Dia Juga Anakku

Dia Juga Anakku
Tidak Ingin Membuat Cemburu.


__ADS_3

💝💝💝💝💝💝


...HAPPY READING......


.


.


Ceklek!


Elvino membuka pelan pintu kamar mandi. Lalu dia menoleh kearah tempat tidur di mana Adelia masih duduk seperti tadi.


"Adel, tadi siapa yang datang? Sepertinya tadi aku mendengar suara seseorang," tanya pemuda itu sambil membuka lemari bajunya. Lalu dia mengambil kaos berlengan pendek berwarna putih dan celana jeans pendek.


"Mama, tapi sekarang sudah turun karena mereka juga mau makan malam," jawab Adel tidak berani menoleh kearah Elvino. Gadis itu takut melihat tubuh suaminya yang pastinya akan bertelanjang dada karena dia baru saja selesai mandi.


"Oh, kalau begitu tunggu sebentar biar kita makan malam juga," Elvino pun masuk ke dalam ruang ganti khusus pakaian. Tidak lama setelahnya, dia sudah keluar dengan penampilan yang semakin tampan.


"Kamu kenapa? Apakah ada yang sakit?" tanya pemuda itu lagi karena melihat raut muka istrinya terlihat seperti lagi memikirkan sesuatu.


"Tidak! Aku baik-baik saja. Hanya lagi memikirkan bagaimana masalah pekerjaanku sebelumnya?" dusta Adel karena tidak mungkin dia menjawab jujur tentang pembicaraan dia dan ibu mertuanya tadi.


"Adel, kamu tidak boleh memikirkan apapun yang akan membuat kalian sakit. Biarkan saja masalah pekerjaanmu. Lagian mulai sekarang aku yang akan bekerja," El duduk kembali di sofa yang dia duduki sebelum mandi tadi.


"Iya, aku hanya memikirkan masalah gaji ku bulan ini. Kan hanya kurang waktu satu minggu dari tanggal gajian. Lalu hitungannya bagaimana, ya?" kali ini gadis itu tidak berbohong karena memang dia belum mendapatkan gaji dari restoran tempatnya bekerja.


"Sudah, ikhlaskan saja jika tidak dibayar, lagian anggap saja upah mereka yang sudah membawamu ke rumah sakit. Jika terlambat sedikit saja,, entah apa yang akan terjadi pada kalian," ucap El yang terus menatap lekat wajah istrinya.


"El, kamu Kenapa melihatku seperti itu? Aku kan jadi malu?" Adelia menutup muka mengunakan tangannya.


"Tidak usah di tutup, aku hanya ingin bertanya," El menurunkan tangan istrinya kebawah. "Apakah kamu percaya padaku untuk bekerja, agar bisa menafkahi kalian?" tanya El memastikan.


"Apa maksudmu? Kenapa bertanya seperti itu?" bukannya menjawab, tapi si ibu hamil kembali bertanya.


"Ya... aku takut kamu ragu dan tidak percaya padaku," jujur El karena sejujurnya dia sendiri saja ragu pada kemampuannya sendiri. Tadi saat mengguyur tubuhnya dibawah shower. Elvino memikirkan bagaimana jika dia membuat kekacauan di perusahaan sang ayah yang pastinya akan turun kepadanya.


"Apa kamu ragu pada dirimu sendiri?" Adel kembali bertanya. Dia tetap wajah El yang juga lagi melihatnya tanpa berkedip.


"Eum... sejujurnya iya, aku takut membuat perusahaan kacau, Del. Bukan hanya aku yang malu karena dihujat oleh karyawan papa. Akan tetapi papa pasti akan lebih malu lagi punya anak sepertiku," terdengar El berungkali menarik nafas dalam-dalam lalu ia hembuskan dengan perlahan.


"Jika dirimu sendiri ragu pada kemampuan mu. Lalu bagaimana akan berhasil." jawab Adel kembali terngiang ucapan Nyonya Risa ibu mertuanya.


"Mama mohon, Nak. Mama sangat yakin jika kamu benar-benar gadis yang dikirim Tuhan untuk putra Mama. Elvino biasanya jangankan bekerja. Datang ke perusahaan saja dia tidak mau." itulah salah satu percakapan antara Adel dan mertuanya tadi.


"Adel, kamu kenapa?" suara El membuat Adelia tersadar dari ingatannya.


"Baiklah, aku akan mencobanya. Demi mama dan papa. Aku akan mencoba keberuntungan ku," gumam gadis itu menatap kearah suaminya lagi.

__ADS_1


"El, aku sangat percaya bahwa kamu pasti bisa. Berusahalah! Ingatlah, jika kamu gagal siapa yang akan membiayai kami. Apakah aku harus bekerja lagi? Soalnya aku malu bila papa yang membiayai semua kebutuhanku," ucap Adelia tersenyum memberikan semangat nya.


"Eh, tidak, tidak! Kamu tidak boleh bekerja. Biarkan aku yang berusaha," cegah Elvino cepat.


"Akan aku buktikan bahwa aku adalah suami dan ayah yang membanggakan untuk kalian," mendengar perkataan Elvino. Tiba-tiba hati Adelia terasa bergemuruh.


"Apa yang dia katakan? Apakah yang dikatakan oleh mama tadi benar. Bahwa El sangat menyukai anak-anak?" gumam si ibu hamil menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan wajahnya yang terasa panas.


"Adel, ka---"


"Aku lapar, ayo kita makan! Nanti kita bicara lagi," selanya karena tidak ingin melanjutkan pembicaraan mereka sekarang.


"Astaga! Maaf, aku lupa," seru El berdiri dan tidak lupa dia mengulurkan tangannya buat membantu Adel berdiri. Meskipun ragu-ragu Adelia pun menerima uluran tangannya.


Benar kata Nyonya Risa, seiring berjalannya waktu. Mereka berdua tidak sadar bahwa sudah seringkali bersentuhan pisik.


"Apakah mama sendiri yang membawa semua makanan ini?"


"Tidak! Mama ditemani oleh pelayan. Ayo makanlah!" ajak gadis itu mulai mengisi piring untuknya sendiri. Namun, dia urungkan dan malah diberikan pada suaminya.


"Kenapa malah mengisi punyaku, ambil untukmu saja. Kamu yang harus banyak makan," ucap El yang tidak dihiraukan oleh Adel.


Dia memilih diam saja karena mungkin sudah terbiasa seperti itu. Namun, sesekali dia mencuri-curi pandang kearah Elvino. Hal serupa dilakukan oleh El. Hanya saja mereka berdua tidak saling tahu.


Selama makan, mereka berdua hanya saling diam tidak berbicara apa-apa lagi. Begitu selesai ElVino langsung menelepon kebawah. Agar asisten rumah tangga datang untuk mengambil piring bekas mereka makan dan juga sisa makanan yang tidak habis.


"El, apakah kamu tidak belajar?" tanya si ibu hamil yang duduk di sofa melihat suaminya berjalan kesana-kemari. Seperti sedang mencari sesuatu.


Ceklek!


"Masuklah! Bawa saja semuanya," titahnya pada dua orang pelayan.


"Iya Tuan, kami permisi," jawab si pelayan karena sebetulnya mereka tidak berani memasuki kamar tuan muda mereka.


"Maaf, Nona," ucap mereka lagi begitu melihat Adel sedang duduk di atas sofa.


"Iya, tidak apa-apa, ambil saja," kata gadis itu tersenyum ramah.


"Adel tidak sama seperti gadis lain. Biasanya jika gadis biasa menikah dengan orang kaya akan sombong dan serakah. Tapi Adel justru malah sebaliknya. Dia bahkan tidak mau membebani papa." gumam Elvino yang lagi mencari ponselnya yang lupa ia taruh dimana.


"Permisi Nona, Tuan Muda," pamit mereka meninggalkan kamar tersebut. lalu Elvino pun yang tidak ingin istrinya kelelahan. Kembali menutup pintu kamar mereka dan langsung menguncinya.


"Kamu belum mau tidur?" tanya El yang duduk disebelah Adel dan mulai membuka Laptop untuk mulai belajar lebih dulu. Sekarang dia tidak bisa bermain-main seperti biasanya.


"Belum mengantuk, aku akan duduk di sini saja sambil menemani mu belajar,"


"Oke baiklah! Tapi apabila kamu sudah mengantuk, pindah saja ke tempat tidur, karena aku sudah biasa tidur larut malam."

__ADS_1


"Huem! Aku juga tahu," Adelia mengangguk setuju.


Namun, baru saja Elvino belajar. Ponsel nya sudah terdengar berbunyi kecil. Ternyata benda pipih tersebut ada dibalik tubuh istrinya.


"El, ponselmu berbunyi," ucap Adel seraya menggeser kan tubuhnya kearah samping.


"Tolong angkat, itu siapa yang menelepon." titah pemuda itu karena dia lagi pusing membaca Email yang dikirimkan oleh kedua sahabatnya tadi siang. Yaitu Email contoh skripsi punya mereka berdua.


"Adel, siapa yang menelepon?" tanya Elvino karena istrinya hanya diam saja.


"Apa aku bisa mewujudkan impian mama? Bila pacar El ada dimana-mana," gumam Adel langsung memberikan ponsel tersebut pada suaminya.


"Ini, angkat saja. Sepertinya dari para pacarmu," seloroh Adel degan sengaja menekankan kata para pacarmu.


"Apa, pacar? Aku tidak memiliki pacar lagi." jawab Elvino jujur dan melihat siapa yang meneleponnya malam-malam seperti ini.


"Siksa, mau apa dia? Nomornya sudah aku hapus dan blok. Tapi kenapa malah mengunakan nomor baru lagi," rutuk Elvino menaruh kembali ponsel tersebut diatas meja samping laptopnya.


"Adel, dia bukan pacarku. Tapi salah satu mantan pacarku sekitar satu tahun lalu," jelas Elvino yang tidak ingin Adelia salah paham. "Padahal aku sudah memblokir nomornya lagi," lanjutnya yang membuat Adel langsung menoleh kearahnya.


"Kenapa kamu menjelaskan padaku?" Adel bertanya seperti itu karena sudah ada dalam surat perjanjian jika mereka tidak boleh ikut campur urusan masing-masing.


"Apa kamu ingin tahu alasannya?" sebelum menjawab ElVino bertanya lebih dulu.


"I--iya," Adel tersenyum paksa.


"Aaaaa... kamu jangan tersenyum seperti ini dihadapan pria lain. Karena akan terlihat menggemaskan," ucap Elvino menarik kedua belah pipis istrinya yang mulai tembem mengikuti perutnya yang semakin hari semakin besar.


"El, sakit," seru Adelia mengelus pipinya sendiri.


"Maaf, aku hanya gemas," menjawab jujur. Lalu El menatap istrinya serius.


"Adel, tadi kamu ingin tahu kan kenapa aku berkata jujur dan menjelaskan semuanya padamu?"


"Iya, ayo cepat katakan," desak si ibu hamil tidak sabar.


"Alasannya karena aku tidak mau kamu dan anak kita sampai kenapa-napa. Aku tidak ingin kamu memiliki perasaan cemburu terhadap para mantan pacarku," El tergelak karena melihat wajah serius istrinya.


Sehingga dia mendapatkan pukulan dari Adelia. Bagaimana mungkin dia memiliki kepercayaan yang tinggi. Sehingga mengira Adel akan cemburu padanya.



"El, ternyata kamu---"


"Hayo, aku apa? Kamu mau bilang kalau aku tampan," sela El menahan kedua tangan istrinya.


Sehingga mereka berdua saling pandang dengan jantung berdebar-debar tidak menentu.

__ADS_1


"Kenapa dia menatapku seperti itu? El tidak mau berbuat macam-macam, kan?" tanya Adel balas menatap Elvino. Andaikan Elvino dan dia dipertemukan dalam keadaan baik. Mungkin sudah sejak awal dia akan jatuh cinta.


...BERSAMBUNG......


__ADS_2