
💝💝💝💝💝💝
...HAPPY READING......
.
.
"Apa? Jadi papa Saya harus operasi ulang, Dok?" seru Elvino setelah mendengar penjelasan dari Dokter Mirza. Yaitu adalah seorang dokter ahli bedah yang menangani Tuan Arka sejak dari awal kecelakaan.
Tadi setelah berbicara menenangkan ibu dan adiknya. tampan elvino pun melihat keadaan Sekretaris Demian yang kemungkinan sudah boleh dibawa pulang, dalam satu atau dua hari lagi.
Lalu setelahnya Elvino pun langsung menemui Dokter Mirza yang baru saja datang untuk bertugas hari ini. Soalnya jika dokter yang mengawasi apabila malam hari, itu adalah dokter khusus. Bukan bagian Dokter Mirza.
"Benar Tuan Muda, hal seperti ini sudah biasa terjadi apabila mengalami kecelakaan parah seperti Tuan Arka. Soalnya benturan di kepalanya menyebabkan luka, lalu darah tersebut membeku di dalam kepala beliau. Sehingga sakit itu baru terasa tadi subuh." jawab Dokter Mirza setelah melakukan pengecekan ulang terhadap keadaan Tuan Arka.
"Lalu kapan operasinya akan dilakukan? Apakah setelah itu Papa saya akan sembuh dan tidak merasakan sakit lagi?" El kembali bertanya dengan jantung terasa kenan pukulan.
Baru saja dia merasa lega, karena saat kemarin pagi dokter mengatakan kemungkinan sang ayah akan pulang dalam waktu beberapa hari kedepan. Akan tetapi siapa sangka jika jam empat pagi. Tuan Arka kembali merasa sakit di bagian kepala belakangnya.
Setelah dilakukan pemeriksaan ulang. Ternyata ada sisa darah yang membeku dan tidak terangkat saat pengoperasian untuk ketiga kalinya, malam terjadinya kecelakaan.
"Semoga saja tidak, Tuan Muda. Kami para Tim dokter hanya bisa mengupayakan sebisa mungkin dan semampu kami. Namun, hasil akhirnya tetaplah Tuhan yang menentukan." jawab dokter tersebut yang tidak langsung mengatakan bahwa keadaaan Tuan Arka kurang stabil.
"Lalu kapan operasinya akan dilakukan?" El kembali mengulangi pertanyaan yang sama. Soalnya Dokter Mirza menjawab pertanyaannya.
"Secepatnya Tuan Muda! Apabila keadaan Tuan Arka stabil, maka nanti malam kami akan langsung melakukan operasinya, karena apabila dibiarkan terlalu lama. Beliau akan merasakan sakit yang tidak bisa diberi obat pereda nyeri ataupun yang lainnya."
"Astag! Papa... kenapa bisa separah ini. Tadinya El kira papa benar-benar sudah sembuh." gumam Elvino mengguyar rambutnya kebelakang.
"Baiklah Dokter, tolong lakukan yang terbaik untuk papa Saya. Nanti setelah pulang dari perusahaan. Saya akan kembali lagi ke sini. Apabila ada yang dibutuhkan, maka beritahu saja adik ataupun Mama Saya." ucap Elvino yang hanya menyerahkan kesembuhan sang ayah pada para dokter terbaik di rumah sakit tersebut.
"Huem, tentu kami akan melakukan yang terbaik untuk Tuan Arka. Tuan Muda dan keluarga, cukup doakan saja semoga saat dilakukan operasi. Keadaan Tuan Arka tidak drop. Agar mempermudah kami untuk melakukan pengambilan darah yang beku." kata si dokter ikut berdiri cari tempat duduknya karena Elvino pun juga sudah berdiri.
__ADS_1
"Oke, terima kasih! Saya mau pamit undur diri karena ada pekerjaan yang harus saya selesaikan dulu." pamit si tampan menjabat tangan Dokter Mirza.
Setelah itu Elvino pun langsung pergi ke ruangan ayahnya terlebih dahulu. Untuk berpamitan sebelum berangkat ke perusahaan.
"Sayang!" ucap Nyonya Risa yang kebetulan mau pergi keluar dari ruangan suaminya. Untuk menaruh keranjang sampah. Agar nanti bisa dibawa oleh petugas kebersihan di rumah sakit tersebut.
"Iya, Ma. El mau pergi bekerja dulu." jawab El jalan masuk untuk menyapa Tuan Arka yang sudah bangun.
"Bagaimana, Nak? Apakah papamu harus dioperasi lagi?" yang sudah selesai menaruh keranjang sampah di luar langsung mengikuti anaknya masuk dan bertanya tentang pembicaraan Elvino dan Dokter Mirza.
"Iya, jika keadaan papa stabil. Maka nanti malam akan dilakukan operasi ulang untuk mengambil sisa darah beku yang tertinggal saat operasi ketiga malam itu."
"Ya Tuhan! Kenapa bisa terjadi seperti ini. Lalu apa yang harus kita lakukan, El? Mama takut?"
"Kita akan mengikuti saja saran dari dokter untuk operasi ulang, Ma. Hanya itu satu-satunya cara yang bisa menyembuhkan papa. Kita cukup mendoakan saja, semoga saat operasi nanti malam semuanya berjalan lancar, dan keadaan papa pun stabil seperti saat ini." Elvino menarik nafas dalam-dalam untuk menguatkan hatinya. Agar bisa tegar menghadapi semua ujian yang sedang terjadi pada keluarganya saat ini.
"Pa, bagaimana keadaannya?" sapa si tampan menarik kursi yang tersedia dan duduk di samping ranjang ayahnya.
"Iya, Nak. Pasti Papa dimintai buat melakukan operasi ulang, kan." jawab beliau dengan suara lemahnya.
"Benar! Papa jangan banyak beban pikiran, karena nanti malam operasinya akan dilakukan dan setelah pulang bekerja, El juga akan kembali lagi ke sini." jelas si tampan yang membuat mata Nyonya Risa meganak sungai karena, begitu berat beban putra sulungnya untuk mempertahankan Perusahaan Wijaya group dan keluarga mereka.
"Huem, iya! Papa tidak akan memikirkan hal lain lagi, selain kesehatan. Karena sudah ada putra kebanggaan Papa yang akan menyelesaikan semua masalahnya. Papa percaya padamu, El," Tuan Arka memaksakan untuk tersenyum seraya mengeratkan genggaman tangan putranya.
"Maafkan Papa jika selama ini selalu membandingkanmu dengan anak-anak rekan bisnis Papa, yang sudah berhasil menjadi pengusaha." kata beliau lagi dengan nada sedih.
"Tidak! Papa tidak bersalah apapun. Justru apa yang Papa lakukan sudah benar. Andai El belajar dengan benar. Maka Papa dan perusahaan kita tidak akan pernah mengalami masalah seperti ini." El pun ikut menyatukan kedua tangannya menggenggam erat tangan tua sang ayah yang tidak memiliki tenaga lagi.
"Sudahlah! Papa sama Kakak tidak usah membahas yang sudah terjadi. Sekarang bukanlah waktunya kita untuk bersedih, karena kita semua harus bangkit agar bisa mengalahkan orang-orang yang mau menghancurkan Wijaya group." timpal Raya yang baru selesai mandi.
"Iya, kamu benar sayang. Sekarang kita harus saling menguatkan seperti apa yang dilakukan oleh kakak iparmu." imbuh Nyonya Risa setuju dengan perkataan putrinya.
"Huem," El yang mendengar perkataan adiknya hanya tersenyum kecil. "Baiklah, karena Kakak banyak pekerjaan. Kamu harus menjaga mama pada papa. Kakak mau berangkat ke perusahaan dulu." sambil berkata El melihat jam pada pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul setengah sembilan.
__ADS_1
Gara-gara begitu banyak yang sudah terjadi. Membuat dia terlambat berangkat ke perusahaan.
"Iya, Kakak tidak perlu khawatir karena Raya akan selalu berada di sini untuk menjaga papa dan mama." jawab si cantik Raya
"Papa, cepat sembuh, ya. Sekarang El harus berangkat ke perusahaan."
"Pergilah! hati-hati saat di jalan. jangan khawatirkan keadaan Papa, Nak. Urus saja pekerjaanmu, jangan lupa untuk makan dan istirahat," Tuan Arka yang tahu jika anaknya sibuk. Memberikan semangat pada sang putra.
"Tentu El akan hati-hati dan tidak lupa untuk istirahat maupun makan, karena si ibu hamil terkadang sangat bawel bila Elvino belum makan," El tergelak begitu menyebutkan istrinya.
"Kak Adel seperti itu karena dia sangat mencintai Kakak. Takut Kakak kenapa-napa," sahut Raya ikut tersenyum.
"El, sudah, pergilah! Bila kamu meladeni perkataan adikmu. Maka sampai siang harinya belum juga sampai ke perusahaan." ujar Nyonya Risa.
Bukannya beliau tidak senang apabila Elvino berlama-lama dengan mereka di rumah sakit. Tapi waktunya lah yang tidak memungkinkan, beliau tahu jika anaknya memiliki begitu banyak pekerjaan di perusahaan Sriwijaya Group.
Cup!
"Baiklah! El berangkat sekarang," setelah memberi cuman pada pipi ibunya. Elvino langsung pergi meninggalkan rumah sakit. Seharusnya dia sudah ke perusahaan sejak jam tujuh tadi pagi.
Untungnya jarak dari rumah sakit ke perusahaan tidak terlalu jauh. Hanya kurang lebih menempuh perjalanan sepuluh menit. Elvino pun sudah tiba di perusahaan. Ditambah lagi jalanan memang sedang sepi karena saat jam bekerja maupun para anak muda yang lagi menimba ilmu.
"Selamat datang Tuan Muda, syukurlah Anda sudah datang, karena kita sedang mengalami masalah." seru Pak Romi yang ternyata sudah menunggu Elvino di kursi tunggu yang tidak jauh dari resepsionis.
"Masalah?" ulang si tampan memastikan.
"Iya, model laki-laki yang sudah sepakat untuk bekerja sama dengan kita. Tiba-tiba mengundurkan diri bahwa dia tidak ingin dibayar langsung, maunya sistem kontrak." jawab Pak Romi sambil mengikuti langkah sang bos yang masuk ke dalam lift.
"Kenapa bisa begitu, bukankah Pak Ari sudah memberi kabar bahwa mereka sanggup dibayar langsung, hanya untuk seribu lima ratus produk saja. Apabila nanti sudah habis terjual dan laris di pasaran. Maka kita akan melakukan kerjasama kontrak dengan mereka." seru Elvino merasa heran.
...BERSAMBUNG......
__ADS_1