
💝💝💝💝💝💝💝
...HAPPY READING......
.
.
"Iya, Mama tahu itu, makanya ingin Bibi Miss yang menemani Adel sampai keadaanya benar-benar pulih. Jika Raya anaknya kalau sudah tidur susah bangunnya. Jadi Mama tidak percaya jika dia yang menemani istrimu," tutur Nyonya Risa panjang kali lebar.
Bukannya beliau tidak boleh El mengajak Adel tidur satu kamar. Justru itulah do'a beliau. Namun, mengigat jika keadaan menantunya tidak boleh ada beban pikiran. Membuat wanita tersebut menolaknya. Nyonya Risa tidak mau terjadi sesuatu pada menantu dan cucunya.
"Benar apa yang dikatakan oleh Mama kalian, El. Biarkan Bibi Miss yang menemani Adel." timpal Tuan Arka karena beliau memiliki pikiran yang sama dengan istrinya. Bibi Miss adalah anak dari asisten rumah tangga mereka yang pertama. Dia umurnya sekitar tiga puluh tahunan.
"Adel, kamu mau kan tidur di kamarku saja. Agar aku bisa membantu mu?" tanya Elvino benar-benar tidak setuju jika istrinya tidur bersama Bibi Miss.
"Aku... aku, eum---"
"Bilang saja tidak Kak, nanti kak El nakalin Kakak bagaimana," sambung Raya yang ikut duduk disamping ayahnya.
"Kamu mau kan? Aku berjanji tidak akan ngapa-ngapain kamu. Aku hanya khawatir sama kalian," El kembali menyakinkan sang istri dan tidak mendengar perkataan adiknya.
"Adel, bagaimana, Nak? Mama tidak boleh kamu tidur sendiri. Jadi putuskan mau pindah kamar ke kamar El, atau ditemani Bibi Miss?" Nyonya Risa bertanya pada menantunya langsung.
"Bagaimana ini? Jika aku lebih memilih ditemani Bibi Miss, maka El pasti akan kecewa. Sepertinya dia begitu berharap aku tidur bersamanya." gumam gadis itu dilema akan memilih yang mana.
"Baik papa, mama dan Raya sepertinya tidak percaya pada ucapan Elvino. Mereka pasti takut El melakukan sesuatu padaku. Lalu hati El pasti sakit karena keluarganya sendiri tidak percaya padanya." Adelia masih terus bergumam karena dia sedang mempertimbangkan jalan baiknya.
"Adel, jika kamu mau di temani Bibi Miss, juga tidak apa-apa. Jagan jadikan sebagai beban pikiran mu," ucap Elvino karena baru sadar. Hal wajar saja jika keluarganya tidak percaya padanya.
"Tuh, El akhirnya mengerti, Nak," ujar Nyonya Risa bertepuk tangan.
"Eum... Adel mau ditemani El saja, Ma," jawab Adelia karena tidak mau membuat El inscuer pada dirinya sendiri.
"Apa! Kamu yakini, Nak?" seru Tuan Arka dan Nyonya Risa secara bersamaan.
"Kak, Kakak tadi tidak salah minum obat, kan? Apakah Kakak tidak terpaksa nih?" seloroh Raya yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari kakaknya.
"Tidak, Kakak tidak salah minum obat, dan sangat yakin," jawab Adel mantap.
"Aku yakin bahwa El tidak akan melakukan sesuatu padaku. Jika dia se-brengsek itu. Maka ketika kami tinggal di Apartemen, El pasti sudah melakukannya. Tapi ini dia malah merawat ku dengan baik," ucap Adelia didalam hatinya.
"Tu kan, Adel nya saja mau kok satu kamar sama El," ucap pemuda itu tersenyum penuh kemenangan.
"Jika aku tolak tinggal satu kamar dengannya. El pasti akan bersedih karena hal ini," di dalam hatinya Adelia sedikit menyugikkan senyum. Sebelum tangannya sudah ditarik pelan oleh Elvino.
"Ayo kita ke kamar, kamu harus banyak-banyak istrirhat," ajak pemuda itu yang tidak sabar untuk membawa sang istri ke kamar nya.
"Se--sekarang! Tapi kita---"
"Pergilah, Nak. Sekarang kamu memang harus banyak-banyak istirahat. Nanti makan malamnya akan Mama antar ke kamar kalian," titah Nyonya Risa tersenyum lebar.
Tidak disangka-sangka jika Adelia akan memilih tinggal satu kamar dengan Elvino daripada bersama Bibi Miss. Apapun alasannya yang jelas beliau sangat bahagia.
"Iya, Ma. Eum... Pa, Dek, kami ke kamar dulu," pamit Adel sopan. Lalu diapun berjalan beriringan menuju lantai atas tempat kamar mereka berada.
"Pa, coba lihat, hubungan mereka berdua semakin dekat," seru Nyonya Risa kegirangan.
"Huem, iya. Kamu benar, Sayang. Semoga sebelum anak mereka lahir. Kedua orang tuanya sudah memiliki perasaan satu sama lain," jawab Tuan Arka yang begitu banyak menanggung beban pikiran.
"Papa sama Mama tenang saja, Raya yakin sebelum Kak Adel melahirkan, Kak El pasti sudah menjadi bucin akut," sahut gadis Wijaya itu tergelak sendiri. Tidak bisa ia bayangkan seorang playboy cap kampak akan menjadi bucin akut.
Sementara itu kembali ke Adelia dan Elvino.
"Aku gendong saja, ya," ucap El masih menuntun pelan tangan sang istri menaiki anak tangga satu persatu.
"Tidak perlu! Jika lelah aku akan berhenti, jadi tenang saja," tolak si ibu hami cepat.
"Baiklah! Tapi jangan terlalu dipaksakan," El yang sejak tadi memaksa akhirnya mengalah juga.
__ADS_1
"Langsung ke kamarku saja, ya," ucap El karena mereka sudah tiba dilantai atas.
"Lalu pakaian ku bagaimana," Adelia menahan tangan Elvino begitu melewati pintu kamarnya.
"Dirumah ini banyak para asisten rumah tangganya. Jadi jangan khawatirkan hal itu. Jika tidak, nanti setelah istirahat aku juga bisa memindahkan barang-barang mu ke kamarku,"
"Eum... yasudah!" kata si ibu hamil menurut saja. Sehingga El pun kembali membawa sang istri kearah kamarnya.
Ceklek!
"Selamat datang, Nona muda! Ayo masuk," ucap Elvino mempersilahkan istrinya dengan sebutan nona muda.
"Wah, kamarmu kenapa warna catnya sama seperti di Apartemen?" seru Adelia menatap pada seluruh ruangan tersebut.
"Karena aku suka warna seperti ini," jawab El langsung menuntun Adel kearah tempat tidur. Agar si ibu hamilnya segera beristirahat.
"Istirahat ya, tapi jangan tidur. Ibu hamil tidak boleh tidur jam segini," ucap si ayah siaga menasehati.
"Huem, terima kasih, ya. Maaf aku jadi banyak merepotkan mu---"
"Tidak usah berterima kasih, karena kita sama-sama sudah saling bantu. Terima kasih juga karena kamu membuatku menjadi semagat untuk mengerjakan skripsi," sela Elvino ikut duduk di kursi yang ada disampingnya ranjang tempat tidur.
Jarak dia dan Adel tidak terlalu jauh, sehingga mereka masih bisa mengobrol dengan nyaman.
"Soal itu aku tidak membantumu, kan kamu sendiri yang ingin menyelesaikannya. Jadi semagat aja, karena aku yakin bahwa kamu bisa," Adelia tersenyum saat berkata demikian.
Sehingga membuat Elvino menatapnya lekat. Untungnya si ibu hamil tidak melihat kearahnya, karena Adel lagi memperhatikan kuku-kuku tangannya yang panjang.
Adel tersenyum agar Elvino bisa semagat. Tidak seperti waktu mereka di rumah sakit. Sudah seperti orang yang lagi datang bulan.
"Kenapa aku baru sadar bahwa dia cantik juga, ya? Perasaan waktu itu tidak secantik sekarang. Atau jangan-jangan bawaan si bayi yang membuat aura mamanya jadi cantik juga. Aaaa... kalau begitu dia memang anakku," gumam El tersenyum-senyum sendiri.
"Iya, ada apa? Apakah kamu menginginkan sesuatu?" bertanya penuh semangat karena keyakinannya Adelia terlihat cantik gara-gara bawaan bayi.
Jadi Elvino menebak bahwa itu pasti memang benar anaknya. Soalnya dia saja tampan, jadi sudah pasti si bibit kecebong nya akan cantik dan tampan sama sepertinya.
"Ais, kamu ini memangnya aku ini selalu kelaparan apa. Setiap aku panggil pasti bertanya mau apa," Adel mengerucut bibirnya.
"Ya, mana tahu kan, aku takut kamu menahan diri tidak bilang padaku mau makanan apa," jawab El tidak bisa menyurutkan senyumnya.
"Tidak, nanti bila aku ingin sesuatu aku akan bilang padamu," Adelia menatap pada jam dinding dan berkata. "Sudah setengah enam, apa kamu tidak mau mandi?"
"Tentu saja mau mandi, tapi sebentar lagi." jawab El sambil melepaskan jaket yang ia pakai.
"Besok aku akan mulai bekerja, kamu dirumah sama mama," ucap El karena dia belum memberitahu istrinya jika besok mau mulai bekerja.
"Apakah tidak kuliah dulu?" Adel menatap kearah Elvino yang kebetulan juga melihat kearahnya.
"Rencananya aku akan libur kuliah selama tiga atau sampai empat hari ke depan. Soalnya besok Adalah hari pertama aku bekerja. Kata papa harus datanya pagi. Biar rekan kerjaku bisa memberitahu apa saja yang harus aku kerjakan." tutur si tampan Elvino.
Ternyata niatnya ingin bekerja demi kesehatan istrinya. Benar-benar sudah bulat tidak bisa digoyahkan lagi. El akan bertanggung jawab penuh sampai Adel melahirkan bayi tersebut.
"Lama sekali, lalu jika seperti itu kuliahmu akan terbangkalai dan bagaimana kamu bisa menyelesaikan skripsi bila waktunya sudah tersita untuk bekerja di perusahaan?" meskipun Adel tidak tahu banyak tentang masalah kuliah dan pekerjaan di perusahaan. Tetap saja Adel memperingati suaminya.
"Aku hanya libur tidak berangkat ke Universitas saja. Tapi akan tetap belajar secara online malam harinya." Elvino tersenyum kecil.
Entah mengapa mendengar semua perkataan Adelia. Selalu membuat dia merasa bahagia. Soalnya meskipun terkadang Adel bersikap begitu menyebalkan. Akan tetapi gadis itu sering menasehati dirinya walaupun secara tidak langsung.
Jadi dikit demi sedikit, seiring berjalannya waktu. Elvino pun mulai memikirkan bahwa apa saja yang dikatakan oleh Adelia selalu benar.
"Oh, baguslah kalau malamnya akan tetap belajar. Kamu tidak perlu khawatir karena aku akan menemanimu saat belajar," Adelia tersenyum manis karena dia memang sangat ingin Elvino bisa menjadi kebanggaan kedua mertuanya.
"Asiiap! Sepertinya aku akan semagat bila belajarnya ditemani oleh mu," El ikut tersenyum. Lalu karena hari sudah mulai gelap. Pemuda tampan itu bersiap-siap mau membersihkan tubuhnya.
Soalnya sejak pagi Elvino memang belum mandi lagi. Sedangkan Adelia sudah mandi di rumah sakit. Takutnya bila dia belum mandi dari sana, malah ke malam man sampai rumah.
__ADS_1
Gara-gara setiap hari mendengar nasehat dari para dokter yang memeriksa keadaan istrinya silih berganti. Membuat Elvino tahu banyak tentang cara merawat ibu hamil. Dari apa saja yang boleh dan tidak bolehnya. Sehingga waktu mandi yang dianjurkan saja dia juga paham.
"Aku mandi dulu, ya. Jika kamu jenuh ini remote televisi nya. Hidupkan saja agar tidak kesepian." ucap Elvino memberikan remote televisi pada istrinya.
"Iya, terima kasih," jawab Adel menerima remote tersebut. Meskipun dia tidak mau menonton televisi.
Setelah itu Elvino pun mengambil handuk terlebih dahulu dari dalam lemari. Baru setelahnya dia bergegas untuk membersihkan tubuhnya.
"Benar dugaanku, Elvino sebetulnya adalah pemuda baik-baik, sama seperti papa, mama dan Raya. Hanya saja selama ini mungkin dia bandel karena merasa dimanja. Ingin ini dan itu tinggal tunjuk saja." gumam Adelia menatap punggung suaminya yang sudah hilang dibalik pintu kamar mandi.
"Semoga anakku ini memang anaknya Elvino, karena jika Aiden dan Hendra aku tidak tahu seperti apa lagi sifat mereka. Mungkin lebih baik dari El, atau lebih gila lagi," Adel mengelus perutnya yang sudah membuncit.
Tok!
Tok!
Saat dia masih bergumam sendiri. Pintu kamar ada yang mengetuknya dari luar. Sehingga membuat Adel berjalan untuk membuka pintu tersebut. Rasanya tidak sopan saja apabila menyuruh orang yang mengetuk masuk sendiri.
Adelia takut bila yang datang itu adalah ibu mertuanya. Adel sangat menghormati wanita paruh baya itu dan juga Tuan Arka. Mereka menyanyangi Adel seperti putrinya sendiri.
Saking baiknya Nyonya Risa. Disaat pulang dari luar negeri dia membelikan oleh-oleh buat Adel dan adik iparnya dengan model yang sama dan harganya juga.
Bukan sekali dua kali juga beliau membelikan Adelia dress ataupun barang-barang lainnya yang keluaran terbaru. Dengan harga tentunya tidak bisa dibeli oleh kaum rebahan.
Nyonya Risa adalah ibu-ibu sosialita yang memiliki grup arisan ataupun hal lainnya. Apabila ada barang-barang yang menurutnya cocok untuk sang menantu selalu Ia belikan.
Lalu bagaimana mungkin Adelia tidak menyayangi keluarga suaminya seperti orang tuanya sendiri. Apalagi dia memang sudah tidak memiliki keluarga selain Paman Hasan dan Tante Mona.
Kleeek!
"Mama," sambut Adel membuka lembar pintu kamar tersebut. Soalnya sang ibu mertua membawa makan malam untuk nya dan Elvino. Dari mana Adel tahu bahwa makanan tersebut juga untuk suaminya? Karena selain piringnya ada dua. Makanan yang dibawa oleh Nyonya Risa dan asisten rumah tangga yang mengikutinya dari belakang cukup banyak. Tidak mungkin jika itu hanya buat Adel sendirian.
"Kenapa Mama repot-repot sekali membawa makanan sebanyak ini. Adel kan masih bisa turun bersama Elvino, Ma."
"Mama tidak merasa direpotkan, justru mama merasa senang bisa merawatmu dengan baik," jawab Nyonya Risa menurunkan nampan yang ia bawa ke atas meja sofa yang ada di dalam ruangan itu.
"Bibi, tolong taruh dan siapkan di sini. Biar tuan dan nona muda tinggal makan saja," ucap beliau pada asisten rumah tangganya.
Apabila lagi berbicara dengan para pekerja di rumah nya. Nyonya Risa memang selalu mengatakan bahwa Adelia adalah nona muda, sama seperti Raya putrinya.
Agar tidak ada yang berani mencemooh sang menantu yang hanya berasal dari keluarga biasa. Sebab keluar Wijaya tidak pernah memandang rendah seseorang hanya karena derajat mereka lebih tinggi.
"Baik, Nyonya," jawab si Bibi mulai menata degan rapi. Lalu setelah selesai dia berpamitan untuk pergi dari sana, karena harus membantu rekan kerjanya menyiapkan makanan di meja makan juga.
"Mama," seru Adelia langsung memeluk tubuh ibu mertuanya. Dia benar-benar merasa malu diperlukan seperti nona muda pada umumnya.
"Eh, tidak boleh menangis! Nanti debay nya ikut bersedih karena mamanya menangis." ujar beliau tersenyum karena Adelia malah menangis dalam pelukannya.
"Tapi Mama yang membuat Adel menangis. Mama sangat baik, Adel tidak bisa membalas kebaikan yang Mama berikan karena yang ada, Adel selalu menyusahkan kalian semua."
"Suuuit! Tidak boleh berbicara seperti ini lagi, ya. Kamu adalah Putri Mama juga, sudah seharusnya Mama merawat putri sendiri, kan." kata beliau menghapus air mata sang menantu.
"Namun, jika kamu ingin membalas sendiri. Maka jadilah menantu Mama untuk selama-lamanya," akhirnya Nyonya Risa menyampaikan juga permintaan yang sudah lama ia tahan.
Padahal tadi dia tidak berniat untuk mengungkapkan sekarang. Akan tetapi karena waktunya secara kebetulan mengarah dengan niat baiknya. Beliau pun langsung meminta agar Adel mau menjadi menantu mereka untuk selama-lamanya.
"Ma--maksud Mama menantu seperti apa? Bukannya sekarang Adel juga sudah menjadi menantu dirumah ini?" Adel melepaskan pelukannya dan menatap sang ibu mertua menunggu jawaban atas perkataan Nyonya Risa.
"Iya betul sekarang kamu memang sudah menjadi menantu di rumah ini, Nak. Akan tetapi semua itu ada batas waktunya," jawab Beliau yang langsung membuat Adel menundukkan kepalanya.
"Iya, aku hanya menantu selama beberapa bulan lagi. Setelah anakku lahir, maka kami akan meninggalkan keluarga ini," gumam Adelia yang lupa akan hal itu.
"Mama ingin kamu menjadi putri dan menantu Wijaya untuk selama-lamanya. Mama berharap jika kamu dan El tidak pernah berpisah," ungkap beliau menyampaikan juga keinginan dia dan suaminya.
...BERSAMBUNG......
Ini buat Event nya ya kak, Mak Author mohon maaf karena kemaren ada kehilafan saat menentukan bulannya. Ini sudah peraturan seperti biasanya. Giveaway akan ditentukan selama satu bulan. Terima kasih 🙏😘😘😘
__ADS_1