
💝💝💝💝💝💝
...HAPPY READING......
.
.
Siang sudah berganti malam dan malam sekarang sudah pagi lagi. Raya sejak pagi sudah bangun tidur untuk membereskan buku kuliahnya yang akan dibawa ke kampus dan sisanya dimasukan lagi kedalam koper bajunya.
Ya, setelah perdebatan kemaren siang. Arya langsung meminta maaf karena sudah membuat istrinya kecewa. Padahal umur pernikahan mereka belum genap satu hari.
Alhasil Arya sendiri yang turun kebawah dan mengambil koper baju Raya dari dalam mobilnya. Sedangkan Raya setelah mengungkapkan perasaan tidak sukanya langsung pergi ke balkon yang terhubung dengan kamar Arya.
Agar bisa menenangkan hati dan pikirannya. Begitulah putri konglomerat itu menyikapi masalah.
Gara-gara sudah dibuat patah hati atas sikap Arya. Raya menolak tegas saat suaminya mengatakan kamar kita. Raya langsung menjawab bahwa dia hanya menumpang. Mau sampai kapanpun itu tetaplah kamar Arya.
Sehingga membuat pemuda itu sibuk minta maaf karena belum pernah melihat Raya merajuk selama mereka berpacaran.
Arya memang mau balas dendam. Namun, menurutnya bukan seperti itu caranya. Arya sudah memiliki cara sendiri. Begitulah menurut pemikiran pemuda tersebut.
Kleeek!
"Sayang, kamu sudah mandi," ucap Arya turun dari tempat tidur karena dia sudah sejak tadi bangun. Namun, begitu membuka matanya ternyata sang istri sudah tidak ada dan yang terdengar suara gemericik air didalam kamar mandi.
"Huem!" jawab Raya tersenyum kecil. "Mandilah! Air untukmu mandi sudah aku siapkan," lanjutnya lagi sambil mengeringkan rambut mengunakan handuk kecil. Tidak mengunakan alat pengering rambut.
Saat masuk kedalam kamar mandi. Gadis itu memang sudah membawa baju gantinya. Jadi saat keluar Raya hanya tinggal mengeringkan rambut panjangnya.
"Kamu masih marah?" tanya Arya berjalan mengikuti sang istri yang duduk di atas sofa. Dapat Arya lihat jika semua barang-barang Raya sudah disimpulkan semua.
Seakan-akan istrinya itu tidak akan mau datang ke sana lagi. Raya juga tidak ada menyentuh barang-barang yang telah disiapkan oleh ibu mertuanya atau memang Arya sendiri, karena dia tidak mood untuk bertanya siapa yang menyiapkan semuanya.
"Tidak! Aku tidak marah padamu. Cepatlah mandi, nanti kita malah jadi terlambat," titahnya degan muka datar.
"Ray, aku benar-benar minta maaf. Sudah membuatmu kecewa. Tolong maafkan aku," Arya menahan kedua tangan Raya yang sedang mengeringkan rambut panjangnya yang lurus.
__ADS_1
Saat ini posisi Arya berjongkok dihadapan gadis itu yang hanya diam saja.
"Arya, aku tidak marah padamu. Pergilah mandi, setelah itu kita berangkat. Kalau kamu memang tidak kuliah, maka aku akan berangkat sendiri," ancam Raya tidak main-main.
"Iya, aku akan mandi. Tapi tolong jangan seperti ini. Aku minta maaf dan ber---"
"Sebelum kamu minta maaf, aku sudah memaafkan mu. Jadi sudah tidak usah dibahas lagi. Aku baik-baik saja. Jika kamu meras bersalah, tidak perlu meminta maaf. Cukup jangan ulangi lagi," sela si cantik Raya menghembuskan nafas panjang.
"Huem, aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku mandi dulu, ya. I love you,"
Cup!
Arya mengecup bibir ranum Raya sebelum meninggalkan istrinya masuk kedalam kamar mandi. Raya tidak menjawab seperti biasanya. Dia hanya diam saja, tapi Raya memberikan senyuman kecil.
"Huh! Aku hanya ingin kita membangun rumah tangga yang bahagia, Ar," gumam gadis itu yang sebenarnya sudah tidak marah. Hanya lagi memberikan Arya pelajaran saja.
Begitu selesai mengeringkan rambutnya. Raya langsung menyisirnya dan sedikit memberikan riasan yang natural pada wajahnya yang sudah cantik.
Lalu Raya berjalan kearah lemari baju untuk menyiapkan baju suaminya setelah mandi. Dari jam tangan, dasi dan juga perlengkapan semuanya dia ambil dari dalam lemari dan ditaruh diatas tempat tidur yang ternyata selama dia mandi telah dirapikan oleh Arya.
"Wah, sudah disiapkan semuanya, sayang," Arya tiba-tiba langsung memeluk tubuh Raya dari belakang dan menyadarkan dagu' nya pada bahu gadis itu.
"Arya, cepat pakai bajunya. Kenapa malah me---"
"Sebentar saja. Setelah aku pikir-pikir saat mandi. Mungkin kamu hanya berpura-pura marah saja," sela pemuda itu semakin meluk Raya erat.
"Kenapa berpura-pura? Seperti tidak ada kerjaan saja,"
"Ya, berpura-pura marah padaku. Agar kita tidak melakukan malam ke-dua," seloroh Arya yang membuat Raya tersenyum dibuatnya.
Setelah melihat Raya sudah mau tersenyum. Arya langsung membalikkan tubuh istrinya agar mereka bisa saling berhadap-hadapan.
"Jika sudah mau tersenyum seperti ini akan terlihat lebih cantik lagi. Aku benar-benar tidak sanggup bila melihat mu merajuk seperti dari tadi malam," ungkap Arya.
"Jika tidak mau, maka jangan diulangi lagi," jawab Raya cepat.
Cup!
__ADS_1
"Aku berjanji padamu. Lain kali bila ada masalah, aku akan bercerita padamu," Arya kembali mengecup kening Raya sebelum menjauhkan tubuh mereka, karena dia belum memakai baju.
"Mungkin hari ini aku akan tiba dirumah sekitar jam makan malam, ya. Jadi jika lapar nanti kamu makan saja duluan. Tidak usah menunggu ku," ucap pemuda itu sambil memakai baju dihadapan Raya.
"Iya," jawab Raya maju mendekati Arya untuk membantu mengancingkan baju kameja suaminya. Lalu berlanjut dengan memasangkan dasi juga.
Setelah Arya mengatakan akan melamarnya bila Elvino sang kakak memberikan restu. Raya sudah mulai belajar cara mengurus suami dari kakak iparnya. Hal itulah yang lagi dia praktekan saat ini.
Impian Raya ingin memiliki keluarga kecil yang bahagia. Gara-gara melihat El dan Adelia yang selalu menunjukkan keharmonisan dan kebahagiaan. Membuat gadis cantik itu memiliki impian indah bersama suami dan anaknya.
"Sudah selesai," seru Raya tersenyum bahagia karena pagi ini dia bisa menjalankan satu impian kecilnya. Yaitu membantu mengancingkan kameja Arya dan juga dasi.
Sebab kalau kata kakak iparnya. Saat seperti itu akan merasa memiliki hubungan yang semakin erat dengan pasangan.
"Terima kasih!' ucap Arya yang hanya terus menatap istrinya saat mengancing kameja maupun memakai dasi.
"Kenapa malah menatapku? Ayo bersiap-siaplah. Kita berangkat sekarang," ajak Raya. Namun, dia mengambil handuk pada tangan Arya. Lalu disimpan pada tempatnya yang sudah tersedia.
"Bentar, aku memakai jam ini dulu," jawab Arya yang hanya cukup memakai kameja saja. Tidak degan jas kantor. Sebab bila tidak mau rapat atau bertemu klien. Maka Arya hanya memakai baju kameja panjang saja.
Sehingga dia terlihat semakin tampan. Mungkin setelah lulus nya Elvino yang merupakan playboy cap kampak. Arya adalah pemuda tertampan berikutnya.
Pemuda itu selalu diincar oleh para gadis. Namun, karena sudah menjadi kekasih Raya tidak ada lagi yang mau bersaing dengan putri bungsu dari keluarga Wijaya. Apalagi sekarang mereka bukan hanya berpacaran. Namun, sudah menikah.
Akan tetapi dari sekian banyak cewek cantik-cantik di kampus. Ada Manda yang tidak pernah mau menyerah dan akhirnya dia berhasil menjadi kekasih Arya.
Walaupun baru hanya lewat sosial media. Namun, dia dan Arya sudah berpacaran dan hari ini mereka sudah berjanji mau bertemu di kantin bagian barat yang ada di kampus mereka.
"Sudah siapa. Ayo," Arya menggugurkan tangannya untuk menggandeng Raya keluar dari kamarnya. Tidak lupa tangan Arya yang satunya menarik koper baju sang istri.
Pemuda itu benar-benar tidak menyangka. Bahwa Raya sampai menangis hanya karena dia meninggalkan gadis itu di luar rumah
Sehingga tadi malam seharusnya mereka kembali melakukan percintaan. Yaitu sebagaimana para pengantin baru di luar sana. Ini malah harus tidur dengan dibatasi bantal guling.
...BERSAMBUNG......
__ADS_1