Dia Juga Anakku

Dia Juga Anakku
Anakku Laki-laki. ( Elvino )


__ADS_3

💝💝💝💝💝💝


...HAPPY READING......


.


.


.


"Benarkah?"tanyanya menyakinkan.


"Huem, iya! Aku perhatikan saat kamu belajar di rumah sakit dan di rumah itu berbeda sangat jauh, El. Saat kamu menjagaku beberapa hari ini, kamu belajar dengan sangat serius. Sedangkan biasanya, paling juga belajarnya hanya sepuluh menit. Lalu sisa waktumu hanya dihabiskan di depan peralatan game mu." ungkap Adel yang membuat El tertawa.


"Ha... ha... Jadi selama ini diam-diam kamu sering memperhatikan aku, ya," tawa pemuda itu yang membuat Adel mengerucut bibirnya ke depan. Sehingga membuat dia sangat menggemaskan dimata suaminya.


Soalnya tidak terima dengan tuduhan suaminya. Adel tidak memperhatikan Elvino, hanya melihat saja ketika sang suami sedang belajar dengan serius.


"Aku tidak pernah memperhatikan mu diam-diam. Jadi berhentilah tertawa," ucap gadis itu jengah.


"Iya, kamu tidak pernah memperhatikan aku secara diam-diam. Tapi kebetulan melihat aku yang belajar dengan serius, kan?" Elvino tersenyum lagi saat berkata demikian.


Mana ada orang yang kebetulan melihat. Tapi begitu memperhatikan perubahan seseorang di sekitar mereka. Namun, agar membuat hati istrinya senang. Elvino berpura-pura percaya saja.


"Iya, aku hanya kebetulan saja melihat mu rajin belajar," kata Adel membenarkan. Lalu saat mereka masih mengobrol seperti mana dua orang sahabat.


Ponsel milik El bergetar, diliriknya sebentar lalu diabaikan begitu saja karena yang menelepon adalah Cica.


Mantan kekasih yang sudah ia putuskan beberapa hari lalu. Mungkin hanya Elvino saja yang memutuskan kekasihnya cukup melalui sambungan telepon saja.


Tttddd!


Tttttddd!


Ponsel tersebut terus bergetar, tapi Elvino membiarkan saja karena malas untuk berbicara dengan sang mantan kekasihnya. Setelah mengatakan putus pada Cica, El lupa untuk menghapus nomor ponsel gadis itu.


Biasanya begitu sudah putus, si tampan Elvino langsung menghapus nomor para mantan kekasihnya. Baginya apabila sudah putus maka jangan harap untuk CLBK lagi. Elvino tidak suka yang namanya ada kata mantan terindah.

__ADS_1


Tttddd!


Ttttddd!


"El, kenapa tidak diangkat? Itu ponselmu terus berbunyi?" ucap Adelia menunjuk ponsel suaminya yang berada pada dasboard mobil dihadapan mereka berdua.


"Aaah, biarkan saja," jawab El malas dan acuh tak acuh.


Ttttddd!


Ttttddd!


"Tapi sepertinya sangat penting, El. makanya orangnya menelpon lagi,"


"Itu dari Cica," jujur El menyebutkan langsung siapa yang menghubunginya.


"Cica?" ulang Adel mengingat-ingat seperti pernah mendengar nama tersebut.


"Iya, Cica. Dia gadis yang bertemu denganmu waktu itu. Saat di pinggir danau," jelas Elvino.


"Oh, gadis yang lagi pacaran dengan mu waktu itu, kan? Pantas saja aku merasa kenal sama namamu," tebak Adelia asal.


"Waktu itu dia belum menjadi pacarku," bantah Elvino, karena memang pada saat itu dia dan Cica belum berpacaran. Bahkan baru kenal.


"Lalu apakah sekarang dia sudah menjadi kekasihmu?" ibu hamil tersebut kembali bertanya.


"Bukan juga, saat ini dia adalah mantan kekasihku,"


"Apa! Hanya secepat itu sudah menjadi mantan lagi?" seru Adelia terbelalak tidak percaya. Jika hanya dalam waktu kurang lebih dua bulan. Cica sudah menjadi mantan kekasih suaminya lagi.


Padahal baru sekitar dua atau tiga bulan lalu suaminya bersama wanita itu.


"Kalau aku boleh tahu, kenapa kalian bisa putus? menurutku dia adalah gadis yang sangat cantik?" tanya si ibu hamil semakin penasaran. Soalnya selama ini dia memang tidak pernah bertanya ataupun ikut campur masalah El yang memiliki banyak kekasih.


Sebab itu sudah menjadi perjanjian saat mereka menandatangani surat kontrak pernikahan. Baik Elvino ataupun dirinya sama-sama tidak boleh ikut campur urusan pribadi masing-masing. Namun, sayangnya semakin hari mereka berdua melupakan apa saja tentang perjanjian yang sudah mereka buat sendiri.


Terbukti sekarang Elvino malah merawat Adelia sebagaimana tanggung jawabnya sebagai seorang suami pada umumnya. Begitupun sebaliknya, selama mereka tinggal bersama. Adelia selalu memasakkan makanan untuk dia dan Elvino.

__ADS_1


Padahal gadis itu sendiri yang membuat syarat agar dia tidak memasak untuk suaminya. Itulah kehidupan, dalam hitungan hari kita tidak tahu jika hati seseorang sudah berubah. Bahkan hitungan jam saja.


Selain pekerjaan itu Adelia juga menyusun baju Elvino ke dalam lemari pakaian. Meskipun bukan Adelia yang mencuci dan mensetrikanya. Akan tetapi tetap saja dia ikut andil dalam mengerjakan pekerjaan tersebut.


"Karena dia memaksa ingin menjengukmu ke rumah sakit. Padahal aku sudah bilang tidak usah datang. Aku tidak suka pada gadis pembangkang sepertinya, Adel. Jadinya ya aku putuskan saja. Daripada dibikin pusing, ya, kan." jawab Elvino mulai memelankan laju kendaraannya.


Soalnya mereka sudah memasuki kompleks perumahan tempat kediaman keluarga Wijaya.


"Hanya karena dia tidak menurut, kamu memutuskan hubungan kalian begitu saja?" sungguh Adelia benar-benar tidak menyangka bahwa Elvino segampang itu memutuskan hubungan bersama kekasihnya.


"Iya, karena aku orangnya tidak pernah bermain dengan perasaan," sambil berbicara, sesekali El mencuri pandang pada istrinya.


Dia melihat si ibu hamil tidak menunjukkan lagi cemburu. Padahal dia sangat berharap itu semua terjadi. Entahlah! Entah mengapa dia memiliki pikiran seperti itu.


"Ya Tuhan! El, kamu tidak boleh mempermainkan perasaan wanita begitu saja. Bagaimana jika mereka benar-benar mencintaimu dengan tulus. Pantas saja ketika membuat kontrak pernikahan denganku, kamu terlihat begitu santai," seru Adelia seraya mengelengkan kepalanya.


"Kenapa jadi bawa-bawa hubungan kita. Pernikahan kita berbeda, tidak sama," bantah pemuda itu langsung.


Sepanjangan perjalanan terus mengobrol. Tidak terasa jika saat ini mereka sudah tiba di halaman rumah orang tua Elvino.


"Ya jelas lah sama, El. Kamu sama-sama mempermainkan perasaan wanita. Lain kali kamu jangan seperti itu lagi. Bagaimana jika Adik atau putrimu yang dipermainkan oleh kekasihnya," niat hati Adel ingin menasehati suaminya.


Akan tetapi siapa sangka jawaban Elvino membuatnya langsung terdiam.


"Raya selalu diawasi oleh Papa, sedangkan anakku nanti adalah laki-laki." jawab El mematikan mesin mobilnya. "Apakah kamu sudah lupa kata ibu-ibu yang kita jumpai di Taman rumah sakit. Wanita paruh baya itu berkata jika kamu sedang mengandung anak laki-laki, kan?" lanjutnya lagi yang membuat Adel menatap lekat mata Elvino.


Mereka sama-sama saling tatap dengan perasaan dan pikirannya masing-masing.


Setelah melihat dan mengetahui sendiri bahwa didalam perut Adel ada nyawa yang bersemayam. Membuat Elvino sering menyebutkan bahwa bayi itu adalah anaknya.


"E--el, kamu ja--jangan---"


Tok!


Tok!


"Kakak, kenapa tidak keluar dari mobil?" kadatang Raya mengalihkan Adelia dari ucapannya. Dia dan Elvino sama-sama seperti orang malu dan bahagia secara bersamaan.

__ADS_1


"Huem... ayo kita turun, si bawel Raya sudah datang," El berdehem terlebih dahulu dan mengajak istrinya untuk turun dari mobil.


...BERSAMBUNG......


__ADS_2