
ππππππ
.
.
"El berjanji kali ini tidak akan mengecewakan Papa lagi," ucap pemuda tampan itu sebelum pergi dari ruangan sang ayah.
Hatinya terasa tidak karuan karena ucapan Tuan Arka tadi benar-benar dia resah dan gelisah. Jujur saja Elvino ragu pada kemampuan dirinya sendiri.
Braaak!
Dia menutup pintu mobilnya. Lalu kembali terdiam merenungi perkataan sang ayah.
"Apa yang harus aku lakukan bila tidak bisa menyelesaikan skripsi dan di DO? Mau kerja apa aku nantinya bila papa benar-benar mengusirku?" lebih dari setengah jam dia terdiam saja sambil kepalanya ia tidurkan pada setir mobil.
Tttddd!
Tttddd!
"Mama, ada apa? Apakah sudah terjadi sesuatu pada Adel?" gumam El langsung menggeser tombol hijau pada layar ponselnya. Pikirannya langsung mengarah pada sang istri.
π± Elvino : "Iya, Ma, Adel baik-baik saja, kan?" bertanya gelisah. Setelah mendengar detak jantung bayi saat melakukan pemeriksaan USG tadi pagi rasa khawatir El terhadap kesehatan Adelia semakin meningkat.
π± Raya : "Kakak, ini Raya. Kakak ada dimana? Kenapa lama sekali? Kata papa Kakak sudah pulang sejak tadi," suara cempreng adiknya membuat El menjauh ponsel tersebut dari telinganya.
π± Elvino : "Bertanya satu-satu, Kakak bingung mau menjawab yang mana." jawab El sambil memakai headset karena dia mau menyetir mobilnya menuju rumah sakit tempat istrinya dirawat.
π± Raya : "Iya, tapi Kakak dimana? Raya sama mama mau pulang. Soalnya dirumah ada Tante Ani sahabat mama," tanya gadis itu lagi.
π± Elvino : "Baiklah! Ini Kakak sudah dijalan. Sebentar lagi juga akan sampai," mendengar keluarganya mau pulang. Elvino menambah kecepatan laju kendaraannya. Kebetulan sekali jalanan agak sepi, karena masyarakat lagi sibuk pada pekerjaan mereka masing-masing.
π±Raya : "Oke, kalau begitu Kakak hati-hati," Raya hendak memutuskan sambungan telepon mereka. Namun, langsung dicegah oleh Elvino.
π± Elvino : "Eh, tunggu-tunggu!" seru Elvino yang untungnya Raya belum menekan tombol merah di ponsel mamanya.
π± Raya : "Ada apa lagi, Kak?" tanya Raya bingung.
π± Elvino : "Coba tanyakan pada Kak Adel, apakah dia mau sesuatu? Selagi Kakak masih berada di luar,"
__ADS_1
Ya, hal itulah yang membuat El melarang adiknya memutuskan panggilan mereka.
π±Raya : "Baiklah! Tunggu Raya tanya Kak Adel," terdengar gadis itu menanyakan kakak iparnya.
"Kak, ditanyain sama suami Kakak, katanya mau pesan apa? Biar sekalian dibelikan, selagi Kak El masih diluar," tanya Raya pada Adelia yang langsung tersenyum, karena dia memang menginginkan kue yang pernah dia dan Elvino beli.
"Kakak mau kue rasa coklat dan blueberry. Tapi dari Toko kue yang ada di dekat perempatan yang mengarah ke Apartemen." jawab Adel yang masih bisa didengar oleh Elvino.
"Oke, akan Raya sampaikan," imbuh gadis itu kembali lagi bicara pada kakak tampan nya.
π± Raya : "Kak, sudah mendengar sendiri kan apa yang diinginkan Keponakan ku," goda Raya yang sama seperti orang tuanya. Tidak sabar menunggu kelahiran bayi yang dikandung Adelia.
π± Elvino : "Iya, Kakak sudah mendengarnya. Kalau begitu matikan saja," Elvino langsung melajukan mobilnya kearah Apartemen lebih dulu. Untuk membeli kue buat istrinya.
*
Sementara itu di rumah sakit.
"Adel, terima kasih, Nak," ucap Nyonya Risa memeluk menantunya. Sehingga Adelia terdiam, karena tidak tahu ibu mertuanya berterima kasih buat apa.
"Terima kasih karena kamu, putra Mama sudah banyak berubah," lanjut beliau yang masih memeluk tubuh menantunya.
Sejak tadi mereka selalu mengobrol. Bukan, bukan mereka! Akan tetapi Nyonya Risa lah yang paling banyak bicara, karena menasehati menantunya. Perihal apa saja yang boleh dilakukan oleh ibu hamil dan larangannya.
"Tidak! Ini semua karena kehadiran kalian didalam hidupnya. Mama tidak menyangka, akhirnya dia mau bekerja karena tidak ingin kamu kelelahan seperti ini lagi." jelas beliau seraya melepaskan pelukannya.
"Apa kamu tahu, sebelum dia tinggal di Apartemen. Papa pernah membuang semua peralatan game nya hanya karena Elvino menolak tidak mau diajak ke perusahaan," papar Nyonya Risa yang sudah kembali lagi duduk di kursi samping tempat menantunya.
"Benarkah! Wah, padahal papa sangat penyabar, lalu apa yang membuat Papa sampai marah seperti itu, Ma?" seru Adelia penasaran. Soalnya peralatan game Elvino harganya puluhan juta rupiah.
Sama dengan gaji Adelia bekerja di supermarket dulu, itupun dalam waktu satu tahun kerja.
"Itu karena Kakak tidak pernah mau diajak ke perusahaan. Padahal hari itu ada rekan kerja papa dari luar negeri. Mereka tidak mau menandatangani surat kontrak kerjasama, bila papa tidak membawa putranya," sahut Raya ikut menimpali percakapan mama dan kakak iparnya.
"Apa! Kenapa bisa seperti itu?" seru Adelia tidak percaya. "Lalu apa hubungannya kerjasama dengan papa membawa anaknya ke perusahaan?"
"Hubungannya memang tidak ada sih. Hanya saja rekan kerja papa yang itu pas membawa putranya juga. Niat mereka baik ingin saling berkenalan. Tapi Elvino tidak mau memenuhi permintaan papa. Padahal perusahaan kita sangat membutuhkan kontrak tersebut," sekarang bergantian lagi nyonya Risa yang bercerita.
"Akan tetapi, sekarang dia sendiri yang mau bekerja. Ini sebuah keajaiban, Nak," ungkap beliau lagi. Soalnya benar-benar tidak menyangka Elvino mau bekerja dengan sendirinya bahkan hanya menjadi staf di bagian pemasaran.
__ADS_1
"Mama, setiap manusia pasti memiliki perubahan tersendiri. Mungkin sekarang pikirannya sudah menjadi dewasa. Apalagi papa sudah tau, sudah seharusnya El yang mengambil alih pekerjaan tersebut," jawab Adelia memberikan semangat pada ibu mertuanya yang terlihat sedih karena terharu pada perubahan Elvino, meskipun hanya hal kecil.
"Benar, mungkin dia menjadi dewasa karena sekarang sudah menjadi seorang suami. Bahkan tinggal hitungan bulan akan menjadi seorang ayah," Nyonya Risa tersenyum dan mengelus lembut tangan sang menantu.
"Mereka semua selalu menyebutkan jika bayiku adalah anak Elvino. Padahal aku saja tidak tahu apa yang sudah terjadi malam itu. Ini anaknya siapa aku tidak tahu," gumam Adelia menatap ibu mertuanya dengan rasa iba.
Dia takut jika bayi yang ia kandung bukanlah anak kandung suaminya. Pasti mertuanya akan bersedih akan hal ini. Meskipun sekarang mereka berkata akan menerima anak siapapun.
Namun, Adelia tahu bahwa baik Tuan Arka, ataupun Nyonya Risa. Berharap bahwa bayi tersebut darah keturunan Wijaya.
Ceklek!
"Kak, cepat sekali," seru Raya langsung memeluk kakaknya. Soalnya sudah hampir satu Minggu ini mereka tidak bertemu, karena disaat El pulang ke rumah. Adiknya lagi pergi bersama teman-temannya.
"Awas! Nanti kue Kak Adel jatuh," ucap El balas memeluk adiknya.
"Ternyata El sebetulnya anak yang baik dan penyayang pada adiknya. Dia seperti itu mungkin karena pergaulannya yang salah." gumam Adelia ikut tersenyum kearah adik dan kakak yang saling melepas rindu.
"Raya, ayo kita pulang sekarang. Tante Ani sudah lama menunggu kedatangan kita," ajak Nyonya Risa berdiri dari tempat duduknya.
"Iya, Ma," jawab Raya melepaskan pelukan bersama sang kakak. Lalu dia dan mamanya pun berpamitan pulang. Sehingga tinggal pasangan suami-istri yang tidak tahu akan dibawa kemana pernikahan mereka nantinya.
Akankah seperti perjanjian awal, akan berpisah setelah satu tahun pernikahan mereka? Entahlah!
"Ini," Elvino menyerahkan kue yang dia bawa.
"Terima kasih, maaf sudah merepotkan mu," ucap Adelia menatap suaminya yang terlihat begitu lelah.
"Tidak merepotkan, makanlah selagi masih hangat. Tadi kebetulan saat aku datang Toko itu baru buka,"
"Iya, aku akan makan kuenya. Tapi apakah kamu sudah makan siang?"
"Belum, aku tidak lapar," El melepas jas yang dia pakai. Sehingga yang tersisa hanya baju kemeja saja.
"Makanlah! Tadi mama sudah memesan buat makan siang mu," titah Adel merasa bersalah bila dia tidak membalas kebaikan suaminya.
"Nanti saja, jika sudah lapar maka aku akan makan," masih juga menolak.
"Jika begitu aku juga tidak akan makan kue ini," Adelia menaruh roti tersebut pada meja kecil yang ada disampingnya.
__ADS_1
"Astaga! Adelia, kamu kenapa malah mengikuti aku," seru Elvino mengusap wajahnya kasar. Soalnya bila sudah seperti itu mau tidak mau dia harus makan.
...BERSAMBUNG......