
💝💝💝💝💝💝
...HAPPY READING...
.
.
"Arka, tolong maafkan atas kesalahan anakku. Kami benar-benar tidak tahu jika Arya seperti ini," ucap Tuan Yuda pada besannya.
Sekarang para istri lagi mengobrol bersama di dekat ranjang pasien. Entah apa yang sedang mereka ghibah kan. Namun, yang jelas keduanya malah menyalahkan suaminya masing-masing.
Padahal sudah jelas jika Tuan Arka dan Tuan Yuda hanya menjadi korban atas perbuatan putra mereka yang berasal dari kecebong berkualitas.
"Iya, tidak apa-apa. Aku juga meminta maaf karena telah gagal mendidik Elvino," jawab Tuan Arka ikut meminta maaf.
Ternyata saling memaafkan jauh lebih indah daripada memiliki dendam yang tidak pernah ada habisnya. Jadi baik Tuan Arka maupun Tuan Yuda dan Paman Hasan saling mengerti dan memahami. Namanya anak-anak muda.
Jadi pasti memiliki kesan yang tidak pernah berpikir dulu sebelum bertindak. Hal wajar bila mereka melakukan kesalahan. Apabila itu hanya sekali dan tidak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi.
"Huh!" beliau menghela nafas dalam-dalam terlebih dahulu sebelum berkata. "Aku juga tidak tahu kenapa Elvino bisa seperti itu. Padahal aku tidak pernah memiliki banyak pacar. Tapi... dia bukan banyak lagi. Namun, disetiap tikungan ada," lanjut beliau mengelengkan kepalanya.
"Haa... haa... orang tuannya baik. Belum tentu anak-anak kita tidak mungkin berbuat salah, ini lah hidup. Semua itu harus kita syukuri saja karena terkadang degan kesalahan itulah kita bisa memperbaiki diri lebih baik lagi," tawa Paman Hasan karena beliau selalu mengambil hikmah dari apa yang sudah terjadi.
"Iya, kamu benar juga, dan Elvino bisa setia setelah dia mencintai Adel. Aku benar-benar tidak menyangka jika dia bisa seperti sekarang. Bisa bertanggung jawab dan menjadi penerus ku," ujar Tuan Arka ikut tersenyum karena memang benar apa yang dikatakan oleh paman Hasan.
Tuan Arka dan istrinya adalah orang baik-baik. Begitu pula dengan keluarganya. Namun, punya anak laki-laki malah tukang mabuk-mabukan. Suka bergonta-ganti pasangan. Bahkan memperkosa seorang gadis. Hingga Adelia hamil diluar nikah..
Apabila dibandingkan dengan perbuatan Arya tentu tidak ada apa-apanya. Makanya Tuan Arka terlihat tenang tidak memukul Arya. Sebab beliau bercermin pada Paman Hasan. Masih tetap tenang, padahal hati beliau sangat hancur.
Bagaimana tidak. Keponakan satu-satunya yang sudah dianggap seperti putrinya sendiri malah diperkosa dan mendapatkan kekerasan fisik. Namun, Paman Hasan tidak ada memukul ataupun memaki Elvino.
"Sekarang kita hanya bisa berdo'a, semoga Raya baik-baik saja begitu pula dengan calon cucu kita," ucap Tuan Arka dengan perasaan tidak menentu.
"Iya, semoga saja. Aku tidak bisa melihatnya karena keadaanku. Tapi jika mami Arya, dia bisa menjenguk keadaan Raya," timpal Tuan Yuda.
Saat ini mereka mengobrol sambil menunggu waktu besuk dibuka lagi. Namun, Arya dan Elvino sudah menunggu di depan ICU. Soalnya Tante Anita dan Tante Anis mendadak harus pulang dulu. Begitu pula dengan suami beserta anak-anaknya. Mereka juga memiliki kehidupan masing-masing.
Jadi yang ada di sana hanya Tuan Yuda dan Paman Hasan beserta istrinya saja.
"Tidak apa-apa. Semoga putriku bisa melewati masa kritisnya. Agar bisa dirawat diruang intensif saja. Tidak seperti saat ini. Mau bertemu saja sangat susah," lanjut Tuan Arka tidak tega juga melihat keadaan putrinya.
"Pa, ini sudah jam sembilan. Mungkin kita sudah bisa bertemu Raya, kan?" tanya Nyonya Risa yang sudah bisa berjalan seperti biasanya. Sebab keadaan beliau memang sudah pulih.
"Oh, iya. Papa lupa karena kita selalu mengobrol," jawab Tuan Arka melihat jam pada pergelangan tangannya.
"Kalau begitu kami mau menyusul Arya dan Elvino. Papa nanti menyusul saja atau kalian masih mau mengobrol di sini juga tidak apa-apa," imbuh Nyonya Risa sudah berunding dengan besannya mau melihat keadaan Raya.
"Iya, pergilah karena kami akan disini saja. Beramai-ramai ke saja juga tidak ada gunanya karena nanti dilarang masuk juga," jawab Tuan Arka yang tidak mungkin juga meninggalkan besannya yang tidak bisa berjalan sendiri.
Walaupun sekertaris Tuan Yuda ada diluar ruangan itu bersama Sekertaris Demian. Tetap saja merasa tidak enakan.
"Fanya, ayo. Aku juga belum melihat keadaan putriku setelah tadi malam. Saat dia baru dilarikan ke rumah sakit," ajak Nyonya Risa pada besannya.
"Iya, ayo. Aku juga mau melihat putriku. Semua ini tidak akan terjadi bila papinya Arya bisa mendidik putranya degan baik. Awas saja jika Arya masih berani macam-macam. Aku akan meninggalkan papinya dan kembali ke Australia lagi," jawab Nyonya Fanya masih saja menyinggung suaminya yang tidak tahu apa-apa.
"Iya-iya! Jika Arya berani macam-macam. Maka papi akan mencoret namanya dari kartu keluarga," imbuh Tuan Yuda hanya bisa bersabar dengan berbagai sindiran untuknya.
"Kalian pergi saja ke sana duluan. Sekertaris Demian akan mengantar ke sana," sela Tuan Arka karena bila sudah seperti ini posisinya mulai tidak aman. Sudah pasti Nyonya Risa akan menyindirnya juga.
"Baiklah, kami pergi dulu," jawab kedua wanita itu meninggalkan ruangan tersebut.
"Aku harap setelah Raya sadar, dia masih mau memberikan maaf dan kesempatan kedua untuk Arya," ucap Nyonya Fanya pada besannya sambil berjalan menuju ke ruang ICU.
"Iya, aku juga berharap begitu. Meskipun sebetulnya aku sudah memaki-maki Arya. Tapi semua itu karena aku sangat marah dan kecewa padanya dan ternyata semua ini gara-gara putraku juga," jawab Nyonya Risa juga tidak mau bila Arya dan Raya harus berpisah.
__ADS_1
Namun, sebagai orang tua hanya bisa menyerahkan semuanya pada Raya. Sebab gadis itu yang merasakan sakitnya dikhianati dan dibohongi oleh orang yang dicintai.
"El, mana Arya?" tanya kedua wanita setengah baya itu secara bersamaan. Sekarang mereka sudah tiba di depan ruang ICU dan disana hanya ada Elvino sendiri.
"Arya lagi di dalam, Ma, Tan. Baru saja masuk," jawab El menuntun mamanya pelan agar duduk disebelahnya.
"Jadi sudah boleh untuk menjenguk lagi. Syukurlah! Mama mau melihat adikmu, El," Nyonya Risa yang tadi terlihat tenang dan bisa tersenyum. Sekarang kembali menangis lagi.
"Iya, setelah Arya keluar. Mama sama Tante bisa bergiliran untuk masuk. Semoga adek baik-baik aja," Elvino memeluk tubuh mamanya dari samping.
"Mama tenang ya, jangan seperti ini. Nanti adek akan bersedih bila melihat keadaan mama drob lagi," bujuk Elvino yang semakin tidak tenang setelah mendengar dokter berkata jika Raya masih kritis dan tidak ada perubahan sama sekali.
Apabila sampai tiga hari keadaan Raya tidak ada perubahan. Maka kata Dokter Mirza kehamilan Raya tidak tahu bisa selamat atau tidaknya.
"Iya, Mama tidak akan menagis lagi. Tapi Mama tidak kuat menahannya, El. Mama---"
"Jika Mama tidak kuat, nanti El akan berbicara pada Dokter Mirza dulu dan mengatakan kalau kita mau masuk serempak. El tidak mau Mama kenapa-kenapa setelah melihat keadaan adek," Elvino meregangkan pelukannya karena dia mau menemui Dokter Mirza yang bertugas untuk menjadi dokter buat Raya.
Sama seperti keadaan Tuan Arka berapa tahun lalu Yang juga dirawat oleh dokter Mirza karena pria itu adalah dokter ahli bedah.
"Apakah boleh seperti itu? Jika iya, nanti kamu yang akan menemani Mama ya," seru Nyonya Risa yang takut bila dia tidak bisa menahan dirinya setelah melihat keadaan sang putri.
"Tentu saja bisa, karena bila tidak diberikan izin. Maka rumah sakit ini akan El tutup hari ini juga," jawab Elvino tersenyum kecil agar sang mama bisa tersenyum dan dia berhasil membuat Nyonya Risa maupun Nyonya Fanya tersenyum karena perkataannya.
Berbeda dengan Arya. Sementara itu di dalam ruangan ICU. Arya kembali menangis karena tidak tega melihat keadaan istrinya.
"Sayang, ayo bagunlah. Maafkan aku sudah menyakitimu. Tolong jangan hukum aku dengan keadaanmu seperti ini. Aku mohon," serunya meminta maaf dan mengecup jari tangan Raya berulang kali.
"Aku sangat menyesali semuanya, sayang. Aku benar-benar menyesal telah memiliki niat buruk padamu," lanjut Arya lagi yang meminta bisa menjenguk Raya lebih dulu karena dia mau pulang ke Apartemen mereka.
Untuk melihat keadaan tempat tinggal mereka karena Arya belum tahu seperti apa keadaan disana sekaligus mengambil baju ganti selama dia berada di rumah sakit.
Soalnya Arya tidak akan pergi kemana-mana. Selama keadaan Raya belum ada perubahan. Tadi Tuan Yuda juga sudah bilang jika perusahaan akan diurus oleh sekertaris beliau yang dibantu oleh Sekertaris Demian.
"Kamu harus sembuh. Jika keadaanmu tidak ada perubahan juga. Maka keadaan calon anak kita tidak bisa bertahan terus-terusan. Tadi aku dan Kak El sudah dipanggil lagi oleh Dokter Mirza," begitu mendengar ucapan Arya tentang anak mereka.
Tiba-tiba air mata Raya kembali menetes. Dia bisa mendengar ucapan Arya. Namun, tidak bisa untuk menjawab dan bergerak.
"Sayang, kamu menangis?" seru Arya langsung berdiri dan berteriak memangil dokter yang berjaga.
"Dokter, Dokter Febi... tolong periksa keadaan istri Saya," ucapnya sambil menyeka air matanya sendiri.
"Apa yang terjadi Tuan Muda?" tanya dokter tersebut sudah mendekat.
"Istri Saya menangis, dia menangis," Arya menunjukkan air mata istrinya yang masih menyisakan bekas pada pipi pucatnya.
"Oh, ini hal biasa terjadi pada pasien seperti Nona. Anda harus terus mengajaknya berbicara karena ini adalah pertanda baik. Nona muda bisa merespon ucapan kita," ujar si dokter tetap melakukan pemeriksaan.
Tapi untuk sekarang keadaannya masih kritis juga dan belum ada perubahan pada kondisinya," keluh sang dokter setelah memeriksa keadaan Raya.
"Ja--jadi belum ada perubahan juga," ucap Arya terbata-bata.
"Iya, keadaannya belum ada perubahan. Kalau begitu Saya akan kembali berjaga dan waktu penjegukan Anda hanya tujuh menit lagi," setelah berkata seperti itu Dokter Febi langsung pergi menuju tempatnya bertugas.
"Sayang... apakah benar kamu bisa mendengar ku? Jika iya, maka please! Tolong bangunlah. Aku sangat khawatir padamu dan buah hati kita. Bagunlah, aku mohon! Aku tahu kamu sangat marah dan kecewa padaku," tanya Arya sudah kembali lagi duduk seperti tadi sambil menggenggam lembut tangan istrinya.
"Aku tidak pantas untuk dimaafkan. Tapi demi anak kita, kamu harus baik-baik saja. Karena dia sekarang sangat bergantung pada keadaanmu. Aku mohon Raya. Aku mohon bagunlah!" dengan berderai air matanya Arya terus saja memohon agar Raya tetap bertahan dan segera bangun dari tidur panjangnya.
"Nanti setelah kamu sadar. Maka hukumlah aku sesukamu. Hukumlah aku seperti apapun. Asalkan jangan meminta aku untuk meninggalkanmu. Karena aku tidak akan bisa hidup tanpamu, tanpa anak kita," mau seperti apapun Arya memohon dan menangis. Tetap saja tidak ada tanggapan dari Raya. Karena dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi kecuali mendengar saja.
"Tuan Muda, mohon maaf. Waktu Anda sudah habis karena Nyonya Risa dan Tuan Muda Elvino akan menjenguk keadaan Nona Raya juga," Dokter Febi kembali datang mendekati Arya karena dia sudah mendapatkan pesan dari Dokter Mirza jika Elvino dan mamanya akan masuk sekaligus dua orang.
"Iya. Tapi tunggu sebentar lagi," jawab Arya karena dia masih ingin bersama istrinya.
"Baiklah! Saya akan menunggu di sana," kata Dokter Febi pergi ke mejanya.
__ADS_1
"Sayang, aku mau pulang dulu, ya. Tapi hanya sebentar, tidak akan lama. Hanya ingin mengambil pakaian untukku," pamitnya pada sang istri.
Cup!
"Aku mencintaimu," bisik Arya pada telinga Raya setelah mengecup panjang pipi istrinya. "Aku pulang, ya," ucap pemuda itu kembali berpamitan. Sungguh dia tidak ingin meninggalkan Raya.
Namun, apalah daya karena istrinya masih berada dalam ruangan ICU. Satu hal yang membuat Arya lega sekarang. Yaitu adalah kedua mertuanya bisa memaafkan kesalahannya dan memberinya kesempatan untuk memperbaiki semuanya.
Akan tetapi untuk masih bisa bersama Raya atau tidaknya.. Hanya gadis itu sendiri yang bisa memutuskan. Keluarga Wijaya tidak mau membuat Raya merasa tersakiti bila harus hidup bersama Arya lagi.
Tes!
Tes!
Setelah Arya pergi dari ruangan tersebut. Air mata Raya kembali menetes. Gadis itu bisa merasakan kecupan pada pipinya. Namun, tetap saja tidak bisa berbicara dan membuka matanya.
"Arya... aku tidak bisa membuka mataku," ucap Raya di dalam hatinya. "Aku tidak bisa bangun dan bersama kalian lagi." lanjut si putri bungsu yang pasrah saja karena dia sudah berusaha untuk bangun walaupun tanpa diminta oleh siapapun.
"Kak," ucap Arya begitu keluar berpapasan dengan Elvino yang berdiri di depan pintu. Sedangkan mami dan ibu mertuanya duduk di kursi tunggu.
Setelah berbaikan dan menyadari bahwa sesama brengsek tidak boleh saling membenci atau memiliki dendam. Arya memangil El dengan sebutan kakak lagi.
"Apakah ada perubahan? Bagaimana keadaannya?" tanya El beruntun.
"Belum ada perubahan yang lain. Hanya saja dia meneteskan air mata dan setelah diperiksa oleh Dokter Febi keadaannya masih tetap sama," jawab Arya dengan lesu.
Sebagai seorang suami dan ayah. Bagaimana mungkin dia baik-baik saja saat keadaan anak dan istrinya dalam keadaan kritis. Apalagi yang menyebabkan Raya kecelakaan adalah dirinya.
"Bersabarlah! Semoga secepatnya adek bisa melewati masa kritisnya," El mengelus bahu adik iparnya pelan dan hanya dianguki oleh Arya.
"Mama, Mi," ucap Arya setelah berjalan mendekati kedua ibunya.
"Arya, bagaimana---"
"Mami... maafkan Arya," seru pemuda itu tiba-tiba langsung memeluk Nyonya Fanya ibunya yang berdiri dari tempat duduk beliau.
"Arya benar-benar menyesal," tangis Arya yang sok kuat saat berada dihadapan orang lain akhirnya menangis juga. Dia tidak bisa menahan rasa takutnya seorang diri.
"Tolong do'akan agar istri dan anakku baik-baik saja, Mi," Arya terus saja berbicara. Padahal tanpa dia pinta, tentu maminya akan mendo'akan Raya.
"Apa yang terjadi? Istrimu baik-baik saja, kan?" tanya Nyonya Risa yang tiba-tiba merasakan takut melihat menantunya menangis.
"Mama, Raya baik-baik saja. Mungkin Arya masih menyesal. Gara-gara dia pacaran sama Manda. Adek mengalami kecelakaan," ucap Elvino yang tidak mau mamanya tahu jika dalam tiga hari Raya terus kritis. Keselamatan bayi yang ia kandung pasti tidak akan bisa bertahan.
Begitulah menurut penjelasan Dokter Mirza dan hanya dia dan Arya saja yang mengetahui hal tersebut. Agar keadaan orang tua mereka baik-baik saja.
"Be--benarkah? Kamu dan Arya tidak lagi berbohong, kan?" Nyonya Risa menatap putranya lekat.
"Benar, Ma. Adek baik-baik saja," jawab Elvino menyakinkan sang mama.
"Arya, istrimu baik-baik saja, kan?" desak Nyonya Fanya pada anaknya yang masih memeluk tubuh beliau.
"Iya, keadaan Raya baik-baik saja, Mi, Ma," Arya merenggangkan pelukannya dan mendekati ibu mertuanya, lalu berkata.
"Tidak ada apa-apa, Ma. Benar kata Kak Elvino. Aku hanya lagi menyesali semuanya,"
"Oh, syukurlah karena Mama kira keadaannya---"
"Tidak, Ma. Sekarang Mama sama Tante masuklah. El akan menunggu di sini. Dokter Febi pasti sudah menunggu di dalam," sela Elvino tidak ingin mamanya banyak bertanya.
Tadinya Elvino yang akan masuk bersama mamanya. Namun karena Nyonya Fanya juga ingin melihat keadaan Raya. Jadi biarkan saja dia yang mengalah. Agar kedua orang tua tersebut masuk lebih dulu.
"Iya, kalau begitu Mama sama Maminya Arya akan masuk sekarang," akhirnya usaha Elvino untuk mengalihkan pembicaraan berhasil. Mamanya percaya pada ucapanya dan Arya.
... BERSAMBUNG... ...
__ADS_1