Dia Juga Anakku

Dia Juga Anakku
Dia Juga Anakku.


__ADS_3

💝💝💝💝💝💝


...HAPPY READING......


.


.


"El, kita berdua pulang, ya. Jika butuh apa-apa segera hubungi kami berdua," ucap Aiden karena Elvino sudah memegang handel pintu mau masuk ke dalam ruang rawat istrinya.


"Huem, iya! Thanks, ya," jawab mengangguk dan tersenyum kecil.


Kleeek!


Suara pintu yang di tutup Elvino pelan, karena takut membangunkan istrinya yang masih terlihat lemah.


"Huh! Adel, mulai sekarang aku yang akan bekerja, kamu cukup diam di rumah," ucapnya menarik nafas panjang. Meskipun Elvino sangat malas untuk bekerja. Namun, mengigat perkataan dokter yang melarang istrinya kelelahan dan banyak pikiran. Mau tidak mau, El mengambil keputusan yang terasa begitu berat untuknya.

__ADS_1


"Cepat sembuh," lanjutnya lagi dengan tangan gemetar Elvino menyentuh perut Adel yang sudah terlihat membuncit.


Deg!


"Rasa apa ini, kenapa jantungku jadi berdebar-debar?" gumam El menarik kembali tangannya karena melihat Adel mulai mengerjapkan matanya pelan.


"Adel, kamu sudah sadar?" sudah melihat istrinya membuka mata, masih juga bertanya.


"Eum... aku dimana?" tanya gadis itu dengan suara seraknya.


"Di rumah sakit, tadi kamu pingsan ditempat kerja," langsung menjelaskan panjang kali lebar.


"Shuuit! Kamu tenang, ya. Anak kita masih ada," ucap El meletakan jari telunjuknya pada bibir Adelia yang masih pucat. Entah sadar ataupun tidak, Elvino sudah menyebutkan bayi yang dikandung oleh Adelia dengan sebutan. Anak kita.


"Be--benarkah? Kamu tidak berbohong, kan?" tangan Adel yang masih lemah mengenggam tangan Elvino yang ada disampingnya. Agar suaminya itu berkata jujur tidak berbohong padanya.


Jangan salahkan Adel kenapa dia tidak percaya pada Elvino. Semua itu tentu saja karena ulah pemuda itu sendiri, yang seringkali berbohong pada kedua orang tuanya.

__ADS_1


"El, jawab! Anakku tidak kenapa-napa, kan? Tadi a--aku, aku mengeluarkan darah," luruh sudah air mata gadis itu menetes tanpa permisi. Meskipun di awal Adelia merasa kotor pada tubuhnya, karena sudah diperkosa. Namun, begitu mengetahui dirinya hamil. Adelia tidak sama seperti wanita-wanita yang pernah mengalami nasib buruk seperti dirinya, yang membenci darah daging mereka sendiri.


justru Adelia malah bisa sembuh dari trauma karena kehamilannya. Dia benar-benar menyayangi bayi tersebut. Walaupun tidak tahu yang mana Ayah biologis anaknya.


"Adel, tenanglah! Bayi mu baik-baik saja. Tapi jika kamu terus seperti ini malah akan menyakiti kalian berdua," sentak El karena bingung mau mendiamkan istrinya seperti apa lagi agar tidak menangis.


"El, aku takut anakku kenapa-kenapa," lirih Adel berhenti berteriak menanyakan keadaan calon bayinya. Gara-gara rasa takutnya kehilangan si buah hati. Membuat Adel lupa menyentuh perutnya sendiri.


"Aku juga takut, Adel. Apa kamu pikir kamu saja yang takut. Dia juga anakku," kata Elvino dengan suara lantang. Sedikit saja tidak terdengar bahwa disaat mengatakan dia juga anakku. Dengan nada terpaksa atau di buat-buat. Meskipun El hanya ingin menghibur Ayara saja.


"Masih ada, kan," seru Elvino menuntun tangan sang istri untuk menyentuh perutnya sendiri.


"I--iya," jawab Adel merasa lega.


"Sekarang ayo istirahatlah! Kamu tidak boleh banyak pikiran dan kelelahan," titah pemuda itu melepaskan tangannya yang tadi menuntun tangan Adel.


"Apakah aku belum boleh pulang sekarang?"

__ADS_1


"Iya, kita akan menginap di rumah sakit. Sebentar lagi mama pasti akan datang, karena aku sudah mengirim pesan pada Raya," jawab Elvino yang sudah diberitahu oleh dokter. Bahwa sebelum benar-benar sembuh seratus persen, maka Adel harus siap menjalani perawatan selama di sana.


*BERSAMBUNG*...


__ADS_2