, maka Elvino selalu bersemangat. Terlihat jelas gurat kebahagiaan di wajahnya, apabila mengingat wajah sang istri.
"Maaf Tuan, Apakah rumor tersebut benar jika Anda sudah menikah? Lalu kenapa pernikahan anda tidak diumumkan? Padahal anda adalah putra seorang pengusaha terkenal dan nomor satu di kota kita. Pasti begitu banyak rekan bisnis yang ingin menyaksikan pernikahan seorang calon pewaris." ujar Pak Ari ikut berdiri karena akan mengantar Elvino sampai ke lobby perusahaan.
"Iya, berita yang beredar itu memanglah benar. Saya sudah menikah dan saat ini istri Saya tengah hamil tujuh bulan. Untuk resepsi pernikahannya, memang sengaja disembunyikan karena saya ingin mengadakan pesta mewah. Setelah anak kami lahir. Agar bisa menjadi momen yang sangat indah untuk keluarga kami." jawab pemuda itu karena dia memang berniat ingin membuat pesta mewah setelah anaknya lahir.
"Wah, kalau begitu selamat Tuan Muda! Semoga saat melahirkan nanti, anak dan istri Anda diberikan kesehatan dan kelancaran." sambil berjalan keluar dari kantor tersebut sampai ke dalam lift dan terakhir lobby perusahaan. Elvino dan Tuan Ari saling mengobrol. Ternyata beliau adalah orang yang sangat ramah dan asik untuk diajak bicara. Jadinya Elvino selalu menjawab apabila pria tersebut bertanya sesuatu padanya.
"Sekali lagi Saya ucapkan terima kasih banyak Tuan Ari. Atas kerjasamanya dan juga do'a untuk keluarga kecil kami. Oya, ini kartu perusahaan kami dan yang ada dibawahnya nomor pribadi Saya. Jika ada sesuatu yang perlu ini bicarakan lagi. Maka hubungi saja langsung, karena besok kami akan mempersiapkan semuanya keperluan, sebelum model kalian datang."
Kata Elvino yang sudah mau masuk ke dalam mobilnya. Jika bukan seorang pemimpin dari perusahaan Wijaya group. Maka mana mungkin Tuan Ari mengantar sampai ke tepi mobil seperti yang dilakukannya saat ini.
"Iya sama-sama Terima kasih Tuan Muda karena sudah percaya perusahaan kami untuk mempromosikan produk kalian." lelaki itupun menjabat tangan Elvino.
"Baiklah! Apabila ada yang perlu dibicarakan lagi. Maka Saya akan segera menghubungi perusahaan atau nomor pribadi Anda." lanjutnya sebelum alvino benar-benar masuk ke dalam mobil dan meninggalkan perusahaan agensi tersebut.
Tiin!
Tiin!
El membunyikan klakson mobil sebelum meninggalkan Pak Ari yang masih berdiri ditempatnya.
"Agh! Akhirnya, aku bisa sedikit bersantai, setelah hampir satu minggu sibuk mengurus para pemegang saham yang tidak memiliki pendirian." ucap Elvino menghembuskan nafas leganya.
Lalu pemuda tampan itu pun mengeluarkan ponsel untuk melakukan panggilan Via telepon.
Ttttddd!
Ttttttddd!
__ADS_1
π± Aldo : "Iya, Tuan Muda?" sambut pemuda itu yang saat ini sedang berada di perusahaan Wijaya Group.
π± Elvino : "Al, tolong nanti kamu ke ruangan Saya dan ambil ada dua dokumen yang diberikan Pak Romi tadi pagi, yang berada di atas meja. Lalu kamu ambil dan nanti sore saat pulang. Tolong antarkan ke rumah karena Saya tidak akan kembali ke perusahaan lagi." jawab Elvino yang memutuskan akan kembali ke rumah untuk menemani istrinya yang hanya sendirian.
π± Aldo : "Baik Tuan Muda, tapi apakah anda tidak jadi datang ke perusahaan agensi?"
π± Elvino : "Tentu saja jadi, tapi sekarang sudah selesai dan Saya sudah berada di dalam perjalanan mau pulang kerumah. Ternyata Pak Ari tidaklah sesulit yang kita dengar dari orang-orang, karena begitu Saya datang tadi. Beliau langsung bertanya lebih dulu maksud kedatangan Saya ke sana."
π± Aldo : "Wah bagus sekali! Sepertinya ini adalah keberuntungan Anda Tuan Muda, karena dari yang Saya dengar. Biasanya beliau adalah orang yang sangat sulit untuk diajak kerjasama." Aldo ikut tersenyum bahagia mendengarnya.
π± Elvino : "Sepertinya tidak begitu sulit, malah menurut Saya dia adalah orang yang sangat mengasyikkan. Jika memang ini adalah keberuntungan Saya, berarti yang membawa keberuntungan ini adalah istri dan calon anak Saya."
π± Aldo : "Haa... ha... Anda benar sekali Tuan Muda. pasti keberuntungan perusahaan Wijaya group saat ini adalah karena kehadiran Nona Adel dan calon anak kalian." tawa pemuda itu karena tahu seperti apa bucinnya sang bos.
π± Elvino : "Iya, kamu benar sekali. Soalnya aku sendiri juga berpikiran seperti itu." Elvino pun juga ikut tersenyum bahagia. Sekarang dia tinggal mengawasi produk yang akan mereka meluncurkan. Keadaan Tuan Arka ayahnya, juga semakin membaik. Kasus Pak Pram sudah semakin di dalami, jadi Elvino benar-benar merasa lega dengan hasil kerja kerasnya.
π± Aldo : "Selamat Tuan Muda, Saya ikut bahagia karena berkat kerja keras Anda. Perusahaan kita akan segera pulih kembali." ucap Aldo berhenti sejenak. Sebelum melanjutkan kembali ucapannya.
π±Aldo : "Jika semuanya sudah berjalan lancar. Jadi kapan model mereka bisa melakukan pemotretan untuk promo produk kita?" tanyanya lagi.
Aldo dan Elvino memang memiliki hubungan yang sangat dekat, karena mereka berdua sering melakukan kerjasama. Soalnya mereka berdua sama-sama berada di staf pemasaran.
π± Elvino : "Besok pagi mereka akan datang ke perusahaan. Jadi kita tinggal menyiapkan segala yang dibutuhkan saja. Begitu pemotretan dan majalah semuanya selesai. Kita mulai mengeluarkan promonya, sedangkan untuk produk, hari Senin baru kita sudah luncurkan."
π± Aldo : "Baiklah tuan muda kalau begitu selamat menuju sukses. saya sudah yakin sejak awal bahwa Anda pasti bisa mengatasi masalah di perusahaan kita."
π± Elvino : "Huem! Terima kasih karena kamu sudah percaya dan banyak membantu Saya selama ini. Sudah dulu ya, ini saya baru sampai di rumah nanti sore jangan lupa untuk antarkan dokumen yang Saya minta tadi." Setelah itu Elvino pun langsung memutuskan sambungan telepon mereka dan keluar dari mobil yang langsung dia parkirkan di bagasi rumah tersebut.
"Selamat datang Tuan Muda, Anda sudah pulang," sambut asisten rumah tangga saat membuka pintu utama.
"Iya, dimana Nona muda?" hal pertama yang ditanyakan adalah sang istri.
"Nona masih berada di dalam kamar, mungkin sedang tidur siang. Soalnya setelah meminta potongan buah sekitar dua jam lalu. Nona belum ada keluar lagi."
"Oh, baiklah! kalau begitu Saya akan langsung ke kamar saja," dengan langkah pelan Elvino membuka pintu kamarnya, karena takut apabila si ibu hamil benar-benar lagi tidur siang.
Kleeek!
Suara pintu yang dia tutup kembali. "Ternyata benar dia lagi tidur. Lama sekali, apakah ibu Hamilku kelelahan gara-gara tadi malam." gumamnya dengan suara kecil lalu El pun duduk di sisi ranjang, tepatnya di samping Adelia yang masih tertidur pulas.
Cup!
Satu kecupan pun langsung berlabuh di pipi istrinya. "Sehat-sehat ya, aku sangat mencintaimu dan anak kita," lanjutnya lagi mengelus pipi si ibu hamil.
Sehingga hal itupun membuat Adelia merasa terusik dan membuka matanya pelan.
"El, sayang! Ini betulkah dirimu? Atau aku yang lagi bermimpi?" tanya Adel degan suara serak khas orang baru bangun tidur.
"Tentu saja aku Elvino suamimu dan ini bukan mimpi. Pekerjaannya ternyata selesai lebih awal, jadi aku memilih untuk pulang saja. Biar sisa pekerjaanku nanti diantar oleh Aldo," jawab Elvino tersenyum sambil membantu istrinya duduk bersandar pada kepala ranjang.
"Syukurlah! Aku kira hari ini kamu akan pulang malam lagi,"
"Tidak! Pekerjaannya tidak terlalu banyak, hanya ada tinggal beberapa lagi. Tapi itu bisa dikerjakan nanti malam saja."
"Oh, iya! Kalau begitu ganti bajumu kita tidur saja. Bukannya akhir-akhir ini kamu sibuk dan tidak pernah istirahat di siang hari." dengan manjanya Adelia pun langsung masuk kedalam pelukan suaminya.
Cup!
"Ada huem? Apakah kamu mau sesuatu? Atau mau pergi ke rumah sakit untuk menjenguk papa?" tebak si tampan yang sudah sangat hapal akan istrinya bila ingin sesuatu.
__ADS_1
"Aku hanya ingin kamu menemaniku tidur siang. Aku.... ingin tidur diatas lenganmu," jawab Adelia yang kembali membuat El tersenyum, karena dugaannya tidak pernah salah.
... BERSAMBUNG... ...