Dia Juga Anakku

Dia Juga Anakku
Morning Sickness.


__ADS_3

💝💝💝💝💝💝


...HAPPY READING......


.


.


Setelah Raya memberikan tahu pada keluarganya bahwa mereka akan berpisah. Arya pun berpamitan untuk pergi ke perusahaan. Walaupun rasanya sangat berat untuk menerima semuanya. Namun, Arya menerima baik apapun keputusan Raya.


Jangankan Arya, keluarga Wijaya saja sudah tidak didengar lagi oleh Raya. Gadis itu tetap pada pendiriannya. Mungkin rasa sakit karena merasa dipermainkan cintanya. Membuat si putri bungsu Wijaya tidak bisa di ajak kompromi lagi.


Tekadnya untuk berpisah dari Arya ternyata benar-benar sudah bulat. Meskipun Nyonya Risa terus menangis agar sang putri mencabut surat gugatan yang ia layang kan. Tetap saja tidak bisa, karena Raya hanya pada pendiriannya sendiri.


"Huh! Ya Tuhan... semoga aku bisa melewati ini semua. Mungkin ini adalah hukuman untukku karena hidup memiliki dendam. Padahal semua ini adalah takdir darimu," Arya menghembuskan nafas kasar untuk menguatkan dirinya agar tidak menangis seperti seorang wanita.


"Maaf kan Papa, anakku. Semua ini memang salah Papa. Bukan salah mamamu," lirih Arya memijit pelipisnya yang terasa pusing lagi.


"Raya tidak akan seperti ini, bila aku tidak menyakitinya lebih dulu," pemuda itu terus saja bergumam sambil mengetepikan mobilnya ke sisi jalan yang terlihat sepi.


Arya mulai merasakan suatu yang mendesak keluar. Makanya dia memilih berhenti daripada terus mengendari mobilnya dan bisa jadi dia akan mengalami kecelakaan. Paham saat ini dia sudah hampir sampai ke perusahaannya.


Hoek!


Hoek!


"Astaga! Aku salah makan apa lagi? Bukannya tadi malam aku sudah tidur dan semalaman tidak bangun-bangun," keluh Arya yang kembali lagi muntah-muntah.


Perutnya seakan-akan ada yang mengaduk dari dalam. Sehingga tubuhnya lemas dalam seketika dan keringat dingin disertai sakit kepala kembali ia rasakan.


Pokoknya seumur hidupnya. Arya belum pernah merasakan sakit seperti itu. Makanya dia berpikiran bahwa apa yang ia rasakan hanya gara-gara kurang tidur saat malam hari.


Hoek!


Hoek!


"Ya Tuhan... kepalaku pusing sekali. Jika terus sakit seperti ini rasanya aku lebih baik mati. Sudahlah istriku mengajak berpisah dan sekarang malah sakit tidak jelas seperti ini," degan nafas naik turun Arya menyadarkan tubuhnya pada kursi mobil yang ia turunkan. Pintu mobilnya pun dia biarkan terbuka lebar.


"Sepertinya aku harus periksa ke dokter. Masa' sudah satu Minggu bukannya sembuh, tapi ini bertambah parah." hampir setengah jam Arya hanya diam di dalam mobilnya.


Dasi yang ia pakai sudah dilepas karena dia terus saja muntah-muntah. Bahkan Arya sempat muntah di dalam mobilnya sendiri. Untung saja di dalam mobil tersebut tidak ada orang lain selain dirinya.


Jadi pemuda itu berpikir mungkin dasi tersebut penyebabnya. Namun, ternyata tetap tidak ada perubahan. Sehingga begitu agak mendingan. Arya langsung memutar arah setir mobilnya menuju rumah sakit untuk memeriksa penyakit yang ia derita dan disinilah Arya saat ini.


Dalam ruangan Dokter umum. Rumah sakit Hospital Center. Tempat istrinya dirawat hampir selama dua pekan lamanya.


"Saya sakit apa, Dok? Apakah penyakitnya parah?" tanya Arya karena melihat sang dokter malah tersenyum setelah memeriksa keadaannya.


Bila saja memukul orang tidak menjadi masalah. Maka Arya akan memukul dokter tersebut. Dia sudah menderita karena tubuhnya sudah lelah tidak berdaya. Namun, si dokter laki-laki yang umurnya sekitar tiga puluh lima tahu itu tersenyum lebar.


"Apakah istri Anda sedang hamil?" bukannya menjawab pertanyaan nya. Tapi si dokter malah melemparkan pertanyaan sambil memperbaiki letak kacamatanya. Ciri khas seorang dokter.


"I--iya, istri Saya lagi hamil. Tapi apa hubungannya penyakit Saya degan istrinya Saya yang hamil. Dokter yang jelas sedikit bila ingin memeriksa. Jika tidak tahu Saya sakit apa maka..."


Hoek!


Arya menutup mulutnya lagi karena menahan agar tidak muntah dihadapan dokter tersebut yang langsung menunjuk pintu kamar mandi dalam ruangan nya.


Hoek!


Hoek!


"Aduh... aku sudah tidak kuat lagi," Arya menyandarkan tubuhnya pada dinding kamar mandi. Jangan lupakan baju kameja nya sudah dibasahi oleh keringat dinginnya.


Setelah mencuci mulut dan mukanya agar menghilangkan rasa pusing yang ia rasakan. Pemuda itu keluar dari kamar mandi dan menatap kesal pada dokter tersebut.


"Ini air hangat, minumlah. Anda bukan sakit Tuan, tapi lagi mengalami morning sickness yang seharusnya dialami oleh para ibu hamil," jelas si dokter tersebut sebelum Arya marah karena berpikir bahwa dia tidak bisa mengobati penyakit.


"A--apa! Bagaimana mungkin Saya mengalami morning sickness? Kan Saya tidak hamil," Arya yang tidak tahu apa-apa tentang ibu hamil tentu saja kaget dibuatnya.


"Inilah yang dinamakan couvade syndrome. Atau biasa disebut kehamilan simpatik. Selain mual biasanya juga bisa mengalami gejala lain. Intinya yang biasa dialami oleh ibu hamil. Yaitu insomnia, bisa juga sakit punggung dan mood swing. Semua yang dirasakan oleh perempuan, itu bisa saja Anda rasakan," jelas dokter tersebut panjang kali lebar.


"Maksudnya Saya muntah-muntah karena ngidam istri Saya?" tanya Arya memastikan.


"Iya, benar sekali. Sejak kapan Anda muntah-muntah seperti ini? Apakah baru pagi ini saja?"


"Mungkin sudah lebih dari satu Minggu. Pantas saja Saya selalu muntah-muntah. Saya pikir karena terlalu lelah dan kurang istirahat," meskipun tadi Arya sempat meminta mati gara-gara sakitnya. Sekarang setelah mendengar penjelasan dokter. Dia ingin baik-baik saja karena mau melihat muka anaknya.


"Jika Anda tahan, sebetulnya ini sangat bagus bagi kita para suami. Karena jika yang mengalami adalah istri kita, sungguh sangat kasihan. Mereka telah mengandung, lalu harus merasakan morning sickness juga,"


"Iya, Dok. Saya juga berpendapat seperti itu. Tapi apakah ini ada obatnya? Jika terus seperti ini bisa-bisa Saya tidak bekerja," keluh Arya seraya menatap jam tangannya yang sudah menunjukan pukul sepuluh pagi.

__ADS_1


"Tentu saja ada, tapi seperti yang Saya katakan tadi. Ini adalah bawaan bayi. Jadi walaupun minum obat hanya pereda sementara. Bila obatnya habis, Anda akan muntah-muntah kapanpun itu," jawab dokter tersebut seraya menulis resep obat. Agar Arya menebusnya pada apotik di rumah sakit tersebut.


"Iya, tidak apa-apa, Dok. Asalkan Saya tidak muntah-muntah terus," kata Arya mengagguk mengerti.


"Oke, ini obatnya Anda tebus di apotik depan. Nanti petunjuk minumnya akan diberikan oleh apoteker," si dokter menyerahkan kertas yang sudah dia tuliskan.


Lalu setelahnya Arya pun berpamitan membawa kertas tersebut dan langsung menebus obatnya. Begitu selesai pemuda itu kembali ke mobil dan diam sejenak untuk menghilangkan rasa kepalanya yang pusing.


"Anakku, jadi ini gara-gara mama mu yang hamil. Jadi Papa yang mengalami morning sickness nya," Arya tersenyum kecil.


Benar-benar tidak habis pikir bahwa akan mengalami ngidam. Seharusnya Raya yang merasakannya.


"Tapi meskipun ini sangat menyiksaku. Aku bahagia karena cukup Raya merasakan sakitnya dan tidak merasakan morning sickness anak kami lagi," gumamnya sambil mengendarai mobilnya menuju Apartemen.


Ya, Arya memutuskan untuk kembali ke Apartemen mereka. Mau ke perusahaan percuma saja, dia tidak akan bisa bekerja dalam keadaan seperti saat ini. Namun, juga tidak mungkin pulang ke rumah mertuanya.


Nanti takutnya Raya mengira dia lagi berpura-pura sakit. Padahal Arya sedang mengalami morning sickness ibu hamil.


Namun, sebelum sampai ke Apartemen. Arya berhenti di salah satu Restoran untuk membeli makanan. Dia mau minum obat dan harus makan terlebih dahulu. Sebab apa yang ia makan di rumah mertuanya sudah habis dikeluarkan semua.


Tidak membutuhkan waktu yang lama. Tepat jam sebelas kurang sepuluh menit. Arya sudah tiba di Apartemen dan langsung terkapar di atas sofa.


Tubuhnya benar-benar lemas, kepala pusing dan belum lagi perutnya yang terasa diaduk-aduk.


"Aku benar-benar sangat bersyukur, karena aku yang mengalaminya. Bila istriku pasti dia tidak akan..."


Hoek!


Arya yang lagi baring langsung berlari kearah kamar mandi yang ada di dapur Apartemen. Setibanya di sana dia kembali mengeluarkan cairan yang tidak ada makanan lagi. Karena dalam perutnya sudah kosong tidak punya apa-apa.


Hampir lima belas menit dia berada di dalam kamar mandi. Kameja nya juga sudah dilepas karena tidak tahan tubuhnya mengeluarkan keringat.


Dengan berjalan pelan Arya merebus air hangat untuk di minum. Soalnya saat di rumah sakit tadi dia merasa enakan. Setelah dimasukan kedalam gelas. Ia bawa ke depan. Arya memaksakan dirinya untuk makan walaupun sedikit. Lalu dia minum obat dan bekasnya ia biarkan di meja.


Pemuda itu lebih tertarik masuk kedalam kamar dan memejamkan matanya. Entah karena sudah lelah terus muntah-muntah. Atau mungkin reaksi obat yang dia minum. Sehingga Arya benar-benar tertidur. Bahkan sampai pukul tiga sore, dia belum juga bangun.


Padahal ponselnya yang ada di ruang tamu Apartemen terus berbunyi. Bukan hanya Sekertaris Demian atau orang tuanya yang menghubunginya. Namun, juga istrinya.


Sejak setelah makan siang mereka menghubungi pemuda itu. Akan tetapi tetap tidak diangkat-angkat juga. Hal tersebut pun berlanjut sampai malam harinya. Sudah lewat makan malam Arya tidak ada menghubungi balik orang yang meneleponnya.


"Bagaimana, El. Apakah benar jika tadi Arya tidak datang ke perusahaannya?" tanya Tuan Arka cemas karena mereka sudah mencoba menghubungi Arya tapi tidak bisa tersambung.


"Adek, apakah Arya tidak ada menghubungimu sama sekali?" tanya Adel ikut merasa khawatir.


"Tidak ada, Kak. WhatsApp nya juga aktif terakhir kali pukul tujuh. Raya juga meneleponnya sejak siang, tapi tidak diangkat," gara-gara Arya hilang tanpa kabar. Raya menjadi ikut khawatir karenaya.


"Orang-orang Wijaya apakah tidak ada yang tahu kemana perginya Arya?" sekarang Nyonya Risa yang bertanya.


"Mereka mengikuti Arya sampai di jalan, kilo meter empat tujuh. Itukan sudah dekat dengan perusahaannya. Jadi mereka pikir aman dan membiarkan Arya pergi ke perusahaan," El yang menjawab karena anak buahnya memberikan laporan bahwa Arya berangkat ke perusahaan.


"Saat Fanya menelepon Mama tadi dia bicara apa?" Tuan Arka menatap pada istrinya.


"Beliau juga menanyakan Arya karena mau menanyakan kapan waktu periksa Yuda. Tapi telepon darinya juga tidak diangkat-angkat," jelas Nyonya Risa yang tidak bisa menyembunyikan rasa khawatir pada Arya karena beliau memang menyanyangi Arya seperti pada putranya sendiri.


"Di Apartemennya apakah tidak ada juga, El?" Tuan Arka yang sejak tadi berdiri gelisah kembali mendesak Elvino.


"Tidak ada, Pa. Mereka sudah mengecek lebih dari lima kali. Jika Arya ada disana maka mobilnya pasti juga ada di parkiran Apartemen," sambil menjawab pertanyaan dari kelurganya. Elvino sibuk mengirim pesan agar anak buahnya mencari tahu secepatnya si adik ipar.


"Arya... kamu kemana? Kenapa tidak ada memberi kabar sama sekali?" gumam Raya meremas ponselnya.


"Baiklah, jika berpisah akan membuatmu bahagia. Maka aku akan melepas mu. Namun, ketahuilah jika bukan karena hal lain, aku lebih baik mati daripada berpisah darimu."


Perkataan Arya kembali terngiang seperti kaset dalam benak Raya. Dia duduk dengan tegang.


Tttddd!


📱 Elvino : "Iya, bagaimana? Apakah kalian sudah menemukannya?" tanya Elvino pada Sekertaris Demian yang sibuk mencari Arya bersama orang-orang Wijaya.


📱 Sekertaris Demian : "Sudah Tuan Muda, tapi... hanya mobilnya saja,"


📱 Elvino : "Apa! Bagaimana mungkin hanya ada mobilnya? Apa yang sudah terjadi? Apakah Arya diculik oleh seseorang? Atau dia pergi terjun ke laut?" mendengar ucapan si playboy cap kampak semua keluarganya menatap pada Elvino.


Sedangkan yang di tatapan malah tersenyum kecil. El baru sadar jika secara tidak langsung sudah mengatakan bahwa Arya mungkin saja bunuh diri di laut.


📱 Sekertaris Demian : "Bukan Tuan Muda, tapi mobilnya ada di tempat cucian mobil. Tuan Arya ada di Apartemennya. Namun, sampai malam dia belum ada keluar dari sana dan mobilnya masih di cucian. Mereka juga sudah meneleponnya sejak sore, tapi tidak diangkat-angkat juga," jelas si sekertaris yang saat ini sudah berada dalam mobil Arya untuk dibawa ke Apartemen pemuda itu yang saat ini masih tidur dengan nyaman.


Padahal lampu kamarnya tidak dia hidupkan. Arya tidur dalam gelap. Tidak memakai baju hanya memakai celana yang tadi mau berangkat ke perusahaan.


📱 Elvino : "Baiklah, kalau begitu aku akan menyusul ke Apartemen sekarang juga. Takutnya dia malah minum obat tidur seperti kakaknya," setelah bicara seperti itu Elvino langsung mematikan sambungan telepon tersebut.


"Kak, ada apa? Arya baik-baik saja, kan?" tanya Raya degan jantung berdebar-debar karena takut bila suaminya benar-benar sudah bunuh diri seperti kakak iparnya.

__ADS_1


"Entahlah, Kakak juga belum tahu apa yang terjadi. Mobil Arya ada di tempat cucian mobil. Sedangkan dia lagi berada di Apartemen kalian," jawab Elvino mau menyusul adik iparnya.


"El, adik iparmu tidak mungkin bunuh diri seperti kakaknya, kan? Ayo jawab Mama, Elvino. Arya tidak mungkin bunuh diri seperti yang kamu kat---"


Nyonya Risa yang memiliki darah tinggi langsung pingsan di atas sofa. Untung Adel degan sigap menahan tubuh mertuanya.


"Astaga, Mama," seru Elvino panik.


"El, bawa mama mu ke kamar. Papa akan menelpon dokter keluarga kita dan setelah itu kamu pergi susul adik iparmu. Apa sebenarnya yang sudah terjadi padanya," titah Tuan Arka juga takut bila Arya benar-benar bunuh diri.


Padahal pemuda itu bukan mati bunuh diri. Tapi lagi mengalami morning sickness yang membuatnya malas untuk bangun. Apalagi setiap matanya terbuka selalu ingin muntah.


"Iya, Pa," jawab Elvino diikuti oleh Adelia. Untungnya Eza sudah tidur. Jadi tidak ribut oleh tangisnya melihat sang oma yang pingsan.


"Kakak, Raya mau ikut," ucap Raya begitu melihat kakaknya sudah keluar dari kamar orang tua mereka.


"Tidak usah, Adek dirumah saja, temani---"


"Raya mau ikut Kak, lagian Raya tahu akses untuk masuk ke Apartemen," sela Raya cepat. Mana mungkin dia akan tenang bila keadaan suaminya entah seperti apa.


"Agh! Yasudah lah, ayo kita berangkat," Elvino menghela nafas panjang. "Pa, kami berangkat dulu," pamit adik kakak itu secara bersamaan.


"Iya, pergilah dan hati-hati," jawab Tuan Arka juga meninggalkan ruang tengah, menuju kamar mereka untuk melihat keadaan istri beliau.


Sedangkan Elvino dan Raya juga langsung pergi menuju ke Apartemen Arya. Untuk melihat keadaan pemuda itu. Benarkah sudah melakukan tindakan bunuh diri, atau telah terjadi sesuatu padanya.


"Adek, kalian tadi tidak bertengkar yang aneh-aneh, kan? Sebelum keluar untuk sarapan?" tanya Elvino sambil memperhatikan jalan yang terlihat begitu ramai malam ini.


"Tidak, Kak. Kami tidak bertengkar yang aneh-aneh," jawab Raya sangat gelisah.


"Aneh sekali, kenapa Arya sampai tidak mengangkat telepon dari siapapun. Kakak sangat yakin sudah terjadi sesuatu padanya. Jika tidak mana mungkin Arya seperti ini, membuat semua orang merasa khawatir padanya,"


"Semoga saja tidak terjadi sesuatu padanya, Kak. Bagaimana dengan anakku jika dia memilih mati bunuh diri seperti Kak Cica," saat berkata seperti itu jantung Raya kembali merasakan berdegup kencang. Karena takut apabila yang mereka khawatirkan benar-benar terjadi.


"Ya, semoga saja. Ini salah adek juga sih. Kenapa tidak mau mencabut tuntutannya dari pengadilan. Mungkin Arya terlalu frustasi sehingga memutuskan untuk mengakhiri hidupnya,"


"Kakak apa-apaan sih, mungkin Arya memiliki masalah lain bukan karena adek," seru Raya sedikit kesal pada kakaknya. Dia sudah khawatir, malah El selalu berkata bahwa Arya bunuh diri.


Hampir dua puluh menit kemudian. Elvino dan Raya sudah tiba di depan gedung Apartemen. Begitu melihat kedatangan mereka, Sekretaris Demian dan pengawal Wijaya yang menunggu sejak tadi langsung menghampiri keduanya.


"Tuan Muda, Nona Muda," sapa mereka penuh hormat.


"Iya, Apakah kalian sudah memeriksa kamera CCTV dari Apartemennya sampai ke lobby. Mana tahu dia sudah keluar meninggalkan tempat ini dan kabur ke luar negeri," seloroh Elvino yang lagi-lagi membuat Raya menatap tajam pada kakaknya.


"Ayo, kita masuk. Tidak perlu marah. Kakak kan hanya sedang menerka-nerka," Elvino menuntun adiknya yang berjalan mengunakan alat bantu berjalan.


"Menurut hasil pemeriksaan CCTV. Tuan Muda Arya masih berada dalam Apartemennya dan belum ada keluar sama sekali," Sekertaris Demian menjawab sambil mengikuti bosnya dari belakang. Menuju lift untuk sampai ke Apartemen Arya.


"Kami juga sudah memencet bel, tapi tetap tidak dibuka juga. Keadaan dalam Apartemen pun sepertinya gelap tidak dinyalakan lampu," jelas Sekertaris tersebut yang hanya oleh Elvino.


"Arya, kamu kenapa? Tidak mungkin kamu bertindak bodoh, kan. Bila kamu sampai melakukannya, maka aku akan membencimu seumur hidupku." Raya kembali bergumam dengan perasaan tidak menentu.


Begitu pintu lift terbuka Elvino kembali membantu adiknya perjalanan menuju pintu apartemen Arya.


"Adek tahu kodenya, kan?" El kembali memastikan. Raya tidak menjawab, dia hanya mulai menekan tanggal pernikahan mereka. Sehingga pintu tersebut pun langsung terbuka lebar.


"Arya, Arya..." Elvino yang khawatir melihat keadaan Apartemen yang gelap langsung berteriak menyebut nama adik iparnya.


"Tuan Muda, ini obat-obatan dan ponselnya. Sepertinya Tuan Arya tadi minum obat. Apa mungkin---"


"Arya," Raya yang khawatir langsung berlari kearah kamar mereka. Tanpa sadar gadis itu melempar tongkatnya ke sembarang arah, dan melupakan sakit pada kakinya.


"Arya, apa..."


Tes!


Tes!


Air mata Raya langsung menetes melihat tubuh suaminya yang baring diatas tempat tidur dalam keadaan tidak memakai baju.


"Arya, Ar," Elvino pun ikut panik dengan menggoyangkan tubuh adik iparnya. Sehingga Arya yang merasa terusik pun menggeliat pelan dan membuka matanya pelan.


"Ar, kamu masih hidup?" tanya si playboy cap kampak yang membuat Arya langsung saja duduk.


Soalnya bukan hanya ada Elvino, Raya dan Sekretaris Demian saja. Namun, ada sekitar sepuluh orang pengawal Wijaya juga berada di dalam kamarnya.


"Houm... Tentu saja aku masih hidup. Aku kan hanya tidur," jawab Arya menguap dan dengan entengnya.


Sehingga membuat Raya yang tadinya sempat menangis, karena mengira Arya sudah mati. sekarang balik menatap tajam pada suaminya.


...BERSAMBUNG......

__ADS_1


__ADS_2