
💝💝💝💝💝💝
...HAPPY READING......
.
.
"Huem!" Paman Abraham berdehem melihat suasana langsung berubah mencekam. Padahal rapat para pemegang saham belum dilakukan.
Bukan! Bukan rapat pemegang saham saja yang belum di mulai. Akan tetapi rapat masalah peluncuran produk baru milik perusahaan Wijaya group saja belum dimulai.
Jika saja tidak bocor dan telah di dahului di pasaran. Maka masalah tersebut tidak akan membesar seperti sekarang. Akan tetapi mereka memang sengaja ingin mempersulit perusahaan Wijaya group.
Jadinya setelah produk perusahaan Wijaya group diluncurkan. Barulah mereka secara terang-terangan menampakan produk yang serupa.
Lalu yang dituduh menjiplak adalah perusahaan Wijaya group sendiri. Padahal merekalah yang dirugikan. Tapi yang namanya saingan bisnis kelas atas, memang seperti itu.
"Sekarang, semuanya diharapkan tenang dan kita selesaikan masalah ini bersama-sama. Jika ada yang tidak setuju dan keberatan. Pintu keluar ada disebelah sana. Pilihan ada ditangan kalian," ucap Paman Abraham berdiri dari tempat duduknya untuk menyalakan komputer yang sudah terhubung dengan infokus.
Agar semua peserta rapat bisa melihatnya sendiri. Tentang apa yang sedang mereka bahas.
"Paman, biarkan Saya yang melakukannya. Di sini Saya lagi mengantikan papa. Jadi Saya akan bertanggung jawab masalah ini sampai tuntas." Elvino berdiri kursi kebesaran sebagai seorang pemimpin.
Mana mungkin dia membiarkan Paman Abraham yang sudah tua menjadi sasaran para pemegang saham. Elvino sudah bertekad akan membuktikan bahwa dia bisa.
"Baiklah, Nak! Paman kembalikan padamu," jawab Tuan Abraham tersenyum. Tadi dia berdiri agar yang lagi komplain tidak lagi berbicara.
"Terima kasih, Paman. Maafkan Saya yang tidak sopan," Elvino sengaja memakai bahasa formal karena mereka lagi berada di ruang meeting.
"Baiklah! Rapat yang dua hari lalu sempat kita tunda, sekarang kita lanjutkan lagi." kata si tampan Elvino terlihat sangat berwibawa.
Siapapun itu, jika tidak tahu skandal nya diluar sana. Maka tidak akan percaya bahwa yang memimpin rapat hari ini adalah Elvino Atmaja Wijaya.
"Pak Pram, Saya minta data yang anda bilang tertukar dua hari lalu," ucap Elvino menoleh kearah Pak Pram.
Seharusnya saat rapat pemegang saham seperti ini. Para Staf dan karyawan yang tidak penting. Dilarang masuk ke ruangan tersebut. Akan tetapi karena ini sengaja digabungkan oleh Elvino. Jadinya Pak Pram juga harus hadir.
Makanya mereka semua sempat heran karena rapat tersebut melibatkan banyak karyawan. Tidak seperti rapat biasanya. Tanpa ada yang tahu, jika Elvino memiliki caranya sendiri.
"Ini Tuan Muda," lelaki paruh baya itu berdiri dari tempat duduknya dan memberikan salinan dokumen yang sudah disatukan pada sebuah alat Flash disk. Benda tersebut sudah dia persiapkan. Lalu di serahkan kepada salah satu Staf yang membantu Elvino.
"Terima kasih! Elvino menerima flash disk tersebut dan langsung saja dia pasang pada laptop penghubung dengan infokus.
Sehingga semua orang bisa membaca apa isi data tersebut. Bila El tidak memiliki bukti lebih kuat, maka mungkin sekarang dia akan gemetaran karena ketakutan. Namun, Elvino tidak asal bertindak yang akan mengali kuburannya sendiri.
Dari satu Minggu lalu, dia dan Sekertaris Demian sudah memegang bukti bahwa produk tersebut milik Perusahaan Wijaya group yang telah di jual. Sehingga mereka mengalami kerugian besar.
__ADS_1
"Tuan Muda Elvino, ini datanya sudah benar. Lalu apa lagi yang mau diselesaikan?" tanya salah seorang pemegang saham yang belum tahu dia berpihak pada siapa.
"Iya, menurut Saya ini juga sudah benar? Jangan bilang ini salah satu trik Anda untuk mengulur waktu buat menghambat kami semua. Agar pemilihan direktur yang baru belum jadi hari ini," sahut salah seorang dari puluhan orang yang ada di sana.
"Tenang-tenang! Kenapa kalian sudah mengambil kesimpulan sendiri. Bila Tuan Muda saja belum memberikan keterangan." seru Pak Romi yang bertemu dengan Elvino tadi pagi.
Sehingga suara yang riuh kembali lagi tenang. Namun, Elvino tetap tenang tidak merasa takut, ataupun sebagainya.
Si tampan Elvino malah memasukkan satu tangannya pada saku celana dan dia sendiri setengah duduk pada pinggiran meja. El membiarkan mereka semua mengeluarkan pendapatnya masing-masing.
"Tidak apa-apa bila ada yang ingin memberikan masukan maupun keluhannya. Di sini semua orang memiliki hak untuk protes." imbuh Paman Abraham yang sebetulnya lagi mengiring mereka kearah umpan yang sudah disiapkan oleh si Playboy cap kampak.
"Tuan Elvino, bisa Anda langsung tunjukkan saja letak kesalahannya di mana? Karena kita semua tidak memiliki banyak waktu." ujar Manuel si pahlawan kesiangan.
"Iya, benar! Kami semua tidak ada waktu untuk membahas hal tidak penting da---"
Praank!
Suara botol air mineral yang langsung dibanting oleh Elvino. Sehingga suara yang berisik menjadi senyap seketika.
"Tidak penting bagi kalian, karena yang menanggung dana anggarannya, adalah perusahaan Wijaya group." sergah El menatap tajam pada orang yang protes tidak penting tadi.
"Jika yang berada di posisi ini adalah salah satu dari kalian. Apakah akan mengatakan bahwa ini tidak penting? Saya tidak akan mengklaim sesuatu apabila tanpa bukti." setelah melihat Elvino marah mereka terdiam tidak berani bicara apa-apa.
Termasuk Manuel beserta sekutunya. Mereka hanya diam karena jika membahas masalah produk, sudah jelas mereka akan kalah.
Berbeda cerita bila langsung memilih siapa yang paling banyak mendapatkan dukungan dari pemegang saham. Maka sudah jelas putra Manuel yang akan menjadi direktur yang baru.
"Jika kalian hanya tahu untung dan tidak mau tahu disaat perusahaan mengalami kesusahan. Maka Saya lebih baik membiarkan Perusahaan Wijaya gulung tikar."
"Tuan Muda, tolong maafkan mereka. Sekarang mari kita lanjutkan rapatnya." sela Pak Andes menengahi kemarahan Elvino.
Tidak banyak bicara, Elvino pun kembali menghadap kearah infokus setelah dia memasang Flash disk data miliknya.
"Ini, apa kalian bisa membedakan data yang saya miliki dan data laporan dari Pak Pram?" semuanya kembali terdiam begitu melihat perbedaan jumlah data tersebut.
"Pak Pram, bisa tolong jelaskan ini letak kesalahannya di mana? Jika kalian mengganggap data Saya ilegal atau apapun itu. Maka lihatlah bagian akhir dari datanya," Elvino berjalan mendekati infokus dan menjelaskan mengunakan tongkat kecil khusus digunakan untuk menjelaskan di saat rapat.
"Pak Pram! Bisa Anda jelaskan? Data yang dimiliki oleh Tuan muda memiliki label perusahaan Wijaya group. Sedangkan date dari Anda tidak ada apa-apa." rapat tersebut semakin tegang karena suasana mulai memanas.
"Saya tidak tahu ini kenapa bisa tidak ada label resmi perusahaan Wijaya group," hanya itulah yang mampu Pak Pram katakan.
Dia benar-benar mati kutu dan menjadi pusat perhatian para pemegang saham yang jujur. Berbeda bagi yang sama-sama sebagai pengkhianat. Saat ini didalam hatinya tengah saling menyalahkan.
"Haa... ha... kalau begitu data Anda palsu dan Andalah yang telah menjual produk kita?" tidak ada hambatan sama sekali. Mulut Elvino langsung saja menuduh pak Pram.
"A--apa! Tuan Muda, apa Anda tahu atas tuduhan Anda ini, bisa di proses oleh hukum?" bela laki-laki yang tadi pagi salah bicara saat Elvino berada di dalam lift.
__ADS_1
"Sangat! Saya sangat tahu. Untuk itu Saya memangil polisi untuk menyelesaikan masalah ini," begitu Elvino membunyikan jari tangannya.
Pintu ruangan tersebut langsung terbuka lebar dan masuklah tiga orang polis yang membawa surat penangkapan resmi.
Ternyata setelah selesai rapat dua hari lalu. Sekertaris Demian langsung membuat laporan atas kecurangan yang dilakukan oleh Pak Pram dan menyerahkan segala bukti-buktinya.
"Selamat siang semuanya, maaf menganggu sebentar. Kami hanya ingin membawa Pak Pram untuk di proses di kantor polisi." ucap salah satu polis seraya menunjukkan surat perintah.
"Tuan Muda, Tuan Muda, Saya tidak bersalah. Saya hanya menjadi---"
"Brengsek! Ternyata Anda dalang dibalik semua kekacauan ini," umpat para pemegang saham yang jujur.
Sedangkan Manuel dan sekutunya. Hanya menelan Saliva nya sendiri. Tidak menyangka bahwa Elvino sudah memangil polisi dan bertindak melalui hukum negara.
"Tuan Muda, Saya---"
"Silahkan Anda beri keterangan di kantor polisi saja, Tuan Pram, karena kami tidak akan memproses di sini." sela Pak polisi langsung membawa paksa Pak Pram dari ruangan rapat.
Sehingga membuat suara riuh di dalam ruangan tersebut kembali membuat heboh.
"Tenang semuanya! Biarkan Tuan Muda Elvino menjelaskan secara detail data yang dia miliki." ucap Pak Romi karena tahu bos mereka masih marah.
"El, silahkan dilanjutkan lagi. Kami semua tidak tahu darimana kamu mendapatkan data-data aslinya. Jika Pak Pram melakukan kejahatan ini, maka sudah jelas ada diantara kita yang bekerjasama dengannya, 'kan." ucap Pak Andes setelah tidak ada suara lainya.
"Huem! Elvino berdehem terlebih dahulu. "Saya mendapatkan data ini dari arsip perusahaan. Ternyata data aslinya ditukar dan salinan tersebut juga sengaja dibuat menjadi dua berkas, karena yang satunya untuk dijual ke perusahaan yang mencurangi kita." jawab Elvino agak sedikit tenang.
"Lalu sekarang kita harus bagaimana, Tuan Muda?" tanya salah seorang dari mereka.
"Biarkan pihak yang berwajib menginterogasi Pak Pram. Agar dia mengaku siapa saja yang terlibat dalam kasus ini." jawab Elvino lantang dan langsung mendapatkan penolakan dari Manuel.
"Tidak bisa! Tuan Muda Elvino bukanlah pemimpi resmi. Jadi biarkan masalah ini dikesampingkan dulu. Lagian percuma saja diusut sekarang. Nilai saham kita sedang turun," cegah Manuel yang sukses membuat sekutunya ikut berbunyi semua, karena merasa memiliki kesempatan untuk menyerang balik Elvino.
"Iya, benar! Menurut Saya juga seperti itu, kita jangan mengurus hal ini dulu, karena ada yang lebih penting daripada ini." lanjut rekan Manuel.
"Ya, ya benar! Gara-gara kecelakaan yang menimpa Tuan Arka. Nilai saham kita menurun dan anjloknya setelah skandal tentang Tuan Muda Elvino, menjadi topik di beranda utama," begitulah cara menyebarkan kejelekan. Tidak perlu bersusah payah karena mereka akan muncul dengan sendirinya.
"Astaga! Kenapa kita bisa melupakan hal ini," keluh para pemegang saham yang sudah terpengaruh ucapan Manuel dan rekannya.
"Huh! Ternyata mereka ini tujuan mereka membuat berita skandal tentang kehidupan ku." Gumam Elvino menghembuskan nafas ke udara secara kasar.
"Tuan Muda, maaf! Kami ingin membahas saham lebih dulu. Jika nilai saham kita semakin menurun. Maka tidak ada gunanya apa yang kita rapatkan hari ini." usul pria paruh baya menatap Elvino meminta persetujuan.
"Maaf, Tuan-tuan semuanya. Tuan Muda Elvino memilik hak untuk memutuskan apapun itu. Sekarang jika pun kita memilih pemimpin baru. Tetap saja kita harus membereskan kecurangan yang dilakukan oleh Pak Pram," sambung Pak Romi sampai berdiri dari tempat duduknya.
"Tapi Saya ingin pemimpi baru yang bisa menaikan harga saham kita. Jika Tuan Muda Elvino yang memimpin, maka yang ada akan semakin merosot turun." berbagai macam pendapat sibuk terdengar silih berganti.
Namun, Elvino masih diam belum mengeluarkan pendapat dirinya. Begitu pula dengan Paman Abraham.
__ADS_1
"Kalau begitu karena keadaan Tuan Arka belum tahu seperti apa. Maka kita tunggu selama satu Minggu lagi. Untuk sementara bagaimana kita angkat Pak Manuel atau putranya Izkar yang memimpin terlebih dahulu. Setidaknya untuk mempertahankan nilai saham saja. Sampai keadaan Tuan Arka pulih." ucap antek-anteknya Manuel.
...BERSAMBUNG... ...