Dia Juga Anakku

Dia Juga Anakku
Terlalu Tampan 2++


__ADS_3

🔥🔥🔥🔥🔥🔥


...HAPPY READING......


.


.


"Huh! Apakah papa memang lagi banyak masalah? Kenapa tidak berterus terang kepadaku? Apakah karena tidak percaya pada anaknya sendiri. Gara-gara selama ini aku hanya menyusahkan orang tuaku?" gumam Elvino menatap istrinya yang sedang bercanda bersama ibu dan sang adik.


"Aku akan mencari tahu sendiri, dan membantu papa sebisa diriku. Sudah cukup selama ini aku menyusahkan nya. Andai saja aku sedikit pintar, mungkin papa sudah bisa menikmati masa tuanya. Tidak seperti sekarang. Harus bekerja ekstra, agar Wijaya group tetap berdiri koko." si calon ayah muda itu kembali bergumam.


Sehingga dia tidak sadar bahwa istrinya sudah mengajak kembali ke lantai dua, karena tidak terasa sudah hampir dua jam mereka duduk saling bercanda.


"El, aku mengantuk, ayo kita kembali ke kamar," ulang Adelia sudah menyentuh tangan sang suami.


"Agh! Apa sayang?" seru Elvino tersadar dari lamunan pikirannya.


"Kakak kenapa? Tumben banget bisa termenung seperti orang lagi mikirin sesuatu," tanya Raya yang merasa heran pada perubah sikap kakak tampannya.


"Eum... tidak ada apa-apa! Kakak hanya lagi mikirin kira-kira sidang tadi lolos atau tidak," jawab El terpaksa berbohong.


Ya, sekarang dia tidak pernah berbohong seperti dulu lagi. Sejak Elvino mengungkapkan perasaan pada istrinya. Dia selalu berkata jujur dan kuliah degan benar.


"Ya, kalau Kakak jawabnya banyak salah, sudah pasti gagal. Tapi jika lancar, Raya rasa kakak akan segera wisuda." jawab si cantik Raya yang memiliki otak sangat cerdas. Tidak seperti kakaknya.


"Heum, iya... semoga lolos agar kakak bisa wisuda. Soalnya Kakak mau fokus bekerja saja setelahnya." El mengangguk mengerti sambil menggenggam tangan Adel.


"Sayang, tadi kamu mau bicara apa? Ini sudah malam, kita bicarakan diatas saja ya, kamu tidak boleh telat tidur." ucapnya sudah berdiri untuk membantu Adelia berdiri.


"Tadi aku mau mengajak kembali ke kamar, ya sudah, ayo kita ke kamar," jawab Adel seraya menghadap pada ibu dan adik iparnya. Lalu dia pun berkata.


"Mama, Adek... kami ke kamar duluan," pamitnya sopan.


"Iya, pergilah, Nak. Kamu memang harus tidur tepat waktu," jawab Nyonya Risa tersenyum dan ikut berdiri, karena beliau sendiri juga mau istirahat di kamarnya.

__ADS_1


"Oke Kak, Kakak harus banyak-banyak istrirhat. Agar keponakan ku dan Kakak selalu sehat," seru Raya langsung memberikan pelukan pada Kakak iparnya.


Sebagai ucapan selamat malam. Hal yang sudah biasa dia lakukan setiap mereka berpisah ketika mau istrirhat malam.


"Keponakan Onty, jangan nakal seperti papamu ya, harus ikut mamamu saja," Raya mengelus perut Adel sebelum berlari karena Elvino sudah siap-siap mau memukulnya dengan bantal sofa.


"Raya... awas kamu ya," ucap Elvino yang di tertawai oleh istri dan mamanya.


"Haaa... ha.. Kakak juga tidak tampan. Jadi semoga tidak mirip seperti Kakak mukanya." tawa Raya yang berhenti sebelum kearah kamarnya yang kebetulan ada dilantai bawah.


"Ck, kamu tu yang jelek," decak Elvino karena adiknya itu selain suka menceramahi nya. Tapi juga suka mengejek.


"El, sudah!" Adelia tersenyum karena terkadang suaminya masih seperti anak kecil. Padahal Raya hanya bercanda.


"Raya selalu berkata tidak benar, bagaimana mungkin anakku disuruh tidak mirip dengan papanya," jawab Elvino karena dia sangat ingin anaknya mewarisi ketampanan yang dia miliki.


"Pasti mirip dengan mu, El. Asalkan kelakuannya jangan seperti papanya. Jika wajah tidak apa-apa. Lihatlah ngidam Adel, hampir sama saat Mama hamil kamu dulu." sela Nyonya Risa tersenyum bahagia melihat kelakukan anak-anaknya.


"Agh, Mama jadi sama saja seperti papa. El sekarang sudah berubah, tidak seperti dulu lagi," keluh pemuda itu sebelum membawa istrinya kembali kelantai atas.


"Mama, kami duluan," lanjutnya lagi yang diangguki oleh Nyonya Risa.


"El, aku bisa jalan sendiri, tidak perlu dituntun," protes si ibu hamil karena dia sungguh tidak nyaman diperlakukan seperti itu.


Semua penghuni rumah mewah itu mengatakan bahwa Elvino adalah ayah yang siaga. Dia sangat posesif, karena takut terjadi sesuatu pada istri dan anaknya.


"Sudah ayo jalan, tapi pelan-pelan saja. Sepertinya kita harus pindah ke kamar bawah saja. Aku selalu tidak tenang bila sedang kuliah ataupun lagi kerja. Aku takut kamu menaiki tangga seperti Raya, dia mau naik atau turun selalu berlari," ungkap Elvino melepaskan pelukan pada pinggang istrinya, karena mereka sudah tiba dilantai atas.


"Aku mana pernah berlari, El. Kamu saja yang terlalu---"


"Terlalu tampan!" sela Elvino mengurung istrinya pada pintu kamar yang baru saja dia tutup kembali.


"Ayo bilang lagi. Aku terlalu tampan kan?" berkata sambil tersenyum karena El sangat suka melihat wajah malu istrinya.


"Iya, kamu terlalu tampan. Makanya setiap saat ada saja nomor baru yang mengajak ketemuan," seloroh Adel karena apa yang dia katakan memanglah benar.

__ADS_1


Untungnya dia bukanlah wanita yang terlalu cemburuan. Jadi meskipun ada berapa banyak nomor baru yang menghubungi suaminya. Adelia diam saja karena El tidak pernah mengunci ponselnya.


Mereka berdua sudah biasa saling pinjam ponsel. Jadi kepercayaan itu tercipta dari sana juga. El tidak pernah menyembunyikan bila ada para mantannya menelepon ataupun chat via WhatsApp dan sosial media lainnya.


"Tapi aku tidak pernah meladeni mereka, karena cintaku hanya buat kamu, aku hanya pernah mencintaimu dan seperti itulah seterusnya," jawab Elvino masih dengan posisi yang sama.


"Kamu percaya, kan?" tanya pemuda itu yang tangannya sudah mengelus pipi mulus Adelia.


"Iya, aku percaya," jawab singkat Adel ternyata langsung membuat Elvino membungkam mulutnya.


Cup!


"Terima kasih karena kamu percaya padaku," setelah berkata seperti itu Elvino kembali lagi memberikan kecupan lembut pada bibir istrinya.


Hal yang sejak dulu ingin dia lakukan. Namun, karena hubungan diantara mereka berdua tidak jelas, dia hanya bisa menahannya saja.


"Hamp!" Adel memukul dada Elvino karena dia hampir kehabisan pasok oksigen.


"Bernafas, jangan diam saja," bisik El sebelum melanjutkan lagi silaturahmi bibirnya.


Meskipun pelan, tapi Adelia yang tadinya cuma diam. Sekarang mulai membalas cium tersebut. Bahkan sekarang kedua tangannya sudah mengalungkan pada leher suaminya.


Soalnya El juga menahan tengkuknya, agar silaturahmi bibir mereka terus bersambung. Mungkin karena sudah ada rasa cinta diantara keduanya, jadi Adel tidak takut.


Mereka terus bercumbu karena sama-sama saling menginginkan. Adelia yang belum bisa berciuman pun menjadi bisa.


"Aaugh!" desah Adel begitu bibir El turun pada leher jenjangnya. Sehingga membuat pemuda itu tersenyum dan menempelkan kening mereka dengan nafas sama-sama terengah-engah.


"Adel, eum... apakah aku boleh meminta hak ku?" tanya El ragu. Soalnya dia tidak sanggup juga bila selalu menahan hastranya.


"Tidak apa bila kamu belum siap, aku hanya bertanya saja," lanjutnya lagi sambil mengusap bibir istrinya yang basah gara-gara mereka telah bertukar Saliva nya masing-masing.


"Maafkan aku, jagan takut ya, aku tidak akan pernah memaksa mu," El menarik lembut tubuh Adel untuk dia peluk. Elvino takut istrinya ketakutan setelah mendengar permintaannya.


"Aku... tidak apa-apa, kenapa kamu minta maaf," jawab Adel tersenyum.

__ADS_1


Mendengar kata maaf dari El. Akhirnya semua rasa ragu di hati wanita itu langsung lenyap seketika. Adel semakin yakin bahwa suaminya adalah pemuda baik-baik. Apa yang terjadi diantara mereka malam itu hanya mungkin sudah takdir untuk menyatukan mereka berdua.


...BERSAMBUNG......


__ADS_2