Dia Juga Anakku

Dia Juga Anakku
Enaknya Punya Istri.


__ADS_3

💐💐💐💐💐💐


...HAPPY READING......


.


.


"Selamat Sore, Tuan Muda," sambut pelayan saat membuka pintu untuk putra sulung tuannya.


"Iya, apakah Nona A---"


"El, kamu sudah pulang," sela si ibu hamil sudah menyusul suaminya yang baru pulang bekerja.


"Huem! Apa sudah mandi?" tanya Elvino melihat penampilan sang istri yang semakin cantik dimatanya.


"Sudah, ayo masuk! Aku sudah menyiapkan air buat mandi mu," ajak Adelia tersenyum manis dengan mengedip-ngedipkan matanya.


"Uwuh! Tambah gemes!" Elvino menarik pipi Adel sampai wanita itu mengaduh kesakitan.


"Aaagh! El, kenapa kamu menarik pipiku," semutnya memanyunkan bibir.


"Kamu itu terlalu mengemaskan. Jadi matanya jangan dibuat seperti tadi," jawab pemuda itu yang sudah menggenggam lembut tangan sang istri dan dibawa berjalan masuk.


"Sayang, kamu sudah pulang," sambut Nyonya Risa langsung mendekati sang putra. Sekarang mereka sudah tiba diruang keluarga.


"Iya, Ma, soalnya tadi El banyak melakukan kesalahan," menunduk antara malu dan sedih karena menyelesaikan pekerjaan yang paling mudah saja dia tidak bisa.


"Sudah tidak apa-apa, hari ini kan kamu baru mulai. Nanti kamu juga pasti akan terbiasa," seperti apapun kekurangan anaknya. Seorang ibu pasti akan tetap memberikan semangat.


"Mana mungkin dia bisa lebih baik lagi dari sekarang, jika masih terus pergi ke Club malam. Hanya menyalin bab saja membuat seisi kantor menjadi kacau karenanya." ucap sengit Tuan Arka yang baru keluar dari kamar.


"Pa, Elvino kan baru bekerja hari ini. Jadi maklumi saja," bela wanita setengah baya itu tidak ingin Elvino disalahkan. Apalagi melihat tampilan putra tampannya begitu lelah.


"Semua orang juga sama sepertinya. Tapi tidak sebodoh Elvino, Ma. Apa Mama tahu seperti apa kekacauan bila tadi Demian tidak membantunya. Tidak berguna sama sekali, ini semua karena matanya sudah dipenuhi oleh minum-minuman." Tuan Arka menatap Elvino berapi-api.


"Pa, El kan baru belajar. Salah Pak Pram yang tidak memberitahu dengan benar." jawab Elvino yang sudah sangat lelah jadi langsung terbawa emosi mendengar perkataan sang ayah.


Apalagi sekarang ada Adelia bersamanya. Dia merasa malu dan tidak berguna dihadapan gadis itu.


"Bukan salah, Pak Pram, tapi kamu yang tidak becus," akhirnya adu mulut antara anak dan ayah itu kembali terjadi.


"Jika selama satu bulan ini, kamu tidak ada perubahan juga. Maka papa akan mengantikan kamu dengan orang lain." lanjut Tuan Arka lagi.


"Pa, Elvino akan berusaha untuk memperbaikinya. Tapi---"


"El, kamu pasti lelah. Ayo kita kembali ke kamar. Mandi dulu, nanti baru berbicara sama papa," sela Adel mengenggam erat tangan suaminya.


Entah mengapa, melihat Elvino dimarah seperti itu, membuat si ibu hamil tidak tega. Dia seakan-akan ingin menangis, karena tahu jika Elvino pasti malu padanya.


"Nah betul itu, kata istrimu, Nak. Sekarang kembalilah ke kamar kalian, nanti biar Bibi yang mengantarkan makan malam ke sana, tidak usah turun lagi." sahut Nyonya Risa cepat karena apabila tidak begitu maka anak dan suaminya akan terus berdebat.


"Pa... eum maaf, kami ke kamar dulu," pamit Adelia menarik tangan Elvino seperti lagi menuntun anaknya saja.


"Adel, kenapa kamu membawaku pergi dari sana? Papa harus tahu, bahwa ini semua bukan sepenuhnya kesalahanku. Tapi kesalahan Pak Pram juga," protes Elvino karena dia masih ingin menjelaskan pada sang ayah.


"Kamu memang perlu menjelaskannya. Tapi tidak sekarang, El. Saat ini kamu lagi lelah, jadi lebih baik mandi dulu. Sudah, ayo naik jangan banyak bicara," seru si ibu hamil yang tidak bisa dibantahkan lagi.


Sehingga Elvino pun menurut saja, bahkan saat ini dia yang berjalan lebih dulu sambil menarik tangan istrinya.

__ADS_1


Soalnya mana mungkin El membiarkan istrinya kelelahan, karena harus berjalan sambil menari tangannya.


Ceklek!


Elvino membuka pintu kamar mereka dan langsung menutupnya lagi.


"Mandi dulu, aku sudah menyiapkan airnya. Jadi kamu tinggal mandi saja, agar semua rasa lelahmu hilang dan pikiran pun jadi tenang." titah wanita itu lagi.


"Hei... ada apa? apakah kamu tidak mau mandi dengan air yang sudah aku siapkan?" bertanya dengan tatapan tajamnya.


"Bukan! Tentu saja aku mau. Sepertinya baru kali ini kamu menyiapkan air mandi untukku." jawab El menatap lekat wajah cantik istrinya.


"Aku akan melakukannya mulai sekarang,"


"Benarkah? Wah, wah! Kenapa aku menjadi bersemangat untuk bekerja. Jika ada istri yang memperhatikan seperti ini," El tersenyum dengan semakin menatap istrinya semakin intens.


"Kalau begitu ayo cepat mandi sana, biar aku siapkan baju gantimu," Adelia yang malu di tatap oleh Elvino, lebih memilih berjalan mendekati lemari pakaian sang suami.


"Baiklah! Aku mandi dulu," jawab pemuda itu karena tubuhnya memang terasa sangat lengket.


Elvino juga takut khilaf bila terus menatap bibir istrinya yang digigit oleh gadis itu sendiri.


Kleek!


Suara pintu yang dikunci oleh Elvino dari dalam. "Aaagh! Ternyata memiliki istri ada enaknya juga, ya," tersenyum sambil melepas bajunya satu persatu. Sampai tak ada yang tersisa satu helai benang pun.


Hampir lima belas menit Elvino merendam tubuhnya di dalam Bathtub. Barulah dia selesai, karena rasa lelahnya pun sudah berkurang. Dan setelah melilitkan handuk pada pinggangnya keluar dari dalam kamar mandi.


Tidak banyak bicara, dia pun langsung membawa baju yang sudah disiapkan oleh istrinya. Ke dalam ruang ganti, karena saat ini Adelia seperti lagi berbicara dengan seseorang di depan pintu kamar mereka.


Pada saat Elvino baru keluar dari ruang ganti. Adelia pun masuk sambil membawa nampan yang berisi makanan. Sehingga membuat suaminya segera berlari untuk mengambil alih makanan tersebut.


"El, ini tidak berat aku mampu membawanya," jawab wanita itu menghela nafas dalam-dalam. Semenjak dia masuk rumah sakit. Elvino berubah menjadi sangat posesif pada kehamilannya.


"Mau berat mau ringan, pokoknya kamu tidak boleh mengangkat barang apapun. Ayo duduk dulu lah, kita makan dulu selagi hangat." ucap El mengisi satu piring dengan penuh.


"El, apakah tadi kamu tidak makan siang?" tanya Adel menyengir kuda, karena dia heran melihat suaminya mengisi piring nasi seperti orang kelaparan.


"Tidak, aku makan. Kenapa?" balik bertanya sambil tangannya menambah ke berapa macam lauk pauk di dalam piring tersebut.


"Kenapa makannya banyak sekali? Apakah kamu bisa habiskan makan sebanyak itu?"


"Ini buat kita berdua, bukan untuk diriku sendiri." jawab Elvino tersenyum. Lalu tangannya mulai menyendokan makanan itu ke mulut istrinya.


"Ayo buka," titahnya tidak sabaran.


"Kamu saj--" Disaat mulut Adel terbuka, Elvino cepat-cepat memasukkan sendok yang sudah berisi makanan ke dalam mulut sang istri.


"Eum!" seru si ibu hamil dengan mulut penuhnya.


"Makanlah! Aku senang bila melihat mu bisa makan." ucap Elvino sambil sesekali menyuap ke mulutnya sendiri.


"El, aku bisa makan sendiri tidak perlu kamu suapi," kata Adel protes. Akan tetapi mulut dan perkataannya tidak sama, karena setiap kali disuapi oleh Elvino. Dia selalu menerima suapan tersebut.


"Sudah, tidak usah protes. Kita bisa makan bersama. Bukannya di rumah sakit juga seperti ini," ucap El yang tidak bisa dibantahkan.


Sehingga Adelia diam tidak protes lagi. Namun, sesekali dia melirik kearah Elvino yang terus menatapnya seakan begitu banyak yang ingin dikatakan olehnya.


"El," memanggil pelan.

__ADS_1


"Huem, apa? Mau minum?" tanya Elvino degan pandangan yang masih tetap sama.


"Bukan mau minum, tapi... kamu makan juga," elak wanita itu mengurungkan niatnya untuk bertanya.


"Iya, aku lupa karena terlalu menikmati melihat mu makan. Sepertinya sudah hampir satu Minggu kamu tidak pernah muntah-muntah lagi, kan?" sambil makan mereka berdua terus mengobrol seperti mana ketika berada di rumah sakit.


"Heum! Mungkin masa morning nya sudah sembuh." sekarang berganti si ibu hamil menatap suaminya.


"El pasti tidak baik-baik saja. Makanya dia terlihat sangat lesu. Kasihan sekali. Entah mengapa aku tidak tega melihatnya dimarah oleh papa." gumam Adel ikut tersenyum kecil melihat Elvino tersenyum padanya.


"Sudah habis, apa masih mau nambah?" karena makan sambil berbicara. Tidak terasa mereka berdua sudah menghabiskan satu piring penuh nasi beserta lauknya.


"Tidak, aku sudah kenyang. Tapi jika kamu mau nambah biar aku temani makannya," tolak wanita itu cepat.


"Aku juga sudah kenyang. Tunggu di sini ya, aku akan mengantar ini kebawah. Sekalian mau ke Raya sebentar." jawab Elvino menaruh piring yang kotor pada nampan dan sisa makanan lainnya.


"Apakah aku tidak boleh ikut,"


"Tidak! Naik turun tangga bisa membuat mu kelelahan." sebelum Adelia merengek mau ikut. Pemuda itu cepat-cepat pergi dari sana.


Namun, baru beberapa menit setelah kepergian El. Ponselnya yang di meja tempat mereka makan berdering karena ada yang menghubunginya.


Ttttdd!


"Siapa?" tanya Adel pada dirinya sendiri. "Tidak ada nomornya," si ibu hamil menaruh ponsel tersebut pada meja lagi.


Meskipun dia begitu penasaran siapa pemilik nomor baru tersebut.


Tttddd!


Ttttddd!


Baru saja Adel ingin menjawab. Panggilan tersebut sudah berakhir. Tapi ketika dia mau menaruhnya ponsel itu lagi. Adel dikagetkan karena foto wallpaper HP El adalah foto dirinya.


"Ini kenapa malah foto ku lagi tidur? Ternyata diam-diam dia mengambil gambar ku," tersenyum-senyum sendiri. Lalu tanpa permisi Adel mengambil gambarnya yang baru dan wallpaper itu dia ganti.



"Nah ini baru bagus," Adel kembali tersenyum karena menurutnya foto yang sekarang jauh lebih baik.


Ceklek!


Mendengar pintu kamar di buka. Dia cepat-cepat menaruh ponsel tersebut pada tempatnya.


"El, kamu sudah datang,"


"Iya, aku hanya ada perlu sama Raya," jawab El sambil membawa flash disk dan tas kerjanya tadi, lalu duduk disebelah istrinya.


"Kamu kenapa terlihat aneh gitu? Apakah sudah melakukan sesuatu?" Elvino yang menangkap gelagat aneh istrinya pun bertanya juga.


"Tidak ada apa-apa, aku hanya ingin menemanimu di sini," jawab Adel menyakinkan.


"Ya sudah! Duduk yang benar, tapi bila mengantuk tidur saja duluan." El menggeser tempat duduknya semakin dekat. Agar bisa menahan kaki istrinya yang diletakan pada bantal sofa.


"El," kembali memangil singkat.


"Huem! Ada apa, Adelia ku?" El yang sudah siap untuk bekerja. Mengurungkan niatnya.


... BERSAMBUNG......

__ADS_1


__ADS_2