Dia Juga Anakku

Dia Juga Anakku
Impian Tak Pasti.


__ADS_3

💝💝💝💝💝💝


...HAPPY READING......


.


.


"Reno!" seru Raya pada seorang pemuda yang selalu mengejarnya sejak dulu. Namun, sampai bertemu dengan Arya. Si cantik Raya tetap tidak pernah menerima pemuda bernama Reno tersebut.


"Hai... apakah aku boleh duduk disini?" tanya Reno tersenyum ramah. Sehingga terlihatlah lesung pipinya yang ada disebelah kiri.


"Iya, duduk saja," jawab Raya menggeser tubuhnya agar diantara mereka ada jarak. Sebab Raya tidak ingin ada berita miring tentang mereka berdua. Soalnya Raya bukanlah seorang gadis. Melainkan wanita yang telah memiliki suami.


Tidak perduli Arya menikahinya karena ingin balas dendam pada Elvino. Atau hanya bermain-main saja. Satu hal yang jelas. Yaitu pernikahan mereka sah di agama maupun negara. Begitulah, menurut pemikiran si bungsu keluarga Wijaya.


"Kamu kenapa ada di sini? Apakah tidak makan siang?" untuk memecahkan keheningan diantara mereka Raya bertanya lebih dulu.


"Aku tidak lapar. Lalu kamu kenapa malah duduk disini? Kenapa tidak makan siang juga? Bukannya para gadis lagi berkumpul di kantin," ujar pria tersebut balik bertanya.


"Aku seperti dirimu, juga sudah kenyang,"


"Sudah kenyang, atau kamu memang sengaja menghindar dari anak-anak kampus. Agar tidak mendengar perselingkuhan Arya sama Manda?" tebak Reno yang membuat Raya langsung diam.


"Tidak! bukan karena hal itu tapi memang diriku sudah kenyang. Soal hubungan Arya dan Manda. Aku tidak peduli mau seperti apa, karena aku sangat percaya padanya," Raya menjawab sambil menatap lurus ke depan.


"Karena terlalu percaya padanya lah yang membuatku mengejar impian tanpa pasti. Aku sangka kami memiliki impian yang sama, yaitu untuk membangun keluarga kecil yang bahagia. Namun, bodohnya aku. Orang benci aku kira Sayang padaku."


Gumam Raya degan helaan nafas dalam-dalam guna menenangkan hatinya.


"Aku harap apa yang kamu pikirkan memang benar," lanjut Reno juga ikut memandangi hamparan Taman bunga yang ada di depan mereka.


"Tapi Ray, jika ini semua beritanya benar. Apa yang akan kamu lakukan? Akan tetap bertahan, atau memberinya kesempatan untuk memperbaiki semuanya?" tanya Reno lagi karena dia sebetulnya sangat tidak terima Arya menyakiti hati gadis yang dia sukai.


Namun, untuk melakukan sesuatu dia tidak bisa, karena Reno tidak ada hubungan persahabatan bersama Raya.


"Maaf, aku bukan ingin ikut campur urusan pribadi mu. Aku hanya bertanya saja. Soalnya pernikahan kalian belum sampai tiga Minggu. Tapi Arya sudah membuat skandal seperti ini," melihat Raya hanya diam, pemuda itu kembali berbicara.


"Jujur, rasanya aku ingin menghilang saja agar tidak bisa mendengar semuanya, Ren. Namun, rasa percaya ku padanya membuatku untuk tetap kuat. Bahwa semua ini tidaklah benar," jawab Raya yang tidak menjelaskan secara gamblang.


Namun, dari jawabanya. Reno sudah tahu jika Raya tidak baik-baik saja.


"Pemikiran yang sangat bagus. Sangat beruntung Arya bisa mendapatkan istri seperti mu yang tidak percaya pada berita begitu saja," Reno akhirnya kembali memuji Raya. Agar tidak ada kecanggungan diantar mereka.


Begitulah sejak dulu. Apabila memiliki waktu untuk berbicara berdua. Maka pemuda itu selalu mengungkapkan perasaannya dan memuji kecantikan Raya yang memiliki kepribadian bak malaikat.


"Haa... ha... sudahlah! Kamu kebiasaan, selalu memuji," tawa paksa Raya berusaha menghilangkan rasa perih dihatinya.


"Tapi kamu memang gadis yang sangat sempurna, Ray,"


"Reno, mau sempurna atau tidak. Itu semua tergantung orang yang bersama kita yang merasakannya. Kamu juga sempurna bila bisa memiliki perasaan yang mengerti dirimu. Jadi kita semua sama," tegas Raya merendah.


"Iya, kamu benar," setelah itu Raya dan Reno terus berbicara tanpa diketahui bahwa ada seseorang mengambil gambar mereka berdua.


Sampai waktu masuk. Keduanya masih berjalan beriringan menuju kelasnya masing-masing. Selama waktu makan siang Arya juga tidak ada mengirim Raya pesan.


Begitu pula sebaliknya. Raya yang sudah tahu bahwa Arya sebetulnya hanya berpura-pura mencintainya. Mulai menjaga jarak diantara mereka berdua. Agar rasa sakit itu tidak begitu perih.


Selama pelajaran. Para teman satu kelas Raya saling berbisik menatap kasihan padanya. Namun, Raya hanya cuek, tidak ambil pusing karena sekarang Raya tidak membutuhkan itu semua.


"Untuk apa jalinan pernikahan ini jika tujuanmu hanya untuk menyakiti aku, Ar. Kita tidak perlu saling berjanji, saling setia dan menjaga satu sama lain. Kamu tinggal balas dendam dengan cara membunuhku itu jauh lebih baik. Daripada harus hatiku yang kamu bunuh seperti ini."

__ADS_1


Raya hanya mampu bergumam di dalam hatinya. Tidak ada yang bisa ia bicarakan untuk mengatakan bahwa Arya dan Manda tidak pacaran. Atau menjelaskan bahwa pernikahan mereka baik-baik saja. Semua anak-anak kampus telah lebih tahu hubungan Arya dan Manda seperti apa.


📱 Raya : "Halo Pak, tolong jemput Saya di kampus. Saya tunggu di depan, tempat biasa," ucap Raya menelepon sopir pribadi keluarganya. Lalu setelah itu Raya langsung berdiri dari bangkunya karena jam pelajarannya sudah selesai.


"Ray, yang kuat ya, semoga saja Arya cepat sadar karena sudah menyia-nyiakan permata berharga seperti mu," ucap seorang gadis yang satu jurusan dengan Raya.


"Aku selalu kuat, karena hubunganku dan Arya baik-baik saja. Tidak ada masalah apa-apa," jawab Raya tersenyum di balik lukanya.


"Aku juga percaya, bahwa Arya tidak mungkin mengkhianati cinta kami berdua. Tapi terima kasih ya, karena ternyata masih banyak teman-teman yang bersimpati padaku," lanjutnya sebelum memilih untuk berjalan lebih dulu.


Raya tidak mau menjelekkan nama Arya. Dia melakukan itu semua agar masalah tersebut tidak besar.


"Ya Tuhan! Kenapa masalahnya semakin rumit seperti ini. Aku tidak mau bila anak buah kakak sampai mengetahui berita ini. Sebab aku ingin menyelesaikan masalahnya sendirian. Kakak pasti merasa bersalah bila mengetahui bahwa aku hanya menjadikan alat belas dendam oleh Arya."


Meskipun para siswa maupun siswi menatap padanya. Namun, Raya tetap berjalan santai seperti biasanya. Tidak menunjukkan bahwa dia sedang menjadi korban perselingkuhan suaminya.


"Ternyata Arya sudah pulang lebih dulu. Aku kira dia akan berusaha untuk menjelaskan bahwa semua rumor ini tidak benar. Namun, mungkin Arya sudah berubah pikiran untuk membalas kak El lewat cara menunjukkan bahwa dia benar-benar selingkuh. Lalu aku akan sakit hati dan dia akan bahagia bila rencananya berhasil."


Si cantik Raya kembali bergumam saat melewati perkiraan dan tidak melihat mobil suaminya lagi.


"Ray, Arya sudah pulang duluan. Bagiamana bila aku yang mengantarmu. Bukannya arah rumah kita sama," panggil pemuda yang satu jurusan dengan Arya.


"Tidak! Terima kasih! Aku akan pulang bersama sopir," tolak Raya dengan tersenyum kecil.


"Tapi Ray, aku---"


"Adnan, terima kasih. Tapi jika aku pulang bersamamu. Kasihan pada sopirku. Itu dia sudah datang," tunjuk Raya pada mobil mewah bermerk Mercedez Benz e-class.


"Oh, iya. Kalau begitu hati-hati, ya," ucap Adnan salah satu pemuda yang menyukai Raya.


Mendengar jika Arya selingkuh. Tentu banyak para siswa yang ingin mengambil kesempatan biar bisa mengisi hati Raya yang lagi patah hati.


"Silahkan, Nona," ucap Pak sopir membukakan pintu mobil buat nona mudanya.


"Terima kasih, Pak. Oya apakah kakak dan Eza sudah pulang dari perusahaan?" tanya Raya karena biasanya bila Eza ikut ke perusahaan. Maka Elvino tidak pernah lama.


"Sudah, Non. Sepertinya Tuan Muda Elvino hanya mengambil dokumen pekerjaan saja. Soalnya sebelum jam makan siang dia dan tuan muda kecil sudah pulang," jawab si sopir mulai menjalankan kendaraannya.


"Dugaanku tidak pernah salah," imbuh Raya tersenyum. Lalu sambil menunggu sampai tiba kediaman orang tuanya. Gadis itu kembali lagi mengeluarkan ponselnya untuk menghapus kenangan bersama Arya.


Walaupun menyakitkan. Namun, Raya harus kuat agar tetap tegar dan tidak terlihat lemah di mata suaminya.


"Maaf, Ar. aku akan menghapus kenangan kita pada foto-foto kebersamaan ini lebih dulu. Agar aku tidak selalu merasa dibodohi oleh sikap manismu."


gumam Raya sudah mulai menghapus foto-fotonya yang ada Arya Hanya menyisakan fotonya sendiri.


Tidak terasa setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua puluh menit. Mobil mewah tersebut sudah tiba di kediaman keluarga Wijaya. Dengan menampilkan senyum dan wajah bahagianya. Raya langsung turun dari mobil dan berlari masuk ke dalam rumah tersebut, untuk bertemu keluarga tercinta.


"Onty Raya datang," teriak Raya setelah melewati ruang tamu. Dia sudah tahu jika keluarganya pasti lagi berkumpul di ruang tengah. Yaitu ruang di mana tempat favorit mereka saling berbincang sambil memperhatikan Eza bermain.


Semenjak menikah dengan Arya baru satu kali gadis cantik itu pulang ke sana. Itupun hanya sekitar dua jam. Tepatnya setelah makan malam mereka berdua langsung kembali ke Apartemen.


"Onty, dah datang," sambut si tampan Eza berlari kedatangan sang tante.


"Ya dong, Onty sudah datang. Tadi kan Onty ditelepon oleh mamanya Eza. Katanya disuruh datang karena sudah membuat kue yang sangat enak," jawab Raya sambil menuntun tangan Eza berjalan masuk.


"Selamat sore semuanya, Raya datang," ucap Raya yang tidak terlihat bahwa kembali membawa hati yang terluka.


"Sore juga, Sayang. Adek hanya sendiri?" sambut Nyonya Risa langsung berdiri dan memeluk hangat sang putri. Lalu Tuan Arka, Elvino dan Adelia juga memberikan pelukan pada gadis itu.


"Nggak, Ma. Soalnya Arya masih sibuk. Di perusahaan ada beberapa rapat penting sore ini, yang tidak bisa dia tinggalkan," dusta Raya masih menyembunyikan kebenaran tentang suaminya.

__ADS_1


"Oh, yasudah! Kalau begitu ayo duduk sini dengan Papa," ajak Tuan Arka pada sofa kosong yang ada di samping tempat duduk beliau saat ini.


"Iya, Pa," Raya menurut karena saat ini dia memang sangat membutuhkan sandaran agar bisa tegar menghadapi badai rumah tangganya.


"Ada apa? Apakah Putri Papa sedang ada masalah, kenapa wajahnya terlihat begitu murung?" tanya Tuan Arka sambil mengelus kepala putrinya seperti mana saat Raya masih kecil.


"Tidak ada, Pa. Raya baik-baik saja. Tapi ini cuma lagi kelelahan. Soalnya di kampus begitu banyak kegiatan," jawab gadis itu tersenyum.


"Nah, ini kue buatan Kakak, ayo adek makan. Nanti tinggal bawa sebagian untuk Arya," seru Adelia sudah membawa jus jeruk kesukaan Raya beserta kue yang dia buat tadi.


"Iya, Kak. Terima kasih," Raya langsung minum jus kesukaannya lalu mencicipi kue buatan sang kakak ipar.


"Kakak kenapa menatap Raya aneh begitu?"


"Adek seperti memiliki banyak beban pikiran. Apakah benar seperti dugaan papa, bahwa adek lagi ada masalah?" Ternyata bukan hanya Tuan Arka saja yang mengetahui bahwa Raya lagi memiliki masalah. Namun, juga Elvino.


"Tidak Kak! Raya baik-baik saja. Hanya kelelahan seperti yang Raya katakan tadi. Saat ini di kampus selalu disibuki dengan berbagai macam mata pelajaran, yang selalu menguras otak," sangkal Raya tersenyum menikmati kue maupun jus miliknya.


"Syukurlah jika memang seperti itu. Kakak hannya takut jika kamu dan Arya lagi memiliki masalah dalam rumah tangga kalian," ujar Elvino ikut menikmati kue buatan istrinya.


"Tidak! Kalian tenang saja karena Arya itu adalah sosok suami idaman. Jadi mana mungkin kami memiliki masalah,"


"Baguslah! Setiap hubungan itu memang selalu memiliki masalah. Namun, perbedaannya adalah jenis berat atau tidaknya ujian tersebut," sambung Nyonya Risa yang selalu memberikan nasehat bijaknya pada Elvino mau pun Raya.


"Iya, Ma. Raya mengerti," jawab Raya mengagguk bahwa sudah mengerti ucapan dari mamanya.


Untuk menghabiskan waktu kebersamaan tersebut mereka semua berkumpul di ruang keluarga. Sambil menyaksikan pertengkaran Eza dan si putri bungsu keluarga Wijaya.


Ruangan yang selalu ramai semenjak Elvino dan keluarga kecilnya pindah ke sana. Sore ini bertambah lebih ramai lagi karena adanya Raya.


"Kabar Papi Yuda seperti apa, Nak?" tanya Tuan Arka mau nanya kan keadaan besanya.


"Keadaan papi dan mami, semuanya sehat, Pa. Tapi dalam beberapa hari ini kami juga belum ke sana lagi. Karena Arya selalu sibuk dan pulang malam," jawab jujur gadis itu.


"Oh, baguslah! Kalau mereka sehat. Namun kamu harus bisa menasehati Arya, Nak. Agar meluangkan waktu kerjanya untuk Papi dan Mami kalian,"


"Iya, Pa. Raya juga sudah berkata seperti itu pada Arya. Namun, katanya menunggu dia menyelesaikan beberapa pekerjaan penting lebih dulu. Saat ini soalnya dia belum memiliki sekretaris yang bisa dipercaya seperti sekretaris Demian,"


"Iya, syukurlah jika kamu sudah memberitahunya. Menjadi seorang istri itu bukan hanya harus mengetahui senangnya saja. Namun, harus memperhatikan ketika dia berbuat salah," sabung Nyonya Risa.


"Mama, Papa dan Kakak tidak perlu khawatir, karena dikit demi sedikit Raya juga sudah belajar untuk menjadi istri yang baik," sedikitpun riak di wajah Raya tidak bisa ditebak oleh keluarganya bahwa gadis itu sedang menanggung luka yang teramat dalam.


Berhubung Arya akan pulang malam dan tidak akan makan di rumah. Raya pun memutuskan untuk makan malam di rumah keluarganya. Setelah itu baru kembali ke Apartemen.


Tepat pukul delapan lewat tujuh malam. Gadis cantik itu barulah berpamitan kepada keluarganya untuk pulang.


"Adek hati-hati, ya. Bila ada apa-apa segera telepon papa, Mama ataupun kakakmu," ucap Nyonya Risa saat melepaskan kepergian putrinya.


"Iya, mamaku sayang. Apabila ada apa-apa Raya akan menghubungi Kak Elvino lebih dulu, karena dia adalah pahlawan keluarga kita," Raya tersenyum kearah kakaknya.


"Iya kan Kak," ucapnya minta persetujuan sang kakak.


"Iya, Kakak akan selalu melindungimu dan akan membalas orang yang berani membuat adikku menangis," jawab Elvino masih terlihat biasa-biasa saja.


Padahal El baru mendapatkan laporan bahwa adik iparnya saat ini lagi di restoran mewah bersama seorang gadis yang kuliah di universitas tempat adiknya.


"Adek hati-hati, ya, jangan lupa pulang ke sininya bersama Arya. Agar kita bisa berkumpul bersama," kali ini Adelia yang berpesan agar Raya bisa hati-hati walaupun si bungsu pulangnya diantar oleh sopir keluarga mereka.


"Iya Kak, Raya akan hati-hati. Raya pulang dulu," pamit si cantik langsung masuk ke dalam mobil yang akan mengantarnya pulang ke Apartemen.


...BERSAMBUNG......

__ADS_1


__ADS_2