
💝💝💝💝💝💝
...HAPPY READING......
.
.
Setelah satu jam berdiskusi antar dua keluarga. Mereka sama-sama sepakat dengan permintaan Arya yang akan menikah dua Minggu lagi. Pemuda itu tidak mau bertunangan terlalu lama karena dia takut bila Raya akan diambil oleh orang lain.
Walaupun hal tersebut sangat tidak mungkin, karena selain berangkat kuliah. Gadis itu sangat jarang pergi kelayapan seperti gadis lainnya.
Meskipun terlahir dari keluarga kaya memiliki segalanya. Tidak membuat Raya menjadi sombong dari ucapan ataupun dari segi penampilan. Dia selalu tampil apa adanya. Layaknya seperti para gadis ABG yang belum mengenal cinta.
Sukanya memakai baju kaos biasa, apabila dirumah, maupun pergi kuliah. Walaupun sudah dikomentari oleh ibu dan Elvino kakaknya. Si cantik Raya tetap saja tampil seadanya, karena menurut Raya. Bila laki-laki itu mencintainya j dengan tulus, tidak harus melihat penampilan yang modis dan elegan.
Raya seperti itu tentu ada alasannya. Yaitu dia tidak suka bila mata pemuda di kampus menatapnya seperti singa kelaparan. Jadi untuk menghindari hal yang tidak diinginkan. Raya tampil seadanya, karena meskipun tidak memakai baju ketat atau istrilah kekurangan bahan. Tetap saja akan terlihat cantik dengan dandanan wajah natural.
"Jadi kalian berdua sama-sama sudah siap melangsungkan pernikahan Minggu ke dua dari sekarang?" Paman Abraham kembali memastikan untuk kedua kalinya.
"Iya, kami setuju dan sudah siap," Arya dan Raya menjawab serempak dengan saling pandang.
"Aku sangat mencintaimu, Ar. Aku harap kita akan menjadi keluarga bahagia seperti kakak ku." gumam Raya yang tidak bisa menyembunyikan senyum bahagianya.
"Semakin cepat kami menikah, maka semakin cepat pula dendam ini terbalaskan. Elvino enak saja hidup bahagia bersama keluarganya. Sedangkan kakak ku telah berada di dalam tanah." Arya juga bergumam.
Namun, apa yang mereka niatkan tidak sama. Raya ingin memiliki keluarga bahagia. Bersama calon suami yang dia anggap bisa membahagiakan dan bisa melindungi. Seperti mana sang kakak menjaganya selama ini.
Sedangkan Arya ingin membuat Raya juga bunuh diri seperti kakaknya. Apabila suatu saat nanti Raya mengetahui hal tersebut. Sudah pasti, meskipun dia sudah tiada di dunia sekalipun. Hatinya merasakan terluka karena sudah salah menilai Arya.
Pasti Raya memilih tidak akan pernah menikah daripada harus merasakan sakit hati setelah dikhianati olah pemuda yang sangat dia cintai.
"Baiklah! Dua Minggu lagi pesta pernikahan kalian berdua akan diadakan di hotel Wijaya yang ada di jalan XX. Jadi kurangi waktu bertemu kalian, karena ini adalah aturan bagi para calon pengantin." sambung Tuan Yuda karena tahu jika Arya putranya selalu berkunjung kerumah Tuan Arka untuk menemui Raya.
"Iya, soal itu Papi tidak perlu khawatir. Arya akan menahan diri sampai kami bisa tinggal bersama dalam ikatan pernikahan." jawab Arya yang membuat mereka semua tertawa karena pernah muda dan merasakan hal yang sama.
Satu hari tidak bertemu rasanya pasti sudah terasa lama. Makanya El tidak ada menentang disaat Arya ingin menikahi adiknya dalam waktu dekat.
Sebab Elvino tahu rasanya ingin bersama wanita yang dicintai. Jadi si playboy cap kampak tidak ingin menjadi egois sebagai kakak. Karena dia berpikiran bahwa Arya benar-benar tulus mencintai Raya. Seperti mana Elvino mencintai Adelia istrinya.
"Ya sudah, karena acaranya telah selesai. Sekarang adalah waktunya menikmati hidangannya." ucap Nyonya Risa pada keluarga sang besan, karena mereka telah menyiapkan hidangan sebagai jamuan.
Memang tidak ada acara makan malam, karena acaranya dimulai setelah makan malam. Jadi hanya makanan ringan saja.
"Ray, ayo kita duduk di depan," ajak Arya menarik tangan Raya karena dia tidak mau ikut menikmati makanan yang sudah disediakan.
"Baiklah! Tunggu sebentar, kamu duluan saja." jawab Raya karena dia mau berpamitan pada mamanya.
"Ada apa? Pergilah jika mau bicara berdua." sahut Tante Anita yang mengerti karena Arya berdiri sambil menggenggam tangan keponakannya yang cantik.
__ADS_1
"Tapi, Tan---"
"Tidak apa-apa, dulu Tante dan Om Sam, juga seperti kalian berdua." sela wanita itu sebelum Raya selesai bicara. "Kami semua tahu apa yang kalian rasakan saat ini. Jadi pergilah jika mau berbicara. Soalnya setelah malam ini kalian tidak boleh bertemu sampai hari pernikahan tiba." timpal Nyonya Risa yang sudah mendengar dari tadi.
"Ray, ayo! Ada yang ingin aku katakan padamu." Arya kembali mengajak calon istrinya.
"Iya," Raya pun akhirnya setuju mengikuti Arya ke ruang tamu dan duduk disana, karena keluarga mereka ada diruang tengah.
"Ada apa, Ar?" tanya Raya duduk disebelah Arya yang masih mengenggam tangannya.
"Setelah kita menikah aku ingin kamu tinggal di rumahku," ucap Arya sudah melepas tangan Raya.
"Bukannya kita sudah membicarakan hal ini? Apa kamu lupa?"
"Tidak! Eum... maksudku begini. Kita akan tinggal di Apartemen ku, bukan dirumah mami." sebelumnya mereka memang sudah membahas akan tinggal dimana. Namun, Arya tidak bilang jika akan tinggal di Apartemen, bukan bersama orang tuanya.
"Ada apa? Bukannya dirumah orang tuamu tidak ada siapa-siapa?" tanya Raya menyergit binggung.
"Sayang, dari rumah orang tuaku ke perusahaan sangat jauh. Bila kita tinggal di sana, maka bisa-bisa jam sepuluh malam aku baru tiba di rumah. Soalnya kamu tahu sendiri jika pagi aku harus kuliah dan seperti apa aku sibuk bekerja setelahnya." untuk menyakinkan Raya. Pemuda itu mengenggam kembali tangan Raya.
"Bagiamana? Apakah kamu keberatan tinggal di Apartemen karena tempatnya kecil. Sedangkan dirimu sudah biasa tinggal di rumah yang mewah."
Mendengar ucapan Arya. membuat Raya langsung menarik tangannya yang masih digenggam dengan kasar.
"Arya, apa yang kamu katakan? Apakah waktu setengah tahun lebih kita bersama. Kamu belum juga mengenalku. Aku tidak pernah memikirkan akan tinggal di rumah mewah ataupun sebagainya, karena meskipun kita tinggal di istana sekalipun. Bila tidak adanya cinta, itu tidak ada gunanya sama sekali." seru Raya entah mengapa mendengar perkataan Arya malam ini tiba-tiba hatinya tidak suka.
Sebab sedikit saja hatinya tidak pernah terlintas akan harta. Lalu bagaimana mungkin Arya memiliki pemikiran seperti itu.
"Bagiku tinggal dimanapun tidak masalah, Ar. Hanya saja aku bertanya karena kedua orang tuamu tinggal hanya berdua dan papi mu juga lagi sakit. Apakah tidak lebih baik bila anaknya tinggal serumah dengan mereka." sela Raya yang selalu belajar dari kedua kakaknya.
Setiap akhir pekan Elvino sengaja meluangkan waktu untuk bisa menemani orang tuanya dan setelah mendengar sang adik akan dibawa oleh suaminya. Elvino rela meninggalkan rumahnya sendiri karena tidak mau membuat orang tua mereka hanya tinggal berdua saja.
"Ray, sayang! Tolong maafkan aku! Aku tidak bermaksud berkata seperti itu. Hanya saja aku binggung untuk menyampaikan padamu. Jujur aku takut kamu tidak mau tinggal di Apartemen." kali ini Arya bukan mengenggam tangan Raya lagi. Tapi dia memegang kedua pundak tunangannya.
"Aku minta maaf, ya. Bila perkataan ku membuatmu terluka." Arya yang tahu jika Raya marah padanya kembali lagi meminta maaf.
Beberapa bulan bersama dalam ikatan sebagai pasangan kekasih. Tentu Arya mengetahui seperti apa sipat gadis Wijaya itu.
"Bodoh kamu Arya, kenapa belum apa-apa sudah melakukan kesalahan seperti ini." gumam pemuda tersebut merutuki kesalahannya saat bicara.
"Sayang, tolong maafkan aku, aku benar-benar tidak sengaja berkata seperti itu." kata Arya yang tidak bisa tenang sebelum Raya memaafkannya.
"Iya, aku tidak marah padamu, hanya saja aku tiba-tiba berpikiran apakah setelah menikah kita akan memiliki kisah rumah tangga yang sulit?" jawab Raya entah mengapa bisa bicara seperti itu.
"Tentu saja tidak! Kau percayakan bahwa aku tidak akan mungkin menyakiti gadis yang aku cintai."
"Semoga saja, Ar. Jujur aku memang sangat mencintaimu. Namun, aku tidak ingin menahan mu pergi, bila sudah ada gadis lain di hatimu." si cantik Raya sedikit menyugikkan senyum kecil.
"Ray, kamu boleh marah padaku karena aku sudah salah bicara. Tapi tolong jangan pernah berpikiran yang aneh-aneh." imbuh Arya merasa jika perkataan calon istrinya mengandung arti mendalam.
__ADS_1
Namun, Arya tidak bisa menebaknya. Soalnya tidak biasanya Raya berbicara seperti itu.
"Aku belajar dari kakak ipar ku, Ar. Sebagai seorang wanita harus kuat bila pasangan yang kita anggap sebagai sandaran tidak bisa dijadikan sebagai tempat berpegang." saat berkata seperti itu dapat Arya dengar jika Raya menarik nafas panjang lalu dihembuskan lewat mulutnya.
"Aku ingin kuat seperti Kak Adel, Ar. Dulu mereka menikah karena terpaksa. Akan tetapi cinta hadir diantara keduanya."
"Maksudmu? Bukannya kita sudah saling mencintai?" tanya Arya semakin tidak mengerti perkataan Raya.
"Tidak bermaksud apa-apa. Aku hanya lagi merasa bahagia, sudahlah! Lupakan saja." Raya sudah kembali tersenyum ceria dan melupakan masalah yang mereka bahas beberapa detik lalu.
"Oya, berarti setelah malam ini, selama dua Minggu kita tidak boleh bertemu, ya?" tanya Raya yang baru ingat perkataan tante nya tadi.
"Kenapa lama sekali, bagaimana bila aku merindukanmu." keluh Arya seperti dia mencintai Raya saja.
"Agh! Hanya dua Minggu, setelah itu kita akan tinggal bersama untuk selamanya." ujar si bungsu Wijaya tersenyum.
Sedangkan Arya hanya tersenyum penuh kepura-puraan. Itulah alasan kenapa Arya ingin segera menikahi Raya. Agar dia tidak perlu berpura-pura lagi.
Hidup penuh kebohongan seperti yang Arya jalani saat ini. Tentu menyiksa dirinya juga. Apalagi Arya harus menghadapi sipat lemah lembut kekasihnya.
Setelah itu mereka terus mengobrol seperti biasa. Raya yang tadinya sempat kecewa mendengar perkataan calon suaminya. Sekarang sudah bersikap seperti biasa lagi karena dia bukanlah orang yang pendendam ataupun yang suka berlarut-larut apabila ada masalah.
"Arya, apakah kamu tidak mau pulang lagi? Ini sudah malam," kedatangan Afdhal membuat Arya dan Adelia menoleh secara bersamaan.
"Apakah sudah mau pulang?" tanya Arya berdiri dari tempat duduknya. Begitu pula dengan Raya.
"Iya, kami semua sudah mau pulang. Itu om juga sudah berpamitan." jawab pemuda itu sudah membawa kunci mobil Arya ditangannya.
"Baiklah! Aku juga akan berpamitan sekarang. Kamu tunggu saja di mobil." sahut Arya sambil kembali berjalan ke tempat mereka bertukar cincin. Untuk berpamitan pada keluarga calon istrinya.
"Nah ini anaknya," seru Nyonya Fanya melihat Arya sudah datang karena mereka sudah bersiap mau pulang.
"Maaf, Arya kira kalian masih lama," jawab Arya tersenyum. Lalu pemuda itupun berpamitan pada calon mertuanya dan pada Elvino dengan sangat sopan.
"Kak, kami pulang dulu. Terima kasih karena sudah memberiku kesempatan untuk menjadi pendamping hidup Raya," ucap Arya yang sejak satu bulan lalu, tidak bicara formal lagi. Begitu juga dengan Elvino.
Kedua pria itu bicara seperti pada keluarga sendiri, karena hanya dalam hitungan hari lagi. Mereka memang akan menjadi saudara ipar.
"Sama-sama, aku percayakan Raya padamu. Jaga dia degan baik, karena bila kamu berani menyakitinya. Maka kamu akan berurusan dengan ku." Jawab Elvino terdengar seperti bergurau. Tapi dia lagi mengancam calon adik iparnya.
"Haa... ha... Kakak tenang saja. Aku tidak mungkin melakukannya." tawa Arya setelah mengurai pelukan mereka.
"Hai tampan, Om Arya pulang dulu, ya," sekarang bergantian Arya berpamitan pada Eza yang ikut berdiri disamping papanya. Si kecil juga ingin menyalami para tamu opa nya. Jagi El pun membiarkan saja selagi tidak menangis.
"Iya, hati-hati dengan tebut-tebut. Tanti tebakan" jawab Eza yang sekarang tidak terlalu cadel diiringi usianya yang semakin besar.
"Ugh! Anak pintar," sebelum menyusul keluarganya pulang. Arya akan seperti biasa berpamitan pada Eza karena sangat menyukai ucapan bocah kecil itu.
"Nanti setelah menikah. Kalian juga bisa memiliki bayi sendiri. Agar saat berkumpul semakin ramai oleh tangisan anak Kak El dan anak mu," ucap Arya anaknya Tante Anita, yang pindah tempat duduk mendekati Paman Hasan.
__ADS_1
"Heum, semoga saja," jawab pemuda itu tersenyum kecil dan langsung berpamitan pulang pada semuanya.
... BERSAMBUNG... ...