Dia Juga Anakku

Dia Juga Anakku
Pemikiran Dewasa.


__ADS_3

💝💝💝💝💝💝


...HAPPY READING......


.


.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua puluh menit, karena dalam perjalanan sangat macet. Pasangan suami-istri itu baru tiba di kediaman Wijaya. Arya turun lebih dulu.


Lalu dia berjalan memutar untuk membukakan pintu mobil dan mengulurkan tangannya karena tahu jika Raya masih merasakan nyeri di bagian intinya.


"Silahkan turun permaisuri ku," ucapnya pada sang istri dan Raya hanya tersenyum bahagia mendengar perkataan suaminya.


"Terima kasih, pangeran ku. Tapi lain kali kamu tidak usah seperti ini lagi," jawab gadis itu sambil melangkah masuk bersama Arya yang mengenggam lembut tangannya.


"Ada apa? Kenapa tidak boleh?" seru Arya tidak suka dengan perkataan Raya.


"Arya, aku sebetulnya sangat bahagia kamu perlakukan aku dengan sangat manis. Namun, jujur aku takut bila kamu sempat mengecewakan cinta kita. Aku akan bunuh diri karenya. Aku takut tidak siap bila dikecewakan." jawab Raya degan tatapan mata berkaca-kaca.


Deg!


Aliran darah Arya seakan berhenti mendengar jawaban Raya yang sebetulnya hanya bicara biasa saja. Namun, mungkin karena niatnya menikahi gadis itu tidak baik. Jadinya langsung merasa tertohok sendiri.


"Kenapa kamu malah bicara seperti itu? Apakah tidak percaya pada ketulusan cintaku?" refleks Arya langsung menanyakan tentang kesungguhan cintanya. Padahal hanya dia yang tahu jawaban yang sebenarnya. Bukan malah balik bertanya pada Raya.


"Tidak! Aku sangat percaya padamu, Ar. Aku sangat mencintaimu dan aku sangat bahagia karena kita bisa menikah. Namun, aku hanya takut akan ada badai di pernikahan kita." mendengar ucapan Raya. Membuat pemuda tampan itu kembali terdiam.


"Sayang, kalian berdua sudah datang." mendengar ada suara mobil. Nyonya Risa langsung berjalan keluar untuk menyambut kedatangan anak dan menantunya.


"Mama, Raya kangen," jawab Raya menyalimi mamanya dan langsung memeluk wanita yang sudah melahirkannya dua puluh tahun lalu.


"Haa... ha... baru juga tadi malam tidak tidur dirumah. Tapi sudah bilang kangen." tawa Nyonya Risa yang sudah bergantian memeluk menantunya sebentar.


Sebagai sambutan seorang ibu pada putranya. Ya, Nyonya Risa memang sudah lama menganggap Arya seperti mana anaknya sendiri, karena pemuda itu memiliki kepribadian yang sangat baik.


"Ayo masuk! Kakak mu lagi tidak ada. Papa juga lagi pergi bermain golf bersama Paman Abraham dan Paman Hasan." ajak wanita yang masih terlihat sangat cantik meskipun sudah ditelan usia.


"Mereka bertiga sangat akrab sekali," ujar Raya yang sudah merangkul mesra lengan ibunya.


Sedangkan Arya berjalan menyusul dari belakang dengan pikiran berkecamuk.


"Apakah Raya tahu jika aku menikahinya hanya untuk dijadikan alat balas dendam ku pada Elvino? Seharusnya bila sudah tahu tidak mungkin mau menikah denganku lagi. Apa maksudnya berbicara seperti itu?" gumam Arya yang bertanya-tanya pada dirinya sendiri.


"Arya, kalian istirahat saja. Nanti saat jam makan siang semuanya sudah pulang. Jadi tunggulah papa dan kakak kalian datang bila mau berpamitan membawa Raya." ucap Nyonya Risa karena memang sudah tahu jika Arya datang untuk berpamitan membawa putrinya pergi dari rumah utama.


"Iya, Ma. Kami memang akan menunggu papa dan kakak." jawab Arya karena tidak mungkin juga dia hanya berpamitan pada ibu mertuanya


Hal itulah yang membuat Elvino terkena tipuannya. Memiliki kepribadian yang sangat baik dan tidak punya skandal buruk seperti Elvino.


"Raya, bawalah suamimu naik. Agar Arya bisa beristirahat." titah Nyonya Risa pada putrinya.


"Iya, Ma," Raya mengiyakan karena dia sendiri juga mau beristirahat juga. Raya masih lelah efek dari percintaan mereka tadi malam.


"Ayo sayang," ajak Raya bergelayut manja pada lengan suaminya. "Mama, kami tinggal dulu, ya." pamitnya pada sang ibu dan dianguki oleh Nyonya Risa karena beliau juga lagi menonton sinetron kesukaannya.


Setelah itu mereka berdua menaiki tangga yang melingkar menuju lantai atas. Tidak ada yang berbicara. Mereka hanya larut dengan pikirannya masing-masing.


Sampai di depan pintu kamar berwarna putih.


"Ayo masuk! Ini adalah istana Nona Muda Raya yang sangat cantik." ucap Raya begitu membuka pintu kamarnya.


"Benarkah? Beruntung sekali aku bisa menikahi nona muda ini."


Cup!

__ADS_1


Arya langsung memegang dagu Raya degan gemas dan langsung mengecup bibir istrinya. Lalu tangannya menyapu pinggir bibir Raya. Soalnya terkena Saliva mereka berdua yang sudah menjadi satu.


Gara-gara Arya bukan hanya mengecup saja. Namun, juga menyesap seperti mana memakan manisan yang membuatnya candu.


"Ray," panggil Arya yang tidak dijawab oleh istrinya. Gadis itu hanya menatap muka sang suami karena jarak wajah mereka hanya beberapa senti saja.


"Jika suatu saat aku... Agh! Maksudnya seperti ini. Misalkan aku mengecewakanmu. Apakah kamu tidak akan pernah memberiku kesempatan untuk menebus kesalahanku?" tanyanya begitu penasaran untuk mengetahui isi hati sang istri.


"Tergantung pada kesalahannya fatal atau tidak. Jika masalah biasa tentu saja aku akan memaafkanmu. Namun, apabila sudah sebuah penghianatan. Maka mungkin aku akan memikirkan kembali untuk memberimu kesempatan atau tidaknya." Raya menjawab sambil berjalan ke arah ranjang dan duduk di sisi tempat tidur.


Lalu dia melepaskan sepatu yang ia pakai karena Raya mau beristirahat.


"Ayo sini! Kenapa malah hanya diam di sana. Aku mau istirahat soalnya tubuhku sangat lelah." ajak gadis itu langsung baring. Namun, dengan posisi menyamping dari arah ranjang king size nya.


"Iya, istirahat lah. Aku mau memeriksa pekerjaanku." Arya ikut duduk di samping kepala Raya. Namun, tiba-tiba saja gadis itu menjadikan pahanya sebagai bantal.


"Arya, tolong biarkan aku tidur di paha mu. Nanti jika aku sudah tidur, kamu boleh menurunkan kepalaku diatas bantal ini." ucap si cantik Raya menepuk bantal yang sudah dia siapkan.


"Raya kenapa? Apakah dia memang sudah biasa manja seperti ini pada keluarganya?"


"Ar, kenapa? Apakah tidak boleh? Kalau begitu aku akan tidur di atas bantal saja. Maaf, jangan diambil hati. Aku hanya bergurau." Raya tersenyum sambil pindah keatas bantal lagi.


"Ray, aku tidak mengatakan tidak boleh. Kamu kenapa jadi baper seperti ini?" ucap Arya merasa tidak enak juga sudah membuat Raya seperti orang lagi merajuk padanya.


"Aku bukannya baper padamu. Tadi aku hanya bergurau juga. Jadi tidak usah takut bila aku marah padamu." Raya kembali duduk untuk mengeluarkan ponselnya dari dalam kantong switer yang ia pakai.


"Jika kamu juga mengantuk tidur saja. Tapi bila ingin memeriksa perkejaan laptop ku ada diatas meja belajar." ucapnya yang sudah kembali berbaring.


Sehingga Arya tidak bicara sepatah katapun. Pemuda itu hanya diam saja sambil memperhatikan Raya yang memeluk boneka beruang besar.


Bila lagi seperti sekarang. Raya bukan seperti seorang istri dan gadis dewasa. Akan tetapi seperti mana seorang gadis kecil dan Arya baru mengetahui hal itu sekarang.


"Pantas saja tadi dia bilang merindukan mamanya. Ternyata Raya hanya besar tubuhnya saja. Namun, dibalik ini semua, dia juga memiliki pemikiran yang sangat dewasa." Arya kembali bergumam di dalam hatinya.


"Huh! Lebih baik aku memeriksa pekerjaanku." karena Raya sudah tidur. Arya akhirnya turun dari atas ranjang dan menuju meja belajar Raya untuk meminjam laptop gadis itu.


Makanya tadi Raya menyuruh Arya memakai laptopnya, karena tahu jika Arya menyimpan Flash disk untuk menyimpan file-file penting yang terhubung dengan ponsel pemuda itu juga.


Sejauh ini tidak ada hal aneh yang terjadi. Mungkin karena mereka baru menikah. Atau karena Arya belum membawa Raya tinggal bersamanya.


Sampai hampir satu jam lamanya Arya memeriksa beberapa data perusahaan. Pemuda itu mulai lelah dan akhirnya memilih untuk tidur diatas sofa.


Setelah jam makan siang. Pintu kamar pun sudah ada yang mengetuk. Sehingga Arya maupun Raya sama-sama terbangun dari tidurnya.


"Diam saja, biar aku yang membuka pintunya." cegah Arya karena melihat istrinya mau bangkit dari posisinya yang masih baring diatas ranjang.


"Huem," Raya yang masih juga mengantuk akhirnya hanya mengangguk setuju.


Ceklek!


"Maaf Tuan, sudah mengganggu waktu istirahatnya. Tapi oleh nyonya diminta untuk turun, karena sebentar lagi akan makan siang." ucap Bibi Asih yang sekarang sudah bekerja lagi dirumah utama. Soalnya Elvino juga sudah kembali tinggal bersama orang tuanya.


"Iya Bi, terima kasih! Sebentar lagi kami akan turun." jawab Arya sambil menutup pintu kamar.


"Pasti kita diajak makan siang, ya?" tebak Raya sudah duduk sambil menguap berulang kali.


"Iya! Tapi tunggu aku mau mandi dulu. Buku kuliahmu siapkan saja. Kita akan langsung pulang ke rumah mami setelahnya." Arya berbicara sambil berlalu masuk kedalam kamar mandi.


"Agh! Kamar ku sayang. Aku pasti sangat merindukan kalian semua." seru Raya turun dari atas tempat tidur dan berjalan ke arah lemari pakai. Untuk menyiapkan baju suaminya yang sudah diantar oleh Sekertaris Demian sejak dua hari lalu.


Setelah selesai Raya pun mengemasi peralatan untuk dia kuliah. Dari buku, laptop dan juga beberapa lembar pakaian, karena dia belum tahu apakah di rumah Arya sudah disiapkan bajunya juga, atau belum. Mengingat orang tua Arya tidak sehat seperti mana mamanya.


Ternyata tidak lama hanya sekitar dua belas menit kemudian. Arya sudah selesai membersihkan tubuhnya dan keluar dalam keadaan segar. Tidak seperti tadi karena habis bangun tidur. Walaupun tidurnya hanya hanya sebentar. tetap saja akan terlihat dengan jelas raut muka bantalnya.


"Ar, itu bajumu. Aku masih menyiapkan barang yang akan aku bawa." ucap Raya tanpa menoleh ke arah suaminya.

__ADS_1


"Kenapa kamu harus membawa barang-barang segala. Cukup bawa saja peralatan untuk kuliahmu, karena jika pakaian dan keperluan yang lain sudah disiapkan oleh mami."


"Tidak apa-apa, ini hanya beberapa lembar baju. Selebihnya hanya buku materi pelajaranku di kampus." jawab Raya sudah selesai menutup Koper kecil yang akan dia bawa.


"Tunggu sebentar karena aku juga mau mandi. Rasanya tidak enak kalau belum mandi." ujar Raya mengambil handuk dari tangan Arya.


Suaminya hanya diam saja, karena Arya memang terkadang sikapnya suka berubah-ubah. Terkadang begitu romantis pada Raya dan terkadang malah terlihat cuek. Mungkin memang sudah bawaannya seperti itu. Atau karena dendamnya pada Elvino.


Jadi suasana hati Arya pun bisa ubah-ubah tidak menentu. Untungnya Raya adalah tipe gadis yang sangat ceria. Jadi meskipun dia terkadang merasa aneh dengan sikap pemuda itu. Namun, tidak pernah marah ataupun menjadikan masalah besar dalam hubungan mereka.


"Aku mandi dulu, ya. Tunggulah di sini. Jangan meninggalkan aku sendirian." pesan Raya sudah melangkah kearah kamar mandi.


"Iya, mandilah! Tapi tidak boleh berendam di dalam Bathtub, karena aku sangat yakin jika kamu akan menghabiskan waktu sampai setengah jam," peringat Arya karena walaupun baru bersama sejak tadi malam. Akan tetapi bisa ia tebak bahwa Raya suka berendam atau bermain air.


"Ha... haa... Kamu sudah seperti papa saja. Bila kami mau pergi, lalu mengetahui jika aku akan mandi. Maka papa pasti akan mengingatkan tidak boleh berendam di dalam Bathtub." tawa Raya sambil menutup pintu kamar mandi.


"Ternyata benar tebakanku. Jika dia ini seperti anak kecil saja," ucap Arya sambil kembali memakai jam tangan mewahnya. Lalu ia pun duduk di sofa. Sambil nunggu Raya selesai mandi.


💌 Arya : besok aku sudah kuliah. Jika ingin bertemu denganku di kantin saja." bunyi balasan pesan dari Arya untuk Manda.


Soalnya sejak tadi malam Arya tidak ada membalas pesan gadis itu lagi, yang terus mengajaknya untuk bertemu secara langsung bukan berhubungan lewat sosial media saja.


💌 Manda : "Terima kasih! Kalau begitu aku akan menemuimu di kantin bagian barat. Jadi jamnya nanti kamu beritahu saja, karena jika aku sendiri selalu ada waktu apabila untuk kita bertemu." begitu melihat notif pesan dari Arya. Ternyata Manda langsung saja membalas pesan tersebut.


💌 Arya : "Iya, besok aku kasih tahu jam nya." seperti biasa setelah membalas pesan dengan singkat. Maka Arya akan langsung menyimpan ponselnya kembali.


"Aku tidak boleh berlama-lama untuk melakukan balas dendamku, karena aku tidak mau bila sampai terjerat dengan Raya." gumam pemuda itu yang akan memulai balas dendamnya besok pagi.


"Raya, maafkan aku. Jika Elvino yang berada pada posisiku saat ini. Pasti juga akan melakukan hal yang sama. Yaitu balas dendam atas kematian saudarinya." Arya bergumam di dalam hatinya sambil menatap wajah cantik Raya yang menjadi foto wallpaper ponselnya.



Saat Arya masih memandang foto Raya. Istrinya itu pun sudah keluar dari kamar mandi.


Kleeek!


Suara pintu kamar mandi yang sudah dibuka oleh Raya. Karena gadis itu telah selesai membersihkan tubuhnya.


"Ar, apakah pekerjaan mu sudah selesai?" tanya Raya sambil memakai baju. Mungkin karena tadi pagi Arya membantunya mengganti pakaian. Jadinya sekarang Raya tidak terlalu malu pada Arya yang ada didalam kamarnya.


"Sudah! Besok dari kampus aku akan langsung perusahaan. Jadi kamu pulangnya bersama sopir saja, ya. Karena aku tidak ada waktu apabila harus pulang ke Apartemen terlebih dahulu."


"Iya tidak apa-apa. Lagian aku juga bisa membawa mobil sendiri."


"Terserah mana baiknya saja. Bila aku sempat, maka kita akan berangkat dan pulang bersama." jawab Arya juga setuju pada ide Raya untuk membawa mobil sendiri.


Sambil menunggu Raya bersiap-siap, mereka berdua mengobrol seperti biasanya.


"Rasanya aku sangat sedih harus berpisah dengan kamarku, Ar. Seperti aku tidak akan pernah kembali ke sini lagi." ungkap Raya degan nada sendunya.


"Tidak usah bersedih. Nanti apabila weekend kita masih bisa menginap di sini." jawab Arya sudah menyimpan ponselnya ke dalam saku jaket yang ia pakai.


"Seharusnya Iya, aku tidak perlu bersedih. Karena kita bisa kapanpun kembali ke sini. Walaupun hanya untuk tidur saja selama satu malam. Tapi entah mengapa firasatku berkata lain. Namun, semoga saja semuanya baik-baik saja tidak terjadi apapun."


"Itukan hanya menurut firasatmu. Jadi tidak usah dijadikan sebagai beban pikiran."


"Huem, iya! Aku akan berusaha membuang jauh pikiran burukku." ujar Raya. melanjutkan lagi bersiap-siapnya.


Lalu begitu Raya selesai. Barulah keduanya keluar dari kamar itu dengan Arya menarik Koper kecil milik Raya.


"Aku harap semua perasaan buruk ini, hanya karena aku berat meninggalkan mama dan papa. Bukan karena akan terjadi sesuatu hal yang buruk." gumam gadis itu sambil melangkah keluar dari kamarnya.


"Lagian kan aku hanya pindah ke rumah Arya. Bukan ke luar negeri. Jadi tidak mungkin Arya membiarkan aku kenapa-napa. Dia kan sangat mencintaiku. Sama seperti aku yang mencintainya." sambil berjalan nuruni tangga Raya pun masih terus membatin di dalam hatinya.


...BERSAMBUNG......

__ADS_1


__ADS_2