Dia Juga Anakku

Dia Juga Anakku
Restoran Anak Muda.


__ADS_3

💝💝💝💝💝💝


.


.


"El, apakah masih jauh?" tanya Adel karena sudah lebih dari dua puluh menit mereka belum juga sampai.


Cup!


El bukannya langsung menjawab, tapi dia memberikan kecupan pada punggung tangan istrinya yang terus ia genggam sejak tadi. Dia menyatukan tangan kirinya dan tangan kanan Adelia.


Seakan tidak ingin dipisahkan. Elvino yang belum pernah mencintai seseorang ternyata sangatlah romantis pada gadis yang dia cintai. Wanita tempat dia melabuhkan hatinya setelah sekian lama terombang-ambing kesana-kemari menjelajahi petualangan cinta.


"Kenapa? Apa ibu Hamilku sudah lelah?" bukannya menjawab malah El memelankan laju kendaraannya.


"Tidak! Aku hanya penasaran, kamu akan membawaku kemana," jawab Adelia tersenyum karena dia sangat bahagia memiliki suami seperti Elvino.


Meskipun mereka dipertemukan dengan cara tidak baik. Namum, siapa sangka, jika pernikahan yang tadinya terpaksa. Sekarang menjadi saling cinta dan melengkapi kekurangan diri masing-masing.


"Aku hanya akan membawamu ketempat yang indah saja, karena aku tidak ingin membuat Istriku menangis lagi," jawab El ikut tersenyum yang membuat pipi Adel terasa dalam seketika.


"Terima kasih! Aku sangat bahagia bisa bersanding dengan mu," ucap Adel langsung memeluk suaminya karena Elvino memang menghentikan mobilnya di pinggir jalan.


"Aku yang berterima kasih padamu, karena aku tidak akan bisa melewati semuanya bila tidak ada sosok istri seperti dirimu." Elvino balas memeluk istrinya.


Cup!


Si mantan playboy memberikan kecupan pada kening istrinya cukup lama setelah melepaskan pelukan mereka dan diapun berkata.


"Sudah ya, jika mau bermesraan nanti saja. Setelah kita tiba di tempat makan malam nya, atau di kamar sekalian. Agar aku bisa menjenguk baby kita," goda El yang langsung membuat Adel menjauhkan tubuh mereka seraya menutupi mukanya dengan kedua tangannya sendiri.


"Aaaa... El, kenapa kamu bicara seperti itu. Aku kan jadi malu," ucap Adelia yang membuat El tersenyum gemas. Namun, karena saat ini mereka berhenti di tempat agak sepi diapun menjalankan kendaraan mewahnya.


Jika hanya dirinya sendiri El tidak takut sama sekali, karena sedikit banyaknya dia juga masih bisa ilmu beladiri. Akan tetapi bila ada Adelia bersamanya. Tentu Elvino memiliki rasa khawatir yang berlebihan.


"Sayang," panggil Elvino karena takut istrinya susah bernafas karena terlalu lama menutup mukanya sendiri.


"Eum... iya," jawab Adel yang kebetulan merasa lebih baik lagi dan dia kembali duduk seperti semula. Sehingga Elvino bisa mengetahui istrinya lagi menangis atau hanya menyembunyikan wajahnya yang malu.


"Pemeriksaan kandungan mu berapa hari lagi?" tanya Elvino karena tidak ingin menggoda istrinya lagi, karena El sudah sangat paham bahwa istrinya memiliki sifat pemalu.


Itulah sosok asli istrinya, mungkin karena sebelumnya Adel belum pernah dekat dengan pria manapun. Jadi begitu di gombali oleh suaminya yang mantan playboy cap kampak. Wanita muda itu cepat sekali merasa tersipu malu.


"Empat hari lagi, tapi jika kamu sibuk kerja saja. Kata mama mau menemaniku juga," Adelia yang tahu jika El sangat sibuk bekerja tidak ingin mempersulit suaminya.


Meskipun dia tahu bahwa sesibuk apapun. Elvino tidak pernah melewatkan waktu untuk menemani istrinya melakukan pemeriksaan calon si buah hati mereka.


"Tidak! Aku akan menemanimu, jika sudah tahu harinya. Aku akan mengatur waktu kerjaku. Agar pas waktunya nanti, aku tidak sibuk," bantah Elvino sudah memarkirkan mobilnya di pelataran sebuah bangunan megah dan mewah.


Tempat tersebut adalah Restoran para anak muda. Soalnya sangat jarang ada pasangan yang diatas tiga puluh tahun yang datang ke sana.

__ADS_1


"El, apakah kita akan makan malam disini?"


"Huem, iya! Aku sudah menyiapkan semuanya. Ayo kita turun," ajak Elvino membenarkan.


Namun, setelah melepaskan sabuk pengaman pada tubuhnya sendiri. Elvino melepaskan juga sabuk pengaman pada tubuh istrinya yang tadi dia juga yang memasang nya.


Cup!


Mengecup bibir Adelia sekilas karena wanita hamil itu cuma diam. Seperti lagi memikirkan sesuatu.


"Kenapa? Apakah ada yang sakit?" tanya Elvino khawatir.


"Bukan! Aku... aku malu masuk kedalam. Bukannya ini tempat para kalangan anak-anak muda yang kaya raya dan berpacaran. Kenapa kamu malah membawaku kemari," imbuh wanita itu karena Adelia mengetahui tempat tersebut dari internet.


Tempat terkenal seperti itu tentunya banyak yang menayangkan siaran langsung. Jadi selama ini Adelia sudah tahu tempatnya. Namun, belum pernah datang ke sana karena hanya anak-anak sultan seperti Elvino lah yang bisa datang ke sana.


"Hei... kata siapa seperti itu? Tempat ini bebas untuk siapapun. Namun, jika orang tua memang tidak ada yang datang ke sini. Mungkin karena tahu jika disini kebanyakan tamunya adalah anak mudah seperti kita," El mengelus pipi Adel karena dia tidak menyangka jika istrinya akan berpikiran seperti itu.


"Tapi El, bagaimana jika sampai di dalam ada orang yang mengenal mu. Lalu mereka akan tahu jika kamu sudah menikah dan bahkan istrimu sedang hamil? Lalu kamu akan---"


"Shuuit! Kamu cukup turun dan ikut aku. Biarkan saja jika ada yang mengenal ku. Kenapa harus takut, aku tidak membawa istri orang. Tapi aku datang bersama istriku sendiri." jelas Elvino karena sekarang dia baru paham apa yang membuat istrinya minder untuk masuk kedalam Restoran tersebut.


"Sayang, dengarkan aku. Semua teman-teman satu kampusku dan karyawan Wijaya group, juga sudah tahu, jika aku sudah menikah. Namun, mereka hanya tidak tahu siapa gadis yang aku nikahi. Jadi kamu Tidak usah takut bila ada yang melihat kita jalan bersama." ungkap Elvino karena dia memang belum bercerita pada istrinya.


Jika dia sudah mengatakan sendiri tentang pernikahan mereka, karena Elvino tidak mau para gadis-gadis atau mantan pacarnya terus mengincar untuk menjadi kekasihnya.


"Be--benarkah? Kenapa kamu memberi tahu mereka. Apakah kamu tidak malu karena meni---"


Cup!


"Aku tidak mau mereka terus mengejar-ngejar diriku. Aku tidak mau menyakiti hati wanita yang aku cintai. Jadi anggap saja aku lagi berusaha menjaga jarak dari mereka semua." sela Elvino karena memang seperti itulah yang sebenarnya.


"El, aku jadi tambah mencintaimu," lirih si ibu hamil yang kembali memeluk tubuh tegap suaminya. Sekarang dada bidang Elvino adalah tempat ternyaman baginya yang sudah tidak memiliki orang tua kandung.


Soalnya meskipun Paman Hasan dan Tante Mona sangat menyayangi Adel. Tetap saja dia merasa ada yang kurang, karena mereka berdua hanya saudara. Bukan orang tua kandungnya.


"Jangan pernah berpikiran macam-macam tentangku. Karena mungkin dulu aku memang pencinta wanita. Namun, aku bukanlah buaya yang bisa mencintai seribu gadis ," jawab Elvino balas memeluk si ibu hamil yang memiliki hati sangat sensitif.


"Aku sangat mencintaimu lebih dari apapun. Jadi mau sampai kapanpun cintaku hanya untukmu. Tidak akan pernah aku bagi pada wanita manapun, kecuali pada putriku. Jika kita memiliki anak perempuan," ungkap Elvino yang bisa membuat siapapun ikut meleleh.


Kala mendengar si mantan playboy cap kampak beraksi. Sudah tampan, kaya dan setia pada pasangannya. Maka siapa yang tidak mau pada sosok Elvino.


Cup!


"Terima kasih! Aku pun sangat mencintaimu. Sekarang ayo turun karena sudah sejak lama aku ingin melihat langsung tempat ini," kali ini Adelia yang mengecup bibir suaminya lebih dulu.


"Baiklah! Ayo kita turun sekarang. Tapi kamu duduk saja, biar aku yang membukakan pintu mobil nya." Elvino tersenyum karena dia bisa menyakinkan istrinya bahwa dia tidak pernah main-main dengan perasaanya.


"Silahkan turun Nona Muda Elvino," ucapnya yang membuat Adelia tersenyum menyambut uluran tangan suaminya.


Lalu pasangan suami-istri yang tinggal hitungan bulan lagi akan menyandang status baru mereka sebagai orang tua. Berjalan masuk dengan saling bergandengan mesra.

__ADS_1


Sehingga langsung menjadi pusat perhatian. Sebelum Adelia masuk rumah sakit yang hampir keguguran beberapa bulan lalu. Hampir setiap Minggu Elvino datang ke sana dengan bergonta-ganti pasangan.


Soalnya Elvino tidak pernah menyiapkan untuk makan malam romantis. Kecuali para gadis-gadis yang menyukainya saja. Hanya malam ini Elvino mengatur sendiri karena dia akan datang bersama wanita yang dia cinta.


"Selamat malam Tuan Muda," sambut ramah Manejer Restoran tersebut. Mata laki-laki yang umurnya kira-kira sudah empat puluh tahun itu menatap kearah Adelia dan perutnya.


"Malam juga, apakah sudah disiapkan seperti yang Saya pesankan?" jawab Elvino ramah, karena dia memang sudah kenal baik dengan Manejer tersebut.


"Sudah Tuan, Mari Saya antar," jawabanya sopan. Meskipun didalam hatinya dipenuhi pertanyaan karena setelah beberapa bulan tidak datang ke tempat itu lagi.


Malam ini Elvino datang bersama seorang wanita cantik dan masih muda. Namun, bukan itu yang membuat beliau heran. Melainkan perut besar Adelia, karena jika Elvino datang bersama gadis cantik. Bukanlah hal aneh lagi, yang aneh jika El datangnya hanya dengan wanita satu saja.


"Huem!" si tampan Elvino hanya mengangguk dan mengajak istrinya mengikuti Manejer Restoran mewah itu. Ketempat meja yang sudah dia pesankan di lantai dua.


"Sayang, ayo!" ajaknya tetap merangkul mesra. Sehingga para pengunjung yang tahu siapa Elvino sampai terheran-heran. Mereka mulai heboh karena sebagian dari mereka sudah mendengar bahwa Elvino telah menikah.


Meskipun kebanyakan dari para gadis tersebut tidak percaya akan hal itu. Akan tetapi melihat Elvino datang bersama wanita hamil. Membuat mereka menjadi berpikir ulang.


"Hei... itu kan sitampan Elvino. Apakah itu istri yang dia katakan?" tanya para gadis pada teman-temannya.


Berbagai bisik-bisik dari mereka mulai berseliweran. Antara penasaran dan mulai menebak-nebak siapa gadis yang membuat mereka merasa iri.


"Mungkin itu adalah istrinya, coba kalian lihat. Sejak tadi Elvino tidak melepaskan rangkulannya. Jika itu hanya teman atau saudaranya, jelas sangat tidak mungkin. Saat berpacaran dengan ku satu bulan saja, dia tidak pernah bersikap romantis seperti itu." tebak wanita cantik yang pernah menjadi kekasih Elvino selama satu bulan.


"Iya, kamu benar! Aku saja yang pernah pacara hampir dua bulan juga tidak pernah diperlakukan secara istimewa seperti itu." sahut wanita satunya lagi.


Begitulah seterusnya sampai mereka tidak bisa melihat punggung Elvino dan Adelia lagi, karena mereka sudah sampai di lantai atas.


"Selamat menikmati makan malamnya Tuan Muda dan..." si Manejer menggantung ucapannya karena dia tidak tahu Adelia siapanya Elvino.


"Dia istri Saya," ujar Elvino karena tahu laki-laki tersebut sangat penasaran sejak tadi.


"Oh... iya! Selamat menikmati makan malamnya Nona Muda. Maaf, Saya tidak mengenakan Anda. Tadinya Saya kira berita tersebut tidak benar. Ternyata semuanya memang benar bahkan ternyata Tuan Muda Elvino sudah hampir menjadi orang tua." ungkap Manejer itu degan sopan.


Soalnya berita tentang Elvino yang sudah menikah memang sudah beredar kemana-mana. Namun, semua itu belum tahu pasti karena mereka semua belum pernah melihat sosok wanita yang beruntung itu.


"Terima kasih, Pak," jawab Adelia hanya tersenyum kecil.


"Ternyata suamiku sebegitu terkenalnya. Aku sangat yakin jika dulu El pasti sering datang ke tempat ini. Makanya orang ini sangat mengenalnya." gumam Adelia semakin memeluk erat lengan suaminya.


"Tuan Muda, Nona Muda. Saya permisi dulu, ya, jika butuh sesuatu panggil saja pelayan yang duduk di sana. Dia sengaja Saya tugaskan untuk melayani Anda," pamit Manejer tersebut seraya menunjuk pelayanan laki-laki yang lagi membantu rekan kerjanya.


Akan tetapi baru saja si Manejer pergi dari sana. Seorang perempuan beserta kedua temannya, yang tak kalah cantiknya. Mendekati meja Elvino dan Adelia. Dia datang dengan amarah menggebu-gebu karena merasa cemburu pada si ibu hamil.


...BERSAMBUNG......


.


.


Assalamualaikum Kakak Raeder semuanya. Minal Aidin wal Faizin mohon maaf lahir dan batin 🙏🙏🙏

__ADS_1


Di manapun Kalian berada, semoga dalam keadaan sehat wal afiat. Baik saudara seiman ku maupun saudara satu tanah air ku. Terima kasih 😘😘😘


__ADS_2