Dia Juga Anakku

Dia Juga Anakku
Hadirku, Menyakitimu.


__ADS_3

💝💝💝💝💝💝


...HAPPY READING......


.


.


Tiga Minggu sudah berlalu. Hubungan Raya dan Arya semakin hari semakin jauh. Semuanya tentu karena Raya sendiri yang membangun tembok antara mereka berdua.


Meskipun Arya sempat sakit selama dua hari tidak bisa bagun-bagun karena ngidamnya. Tetap tidak membuat luluh hati Raya. Sehingga Arya benar-benar mengabulkan permintaan Raya untuk berpisah.


Namun, sampai saat ini pemuda itu masih tetap tinggal satu rumah dan sekamar dengan Raya. Semua itu tentu saja atas permintaan kedua mertuanya.


Nyonya Risa dan Tuan Arka benar-benar tidak mau anak dan menantunya berpisah. Akan tetapi mereka tidak memiliki pilihan lain kecuali membiarkan Raya menentukan pilihannya sendiri.


Hari ini adalah sidang pertama mereka. Perceraian tersebut cepat diproses karena kedua-duanya sama-sama mengajukan gugatan. Jadi segalanya dipermudah, karena takut perut Raya membesar juga bila berlama-lama.


Kleeek!


Suara pintu kamar mandi dibuka oleh Arya yang baru selesai membersihkan tubuhnya. Namun, Raya yang ada di sofa tidak menoleh sama sekali.


Sungguh tidak disangka-sangka. Pernikahan mewah yang awalnya sangat bahagia harus berakhir seperti ini. Arya yang tahu jika dia memang bersalah mau dari sisi manapun. Tidak banyak menuntut agar mereka tidak berpisah.


Tidak membenarkan bahwa tindakannya benar. Walaupun Elvino sendiri sudah mengakui bahwa Arya tidak mungkin melakukan semuanya bila dia tidak bermain-main api degan Almarhumah Cica.


Saat sebelum kejadian naas yang menimpa Raya yang disertai gadis itu mengetahui niat Arya menikahinya. Apabila Arya baru keluar dari kamar mandi seperti pagi ini. Maka Raya akan berjalan mendekati suaminya sambil tersenyum bahagia.


Sekarang mereka tinggal berdekatan. Namun, sengat jauh karena sudah jarang bertegur sapa. Arya juga manusia, apabila terlalu lelah mengalah. Dia juga akhirnya malas untuk menegur Raya lebih dulu, karena gadis itu terkadang tidak mau bicara padanya.


Begitu selesai memakai pakaian kantor. Arya langsung mengeluarkan koper bajunya dari lemari. Lalu tidak banyak bicara dia mengemasi barang-barang miliknya. Hari ini Arya ada rapat dengan Elvino di perusahaan Wijaya group karena perusahaan mereka sudah bekerjasama lima hari lalu.


"Ar, kamu mau kemana?" tanya Raya yang melihat suaminya sibuk mengeluarkan jam, dasi dan pakaiannya. Barang Arya memang tidak banyak yang ada di sana, karena terkadang dia kembali ke Apartemen untuk mengambil barang yang dia perlukan.


"Membereskan barang-barang ku," jawab Arya singkat. Lalu pemuda itu tidak menoleh sama sekali meskipun dia tahu jika Raya berdiri dibelakangnya.


"Aku juga tahu jika kamu lagi membereskan barang-barang mu. Tapi yang aku tanyakan kamu mau---"


"Mulai hari ini aku akan pergi dari rumah ini. Untuk apa aku lama-lama disini bila akhirnya kita juga akan berpisah," sela Arya cepat dengan muka dinginnya.


Bohong bila dia tidak kecewa pada Raya. Namun, karena rasa cintanya yang terlalu besar. Arya cukup menyalahkan dirinya sendiri. Pemuda itu kecewa karena Raya tidak mau memberinya kesempatan. Padahal Arya sudah bilang, setidaknya tolong tunggu anak mereka lahir.


Akan tetapi Raya tidak mau dan ingin cepat-cepat bercerai. Malah gadis itu selalu mendesak bila Arya benar-benar mencintai nya. Maka lepaskanlah dia.


"Tapi hari ini baru sidang pertama, Ar. Entah berapa lama prosesnya berlangsung. Lagian aku tidak---"


"Tetap saja cepat atau lambat kita akan berpisah, kan? Lagian aku harus terbiasa hidup sendiri mulai dari sekarang. Agar nanti saat kita sudah resmi berpisah, aku tidak akan begitu terpuruk," Arya lagi-lagi menyela perkataan Raya.


Lalu karena dia sudah selesai berkemas-kemas. Pemuda itu kembali berdiri dan menatap lekat pada Raya.


"Aku tidak mau hadirku semakin menyakitimu. Aku akan berpamitan pada papa, mama dan yang lainya sekalian. Jadi kamu tidak usah binggung bila ditanya kenapa aku pergi lebih awal," mendengar perkataan Arya membuat Raya juga menatap pada suaminya.


Sehingga tatapan mata mereka bertemu. Dari sorot mata keduanya sama-sama terluka. Namun, apalah daya. Raya yang memiliki sifat sabar, ceria. Sekarang begitu egois tidak mau memberi Arya kesempatan sama sekali.


Walaupun hanya demi anak mereka yang belum lahir. Padahal baik kedua orang tuanya, Elvino maupun anggota keluarga Wijaya yang lain. Sudah menasehati gadis itu. Akan tetapi pendirian Raya untuk berpisah tidak bisa diganggu gugat oleh siapapun.


"Apakah kamu akan kembali ke rumah mami?" tanya Raya setelah Arya membuang arah pandangan matanya lebih dulu.

__ADS_1


"Tidak! Aku akan kembali ke Apartemen ku sendiri. Pulang ke rumah orang tuaku hanya akan membuat mereka bertambah marah saja. Kamu kan tahu sendiri jika mami selalu menyalahkan aku yang sudah mau balas dendam padamu,, atas kematian Kak Cica," jawab Arya tersenyum yang dipaksakan.


Soalnya gara-gara dia dan Elvino. Tuan Arka dan Tuan Yuda ikut menjadi amukan mami dan ibu mertuanya. Karena dianggap bahwa Arya dan Elvino yang selingkuh menurun dari suami mereka.


"Tapi kamu sering sakit, Ar. Siapa yang akan merawat mu bila tinggal sendirian di Apartemen?"


"Hanya sakit karena morning sickness. Bukan sakit yang lainnya. Lagian hatiku jauh lebih sakit karena perpisahan kita yang tidak bisa aku cegah. Namun, anggap saja ini sudah takdir kita," saat berkata seperti itu terdengar jika Arya menghirup nafas dalam-dalam.


Pertanda bahwa pemuda itu tidak baik-baik saja. Mungkin bila tidak ada Raya. Dia akan menangis karena Arya benar-benar tidak mau harus berpisah. Apalagi bila memikirkan nasib anaknya yang akan lahir tanpa orang tua yang utuh.


"Terima kasih untuk kebahagiaan yang kita jalani, walaupun hanya sesaat. Maafkan aku sudah menyakitimu. Maaf karena aku sudah menghancurkan impian mu. Aku menyesali semuanya karena bukan rumah tangga kita saja yang hancur. Namun, juga calon anak kita yang belum lahir harus menjadi korbannya," ungkap Arya yang langsung membuat Raya menagis karena apa yang Arya katakan adalah benar.


Gara-gara mereka yang berpisah. Ada anak yang baru saja lahir harus hadir di antara orang tua yang tak utuh.


"Arya, aku juga tidak pernah menginginkan akhir yang seperti ini. Namun, rasa sakit yang kamu berikan membuatku tidak bisa memaafkan mu begitu saj---"


"Shuuit! Tidak perlu menangis. Setelah ini kamu hanya harus menangis karena bahagia saja. Aku tahu perbuatan ku tidak bisa dimaafkan. Maka dari itu aku melepas mu dan memilih pergi hari ini juga," Arya menunduk untuk menyeka air mata Raya.


"Carilah kebahagiaan mu. Aku akan mendo'akan agar kamu bisa mendapatkan laki-laki yang jauh lebih baik daripada aku. Laki-laki yang mencintaimu dengan tulus, tidak brengsek seperti diriku," ucap pemuda itu sakit melihat hasil dari perbuatan balas dendamnya.


"Dan bila kekasih ataupun suamimu kelak tidak bisa menerima anak kita. Maka kembalikan dia padaku karena aku akan membesarkannya," lanjutnya lagi.


Mendengar ucapan Arya seperti itu bukannya membuat Raya berhenti menagis. Dia justru semakin menangis dan sekarang malah memeluk erat tubuh laki-laki yang masih menjadi suami sah nya.


Namun, kali ini bukan hanya Raya yang menagis. Tapi juga Arya. Pemuda itu ikut menangis dan balas memeluk erat tubuh Raya yang bergetar karena menahan tangisnya.


"Jangan menangis," ucap Arya yang terdengar seperti bisikan di telinga Raya. "Dulu kita menikah secara baik-baik walaupun niat ku tidak baik. Maka sekarang kita juga harus berpisah baik-baik karena hubungan kita tidak bisa putus begitu saja. Ada anak kita yang harus sama-sama kita besarkan. Walaupun tidak tingal serumah," ucap pemuda itu seraya melepaskan pelukan mereka.


"Huem!" Arya berdehem untuk menenangkan hatinya. "Ayo kita sarapan, aku mau berangkat bekerja. Hari ini ada rapat besar-besaran di perusahaan Wijaya group. Sudah cukup aku dipecat sebagai menantu Wijaya. Jangan sampai dipecat sebagai rekan kerja Wijaya juga," goda Arya untuk mencairkan suasana diantara mereka.


Sehingga Raya yang mendengarnya ikut tersenyum dengan air mata yang masih membasahi pipinya.


"Arya... tolong jaga dirimu baik-baik, jangan sampai sakit. Bila tidak ada yang merawatmu maka pulanglah ke sini. Setidaknya sampai keputusan dari pengadilan keluar," pesan Raya yang membuat suaminya hanya tersenyum mendengarnya.


"Ayo, aku takut kesiangan," ajaknya lagi dan Raya hanya mengangguk kecil degan pikiran berkecamuk tidak menentu.


Rasanya dia mau mencegah kepergian Arya. Namun, Raya tidak ada alasan untuk menahannya. Sebab apa yang Arya katakan tadi benar. Cepat atau lambat mereka juga akan berpisah.


Dengan langkah pelan Raya keluar dari kamar. Untuk menyusul keluarga lainnya yang sudah berkumpul di meja makan.


"Pagi semuanya?" sapa Raya hanya menunduk tidak mau menunjukan mukanya yang sehabis menangis. Padahal percuma saja karena tetap akan terlihat.


"Adek kenapa menangis? Apakah karena tidak mau Arya pergi? Jika iya, maka kamu tinggal menelepon Paman Abraham. Katakan padanya bahwa dirimu tidak mau melanjutkan perceraian kalian," tanya Elvino yang terdengar seperti ejekan.


Sedangkan Tuan Arka dan Nyonya Risa hanya diam dengan kesedihan menghiasi wajah tua mereka.


"Adek, minum dulu," ucap Adelia setelah menatap tajam pada suaminya yang selalu menjadi kompor.


"Iya, Kak," jawab Raya tersenyum kecil dan mulai mengisi piringnya sendiri.


"Arya, makanlah yang banyak. Keadaan mu belum sembuh total. Nanti jika sudah tinggal sendirian, apabila mau menginginkan masakan Mama telepon saja. Mama akan membuatnya biar sopir yang mengantar ke sana," pesan Nyonya Risa karena yang mengidam adalah Arya bukan putrinya.


Seringkali Elvino dibuat report karena tengah malam Arya mengidam mau makanan yang tidak ada di rumah utama. Jadinya El yang pergi membelinya karena Arya tidak kuat membawa mobil sendiri.


"Iya, nanti jika mau masakan Mama, Arya mungkin akan datang ke sini langsung," jawab Arya yang lagi-lagi saling tatap dengan Raya.


Gadis itu tidak banyak bicara dan hanya makan dengan serius. Karena tahu bahwa orang tuanya kecewa pada keputusan mereka untuk berpisah.

__ADS_1


"Papa mobil na tablak," saat mereka semua lagi diam seribu bahasa. Eza yang sedang memainkan mobilnya sibuk berceloteh.


"Oh, iya. Tidak apa-apa, Nak. Jika mobilnya yang meledak nanti kita beli lagi karena masih banyak jualnya. Namun, kasihan pak sopirnya karena nyawa itu hanya ada..." El sengaja mengantung ucapannya agar sang putra yang meneruskan perkataannya.


"catu... nyawa ada catu. Kalau dah iyang, dah mati," jawab Eza membuat Elvino tersenyum lebar.


Lalu setelahnya Elvino dan Eza hanya diam sambil menikmati makanan mereka. Begitulah sampai selesai dan mereka kembali berkumpul di ruang tengah.


Sedangkan Raya setelah selesai menghabiskan makanannya. Langsung berpamitan masuk kedalam kamarnya. Walaupun keadaannya sudah sembuh, sampai saat ini Raya memang belum ada berangkat kuliah lagi.


Raya hanya akan belajar lewat online karena semua dosen juga tahu jika si putri bungsu Wijaya itu lagi sakit.


"Ar, apabila mengalami pusing dan mual-mual lagi. Maka cepat minum air hangat seperti biasanya. Jangan paksakan bekerja jika sudah seperti itu dan cepat telepon Sekertaris Demian apabila tidak sanggup," Nyonya Risa yang sangat khawatir pada keadaan Arya kembali berpesan.


Soalnya pemuda itu apabila sudah muntah-muntah, maka tidak akan berhenti sampai Arya harus tidur seharian dalam keadaan tidak makan maupun sekedar minum air putih.


"Iya, Ma. Mama tidak perlu khawatir," jawab Arya singkat. Saat ini mereka sudah selesai sarapan.


"Ar, meskipun hubungan kalian nanti berakhir. Namun, kami tetaplah orang tua mu. Papa sangat berharap kamu meninggalkan rumah ini setelah kalian resmi berpisah saja. Jagan sekarang karena kamu tetaplah masih menjadi suami Raya," ungkap Tuan Arka begitu berat harus melepaskan kepergian menantunya.


"Iya, Pa. Arya akan tetap menjadi anak kalian. Maaf karena perbuatan ku, Raya jadi menderita," Arya menyalami kedua mertuanya.


"Tidak apa-apa, semuanya sudah terjadi," Tuan Arka yang berdiri memberikan pelukan hangat pada Arya sebelum meninggalkan rumah tersebut dengan menarik koper bajunya.


Sedangkan di lantai atas. Tepatnya di kamarnya. Raya menangis melihat kepergian Arya. Maka dari itu dia menghindar saat Arya sudah mau berpamitan.


"Buanglah kenangan diantara kita, Ar. Dirimu yang membuatku sulit untuk memberimu maaf," lirihnya terus menatap mobil Arya sudah sampai pagar mau keluar dari rumah utama.


Tidak berbeda jauh dari Raya. Arya juga menangis didalam mobilnya. Pemuda itu menjalankan kendaraan degan pelan. Sampai-sampai si playboy cap kampak yang mengikutinya dari belakang malah menjadi kesal sendiri. Karena mereka sama-sama menuju perusahaan Wijaya group.


"Huh! Kuatlah, Ar.. Ingat kata Paman Hasan. Jika kami memang berjodoh, maka pasti akan bersatu lagi," ucap Arya menenangkan hatinya.


Tidak lucu kan seorang direktur perusahaan cukup besar. Datang-datang malah mata bengkak karena terlalu banyak menangis.


Sekitar dua puluh menit kemudian. Mobil Arya yang dikawal oleh Elvino sudah tiba di perusahaan Wijaya group. Lalu mereka sama-sama turun karena terlihat mobil pengusaha lain juga sudah datang karena rapatnya akan dimulai jam delapan pagi.


"Ar, jangan terlalu bersedih. Maafkan adikku. Tapi aku sangat yakin dia seperti itu karena sebetulnya masih cemburu pada Manda, bukan karena kamu bohongi saja," Elvino menepuk pelan pundak adik iparnya. Arya hanya mengangguk mengerti.


Setelahnya tidak ada pembicaraan lagi karena setibanya di lantai atas. Mereka langsung menuju ruang rapat. Saat membahas pekerjaan Arya dan Elvino sama-sama harus bersikap profesional.


Keduanya saling serius memberikan usul. Apabila tidak setuju maka akan ada perdebatan. Bila lagi seperti hari ini mereka bukan seperti saudara ipar. Melainkan seperti rekan bisnis biasa.


Sampai jam setengah dua belas siang. Rapat tersebut baru selesai. Arya yang tidak ada keperluan lain langsung saja berpamitan pulang pada Elvino.


Padahal Kakak iparnya sudah mengajak untuk makan siang bersama. Namun, perut Arya yang mual karena mencium berbagai bau parfum saat diruang rapat. Memilih untuk pulang ke Apartemen.


Arya akan menghabiskan harinya untuk tidur. Selain keadaannya yang mengalami morning sickness. Hatinya juga sedang hancur.


Akan tetapi baru sekitar sepuluh menit Arya pulang. Raya sudah mendapatkan telepon dari Elvino, yang memberi kabar bahwa mobil Arya mengalami kecelakaan dan sebagai bukti kakaknya mengirimkan foto koper baju Arya yang hangus terbakar, karena Elvino sudah berada di lokasi.


📱 Raya : "Keadaannya bagaimana, Kak? Arya tidak kenapa-kenapa, kan?" tanya si putri bungsu Wijaya. Sambil menagis bersama mamanya yang hampir drob bila tidak ditenangkan oleh Tuan Arka.


📱 Elvino : "Keadaanya... Kakak tidak bisa menjelaskan nya. Sekarang Adek tenang, jangan shok ingat ada anak kalian dalam kandunganmu. Kakak akan menyusul Arya ke rumah sakit. Kamu bersiap-siap lah karena Sekertaris Demian sudah dalam perjalanan mau menjemputmu," ucap Elvino menenangkan adiknya.


📱 Raya : "I--iya, Raya sudah siap berangkat sekarang," jawab Raya terisak dan mencoba untuk kuat agar tidak pingsan karena dia harus menemui suaminya.


"Ma... Mama tenang, ya. Arya pasti akan baik-baik saja. Raya akan kerumah sakit bersama Sekertaris Demian," ucap gadis itu sudah berdiri dari sofa karena mendengar ada mobil yang berhenti dan tidak menunggu lagi kedua orang tuanya memangil.

__ADS_1


... BERSAMBUNG... ...


__ADS_2