Dia Juga Anakku

Dia Juga Anakku
Semoga Bisa Bertahan.


__ADS_3

💝💝💝💝💝💝


...HAPPY READING......


.


.


Kleeek!


Suara pintu ruang operasi terbuka lebar. Bersamaan dengan brankar yang diatasnya terdapat tubuh Raya yang sudah tidak bergerak dan hanya dipenuhi oleh alat-alat menempel pada tubuhnya.


Setelah hampir tujuh jam pintunya tertutup rapat dan tidak terbuka lagi. Yaitu setelah tadi dokter dan perawat yang mengambil darah keluarga Wijaya. Untuk didonorkan pada Raya.


Gadis itu kehilangan bagitu banyak darah. Jadi sudah didonorkan tujuh kantong. Itupun masih kurang dan sedang dilakukan pengambilan darah keluarga Wijaya yang lainya.


"Raya..." lirih Arya begitu melihat sosok sang istri yang terbujur kaku. Padahal tadi pagi Raya masih memasangkan dasi pada lehernya. Namun, siapa sangka jika malam ini Raya sudah tidak bisa bergerak lagi.


"Raya... Ya Tuhan, Nak," jerit histeris Tante Anis melihat keadaan keponakannya. Sebab beliau memang baru datang sekitar enam jam lalu. Tepatnya setelah Raya berada dalam ruang operasi.


"Dokter, bagiamana keadaan adik Saya?" tanya Elvino yang masih bisa mengendalikan dirinya. Tidak seperti tante dan keponakannya yang langsung menangis histeris.


"Dokter, bagiamana keadaan istri Saya? Dia baik-baik saja, kan?" Arya ikut bertanya sebelum ikut mendorong brankar tempat istrinya.


"Maaf, sekarang pasien kritis dan akan kami bawa ke ruang ICU. Tolong do'akan agar dia baik-baik saja, karena kami sudah melakukan yang terbaik. Namun, semua ini kembali lagi pada yang kuasa," setelah menjawab seperti itu dokter tersebut ikut menyusul rekannya menuju ruang ICU.


"Papa," El yang tahu bahwa papanya tidak baik-baik saja langsung memeluk ayahnya. "Adek pasti akan baik-baik saja," ucapnya walaupun hatinya sendiri merasa takut.


"Ya, dia memang harus baik-baik saja," jawab Tuan Arka yang akhirnya tidak kuasa menahan tangisnya. Sejak kecil beliau menjaga Elvino maupun Raya agar tidak terluka. Namun, setelah dewasa putrinya harus mengalami musibah seperti ini.


Jadi sudah pasti beliau langsung merasa kena hantaman besar. Raya adalah gadis yang sangat ceria, pintar dan selalu membuat bangga kedua orang tuanya.


Dulu disaat Elvino masih menjabat sebagai Playboy cap kampak. Maka antara Raya dan El seperti langit dan bumi. Wajah mereka juga tidak mirip. Raya lebih mirip Nyonya Risa. Sedangkan Elvino sangat mirip seperti Tuan Arka.


Namun, kelakuan El yang suka bergonta-ganti pasangan dan bodoh dalam pelajaran karena tidak pernah serius mengerjakannya. Itu tidak menurun dari siapapun. Memang bawaan El sendiri yang selalu tebar pesona dan sialnya si Baby Eza juga suka tebar pesona. Padahal masih bayi dan umurnya belum genap tiga tahun.


"Tuan Arka, setelah Dokter Mirza keluar. Anda ataupun keluarga yang lain diminta menemui beliau di ruangannya," ucap dokter yang ikut membantu mengoperasi Raya.


"Iya, kami akan menemuinya," jawab Tuan Arka yang telah melepaskan pelukan bersama putranya.


"Kakak, sekarang kita harus menyusul ke ruang ICU juga," ucap Tante Anis yang masih menangis dan dirangkul oleh Sisil putrinya.


"Huem," lagi-lagi Tuan Arka hanya menjawab seperlunya saja.


Sedangkan Arya pemuda itu sudah duluan berjalan bersamaan dengan ranjang pasien tempat Raya terbaring kaku. Saat bertanya dokter tidak menjawab akhirnya dia mengikuti Tim medis sampai ke depan ruang ICU.


Setibanya di sana tentu saja Arya tidak diperbolehkan masuk dan hanya berdiri didepan pintu ruangan tersebut.


"Ar, mana Raya dan Tim dokter nya?" tanya Om Ari suami Tante Anita.


"Raya sudah dibawa masuk, Om," jawab Arya yang tidak bisa tersenyum sedikit pun. Bibirnya seakan-akan sudah kaku karena mengkhawatirkan keadaan istrinya dan juga menyesali perbuatannya.


"Arya, yang sabar ya, Nak. Istrimu pasti akan baik-baik saja," ucap Om Padli suami Tante Anis karena melihat Arya hanya diam sendirian. Seperti mana orang nyasar di tengah-tengah keluarga Wijaya.


"Iya, Om. Terima kasih," jawab Arya mengangguk.


Setelah menunggu sekitar lima belas menit. Barulah pintu ruang ICU terbuka sedikit dan ternyata para dokter sudah keluar dari sana.


"Dokter Mirza, bagiamana keadaan putri Saya?" tanya Tuan Arka pada dokter yang pernah mengoperasi beliau saat kecelakaan beberapa tahun lalu.


"Keadaannya kritis, Tuan. Mari ikut keruangan Saya. Sama... suami Nona Raya juga," ucap si dokter muda itu lagi dan diiyakan langsung oleh Arya karena dia memang sangat ingin mengetahui keadaan istrinya.


"El, ayo," ajak Tuan Arka pada putra sulungnya. Jadilah yang menemui Dokter Mirza mereka bertiga.


"Ayo silahkan duduk," dokter tersebut mempersilahkan Arya, Elvino dan Tuan Arka untuk duduk di sofa dalam ruangan kerjanya.


"Huem," Dokter Mirza berdehem lebih dulu sebelum mulai menjelaskan keadaan pasiennya.


"Begini Tuan Arka, keadaan Nona Raya kritis dan harapannya untuk bertahan sangatlah kecil. Hanya sekitar empat puluh lima persen," jelas si dokter karena dia memang tidak suka berbasa-basi dan memberikan harapan palsu untuk keluarga pasien.


"Sekarang pendonoran darah masih terus berlangsung. Semoga saja setelah darahnya stabil ada kabar baik untuk kita semua. Semoga dia bisa melewati masa kritisnya secepat mungkin karena ini sangat bahaya pada janin yang ia kandung,"


Duar!


Bagaikan tersambar petir. Setelah mendengar ucapan dokter tersebut yang mengatakan janin. Arya yang sudah menyesali perbuatannya sekarang bertambah menyesal lagi.

__ADS_1


"A--apakah istri Saya lagi hamil, Dok?" tanya Arya tergagap disertai dengan air matanya.


"Jadi putri Saya lagi mengandung? Lalu apakah calon cucu Saya dalam keadaan baik-baik saja?" bukan hanya Arya yang menetes air matanya. Tapi juga Tuan Arka. Beliau ikut menangis karena sekarang ada dua nyawa yang lagi dalam bahaya.


"Adik Saya lagi hamil, Dok? Bukannya dia baru menikah sekitar tiga Minggu lalu. Bagaimana mungkin?" seru Elvino sambil menatap tajam pada Arya. Namun, dia masih duduk dengan tenang karena tangannya di tahan oleh Tuan Arka agar tidak bertindak gegabah sebelum mendengarkan penjelasan dokter.


"Iya, Nona Muda Raya sedang hamil yang mungkin ini adalah Minggu pertama. Namun, yang jelas dia tengah hamil. Bisa jadi saat Nona Raya menikah sedang dalam masa suburnya dan hal seperti ini sudah biasa terjadi. Yaitu menyebabkannya langsung hamil," Dokter Mirza menjawab sekaligus pertanyaan ketiga laki-laki yang sangat Raya cintai.


"Untuk saat ini janin yang dia kandung baik-baik saja. Mungkin dia bisa bertahan karena ibunya tidak terpental keluar dari mobil. Namun, semua ini bisa berubah dalam sekejap mata. Bila keadaan ibunya terus menurun, maka kami tidak bisa melakukan apapun untuk menahannya agar tetap bertahan,"


"Lalu apa yang membuat adik Saya masih kritis?" tanya Elvino kembali tenang setelah mendengar penjelasan Dokter Mirza.


"Tuan Muda tahu sendiri seperti apa parahnya keadaan Nona Raya. Di kepalanya mengalami benturan sangat keras sehingga menyebabkan ada beberapa bagian yang harus kami operasi. Sedangkan di bagian kaki kirinya mengalami patah tulang. Belum lagi luka-luka kecil pada bagian tubuh lainnya," papar dokter tersebut yang telah menjelaskan semuanya.


Tes!


Tes!


"Ja--jadi istri Saya benar-benar lagi hamil," lirih Arya menyeka kasar air matanya.


"Iya, istri Anda lagi hamil. Jadi selain kami berusaha untuk menyembuhkannya. Maka berdoalah agar mereka berdua sama-sama bisa bertahan," jawab Dokter Mirza degan sangat yakin karena sudah melakukan pemeriksaan berulang kali dan hasilnya tetap sama. Yaitu menunjukkan bahwa si putri bungsu keluarga Wijaya itu tengah hamil muda.


Sungguh sebuah keajaiban. Setelah mengalami kecelakaan yang membuat keadaan Raya sekarat dan mobil mahal edisi terbatas itu hangus terbakar. Si calon cucu keluarga Wijaya masih bisa bertahan dalam kandungan ibunya.


"Dokter, tolong selamat putri dan calon cucu Saya," mohon Tuan Arka sambil menyeka air matanya yang tidak bisa beliau tahan lagi. Diusianya yang sudah tua. Ingin menikmati masa tuanya bersama anak menantu dan cucu. Harus dihadapkan dengan kenyataan putri bungsunya dalam keadaan kritis dan hamil.


"Tentu Tuan, kami akan berusaha. Namun, seperti yang Saya bilang bahwa Tim dokter hanya bisa berusaha. Selebihnya itu urusan Tuhan," jawab Dokter Mirza tidak ingin berjanji.


Sebab jika mereka bisa. Tentu para dokter ingin menyembuhkan semua pasiennya. Agar tidak ada yang meninggal dunia karena gagal diselamatkan.


Terbukti hampir delapan jam kurang lebih. Tim dokter terbaik sibuk berusaha menyelamatkan nyawa Raya. Sampai saat ini jam sudah menunjukkan pukul lima pagi. Mereka belum ada yang memejamkan matanya.


Sama seperti keluarga Wijaya. Mereka tidak ada yang bisa tidur. Hanya Nyonya Risa yang bisa memejamkan matanya. Namun, beliau dalam keadaan pengaruh obat tidur.


"Dok, Saya bisa menemuinya, kan? Saya ingin bertemu istri Saya," ucap Arya tidak bisa hanya berdiri didepan ruang ICU saja.


"Bisa, tapi jatah waktunya hanya lima belas menit dan yang menjenguk nya hanya boleh satu orang saja. Jika kalian mau melihatnya harus bergantian,"


"Baiklah! Kalau begitu Saya ingin melihatnya sekarang," imbuh Arya sudah berdiri dari sofa.


"Pa, Kak. Tolong izinkan aku yang menemuinya lebih dulu," izin Arya pada ayah mertua dan kakak iparnya.


"Iya, pergilah duluan. Nanti baru giliran kami," jawab Tuan Arka karena walaupun Raya adalah putrinya. Arya jauh lebih berhak karena pemuda itu adalah suami Raya.


Jika Elvino tidak bicara apa-apa. Si playboy cap kampak hanya diam sambil membuang arah pandangan matanya.


Berhubung Arya tau kesalahannya. Jadi tidak ambil pusing El yang menatapnya seperti musuh atau tidak suka.


Keempat pria berbeda usia itu pergi ke arah ruang ICU lagi. Sampai di sana, Tuan Arka dan Elvino duduk bersama keluarga mereka. Kalau Arya ikut bersama Dokter Mirza.


"Dokter Febi, tolong bantu Tuan Arya, dia akan melihat keadaan istrinya lebih dulu," titah Dokter Mirza pada rekannya.


"Iya, Dok," jawab dokter bernama Febi langsung mempersilakan Arya masuk kedalam ruang steril lebih dulu. Setiap keluarga pasien yang mau menjeguk harus memakai baju khusus dan juga masker penutup wajah yang sudah disediakan pihak rumah sakit.


Setelahnya barulah Arya dibawa masuk kedalam ruang ICU dan dipertemukan dengan istrinya.


"Silahkan Tuan Muda. Waktunya hanya lima belas menit dan ajaklah nona berbicara karena orang sakit, walaupun tidak sadarkan diri. Tapi dia bisa mendengar ucapan kita," pesan si dokter perempuan itu sebelum kembali ketempat dia bertugas.


"Raya..." lirih Arya degan langkah pelan yang disertai oleh air matanya.


"Maafkan aku, sayang," ucapnya lagi sudah duduk pada kursi yang telah disediakan.


"Maafkan aku..." tidak ada penyesalan yang paling menyakitkan. Setelah melihat orang yang kita sakiti sudah tidak bisa merespon setiap ucapan kita.


"Ray, ayo bagunlah! Aku sangat menyesal telah menyakitimu. Sudah berniat buruk padamu," ungkap Arya sambil terisak.


Namun, Raya yang ceria, yang selalu tersenyum dibalik lukanya. Sekarang gadis itu seperti sebuah barang mati. Tidak bergerak, tidak membuka matanya dan tidak ada merespon apapun lagi.


Sehingga dalam ruangan tersebut terasa semakin mencekam. Hanya terdengar alat monitor yang terhubung dengan komputer. Alat yang memantau setiap detak jantung pasiennya.


"Sayang... ayo bagunlah. Aku berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi. Aku mohon bagunlah! Aku tahu kamu kecewa padaku. Tapi setidaknya bagunlah demi anak kita," Arya semakin menagis setelah menatap pada perut datar istri.


"Maafkan Papa, Nak. Maaf, karena dendam pada Elvino. Kalian berdua harus menjadi korbannya," sesal Arya menahan sesak di dadanya.


Pemuda tampan itu sudah seperti seorang perempuan yang menangis karena dikhianati oleh pacarnya. Arya terisak dengan mengenggam tangan pucat Raya, yang dipenuhi oleh kabel sebagai alat penunjang kehidupan untuk Raya.

__ADS_1


"Aku bersalah menikahimu karena ingin balas dendam atas kematian kakakku. Namun, aku gagal karena aku sangat mencintaimu. Itulah alasannya kenapa aku tidak ingin dirimu tahu hubunganku dan Manda. Tadi..."


Arya tidak melanjutkan ucapannya. Dia semakin terisak karena Raya tidak bergerak sama sekali. Mulut gadis itu terbuka lebar karena ada alat yang masuk kedalam mulutnya.


Wajah Raya sangat pucat dan bekas luka ada dimana-mana. Yaitu luka bekas pecahan kaca mobil. Tubuhnya terjepit karena mobil edisi terbatas itu menambak pembatasan jalan. Lalu setelah terpental beberapa puluh meter. Mobil tersebut barulah berhenti dalam keadaan hancur dan Raya terjebak didalamnya.


Cup!


"Aku mohon, bertahanlah. Aku tidak ingin membalas dendam pada kakakmu lagi. Asalkan kamu harus sembuh," Arya mengecup jari tangan Raya yang diperban karena ada luka pada bagian itu juga.


"Aku mohon, sayang. Bertahanlah," hanya itulah yang bisa Arya lakukan. Dia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Selain Raya tidak merespon. Arya juga hanya merasa bersalah. Jadinya dia hanya meminta maaf dan menyesali niatnya untuk balas dendam.


"Maaf, Tuan Muda. Waktunya sudah habis. Mari kira keluar," ajak Dokter Febi karena sudah peraturan bahwa pasien dalam ruang ICU boleh dijenguk dalam waktu lima belas menit saja.


"Iya, tunggu sebentar," jawab Arya tidak menoleh kearah belakang. Fokus matanya hanya pada Raya yang tidak bergerak.


"Sayang, aku akan menunggu di luar karena aku tidak boleh berada disini lama-lama. Aku mohon, bertahanlah. Aku mencintaimu," air mata Arya luruh lagi saat mau melangkah keluar dari sana.


"Anakku, Papa mohon bertahanlah. Maaf, karena Papa. Kalian harus merasakan sakit ini." gumam Arya didalam hatinya.


"Ayo, Dok," ajak Arya sudah siap keluar dari sana. Namun, begitu dia keluar dan pintunya tertutup kembali. Bogem mentah langsung melesat pada wajah tampannya.


Buug!


Buug!


"Brengsek! Apa yang kau tangisi? Apakah kau menangis karena melihat adikku belum meningal dunia?" maki Elvino menghajar Arya degan segala kekuatan yang dia punya. Sehingga wajah Arya langsung lebam pada saat itu juga. Darah segar mengalir diwajah pemuda itu.


Ya, selama Arya berada didalam. Elvino menyuruh Sekertaris Demian melaporkan dengan lengkap kejadian yang membuat Raya kecelakaan.


Buug!


"Apa mau mu, hah! Ayo jawab? Untuk apa kau menikahi adik ku bila hanya untuk menyakitinya," Elvino semakin menghajar Arya secara membabi buta.


Sebab keluarga Wijaya yang lainya juga geram pada Arya setelah mengetahui bahwa sebelum terjadi kecelakaan naas itu. Raya datang ke Restoran tempat Arya dan Manda makan malam.


Tidak lama. Hanya sekitar tujuh menit setelah keluar dari Restoran. Mobil Raya sudah mengalami kecelakaan tunggal.


"Kenapa kau menikahi adikku? Belum ada satu bulan kau menikahinya, tapi kau sudah berani selingkuh dan membuat adikku hampir kehilangan nyawanya," teriak El menggebu-gebu.


Buug!


Buug!


Kali ini bukan hanya Elvino saja yang memukul. Namun, juga Arya. Ya, pemuda tersebut ikut memukul Elvino. Sehingga adu jotos pun terjadi.


Tubuh Arya dan Elvino sama-sama berotot karena mereka adalah pria yang selalu rajin berolahraga dan memakan makanan sehat.


"Brengsek! Kau berani memukulku," umpat Elvino kembali menghajar Arya begitu pula sebaliknya.


"Kau yang brengsek! Semua ini tidak akan terjadi bila kau tidak memberi harapan palsu pada kakaku. Dia meninggal dunia karena dirimu, Elvino," jawab Arya jadi ikut terbawa emosi.


Dendam yang dia tahan selama ini sudah terbalaskan. Namun, Arya hancur karena dia jatuh cinta pada Raya dan sekarang gadis itu tengah mengandung anaknya.


Jadi sudah pasti Arya sangat kacau dibuatnya. Arya menyesal karena dendamnya sekarang Raya dalam keadaan kritis. Berjuang untuk hidup bersama buah hati mereka.


"Apa maksudmu? Kapan aku memberi harapan palsu pada kakakmu?" El berhenti memukul. Namun, dia mencengkram erat jaket yang Arya pakai. Sehingga jarak wajah mereka hanya berjarak beberapa senti saja.


"Apakah kau tahu gadis bernama Cica? Dia mantan kekasihmu, kan? Apakah kau tahu dia sekarang ada dimana?" hardik Arya pada kakak iparnya yang tidak bicara sopan lagi.


Mereka berdua seperti dua anak muda yang lagi bertengkar dengan wajah sama-sama lebam.


"Cica?" ulang Elvino karena mantan pacarnya bernama Cica bukan hanya satu. Hampir semua gadis diekampus tempatnya menimba ilmu. Pada masa itu El jadikan pacar sesaatnya.


Mendengar ucapan Arya. Si playboy cap kampak juga langsung melepaskan cengkraman pada jaket Arya.


"Iya, Cica. Dia adalah kakaku yang mati bunuh diri karena dirimu," imbuh Arya membenarkan. "Dia bunuh diri karena dirimu, El. Maka dari itu aku menikahi Raya untuk balas dendam. Namun... ternyata aku jatuh cinta padanya," Arya yang tadinya ikut emosi langsung menjatuhkan tubuhnya diatas lantai.


Dia balas memukul Elvino hanya refleks. Arya tidak terima karena menurutnya semua yang terjadi bukan kesalahannya sendiri.


"Brengsek! Jadi kau menjadikan adikku alat balas dendam? Aku tidak---"


"Berhenti! Apakah kalian berdua tidak malu kita menjadi perhatian para dokter dan perawat? Berhentilah! Jangan bertengkar di sini karena putriku dalam keadaan antara hidup dan mati," bentak Tuan Arka menatap Elvino dan Arya degan tajam.


Beliau tidak menyalahkan Arya dan tidak menyalahkan Elvino. Sebab sekarang bukanlah saatnya untuk menyalahkan siapa, yang terpenting adalah kesembuhan Raya. Walaupun beliau sangat kecewa setelah mendengar pengakuan Arya.

__ADS_1


...BERSAMBUNG ......


__ADS_2