Dia Juga Anakku

Dia Juga Anakku
Adel Pulang.


__ADS_3

💝💝💝💝💝💝


...HAPPY READING......


.


.


Hari sudah berganti hari. Tidak terasa sudah empat hari Adelia dirawat dirumah sakit Hospital Center. Sore ini dia sudah diperbolehkan pulang. Asalkan tidak boleh kelelahan dan banyak beban pikiran.


Soalnya keadaan kandungan gadis itu sangat lemah. Makanya dia dirawat sampai beberapa hari.


Selama itu pula Elvino dengan sabar dan setia menemani sang istri. Bukannya Tante Mona tidak ingin menemani keponakannya. Namun, beliau juga memiliki dua orang anak dan suaminya yang harus diurus di setiap harinya.


Padahal walaupun Tante Mona bisa. Tentu Elvino akan melarangnya, karena tidak ingin menyusahkan mamanya ataupun Tante Mona. Sedangkan dia sendiri masih bisa menjaga istrinya sendiri.


Semenjak Adelia masuk rumah sakit, El juga belum ada masuk kuliah lagi. Namun, dia sudah datang ke Universitas tempatnya menimba ilmu. Agar dosen mengizinkan dia belajar lewat online saja.


Jika hanya Elvino yang meminta Izin, tentu pihak kampus tidak akan percaya begitu saja. Namun, karena Tuan Arka sendiri yang meminta agar putranya diberi izin. Jadinya permintaan El disetujui oleh pihak kampus.


Akan tetapi malah ada bagusnya Elvino belajar online, karena nilai pemuda itu menjadi sedikit membaik. Itu semua karena dia benar-benar belajar dengan serius ditemani oleh istrinya yang dirawat.


Kata Dokter Kandungan yang sudah direkomendasikan oleh Tuan Arka untuk memantau kesehatan menantu dan cucunya. Semua yang terjadi pada Adel karena usianya masih muda. Soalnya tidak semua wanita memiliki tubuh sehat saat hamil dan biasa-biasa saja.


Ada juga diumur tujuh belas tahu sudah hamil. Tapi mereka baik-baik saja, karena rahimnya kuat tidak lemah seperti Adel.


Agar ada yang menjaga Adelia ketika Elvino bekerja. Pasangan suami-istri itu akan pulang ke kediaman orang tuan Elvino untuk sementara waktu. Namun, hanya sampai keadaan Adelia benar-benar pulih. Setelah itu mereka akan kembali ke Apartemen lagi.


Bukan Adelia tidak mau terus-terusan tinggal bersama sang mertua. Tapi dia memikirkan suaminya yang kuliah dan bekerja. Jika dari Apartemen ke universitas itu tidak terlalu jauh.


"Apakah tidak ada yang ketinggalan lagi?" tanya Nyonya Risa pada putranya yang baru kembali dari mengantar barang-barang, selama Adelia dirawat disana. Yaitu mengantar ke mobilnya yang sudah terparkir di depan rumah sakit tersebut.


"Sepertinya sudah semua, Ma," jawab El sambil menerima kursi roda dari perawat. Agar sang istri tidak berjalan sendiri. Apalagi tempat mereka saat ini berada dilantai empat rumah sakit tersebut. Meskipun ada lift tetap saja akan terasa jauh bagi pasien yang baru sembuh.


"Ya sudah, jika semuanya tidak ada yang ketinggalan lagi. Ayo kita pulang sekarang, nanti malah keburu malam," ajak Nyonya Risa degan senyum tak pernah lepas dari wajahnya.

__ADS_1


Bagaimana dia tidak merasa bahagia, melihat perhatian sang putra. Pada menantu kesayangannya. Ditambah sekarang mereka akan tinggal satu rumah. Jadi beliau memiliki banyak kesempatan untuk memenuhi ngidam menantunya.


Hal yang sederhana menurut orang lain. Tapi sangat membahagiakan bagi ibu-ibu sosialita tersebut. Sekarang Raya sudah besar, gadis itu selalu sibuk dengan sekolahnya. Jadi Nyonya Risa kesepian, tidak memiliki teman.


"Iya, Mama benar," jawab El sudah meletakan kursi roda tepat di samping ranjang Adelia.


"El, aku bisa turun sendiri," ucap gadis itu karena El selalu memperlakukannya seperti orang yang masih sakit parah.


"Diam, jangan banyak protes," Elvino tidak menghiraukan ucapan sang istri. setelah Adelia duduk dengan benar dia pun mendorong sendiri istrinya.


Diikuti oleh Nyonya Risa dan perawat dari belakang mereka. Soalnya jika Dokter Arsinta sudah berpamitan ketika memeriksa keadaan Adel tadi siang.


Saat melewati koridor rumah sakit sampai tiba ke mobil mereka. Semua mata memandang iri ke arah Adelia. Soalnya menurut mereka, gadis cantik itu sangatlah beruntung. Mendapatkan pendamping hidup seperti Elvino. Seorang suami yang terlihat sangat menyayangi istri dan calon anaknya.


Apalagi yang pernah melihat Elvino membawa Adelia ke taman rumah sakit. Entah itu pas pagi, ataupun sorenya. Pemuda itu tidak ingin istrinya merasa bosan terus-terusan berada didalam kamar rumah sakit.


Dari mana mereka tahu bahwa El, suami Adelia? Jawabanya tentu saja dari perut gadis itu yang membuncit. Jika bukan suaminya, lalu siapa lagi. Sudah pasti calon pewaris Wijaya Group itulah ayah bayi yang dikandungnya.


"Pelan-pelan," ucap Elvino merasa khawatir begitu Adel melangkah masuk kedalam mobil. Padahal dia sudah memeluk tubuh gadis itu dari arah belakang.


"Terima kasih," Adel tersenyum tulus pada suaminya yang hanya mengangguk dan langsung menutup pintu mobilnya.


"Ma, Mama mau sama sopir, kan?" tanya El pada sang mama.


"Iya, Mama mau pulang sama sopir saja," jawab wanita setengah baya itu tersenyum.


"Yasudah, kalau begitu El akan satu mobil sama Adel," imbuh si tampan mengaguk. Tidak masalah mamanya mau pulang dengan siapapun. Toh mereka juga kembali ke rumah yang sama.


"Iya, kalau begitu Mama duluan, ya. Kalian berdua pelan-pelan saja. Jangan sampai menantu dan cucu Mama kenapa-kenapa karena ulah mu yang tidak bisa pelan saat membawa mobil," ucap Nyonya Risa sekaligus memberi ancaman pada Elvino.


Beliau sangat hafal bahwa putranya itu tidak pernah pelan saat mengendarai mobil ataupun motor.


"Ck, mereka istri dan anak Elvino juga. Jadi Mama tidak perlu khawatir. Mana mungkin El akan membahayakan mereka," decak El karena baik papa ataupun mamanya. Selalu saja meremehkan dia dari segi apapun. Salah satunya saat menjaga istrinya sendiri.


"Anakku," gumam Adelia ketika mendengar ucapan suami dan ibu mertuanya. "Mereka semua menganggap bahwa dirimu keturunan Wijaya. Semoga saja benar! Agar aku tidak merasa bersalah saat perpisahan kami nanti," gadis itu kembali bergumam. Saat ini dia sudah duduk didalam mobil dan tingal menunggu suaminya yang masih berada diluar mobil.

__ADS_1


Soalnya Nyonya Risa akan pulang bersama sopir pribadinya. Sedangkan Adelia pulang menggunakan mobil Elvino. Makanya Nyonya Risa begitu berwanti-wanti. Agar El bisa menjaga laju kendaraannya dengan teratur.


"Baguslah kalau kamu sudah tahu tugas seorang suami dan tangung jawab seorang ayah," seru Nyonya Risa sebelum masuk kedalam mobilnya sendiri. Tidak lupa beliau juga melambaikan tangannya ke arah sang menantu, yang juga menatap padanya.


Braaak!


Suara pintu mobil yang ditutup oleh Elvino. Lalu dia mendekati Adelia untuk memasang sabuk pengaman pada tubuh istrinya tanpa berkata apa-apa. Jadi karena hal tersebut Adel sempat memundurkan wajah dengan mata terpejam, karena mengira jika Elvino akan menciumnya.


"Kenapa? Apakah kamu takut aku mecium mu?" seloroh pemuda itu malah tersenyum melihat wajah malu-malu istrinya.


"Eh, tidak! Aku hanya tidak mau mencium bau parfum mu," dusta Adel memaksakan untuk tersenyum. Agar El percaya padanya.


"Benarkah? Kenapa aku tidak percaya, ya?" semakin menggoda karena Elvino adalah seorang Mafianya para gadis. Jadi sangat paham apa yang ada di dalam pikiran mereka.


"Tentu saja benar! Lagian untuk apa aku berbohong padamu," Adelia yang merasa terpojokkan membuang arah pandangannya keluar jendela mobil.


"Ya, ya! Aku percaya padamu yang tidak pernah berbohong. Berbeda denganku, yang selalu berbohong pada siapapun," El mulai menjalankan kendaraan mewahnya. Meninggalkan rumah sakit dan membelah jalanan ibukota menuju rumah kedua orang tuanya.


"El..." seru Adelia melihat kearah suaminya yang lagi menyetir dan memperhatikan kendaraan berlalu lalang di depan mobil mereka. Di sore hari seperti saat ini, jalanan ibukota memang padat oleh kendaraan lainnya.


"Huem, apa istriku?" jawab Elvino tidak tahu apa yang ingin dikatakan oleh istrinya.


"Ais, kamu ini, aku lagi serius," desis Adel karena dia menganggap jika Elvino tengah menggoda nya.


"Iya, serius apa, Huem?" masih degan suara lembutnya.


"Eum... maaf ya, waktu itu aku sering bilang kalau kamu tukang bohong," cicit Adel merasa tertohok setelah mendengar ucapan suaminya tadi.


"Tidak apa-apa, pada kenyataannya aku memang tukang bohong," jawab Elvino karena dia sendiri pun tidak memungkiri hal tersebut.


"Tapi sekarang kan tidak lagi, jadi aku minta maaf saja. Jujur aku senang melihat perubahan mu yang sudah rajin belajar," Adelia tersenyum sambil ikut melihat kearah depan mobil mereka. Tapi Elvino justru menatap kearahnya dan berkata.


"Benarkah?"tanyanya menyakinkan.


... BERSAMBUNG......

__ADS_1


__ADS_2