Dia Juga Anakku

Dia Juga Anakku
Demi Adelia.


__ADS_3

💝💝💝💝💝💝


...HAPPY READING......


.


.


Ceklek!


"Sayang, apa yang terjadi? Apa Elvino sudah melakukan sesuatu padamu?" seru Nyonya Risa yang baru saja datang. tadi beliau pergi menghadiri acara peresmian Restoran milik sahabat Tuan Arka. Makanya tidak tahu ketika Elvino menghubunginya.


Sedangkan Raya juga lagi pergi menghadiri acara ulang tahun salah satu teman sekolah. Jadi juga tidak mengetahui bahwa Adelia masuk rumah sakit.


"Adel baik-baik saja, Ma. Maaf sudah membuat Mama repot-repot datang ke sini, mana sudah tengah malam." jawab Adelia merasa bersalah.


"Tidak, Nak! Apa yang kamu bicarakan. Mana mungkin kamu membuat repot. Mama hanya sangat mengkhawatirkan keadaanmu dan si kecil," papar Nyonya Risa yang memperlakukan menantunya itu seperti mana Putri kandungnya sendiri.


"Adel, bagaimana keadaan mu, Nak. Maafkan Papa dan mama yang datang terlambat, karena tidak tahu kamu masuk rumah sakit. Padahal tadi Elvino sudah menelepon, cuma Papa tidak mendengar ponsel berbunyi," sapa Tuan Arka mendekati menantunya.


"Adel baik-baik saja, Pa. Terima kasih sudah datang," gadis itu menyalami ke-dua tangan ayah dan ibu mertuanya. Saat ini posisi Adel sudah dengan posisi setengah duduk. Elvino sudah meminta pada perawat agar menaikkan sedikit ranjang tempat istrinya berbaring.


Guna mempermudah gadis itu saat minum ataupun yang lainnya. Lagian bila posisi duduk akan terasa lebih nyaman. Daripada terus dengan posisi baring.


"Kamu putri kami, jadi buat apa berterima kasih," jawab Tuan Arka tersenyum. Lalu dia berjalan untuk duduk diatas sofa. Beliau tidak ada menegur putranya sendiri. Seolah-olah tidak saling kenal karena kecewa pada sang putra yang terus saja mabuk-mabukan setiap malamnya.


Sementara itu menantunya saja meskipun lagi hamil dan sudah diizinkan untuk meminta apapun. Malah memilih bekerja sebagai pelayan cafe. dengan alasan bahwa dirinya masih mampu untuk bekerja. Dari situlah tuan Arka mulai menyukai Adelia, karena tidak memiliki sifat serakah seperti gadis di luaran sana.


"Ma, papa kenapa dingin banget sama, El?" tanya Elvino pada sang ibu yang lagi berbicara dengan istrinya.

__ADS_1


"Kenapa kamu malah bertanya sama Mama? Coba tanya saja sendiri, mungkin papa sedang kesal dan kecewa padamu," jawab Nyonya Risa kembali mengabaikan Elvino.


"Adel, jika sudah sembuh kamu pulang ke rumah Mama saja ya. Biarkan Elvino tinggal sendirian di Apartemen nya." ucap Nyonya Risa, yang langsung ditolak oleh putranya.


"Eh, tidak, tidak! mana boleh seperti itu. Adel istriku, Mama tidak boleh membawanya," bantah Elvino cepat. Dia tidak akan mengizinkan istrinya pergi kemanapun.


"El, jangan egois kamu, Mama tidak mau anak kalian sampai kenapa-kenapa," sergah Nyonya Risa karena dia begitu mengharap anak yang dikandung oleh Adelia. Tidak peduli itu keturunan Wijaya atau bukan.


"Mama yang egois, El cuma tidak mau Mama membawa Adel tingal di rumah. Lalu salahnya dimana?"


"Tidak ada yang salah, hanya saja Adelia butuh orang yang harus merawat dan membiayai nya. Mama tidak mau Adel bekerja lagi," imbuh Nyonya Risa tidak mau kalah pada sang putra.


Selama ini beliau mungkin terlalu memanjakan Elvino. Sehingga membuat putranya itu begitu nakal. Tapi tidak untuk sekarang, karena Nyonya Risa memikirkan nasib cucunya. Apabila El dan Adelia sudah resmi berpisah, tentu cucunya akan dibawa oleh Adelia. Sebab memang seperti itulah perjanjiannya.


"El yang akan menjaganya," jawab El meninggalkan mamanya yang masih terus mengoceh kesana-kemari. Lalu dia berjalan mendekati sang ayah yang cuek saja mendengar perdebatan antara anak dan istrinya.


"Pa," panggil El sudah duduk dihadapan papanya.


"El mau kerja di perusahaan, Papa," ucapnya dengan yakin. Sehingga Tuan Arka langsung menaruh ponsel di atas meja.


"Apa kamu sedang mabuk?"


"Ck, El lagi serius bukan sedang mabuk," decak pemuda itu karena tahu jika sang ayah lagi mengejeknya.


"Pa!" El hanya mampu bicara dua patah kata. Setelah itu dia terdiam karena tahu diri jika papanya tidak percaya.


"Apa kamu tahu seperti apa orang bekerja? Bekerja itu bukan hanya duduk bersantai bersama para gadis atau minuman, El," seakan lagi memiliki kesempatan. Tuan Arka berkata yang membuat putranya merasa malu. Apalagi sekarang ada Adelia di dalam ruangan itu. Bila hanya bersama orang tuanya Elvino sudah biasa berdebat dan dibilang pemalas. Namun, berbeda untuk saat ini.


"Pa, El serius mau bekerja di perusahaan," sudah kepalang tanggung Elvino membuang rasa malunya terhadap Adelia. Sebab apa yang ia lakukan saat ini juga demi gadis itu.

__ADS_1


"Ha... ha... mau bekerja di perusahaan," tertawa sumbang. "Jika kamu memang serius, maka Papa akan memberikan kamu pekerjaan," jawab beliau tersenyum penuh rencana.


"Papa serius, kan?" seru El tersenyum sebentar. Setelah itu dia tercengang begitu mendengar ucapan ayahnya.


"Tentu saja serius, Papa ini bukan kamu yang tukang bohong," cibir Tuan Arka dan tidak dihiraukan oleh Elvino, yang penting dia bisa bekerja di perusahaan.


"Jika kamu benar-benar serius, maka ada lowongan untuk mu. Tapi sebagai Staf pemasaran,"


"A--apa! Kok Staf pemasaran, Pa? Bukannya pekerjaan itu sangat melelahkan."


"Jika kamu tidak mau lelah, maka tidak usah bekerja. Dengan nilai jelek mu, mau bekerja sebagai apa? Presdir, Manejer, atau sekertaris sekalipun. Maka perusahaan Wijaya akan bangkrut dalam waktu satu Minggu,"


"Tapi El putra Papa, apa Papa tidak malu dilihat oleh karyawan dan rekan bisnis, Papa," mencoba bernegosiasi.


"Tidak! Papa tidak malu bila kamu bekerja sebagai Staf, yang malu itu punya anak pemalas. Anak yang hanya tahu cara menghabiskan uang orang tua," ujar Tuan Arka menatap Elvino yang hanya terdiam.


Biasanya bila dimarah seperti malam ini, maka El lebih baik memilih pergi. Jika tidak dia dan papanya akan bertengkar.


"Pa, kenapa harus Staf pemasaran, sih? Kasihan El belum pernah bekerja, jadi jangan---"


"Semua pilihan ada padanya, jika El benar-benar mau bekerja, biarkan dia mulai dari staf pemasaran. Jika kerjanya bagus, maka Papa akan menaiki jabatannya, sama seperti karyawan lain," sela Tuan Arka tidak bisa dibantahkan lagi.


"El, jika kamu tidak sanggup, tidak usah bekerja saja, Nak," meskipun marah dan ingin menghukum putranya. Tetap saja Nyonya Risa tidak terima bila El bekerja sebagai Staf di perusahaan mereka sendiri.


Sebelum menjawab keputusan yang akan ia ambil. El menatap kearah Adelia yang juga menatap padanya. Gadis itu tidak berani ikut campur karena itu urusan El dan mertuanya.


"Jika aku tidak menerima pekerjaan ini, maka aku akan kerja apa. Kali ini Papa pasti tidak akan main-main dengan ucapannya. Dan bila aku tidak bekerja, maka... Adel pasti akan kembali bekerja. Aku tidak memiliki alasan untuk menahannya di Apartemen," gumam El lagi berperang dengan hatinya sendiri.


"Tidak apa-apa sebagai Staf juga, tapi... tunggu Adel sembuh dulu, jangan sekarang," jawab El yang tidak punya pilihan lain. Kali ini dia harus mengalah demi Adelia dan bayinya.

__ADS_1


...BERSAMBUNG......



__ADS_2