Dia Juga Anakku

Dia Juga Anakku
Rumah Utama.


__ADS_3

💝💝💝💝💝💝


...HAPPY READING......


.


.


Satu setengah tahun kemudian. Kehidupan Elvino dan Adelia Putri sangatlah bahagia. Yaitu setelah kelahiran si buah hati yang saat ini sudah mulai bisa berjalan.


Meskipun Elvino sibuk mengurus perusahaan Wijaya group. Namun, pemuda itu tetap menomor satukan keluarganya. Setelah dia memutuskan tidak ingin menjadi model dadakan untuk produk di perusahaannya sendiri.


Perusahaan Wijaya group tetap menjadi nomor satu dari perusahaan yang ada di kota mereka. Ternyata bila sudah naik daun, walaupun bukan Elvino yang menjadi model pada produknya. Tetap saja akan tetap laku dipasaran.


Keadaan Tuan Arka papanya juga sangat sehat karena Baby Eza membuat beliau ingin hidup lebih lama lagi. Agar bisa bersama dengan keluarga tercintanya.


Seperti hari ini adalah awal weekend. Jadi Elvino berserta anak dan istrinya akan pergi ke rumah utama dan nanti malam mereka akan menginap di sana.


Maka dari itu Adelia pagi-pagi sudah bersiap-siap membersihkan tubuhnya dan juga si kecil yang sudah terlihat sangat tampan.


Baby Eza sangat aktif dan pintar. Sangat berbeda dengan anak-anak yang seumuran dengannya. Dia juga sudah pandai bicara, meskipun hanya orang tuanya yang paham akan ucapannya.


"El, ayo bangun!" ucap Adelia setelah dia selesai memakai baju pada putranya.


"Sayang, aku masih mengantuk," jawab Elvino karena tadi malam dia lembur mengerjakan pekerjaannya. Agar dua hari ini dia bisa tenang untuk menghabiskan waktu bersama keluarga tercinta.


"Bukannya kita mau sarapan di rumah mama? Jadi ayo cepat bagun. Jangan sampai Eza menangis karena kela---"


"Iya-iya! Aku bangun sekarang," begitu mendengar nama sang putra. Mata El yang masih mengantuk langsung terbuka lebar.


Si ayah idaman mana mau memberikan anaknya menangis. Apalagi hanya karena kelaparan dan itu semua karena dirinya yang sudah membuat janji pada orang tuanya. Bahwa mereka akan sarapan di rumah utama.


"Eza mana?" tanya Elvino sambil memijit pelipisnya yang masih terasa pusing karena sebetulnya El masih sangat mengantuk.


"Coba lihat itu," tunjuk Adelia pada putranya yang juga menatap kearah orang tuanya.



"Oh tampannya Papa sudah bersiap-siap mau ke rumah opa sama oma, ya." El bukannya langsung mandi. Namun, dia malah merangkak kearah si buah hati yang tertawa melihat papanya mendekat.


"Haa...ha... ayo ketangkap, kan," tawa Elvino mendekap putranya yang juga tertawa.


"Eza mau kemana, huem?" tanya El setelah mendudukkan Eza di atas perutnya.


"Eda tepat oma tama opa, tan Ma?" jawab si kecil yang membuat mamanya mengagguk membenarkan.


"Iya, Eza mau ke rumah Oma sama opa. Soalnya Onty Raya nanti malam tidak ada, dia mau pergi menghadiri acara ulang tahun temannya." jawab Adelia membenarkan ucapan anaknya.


"Oty laya au peldi," Eza kembali berkata pada papanya. Seakan-akan sang ayah tidak tahu bahwa Onty Raya nya mau pergi.


"Oh, benarkah? Kenapa Papa tidak tahu, ya." El berpura-pura tidak tahu dengan tersenyum menikmati wajah putranya yang sangat lucu.


"Benal, tepat wabdi, Pa." titah Eza sudah turun dari tubuh sang papa dan berlari kearah mamanya.


"Eh, kenapa malah turun, ayo sini. Katakan dulu Onty Raya mau pergi kemana? Jika Eza tidak bisa menyebutkannya. Maka kita tidak akan pergi ke rumah Oma," ucap El ikut mendekati istri dan anaknya.


"Pa, cepat mandi sana," sekarang Adelia yang menyuruh suaminya untuk mandi. Dia tidak mau jika kedua mertuanya sampai menunggu kedatangan mereka. Sedangkan ayah mertuanya tidak bisa telat makan.


"Nanti sayang, sebentar lagi." jawab Elvino tersenyum dan mengangkat agar Eza duduk di pangkuannya.


"Papa, wandi tana," titah si kecil kembali menyuruh papanya untuk mandi.


"Papa tidak mau mandi, kan kita tidak jadi kerumah Oma, karena Eza belum mengatakan Onty Raya mau pergi kemana." bukan Elvino namanya jika dia tidak membuat putranya menangis dan juga yang membuatnya diam.


"El," seru Adelia karena jika sudah seperti itu dia akan memiliki dua orang anak bayi saja.


Cup!


"Apa Mama, tunggu ya, aku mau mendengar si junior bisa menyebutkan onty nya mau pergi kemana. Kira-kira Eza sudah paham apa belum, ya." ujar Elvino yang sangat senang bila mengetahui putranya bisa mengucapkan kata-kata baru.

__ADS_1


"Ea jadi mau kerumah Oma?" tanya Elvino pada si kecil.


"Mau tepat oma, Papa wandi tepat," jawab Eza mulai kesal menyuruh sang ayah yang tak kunjung mandi.


"Papa akan mandi, tapi ayo jawab dulu, onty mau pergi kemana? Kenapa kita harus pergi ke rumah Oma?" kembali bertanya.


"Onty pelgi... Mama," Eza tidak jadi menyebutkan jika adik sang papa mau pergi kemana. Akan tetapi Eza malah memangil mamanya.


"Onty Raya pergi ke pesta ulang tahun sahabatnya. Jadi kita akan menemani oma sama opa," jelas Adel degan suara lembutnya.


Lalu setelah mendengar ucapan sang mama. Eza menatap pada papanya lagi.


"Kenapa melihat Papa? Apakah Eza sudah tahu onty pergi kemana?" jika Elvino sedang seperti sekarang. Maka Adelia akan mencabut kata-katanya yang menyebutkan bahwa suaminya adalah ayah idaman.


Namun, akan dia kasih nama ayah paling menyebabkan. Sudah tahu anaknya belum terlalu pandai mengucapkan kata-kata yang sulit untuk diucapkan. Akan tetapi Elvino terus saja tidak mau mengalah pada anaknya sendiri.


"El, sudahlah! Kamu membuat anakku---"


"Onty peldi peta uyang aun," jawab Eza setelah sejak tadi diam untuk merangkai kata-kata yang tepat dan itulah bunyi kata-katanya.


"Maksudnya bagaimana? Coba ulangi," senyum El semakin lebar setelah anaknya berhasil menyebutkan bahwa onty nya mau pergi ke pesta ulang tahun.


"Onty peldi peta uyang aun," jawab Eza mengikuti saja permintaan papanya. Asalkan mereka bisa cepat pergi ke rumah sang nenek karena dia sangat betah berada di sana.


Soalnya Tuan Arka memiliki begitu banyak ternak burung, ikan dan juga kelinci. Bukannya El tidak mau memelihara binatang tersebut. Namun, dia tahu tujuan papanya memelihara begitu banyak hewan. Yaitu agar sang cucu betah di rumahnya.


"Oke, karena Eza sudah bisa menjawab, Papa mandi dulu, ya. Setelah itu baru kita pergi ke rumah Oma," ucap Elvino menepati janjinya pada sang putra.


Cup, cup!


Dua kecupan di berikan pada istri dan anaknya. Setelah itu barulah dia benar-benar masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


"Sayang, duduk, ya. Mama mau menyiapkan baju untuk papa," kata Adelia mendudukkan si buah hati diatas ranjang tempat tidur mereka.


"Iya, badu buat papa agi Wandi," jawab Eza mengagguk mengerti.


"Haa.. ha... kamu lucu sekali, sayang." tawa Adel yang sangat gemas pada ucapan Eza. "Tunggu ya, mama mau mengambil baju buat papa yang lagi mandi." lanjutnya lagi terus tersenyum.


Lalu si tampan pun langsung mengenakan baju yang sudah disiapkan oleh istrinya. Mereka pergi memang tidak membawa barang apapun, karena rumah utama adalah tempat tinggal kedua bagi mereka.


"Sudah, ayo pergi." ajak Elvino sambil memasang jam tangan mewahnya. Tidak lupa Elvino juga mengambil dompet beserta ponsel dan juga kunci mobilnya.


"Hanya seperti itu? Rambutnya apakah tidak disisir?" tanya Adelia karena suaminya itu hanya menyisir rambut menggunakan jari tangan saja.


"Tidak! Seperti ini saja sudah sangat tampan. Takutnya nanti antrian ibu-ibu kompleks malah semakin panjang, kan kasihan suami mereka yang menunggu di rumah. Mungkin saja para wanita berdaster itu belum memasak sarapan di rumahnya." seloroh El yang tidak bisa menghilangkan tingkat kepercayaan dirinya.


Sialnya apa yang El katakan adalah benar. Dia memang sangat tampan dan sekarang ketampanan tersebut sudah dibagi menjadi dua pada si buah hati.


"Iya-iya! Orang tampan itu kemanapun dia pergi selalu menjadi incaran para wanita. Walaupun hanya ibu-ibu kompleks saja." cibir Adel yang membuat Elvino menarik pinggang ramping istrinya. Hanya dengan satu kali gerakan saja sudah membuat tubuh mereka saling menempel.


Cup!


Elvino mengecup bibir ranum istrinya yang tidak pernah bosan untuk dia nikmati. "Meskipun ada satu RW ibu-ibu kompleks yang mau mendaftarkan diri mereka untuk menjadi asisten rumah tangga kita. Aku tetap tidak akan mau menerima mereka. Apakah kamu tahu alasannya?" tanya Elvino yang membuat Adelia refleks mengelengkan kepalanya pelan.


"Tidak! Aku tidak tahu kenapa," jawab Adelia jujur dan menangapi dengan serius ucapan suaminya.


"Itu semua karena kita sudah memiliki asisten rumah tangga. Yaitu Bibi Asih," jawaban Elvino tentu langsung mendapatkan cubitan dari istrinya yang merasa sudah dipermainkan.


"Aduh! Sayang kenapa kamu malah mencubit perutku? Aku salah apa coba?" El tergelak sendiri sambil mengendong tubuh putranya yang lagi bermain di atas tempat tidur.


"El, kamu benar-benar suami yang menyebalkan. Apa kamu tahu, tadi aku menanggapi tentang ibu-ibu kompleks itu dengan sangat serius. Tapi apa coba ,kamu ternyata hanya mengerjaiku," seru Adelia ingin marah dan tertawa karena bisa-bisanya dia dikerjai oleh suaminya.


"Haa... ha... pasti tadi kamu berpikiran macam-macam, ya," El tertawa sambil mengangkat tubuh putranya lebih tinggi dari kepala mereka sehingga membuat Eza ikut tertawa terbahak-bahak.


"Sayang, mama sepertinya cemburu pada ibu-ibu kompleks nih," ucap Elvino terus tertawa dan akhirnya tawa itupun menular pada istrinya.


"Menyebalkan sekali," jawab Adel tersenyum seraya mengambil tas kecil tempat ponsel dan dompetnya.


"Aku memang sudah sangat tampan. Jadi tidak usah kamu puji lagi." El terus saja tersenyum bahagia karena candaannya selalu berhasil membuat Adelia dan putranya tertawa.

__ADS_1


"Agh, sudahlah! Terserah padamu saja. Nanti perutku bisa-bisa menjadi sakit karena terus menahan tawar gara-gara dirimu," ujar Adel sudah berhenti dari tertawanya.


"Ya sudah! Ayo kita berangkat kemana, sayang?" tanya Elvino pada sang putra yang saat ini berada dalam gendongannya. Jangan lupakan kedua tangan kecil Eza melingkar dengan sangat indah di leher ayahnya.


"Telumah oma," jawab Eza mulai tersenyum lebar karena akan segera bertemu dengan kakek dan neneknya.


"Selamat pagi, Tuan, Nona," sapa Bibi Asih begitu melihat kedua majikannya sudah keluar dari kamar.


"Iya, selamat pagi juga Bibi," yang dijawab oleh Elvino dan Adelia serempak.


"Bi, kami akan menginap di rumah utama. Jadi Bibi Asih masak untuk kalian saja, karena kami tidak akan pulang. Paling juga pulangnya besok sore atau mungkin besok malam," ucap Adelia pada sang asisten rumah tangga yang sudah dianggap sebagaimana kakak sendiri. Soalnya Bibi Asih memang orang yang sangat jujur.


"Baik Nona," jawab wanita itu singkat karena pagi ini bukanlah kali pertama kedua majikannya pergi ke rumah utama sampai selama dua hari.


Setelah berpamitan pada sang asisten rumah tangga. Kedua pasangan bahagia itu pun langsung saja pergi keluar dari rumah mewah tersebut dan tujuan mereka adalah garasi mobil.


"Sayang masuklah!" El pembukaan pintu mobil untuk sang istri. Lalu setelah Adelia duduk di dalam mobil. Barulah El memberikan Eza pada istrinya.


"Mau tama Papa," rengek si kecil yang tidak pernah berubah sedari dalam kandungan sang mama. Sampai saat ini selalu saja mau berdekatan dengan papanya.


"Iya, tapi tunggu dulu, ya. Papa masuk ke mobil dulu. Nanti digendong sama Papa lagi." dengan penuh kasih sayang, Elvino memberikan pengertian pada anaknya.


"Mau tama Papa," Eza kembali merentang kedua tangannya agar digendong lagi. Sehingga mau tidak Elvino mengikuti permintaan anaknya.


"Yasudah, ayo gendong sama Papa lagi," ucapnya mengalah. Lalu begitu Eza sudah berada dalam gendongannya. Pemuda itu berjalan memutari mobil untuk masuk dari pintu sebelahnya.


"Tunggu dulu, ya, kita harus memanaskan mesin mobilnya terlebih dahulu." ucap Elvino setelah menyalakan kendaraan mewahnya dan Eza hanya mengangguk mengerti.


"Eza sama Mama, ya, Nak! Biar Papa membawa mobilnya. Nanti bagaimana jika kita tidak sampai ke rumah opa. Gara-gara papa kesusahan menyetir mobilnya." Adelia mencoba membujuk sang putra.


Mana tahu kali ini mau dirayu, karena ini bukanlah kali pertama Eza minta digendong saat papanya menyetir mobil.


"Ndak au, mau tama papa," tolak Eza yang ternyata sama seperti biasanya.


"Oke-oke! Eza sama papa saja. Dasar anak Papa Elvino," ujar Adelia yang membuat Elvino tersenyum tampan. Senyuman yang tidak pernah berubah sejak dulu.


"Sabar ya, Ma, Eza lagi ingin sama Papa. Ayo cepat bilang pada mama, sayang," ucap pemuda itu pada sang putra.


"Tabal ya, Ma! Eda agi diniin tama papa. Ayo tepat biyang ada mama, tayang," apa yang disuruh oleh papanya. Mak semua kata-kata itu diulang semua oleh Eza.


Sehingga membuat Adelia dan Elvino menjadi tertawa terbahak-bahak. Bagaimana mungkin Eza menyebutkan kata suruhan dari papanya juga dan lucunya. Disaat kedua orangtuanya tertawa Eza juga ikut tertawa.


"Aaaa! Nanti Papa gigit kamu Za, selalu membuat gemas,* seru Elvino sambil memperhatikan jalanan di depan mobil mereka.


Di balik kebahagiaan Elvino. Ada seorang pria yang merupakan pengusaha mengantikan papanya. Tengah membuat rencana agar bisa menikahi Raya. Gadis Wijaya yang akan dia jadikan alat balas dendam pada kakak kesayangannya.


"Arya, apakah kamu yakin ingin menikahi Raya hanya untuk balas dendam pada kakaknya? Dia gadis yang sangat baik, seharunya kamu nikahi saja, bukan karena dendam pada Elvino." tanya seorang pemuda bernama Afdhal.


Saat ini kedua pemuda itu tengah berada di Apartemen mewahnya yang berada di pusat ibukota.


"Tidak! Aku akan menikahi Raya untuk balas dendam atas kematian kakakku, semua ini adalah ulah Elvino. Jika bukan karena dia mempermainkan hatinya, maka saat dijodohkan dengan orang lain. Maka kakakku tidak mungkin bunuh diri." jawab pemuda bernama Arya.


Dia adalah pengusaha baru yang mengantikan papanya. Gara-gara kakak perempuannya mati bunuh diri karena menolak perjodohan tersebut. Membuat orang tua Arya menjadi jatuh sakit dan stroke.


Maka dari itu Arya ingin balas dendam pada Elvino karena beranggapan si Presdir perusahaan Wijaya group lah penyebab semua kehancuran keluarganya.


Soalnya sebelum melakukan bunuh diri di Apartemen mereka yang ada diluar negeri. Kakak perempuan Arya menuliskan jika dia sangat mencintai Elvino Atmaja. Setelah ditelusuri oleh Arya ternyata Elvino adalah seorang playboy kelas kakap.


Jadi tidak salah juga bila dia beranggapan buruk tentang Elvino. Pemuda yang sudah membuat kakak satu-satunya meningal dengan cara bunuh diri dan sialnya adalah kakak dari gadis yang pernah dia kagumi saat bertemu di kampus.


Ya, selain meneruskan perusahaan keluarga mereka. Arya juga masih kuliah semester akhir dan hari pertama dia kuliah di universitas tersebut. Bertemu dengan Raya, gadis cantik dan sangat ramah.


Soalnya selama ini Arya kuliah diluar negeri karena ibunya asli orang sana. Jadi dia dibesarkan di luar negeri dan baru kembali gara-gara kakaknya meningal dunia.


"Terserah kamu saja, aku hanya mengingatkan. Jangan sampai kamu menyesali semuanya. Elvino bukanlah lawan mu. Jadi bila dia sampai mengetahui ada laki-laki yang menyakiti adik kesayangannya. Maka sudah pasti dia tidak akan tinggal diam." nasehat Afdhal sebagai seorang sahabat.


"Kamu tenang saja, sebelum dia mengetahui semuanya. Akan aku buat adiknya mati bunuh diri juga, seperti mana kakak ku." Arya semakin yakin dengan niatnya untuk menyakiti wanita yang sekarang memang sudah dia jadikan kekasih. Yaitu sejak kurang lebih empat bulan.


...BERSAMBUNG......

__ADS_1



__ADS_2